Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Seribu yang Tersisa dan Perebutan Pilar Bintang
Asap tebal dan bau batu hangus memenuhi Kawah Meteorit. Hujan Bintang Patah telah berhenti, menyisakan pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Dari seratus ribu peserta yang awalnya memadati dasar kawah, kini hanya tersisa seribu orang yang berdiri tegak.
Sembilan puluh sembilan ribu lainnya telah mengundurkan diri, terluka parah, atau hancur menjadi abu di bawah tekanan ujian pertama.
Di tengah-tengah kawah, Ye Chen berdiri santai. Jubah hitamnya sama sekali tidak kotor. Di belakangnya, Yin Yue dan Yin Xue terengah-engah, masih memulihkan Qi Dewa mereka yang terkuras setelah mencoba mempertahankan kubah es.
Tatapan ribuan peserta yang selamat kini sering kali mencuri pandang ke arah Ye Chen. Pria berjubah hitam yang memegang pedang raksasa itu baru saja menghancurkan dua puluh elit Klan Harimau Salju beserta tuan mudanya tanpa berkedip.
Di udara, Tetua Xing Kuang melayang turun, matanya yang tajam menyapu sisa-sisa peserta. Saat tatapannya melewati Ye Chen, ada kilatan ketertarikan yang tak bisa disembunyikan.
"Selamat, kalian Seribu Orang yang tersisa," suara Tetua Xing Kuang bergema, memecah keheningan. "Kalian telah membuktikan bahwa kalian bukan sekadar rumput liar. Tapi, ini baru penyaringan awal."
Tetua Xing Kuang mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.
RUMBLE... RUMBLE...
Dasar kawah bergetar hebat. Dari dalam tanah berbatu itu, mencuat Seratus Pilar Batu Hitam yang menjulang ke udara dengan ketinggian yang berbeda-beda. Pilar terendah setinggi sepuluh meter, sementara Pilar Nomor 1, yang terletak tepat di tengah, menjulang setinggi seratus meter seperti menara yang menantang langit.
"Babak Kedua: Perebutan Tahta Bintang!" seru Tetua Xing Kuang.
"Hanya ada Seratus Pilar. Artinya, sembilan ratus dari kalian akan tersingkir di sini. Kalian memiliki waktu satu jam untuk memperebutkan pilar-pilar ini. Siapa yang berdiri di atas pilar saat waktu habis, dialah yang lolos ke babak final!"
"Sebagai tambahan," Tetua Xing Kuang tersenyum tipis. "Pilar Nomor 1 hingga 10 memiliki hadiah khusus. Siapapun yang berhasil menduduki Pilar Nomor 1, akan mendapatkan sebotol Sumsum Bintang Jatuh (Fallen Star Marrow) dan hak langsung untuk menggunakan Formasi Teleportasi Antar-Domain tanpa perlu memenangkan final!"
Mata Ye Chen yang tadinya bosan, langsung berbinar tajam.
Hak langsung menggunakan Formasi Teleportasi? Itu adalah tujuan utamanya!
"WAKTU DIMULAI!"
BOOOOOOM!
Seribu peserta langsung meledakkan Qi Dewa mereka. Pertempuran brutal dan kacau pecah seketika di dasar kawah. Orang-orang saling tikam, saling dorong, dan saling banting demi memanjat pilar-pilar tersebut.
Yin Yue dan Yin Xue menghunus pedang es mereka.
"Tuan Ye, kami akan mengincar pilar nomor 80 dan 81," kata Yin Yue dengan realistis. Ia tahu batas kemampuannya.
"Hati-hati. Jangan memaksakan diri," kata Ye Chen pelan.
"Dan Anda, Tuan Ye?" tanya Yin Xue.
Ye Chen tidak menjawab. Matanya sudah terkunci pada Pilar Nomor 1 yang menjulang paling tinggi.
Ye Chen melangkah maju. Tidak ada yang berani menghalanginya. Auranya yang baru saja membantai Klan Harimau Salju membuat peserta lain secara instingtif membuka jalan, memberinya karpet merah tak kasat mata menuju ke tengah kawah.
Namun, saat Ye Chen hendak melompat ke Pilar Nomor 1...
Sebuah bayangan biru melesat dari langit seperti meteor, mendarat dengan anggun tepat di atas puncak Pilar Nomor 1.
Sosok itu adalah seorang pemuda tampan dengan jubah biru tua bertabur bintang emas. Auranya luar biasa padat, membuat udara di sekitar pilar itu terdistorsi.
Xing Ming (Bintang Kegelapan). Murid Utama Sekte Bintang Jatuh.
Tingkat Kultivasi: Dewa Fana Tingkat 6 Puncak!
Berdiri di atas Pilar Nomor 1, Xing Ming memandang rendah semua orang di kawah, layaknya seorang dewa yang menatap fana.
"Pilar Nomor 1 adalah milik Sekte Bintang Jatuh," suara Xing Ming terdengar arogan dan absolut. "Siapapun yang berani menjejakkan kaki di pilar ini, akan kubuat jiwanya hancur."
Beberapa jenius dari klan besar yang awalnya berniat merebut Pilar Nomor 1 langsung menelan ludah dan beralih ke Pilar Nomor 2 atau 3. Melawan Murid Utama sekte tuan rumah di kandang mereka sendiri adalah tindakan bodoh.
Tetapi, Ye Chen bukanlah orang yang peduli pada tuan rumah.
TAP.
Ye Chen menghentakkan kakinya. Tanah di bawahnya retak.
Langkah Naga Awan!
Dalam sekejap mata, Ye Chen melesat ke atas, menembus jarak seratus meter dan mendarat tepat di hadapan Xing Ming di puncak Pilar Nomor 1.
Pilar itu tidak terlalu lebar, hanya cukup untuk dua orang bertarung.
Keheningan melanda seluruh arena. Jutaan penonton di tribun menahan napas. Pemuda berjubah hitam itu benar-benar menantang Xing Ming?!
Xing Ming mengerutkan kening. Mata bintangnya menatap Ye Chen dengan dingin.
"Kau... si pengembara bernama Ye Gu itu? Kudengar kau mengalahkan Hu Lei. Tapi jangan samakan aku dengan sampah Tingkat 5 itu," kata Xing Ming, menyilangkan tangannya di dada. "Turunlah ke Pilar Nomor 2 sebelum aku mengubah pikiran."
"Sumsum Bintang Jatuh dan akses teleportasi itu milikku," jawab Ye Chen datar. Dia tidak mencabut Pedang Naga Langit-nya. Dia hanya berdiri dengan tangan kosong.
"Minggir. Atau kau yang turun."
Mata Xing Ming menyala karena marah. Arogansinya terluka oleh sikap santai Ye Chen.
"Mencari mati!"
Xing Ming tidak mencabut pedang. Dia mengangkat tangan kanannya, dan ujung jarinya memancarkan cahaya bintang yang menyilaukan.
Teknik Dewa Fana: Jari Penghancur Bintang!
Sebuah sinar energi padat sebesar lengan ditembakkan dari jari Xing Ming, melesat langsung menuju ulu hati Ye Chen. Serangan ini terkenal mampu melubangi tubuh binatang dewa Tingkat 3!
Di tribun, para Tetua Sekte Bintang Jatuh tersenyum puas. "Xing Ming tidak menahan diri. Anak sombong itu akan berlubang."
Namun, di atas pilar...
Ye Chen tidak menghindar. Dia mengangkat tangan kanannya.
Tulang Emas Gelap di balik kulitnya bersinar samar, mengaktifkan hukum kepadatan ekstrem dari Jantung Gravitasi.
Ye Chen menampar sinar bintang itu dengan telapak tangannya yang terbuka.
PRANGGG!
Suara yang terdengar bukanlah ledakan energi, melainkan suara kaca pecah.
Sinar bintang mematikan milik Xing Ming... ditepis hancur oleh tamparan fisik Ye Chen! Serpihan energi bintang berhamburan ke udara seperti kunang-kunang yang mati.
"APA?!" Xing Ming terbelalak horor. Serangan andalannya ditampar begitu saja?! "Tanganmu... Kau bukan manusia?!"
Ye Chen menurunkan tangannya, meniup sedikit asap yang keluar dari telapak tangannya.
"Energimu terlalu terang. Bikin sakit mata."
Ye Chen maju satu langkah. Langkahnya pelan, tapi entah kenapa, Xing Ming merasa seolah-olah sebuah gunung sedang bergeser ke arahnya. Tekanan mental yang dipancarkan Ye Chen menekan Qi Dewa milik Xing Ming.
"J-Jangan meremehkanku!" Xing Ming mundur setengah langkah ke tepi pilar. Dia buru-buru menarik pedang panjangnya. "Domain Bintang Jatuh!"
Xing Ming bermaksud melepaskan ranah kekuatannya, tapi Ye Chen sudah berada di jarak nol.
Tangan kiri Ye Chen mencengkeram kerah jubah Xing Ming.
"Kau terlalu banyak bicara."
Ye Chen mengangkat tubuh Xing Ming yang merupakan jenius Dewa Fana Tingkat 6 Puncak itu dengan satu tangan, seolah dia hanya mengangkat karung kapas.
"T-Tunggu!" Xing Ming meronta, mencoba menebas tangan Ye Chen.
Tapi Ye Chen sudah mengayunkan lengannya dan melemparkan Xing Ming ke bawah.
WUUUSH!
Xing Ming meluncur bebas dari ketinggian seratus meter.
BRAK!
Dia menghantam pilar nomor 10 yang ada di bawahnya, menghancurkan puncak pilar itu dan jatuh terguling ke dasar kawah bersama reruntuhan batu. Dia memuntahkan darah dan langsung kehilangan kesadaran.
Hening.
Kesunyian yang menulikan melanda seluruh Kota Bintang Jatuh.
Satu gerakan. Satu lemparan santai.
Murid nomor satu mereka, harapan masa depan sekte, dibuang dari pilar tertingginya seperti sampah.
Di atas Pilar Nomor 1, Ye Chen merapikan kerah jubahnya yang sedikit bergeser. Dia menatap ke arah pulau terapung tempat para Tetua Sekte duduk. Matanya bertemu dengan mata Tetua Xing Kuang.
"Tahta ini," kata Ye Chen, suaranya tidak keras tapi menggema ke seluruh kawah berkat kekuatan fisiknya.
"Sudah ada yang menempati."
Tetua Xing Kuang berdiri dari tempat duduknya, tangannya mencengkeram pegangan kursi hingga hancur. Di balik keterkejutannya, ada senyum gila yang mulai terbentuk.
"Monster..." gumam Tetua Xing Kuang. "Kita benar-benar telah memancing monster dari dunia bawah."
Pertarungan perebutan pilar berlanjut di bawah, tapi tidak ada satupun kultivator, sekuat apa pun mereka, yang berani mengarahkan pandangannya ke Pilar Nomor 1.
Tahta itu telah diklaim oleh sang Asura.
(Akhir Bab 31)
bantai para dewa yg munafik itu ye chen