karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liu Man Dan Liu Ruyan
Mereka berlima berjalan bersama, namun saat melewati Sungai Baihe...
Ketiga tetua itu tiba-tiba mengubah langkah mereka menjadi gerakan meringankan tubuh yang sangat cepat. Jubah-jubah mereka yang bertambal-tambal berkibar tertiup angin.
"Ada apa, Paman Lu?" tanya Han Le sambil mempercepat larinya, diikuti rapat oleh Lin Xue di sampingnya.
"Di sana ada keramaian, entah ada apa. Ayo kita lihat!" sahut Tetua Lu tanpa mengurangi kecepatan larinya. Sebagai anggota Partai Pengemis yang menjunjung tinggi keadilan, telinga mereka selalu peka terhadap tanda-tanda keributan atau kesusahan rakyat kecil.
Sesampainya di tepi sungai, mereka melihat warga desa berkumpul membentuk lingkaran. Di tengah kerumunan itu, dua sosok tergeletak tak berdaya di atas rumput basah. Satu adalah seorang pemuda berpakaian kasar, dan satu lagi adalah seorang gadis muda yang wajahnya tertutup rambut basah. Keduanya nampak pucat pasi, seolah tak bernyawa lagi.
"Apa yang terjadi?" tanya Tetua Lu dengan suara berat yang menggelegar kepada salah seorang warga.
"Mereka terjebur dan tenggelam, Tuan. Baru saja ditarik ke darat, tapi sepertinya sudah terlambat," sahut seorang warga dengan wajah cemas dan sedih.
Han Le tidak membuang waktu. Ia segera mendekat, namun ia teringat tata krama dunia persilatan. Ia menarik lembut tangan Lin Xue.
"Siocia, tolong bantu gadis itu. Aku akan mengurus si pemuda," pinta Han Le kepada Lin Xue.
Lin Xue mengangguk paham. "Baik, Saudara Han Le."
"Han Le, apa yang akan kau lakukan?" tanya Tetua Lu, melihat pemuda itu mulai menekan dada si pemuda yang pingsan dengan pola gerakan tertentu.
"Menolongnya, Paman. Jika tidak cepat ditolong, nyawa mereka akan benar-benar tak tertolong lagi," sahut Han Le dengan wajah serius. Ia baru saja memeriksa denyut nadi mereka dan masih ada tanda-tanda kehidupan yang lemah di sana.
Han Le tidak hanya menekan dada secara fisik, tetapi ia juga menyalurkan sedikit hawa murni Sin-kang melalui telapak tangannya. Tenaga dalam bertenaga matahari yang hangat itu masuk ke dalam paru-paru si pemuda untuk mengusir air dan hawa dingin yang mulai mematikan. Di sisi lain, Lin Xue melakukan hal yang sama pada si gadis, menggunakan tenaga Bing-ho yang lembut namun penuh energi kehidupan.
Uhuk! Uhuk!
Tiba-tiba, kedua korban itu terbatuk secara bersamaan. Air sungai memuncrat keluar dari mulut mereka. Dada mereka mulai naik turun dengan cepat saat udara segar kembali masuk memenuhi paru-paru. Han Le segera membantu si pemuda duduk dan menepuk-nepuk punggungnya agar sisa air yang masih tertinggal bisa keluar sepenuhnya.
"Terima kasih... boleh aku tahu siapa dermawan yang telah menolong kami?" tanya si pemuda dengan suara serak. Matanya yang sayu menatap Han Le dan Lin Xue bergantian dengan penuh rasa syukur yang tak terhingga.
"Namaku Han Le, dan ini temanku, Lin Xue," sahut Han Le sambil tersenyum tenang.
"Terima kasih, Koko... Cici..." ucap si gadis muda dengan suara gemetar, saat ia mulai sadar sepenuhnya di bawah bantuan Lin Xue.
"Aku Liu Man, dan ini adikku, Liu Ruyan. Sekali lagi, terima kasih atas kebaikan kalian," ucap pemuda itu, lalu ia membungkukkan badannya sedalam mungkin meski tubuhnya masih terasa sangat lemas.
Han Le memperhatikan penampilan Liu Man. Meski pakaiannya basah kuyup, ia melihat ada noda biru kehitaman yang sangat mencolok di bagian dada. Lebam itu bukan bekas terbentur batu sungai, melainkan jelas merupakan bekas hantaman atau tendangan dari seseorang yang memiliki dasar ilmu bela diri.
"Jangan sungkan, Saudara Liu. Kebetulan kami sedang lewat di sini," ucap Han Le, nadanya kemudian berubah menjadi serius. "Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kalian sampai terjebur ke sungai yang arusnya deras ini?"
Wajah Liu Man mendadak berubah gelap, penuh dengan amarah yang tertahan dan juga rasa hina yang mendalam. Ia melirik ke arah adiknya, Ruyan, yang sedang didekap oleh Lin Xue untuk menghangatkan tubuhnya yang masih menggigil kedinginan.
"Kami diserang, Koko Han," sahut Liu Man dengan suara bergetar. "Diserang oleh sekelompok pemuda berpakaian mewah. Sepertinya mereka adalah anak-anak saudagar kaya atau pejabat di daerah ini."
"Anak saudagar?" gumam Tetua Lu sambil mengelus jenggotnya yang jarang. "Di daerah ini hanya ada satu keluarga saudagar yang terkenal, yaitu keluarga Ciu. Memang sudah lama kabarnya mereka suka semena-mena, tapi aku tak menyangka mereka berani melakukan hal sekejam ini!"
Liu Man mengangguk lemah. "Benar, Tuan. Itu adalah Ciu Kun, putra tunggal Saudagar Ciu. Dia bersama para pengawal dan teman-temannya yang bejat melihat adikku Ruyan saat kami sedang mencuci pakaian di hulu sungai. Matanya yang kotor langsung menatap adikku dengan pandangan penuh nafsu binatang."
Lin Xue yang mendengar hal itu mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya memutih. "Sialan! Apa yang kemudian mereka lakukan?"
Liu Man menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit dan marah. "Ciu Kun mencoba menyentuh Ruyan dengan sembarangan. Aku berusaha melindunginya, namun aku hanyalah seorang pencari kayu bakar yang sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Ciu Kun yang pernah belajar sedikit dasar ilmu bela diri menendang dadaku dengan keras hingga aku terpental jauh ke tengah sungai. Saat aku mencoba menggapai tepian, aku akhirnya kehilangan kesadaran karena hantaman air dan rasa sakit yang luar biasa."
Liu Ruyan kemudian menyambung, suaranya lirih namun menusuk kalbu. "Saat aku melihat kakakku tenggelam dan tak muncul lagi ke permukaan, sementara orang-orang bejat itu mulai mengepungku dengan niat buruk, aku tidak punya pilihan lain. Bagiku, mati di dasar sungai jauh lebih mulia daripada harus ternoda oleh mereka. Aku pun memilih terjun mengejar kakakku ke dalam air," ucap gadis itu sambil menahan isak tangis.
Mendengar penuturan itu, suasana di tepi Sungai Baihe mendadak terasa sangat dingin. Bukan karena hembusan angin malam, melainkan karena hawa membunuh yang perlahan keluar dari tubuh Han Le dan ketiga tetua Partai Pengemis.
"Bajingan!" umpat Tetua Chen dengan nada yang terdengar menggelegar. "Berani-beraninya mereka melakukan perbuatan serendah itu di depan mata rakyat kecil yang tak berdaya!"
Han Le berdiri tegak. Matanya yang tadinya ramah kini berkilat tajam bagaikan mata pedang yang baru diasah.
"Saudara Liu, di mana mereka sekarang?" tanya Han Le dengan nada pendek namun penuh tekanan.
"Mereka kemungkinan besar sedang berpesta di kedai besar di pusat desa ini, Koko Han. Mereka tertawa-tawa dengan gembira saat melihat aku dan adikku terjun ke sungai. Mereka pikir kami sudah mati dimakan ikan," jawab Liu Man, nadanya penuh dendam yang membara namun tak berdaya.
"Paman Lu, Paman Chen, Paman Song... apakah kalian mau ikut denganku untuk memberi pelajaran kepada 'tikus-tikus' ini?" tanya Han Le kepada ketiga tetua Partai Pengemis itu.
Tetua Lu tertawa dingin, tawanya terdengar mengandung semangat keadilan yang tak pernah padam. "Keponakan, sebagai anggota Partai Pengemis, tugas utama kami adalah membasmi ketidakadilan di mana pun kami menemukannya. Terutama jika pelakunya adalah orang kaya yang merasa bisa membeli segalanya, bahkan nyawa dan kehormatan orang lain, dengan emasnya. Tentu saja kami ikut!"
"Lin Siocia, tolong jaga Saudara Liu dan Adik Ruyan di sini. Biarkan warga yang baik hati membawa mereka ke rumah terdekat untuk berganti pakaian dan beristirahat," instruksi Han Le.
Lin Xue mengangguk patuh, namun matanya memancarkan keinginan kuat untuk ikut serta. "Berikan mereka pelajaran yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup, Han Koko!" ucap Lin Xue, yang tak sadar ikut meniru cara Liu Ruyan memanggil Han Le.
Pusat desa tidak jauh dari lokasi itu. Suara tawa riuh dan denting cangkir arak terdengar jelas dari sebuah kedai dua lantai yang paling besar dan mewah di tempat itu. Di lantai atas, duduklah seorang pemuda berpakaian sutra berwarna kuning cerah, wajahnya kemerah-merahan akibat pengaruh minuman keras.
"Hahaha! Sungguh sayang gadis cantik itu memilih mati. Padahal kalau dia mau melayaniku, dia tidak perlu lagi bekerja keras mencuci pakaian di sungai," seru Ciu Kun sambil menegak isinya cangkir. Teman-temannya tertawa terbahak-bahak, menganggap peristiwa dua orang yang hampir mati itu hanya sebagai bahan lelucon semata.
Tiba-tiba...
BRAK!!!
Pintu depan kedai itu hancur berantakan, berkeping-keping terkena satu sentakan tenaga yang tak terlihat. Sesosok pemuda berbaju biru tua melangkah masuk dengan tenang namun gagah, diikuti oleh tiga pengemis tua yang nampak kumal dan lusuh, namun setiap langkah mereka memancarkan aura yang sangat kuat dan menakjubkan.
"Siapa kalian?! Beraninya merusak kesenanganku!" teriak Ciu Kun dari lantai atas sambil bersandar di langkan kayu, wajahnya penuh kemarahan dan kesombongan.
Han Le menatap lurus ke atas. Pandangan matanya langsung mengunci sosok pemuda itu.
"Kau yang bernama Ciu Kun? Yang menendang seorang kakak ke sungai dan mencoba menodai kehormatan adiknya?" tanya Han Le, suaranya tidak keras namun terdengar jelas hingga ke setiap penjuru ruangan.
Wajah Ciu Kun berubah menjadi lebih sombong lagi, bahkan ia menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan bangga.
"Oh, jadi tikus sungai itu punya teman yang datang mencari masalah? Benar, itu aku. Memangnya kenapa? Kau datang minta uang duka? Pengawal! Usir sampah-sampah ini keluar dari tempatku!" perintahnya dengan nada meremehkan.
Sepuluh orang pengawal bertubuh kekar segera melangkah maju, mereka mencabut golok yang tergantung di pinggang, menimbulkan suara gemeretak besi. Mereka adalah jagoan-jagoan bayaran yang biasa menindas dan mengancam warga desa di bawah perintah tuannya.