Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sementara sebuah konspirasi gelap berskala internasional sedang dirajut dengan sangat serius untuk menjatuhkannya, "monster kuno" yang ditakuti itu sedang bergulat dengan gravitasi dan kelembutan.
Di Dapur Luar Sekte Awan Mengalir, fajar baru saja menyingsing. Sinar matahari pagi jatuh bagai tirai emas dari lubang atap, menyoroti 'Ranjang Awan Mengambang' yang melayang setinggi satu jengkal dari lantai batu.
Di atas lautan Sutra Awan Bintang yang putih berkilau itu, Lin Fan tidak bisa ditemukan.
Hanya ada sebuah gundukan selimut yang naik turun secara ritmis di tengah-tengah kasur raksasa tersebut. Tubuh Lin Fan benar-benar tenggelam ke dalam kelembutan kasur surgawi itu, hingga nyaris rata dengan permukaan kain.
Jari tangan kanannya sedikit bergerak, menyembul keluar dari balik selimut. Jari itu meraba-raba udara dengan malas, mencoba mencari ujung selimut, namun gagal karena kasur itu terlalu empuk dan menyerap seluruh tenaganya. Jari itu pun kembali masuk ke dalam selimut dengan pasrah.
Di dalam benaknya, sistem mulai berdenting memecah keheningan alam mimpi.
*[Ding! Laporan Kualitas Tidur Malam Pertama di Altar Awan!]*
*[Durasi: 14 Jam 30 Menit. Kedalaman Tidur: 100% (Tahap Koma Fisiologis).]*
*[Selamat! Host telah mencapai tingkat relaksasi fisik maksimal yang diizinkan oleh hukum semesta sekte ini!]*
*[Menerima Pengalaman Kultivasi Pasif: +5000.]*
*[Menerima Kemampuan Pasif Baru: 'Aura Kelesuan Menular' (Contagious Lethargy Aura).]*
*[Deskripsi: Siapa pun yang berdiri dalam radius lima meter dari Ranjang Awan Host dan menatap Host tidur selama lebih dari satu menit, akan terkena efek sugesti hipnotis. Keinginan mereka untuk bekerja keras akan terkikis, dan hormon melatonin mereka akan diproduksi secara paksa, menyebabkan rasa kantuk yang tak tertahankan.]*
Lin Fan mengerang panjang dari kedalaman tumpukan awan sutra. Suaranya terdengar sangat, sangat berat, seolah ia sedang berbicara dari dasar lautan madu.
*Aura Kelesuan?* batin Lin Fan, kesadarannya berenang-renang di perbatasan antara bangun dan tertidur kembali. *Bagus... sistem ini semakin lama semakin memahami visi hidupku. Jika aku tidak bisa menyingkirkan orang-orang rajin yang menggangguku, maka aku akan membuat mereka tertidur juga.*
Dengan sisa tenaga yang harus ia kerahkan sekuat tenaga, Lin Fan akhirnya berhasil membalikkan badannya. Ia menyibakkan sedikit selimut dari wajahnya, menghirup udara pagi yang segar.
Ia memiringkan kepalanya, menatap ke arah luar batas tirai sutra biru melalui celah kecil.
Pemandangan di luar membuat mata Lin Fan yang tadinya hanya terbuka separuh, kini mengerjap kebingungan.
Dapur Luar tidak lagi terlihat seperti dapur. Tempat itu terlihat seperti ruang tunggu kuil spiritual yang dipenuhi pendoa. Di sekitar batas radius lima meter dari ranjang melayangnya (batas tirai sutra biru), belasan murid luar, dan bahkan beberapa murid dalam berseragam putih, sedang duduk bersila di lantai batu yang berminyak.
Mereka memejamkan mata, wajah mereka menghadap ke arah tirai Lin Fan. Dada mereka naik turun, berusaha bernapas dengan ritme yang selambat mungkin. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang berani batuk. Bahkan Wang Ta dan Zhao Er sedang duduk di antara mereka, tangan terlipat di atas pangkuan, wajah mereka dipenuhi kedamaian ekstrem.
"Wang Ta..." panggil Lin Fan, suaranya sangat lirih.
Seketika, Koki Kepala itu membuka matanya. Ia bangkit dengan gerakan yang sangat lambat, berjinjit menghampiri celah tirai, dan menundukkan kepalanya. Matanya terlihat sedikit sayu dan merah, tanda bahwa ia sedang menahan kantuk yang luar biasa berat (efek dari Aura Kelesuan yang baru saja aktif).
"H-hamba di sini, Master Lin... uaaahh..." Wang Ta tidak bisa menahan uapan lebarnya, buru-buru menutup mulutnya dengan tangan. "Maafkan ketidaksopanan hamba. Udara di sekitar Anda... begitu menenangkan hingga jiwa hamba ingin beristirahat selamanya."
Lin Fan menunjuk ke arah murid-murid yang berjejer di luar dengan dagunya. "Mengapa dapur kita berubah menjadi panti jompo? Siapa orang-orang ini?"
Wang Ta tersenyum dengan mata setengah terpejam. "Mereka adalah 'Para Pencari Kekosongan', Master Lin. Berita tentang Jendela Kekosongan dan Ranjang Awan Anda telah menyebar. Murid-murid dari berbagai puncak datang kemari secara sukarela sejak fajar. Mereka tidak meminta bimbingan lisan. Mereka hanya memohon izin untuk duduk di luar batas paviliun Anda, menghirup sisa-sisa aroma napas Anda untuk membersihkan iblis hati mereka sebelum memulai latihan harian."
Wang Ta mengusap air mata kantuk dari sudut matanya. "Hamba tidak melarang mereka, karena mereka bersedia membayar 'Sumbangan Kebersihan Dapur' sebesar sepuluh batu roh per kepala setiap jamnya."
Lin Fan membeku. Ia mencerna kalimat terakhir Wang Ta.
*Tunggu. Mereka membayar sepuluh batu roh per jam... hanya untuk duduk diam dan menghirup udara di dekatku saat aku tidur?*
Otak Lin Fan yang biasanya mati rasa terhadap ambisi duniawi tiba-tiba berputar cepat. Jika ada dua puluh orang di luar, dikali sepuluh batu roh, dikali sepuluh jam ia tidur... itu adalah pendapatan pasif sebesar dua ribu batu roh per hari tanpa ia harus mengangkat satu jari pun!
Lin Fan menarik selimut sutra awannya lebih tinggi, menyembunyikan senyuman paling tulus dan paling licik yang pernah ia buat sejak bereinkarnasi.
"Koki Wang," gumam Lin Fan, memutar posisinya membelakangi tirai, siap untuk kembali melanjutkan pekerjaannya (tidur). "Pastikan mereka duduk rapi. Jangan sampai menghalangi jalan masuk makanan. Dan jika ada yang mendengkur lebih keras dariku... usir dia. Ini tempat meditasi, bukan penginapan gratis."
"Sesuai perintah Anda, Master!" jawab Wang Ta dengan khusyuk, menahan satu uapan panjang lagi sebelum melangkah mundur.
Di atas Ranjang Awan Mengambangnya, Lin Fan memejamkan mata. Di utara, sekte musuh sedang merencanakan konspirasi mematikan; di sekelilingnya, murid-murid sektenya sedang mencuci otak mereka sendiri dengan ajaran malasnya. Namun di atas kasur super empuk ini, Lin Fan merasa bahwa takdirnya di dunia kultivasi ini benar-benar berjalan di jalur yang sempurna.
*Biarlah dunia bertarung,* pikir Lin Fan, tenggelam ke dalam alam mimpi, *selama mereka membayar tiket masuknya.*