Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
“Liora, kemampuanmu membuat Tuan Han yakin padamu. Kau tidak bisa menolaknya. Lagi pula direktur sudah menerima permintaan beliau. Beliau orang yang baik, kau tidak perlu khawatir,” ujar Calvin dengan nada menenangkan.
Liora menghela napas pelan, wajahnya masih ragu.
“Tapi aku lebih memilih merawat pasien biasa daripada tokoh penting seperti dia. Kalau sampai terjadi sesuatu… bukankah aku yang akan menanggung akibatnya?”
Calvin tersenyum tipis, mencoba meredakan kegelisahannya.
“Tuan Han bukan seperti yang kau bayangkan. Dia tidak akan mempersulitmu.”
Liora terdiam sejenak, lalu menatapnya.
“Lalu… kapan aku mulai?”
“Dua hari lagi. Asistennya akan datang menjemputmu. Tempat tinggal juga sudah diatur,” jawab Calvin santai.
Liora menunduk sebentar, berpikir.
“Sepertinya… aku tidak punya pilihan selain menuruti permintaannya,” ucapnya akhirnya.
Meski terdengar pasrah.
***
Ruangan itu gelap dan lembap.
Bau darah bercampur dengan udara dingin yang menyesakkan.
Di tengah ruangan...
Liang Wei terikat pada kursi besi.
Kepalanya tertunduk.
Darah mengering di sudut bibirnya, pakaiannya robek, napasnya berat.
Pintu terbuka.
Langkah kaki terdengar pelan.
Teratur.
Nathan masuk.
Tatapannya dingin.
Tanpa emosi.
Ia berhenti beberapa langkah di depan Liang Wei. “Masih hidup,” ucapnya datar.
Liang Wei tertawa pelan, suaranya serak. “Seperti yang kau lihat…”
Nathan tidak menjawab. Ia hanya menatapnya.
Lama.
“Kau gagal membunuhku,” lanjut Nathan.
Liang Wei mengangkat kepalanya perlahan, menatap balik dengan mata penuh kebencian.
“Aku percaya masih ada kesempatan…”
Nathan berdiri tegak di hadapan Liang Wei, tatapannya dingin tanpa sedikit pun belas kasihan.
“Orang yang menyinggungku hanya bisa menunggu ajal menjemput. Tidak ada yang bisa lolos,” ucapnya pelan, namun penuh tekanan. “Dan… semua anak buahmu sudah menyerahkan diri. Sekarang, kau tidak punya siapa-siapa lagi.”
Liang Wei yang terikat hanya tertawa pelan, meski napasnya berat dan tubuhnya penuh luka.
“Jangan bangga terlalu cepat…” ujarnya serak. Ia mengangkat kepalanya, menatap Nathan dengan sorot mata penuh kebencian. “Selama aku masih bernapas… aku tidak akan melepaskanmu.”
Nathan terdiam sejenak. Lalu senyum tipis muncul di bibirnya.
Bukan senyum biasa.
Senyum yang justru membuat suasana semakin mencekam.
“Bagus,” ucapnya pelan.
Ia berbalik sedikit, lalu berhenti.
“Kalau begitu… bertahanlah lebih lama.”
Nada suaranya rendah.
Namun jelas.
“Karena aku ingin kau melihat sendiri bagaimana semuanya berakhir.”
Nathan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Pintu tertutup dengan suara berat.
Meninggalkan Liang Wei dalam sunyi—dengan amarah yang semakin membakar.
Keesokan harinya.
Pagi masih terasa tenang saat sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah sederhana tempat Liora tinggal.
Pintu mobil terbuka.
Marcus turun dengan sikap rapi dan tenang.
Ia melangkah mendekat, lalu mengetuk pintu.
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
Liora berdiri di sana dengan pakaian sederhana, membawa tas kecil di tangannya.
“Nona Meng, saya datang menjemput Anda,” ujar Marcus sopan.
Liora mengangguk pelan. “Saya sudah siap.”
Ia menoleh sebentar ke dalam rumah, memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu melangkah keluar sambil menyeret kopernya dan menutup pintu.
Mobil melaju meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan, suasana cukup hening.
Liora sesekali melirik ke luar jendela, sementara Marcus fokus mengemudi.
Beberapa saat kemudian...mobil memasuki kawasan elit.
Gerbang besar terbuka perlahan.
Rumah megah itu berdiri kokoh di hadapan mereka.
Mobil berhenti.
Liora turun.
Matanya sedikit melebar saat melihat tempat itu.
Bangunan besar, halaman luas, semuanya tertata rapi dan berkelas.
“Silakan masuk, Nona Meng. Mulai hari ini, Anda akan tinggal di sini,” ujar Marcus yang membantu menarik koper milik Liora.
Liora mengangguk pelan, meski masih sedikit terdiam melihat kemewahan di sekitarnya.
Ia melangkah masuk.
Pintu utama terbuka.
Interior dalam rumah tidak kalah megah.
Langkahnya berhenti sejenak di tengah ruangan.
Belum sempat ia berkata apa-apa... suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Perlahan seseorang muncul.
Nathan.
Dengan pakaian santai namun tetap rapi, ia menuruni tangga dengan langkah tenang.
Tatapannya langsung jatuh pada Liora.
Tidak ada senyum.
Hanya sorot mata yang dalam.
Liora ikut menatapnya.
Beberapa detik...hanya ada keheningan.
“Tuan, saya telah membawa Nona Meng ke sini,” kata Marcus dengan sopan.
Nathan berdiri di ujung tangga, menatap mereka tanpa banyak ekspresi.
“Tunggu!” Liora langsung menyela, wajahnya berubah. “Saya tinggal di sini? Dan… kenapa Tuan Han juga ada di sini?” tanyanya, bingung.
Marcus sedikit berdeham. “Nona Meng, saya lupa memberitahu Anda. Mulai sekarang, Anda akan tinggal di sini… bersama Tuan.”
“Apa?” Liora menatapnya hampir tidak percaya.
Ia beralih menatap Nathan. “Maksudnya… saya tinggal satu rumah dengan Anda?”
Nathan turun beberapa langkah, lalu berhenti. “Lukaku belum sepenuhnya pulih,” ujarnya tenang. “Aku butuh seseorang yang bisa mengawasi kondisiku setiap saat.”
Liora langsung menggeleng kecil. “Tapi tidak harus tinggal serumah, kan? Saya bisa datang setiap hari—”
“Tidak,” potong Nathan singkat.
Suasana langsung hening.
Tatapan Nathan tetap tenang, tapi tidak memberi ruang untuk dibantah.
“Ini lebih efisien.”
Liora terdiam sejenak.
Jelas ia tidak nyaman.
“Semua kebutuhan Anda sudah disiapkan. Anda tidak perlu khawatir.”
Liora menarik napas pelan.
Pilihan itu…
seakan tidak benar-benar ada.
Ia menunduk sebentar, lalu berkata pelan, “Baik…”
Nathan menatapnya beberapa detik.
Lalu berbalik tanpa berkata apa-apa lagi.
“Marcus, tunjukkan kamarnya.”
“Baik, Tuan.”
"Baru bertemu sekali, sudah harus tinggal satu rumah. Bagaimana bisa aku berhadapan dengan dia setiap hari?" gumam Liora.
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???