"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Amarah Ribka.
Ribka …!” Seru Raymond kaget. Tidak menduga kalau istrinya datang. Padahal tadi dia menolak datang. Apa dia bilang? Dia sudah tahu rahasia itu? Jadi itu kah penyebabnya dia berubah? Tapi sejak kapan Ribka mengetahuinya.
Kemarin juga dia sempat mengutarakan hal.itu secara samar. Tapi dirinya tidak ngeh dan mengabaikan hal itu.
“Sejak kapan kamu disana. Kamu sengaja menguping pembicaraan kami ya?” Tuduh Raymond.
“Ini kali kedua aku mendengarnya. Juga di rumah sakit ini. Kamu kenapa Alisya. Shock juga ya setelah mengetahui rahasia ini.” Cibir Ribka.
“Kamu saja sudah terpukul seperti itu. Bagaimana dengan aku. Itu telah membunuhku tapi aku tidak mati. Hanya hatiku mungkin yang mati untuk keluarga ini.” Ribka mengatur nafasnya. Menatap Raymond.
“Tapi kamu tega masih mengharap aku untuk merawat ibumu. Ibu yang menyetujui anaknya berselingkuh. Ibu yang sangat jahat!” tunjuk Ribka ke arah ibu mertuanya.
Bu Nora gelagapan mendengar tuduhan itu. Dia merasakan kemarahan yang bergejolak di dada menantunya itu.
Kemarahan yang mungkin belum pernah dilampiaskan.
Dan inilah saatnya menumpahkan semua itu.
“Ribka, ini tidak ada hubungannya dengan Ibu. Jadi jaga ucapanmu!” Sergah Raymond yang tidak ingin ibunya dipersalahkan.
“Tidak ada? Bukankah beliau yang mendukungmu untuk menceraikan aku. Karena perempuan jalang itu lebih terhormat di matanya.” tatap Ribka sinis
"Kalian perlakukan aku seburuk itu. Kau jadikan aku pengasuh anak harammu. Dan anak kandungmu sendiri kau buang!”
Ribka maju beberapa langkah mendekati Raymond. Menatap Khaty penuh kebencian.
“Jadi ini perempuan iblis itu. Yang mendalangi penculikan anakku. Supaya aku mengasuh anak haramnya."
"Kamu pikir kamu akan lepas dari semua perbuatan kamu itu? Kamu merasa bangga ya dengan perbuatanmu selama ini."
"Bahkan kamu belum puas juga. Kamu menghancurkan rumah tanggaku.” Hardik Ribka. Menatap nyalang ke arah Khaty.
Khaty mundur satu langkah. Tatapan Ribka membuatnya ngeri.
“Ribka kau mau apa?” Sergah Raymond saat melihat langkahnya semakin maju. Membuat Khaty terdesak.
“Kamu bertanya?” Dengus Ribka. Sorot matanya laksana petir yang siap hendak meluluh lantakan Raymond.
Raymond tergugu. Belum pernah dia melihat amarah istrinya seperti saat ini.
“Aku cuma mau memastikan. Sekuat apa wanita jalang ini menahan amarahku!”
“Ribka! Kamu jangan bertindak kasar!”
Plak!
Tangan Ribka lepas memberi sebuah tamparan ke wajah Raymond. “ Kamu masih mencoba melindunginya? Melindungi perempuan jalang yang telah menghancurkan hidupku. Selama ini aku diam. Dan sesukamu memperlakukan aku, untuk kesalahan yang tidak aku perbuat sepenuhnya.
"Menyingkir kamu!” Ribka mendorong Raymond sepenuh kekuatannya.
Raymond yang tidak menduga serangan itu kehilangan keseimbangan. Dia jatuh terjengkang.
Ribka maju kehadapan Khaty yang telah ketakutan. Ketika Ribka melayangkan tangannya menampar Khaty. Khaty tidak sempat menghindar. Tubuhnya seolah kaku, sehingga tidak bisa bergerak.
Tangan Ribka melayang menampar Khaty, bertubi-tubi. Seperti orang kesetanan saja. Ribka tidak bisa mengontrol emosinya.
Melampiaskan rasa sakit hati.
Melampiaskan beban yang ditanggung selama ini!
Perasaan disakiti!
Dibodohi.
Diabaikan!
Dimanfaatkan!
"Cukup Ribka!" Raymond menarik tubuh Ribka. Wajah Khaty memerah bekas tamparan Ribka. Di sudut kedua bibirnya mengalir darah, membasahi dagunya. Tatapan kedua matanya, jelas menggambarkan kengerian!
Nafas Ribka tersenggal. Air mata telah memenuhi kedua pipinya.
"Karena kamu, hidupku tersiksa. Bagaimana aku bisa melepaskan kamu, hah!"
"Sudah cukup. Aku juga bersalah. Jangan.lampiaskan amarahmu hanya kepada Khaty." sentak Raymond.
Ribka mengalihkan pandangannya. Sorot matanya yang tadi sempat meredup karena amarah yang tidak tertahankan. Kini kembali menyala.
Ribka berbalik. Sehingga Raymond melihat jelas mata Ribka yang terbakar amarah.
"Kamu masih saja membelanya? Melindungi dia sampai akhir ya? Benar-benar lelaki sejati ya?" ejek Ribka dengan sinis.
"Karena dia kamu dan keluargamu menekan aku akan kesalahan yang tidak sepenuhnya aku lakukan. Bagaimana kamu telah membunuh karakterku. Sehingga aku selalu dalam ketakutan. Putus asa. Karena kau rampas anakku."
"Ribka, dulu aku tidak tau kalau Jason anakku. Aku tidak ingat pernah menyentuhmu. Maafkan aku. Beri aku kesempatan memperbaiki diri!" Raymond berusaha meredam amarah Ribka.
"Cih! Semudah itu kamu minta maaf. Memang anakku bisa kembali dengan maafmu? Aku benci kamu! Lenyap sajalah kau dari hadapanku. Aku jijik!" teriak Ribka, saat Raymond mencoba memeluk Ribka.
Raymond sangat terkejut melihat keadaan Ribka. Wanita yang selama ini diabaikannya. Ada sesal yang mencengkram hatinya. Begitu kuat, sehinga terasa perih.
Buck!
Ribka meninju perut Raymond sekuat tenaganya. Membuat Raymond kesakitan dan jatuh terjengkang, lagi.
Lalu Ribka mengusap air matanya. Menenangkan dirinya. Dengan angkuh dia mengangkat dagunya.
"Jangan kalian pikir semua berakhir sampai disini. Akan kukembalikan semua rasa sakit ini. Hingga untuk menghirup udara saja kalian akan kesakitan."
"Aku akan mengurus surat cerai. Dan aku tidak ingin bertemu kalian lagi." Ribka melangkahkan kakinya hendak keluar. Tapi, langkahnya terhenti karena melihat Kenny yang tiba-tiba muncul.
"Tante tidak apa-apa?" Kenny menyongsong langkah Ribka. Semua yang berada dalam ruangan terkejut. Terlebih Raymond. Dia heran ada seseorang yang peduli kepada istrinya.
"Kamu siapa?" Raymond berdiri dengan susah payah. Pinggulnya terasa sakit karena sudah dua kali terjatuh. Ulu hatinya juga, akibat Ribka meninju perutnya.
Raymond merasa familiar melihat wajah pria muda yang menyebut istrinya, Tante. Tapi dimana pernah melihatnya. Ingatan Raymond terasa tumpul.
"Apa yang terjadi Tante? Apakah mereka telah menyakiti Tante?" Kenny mengabaikan pertanyaan tentang dirinya. Dirangkulnya bahu Ribka. Karena Ribka terlihat rapuh.
Tadi perasaannya tidak enak selama di parkiran. Ribka menolak ditemani ke ruang rawat ibu mertuanya. Janjinya cuma sebentar, makanya Kenny menunggu saja di dalam mobil.
Akhirnya dia menyusul karena firasat tidak enak yang tiba-tiba merasukinya. Kenny telat, karena kesasar dan akhirnya menemukan ruangan ini. Karena mendengar suara teriakan saat melintas di depan kamar ini.
Kenny kenal suara itu dan iseng mengintip. Benar saja. Dugaannya tidak meleset. Hanya saja, Kenny tidak langsung masuk. Dia mengawasi dan akan bergerak saat Ribka butuh bantuan. Di luar dugaannya, ternyata Ribka mampu mengusai panggung.
"Tunggu!" suara itu menghentikan langkah Kenny dan Ribka. Suara Khaty.
"Bagaimana dengan Mirza? Kembalikan dia padaku. Mirza anakku."seru Khaty.
Ribka berbalik." Ambil sendiri kalau kamu mampu. Mirza bukan anak kecil lagi. Biar dia yang memilih siapa yang layak menjadi keluarganya."
"Tapi kamu harus membujuknya."
"Apa? Kamu benar-benar tidak tau malu!
Dulu kamu yang serahkan dia kepelukanku. Setelah aku rawat dan besarkan dia. Seenak hatimu memintanya begitu saja. Fuih!"
"Aku akan tempuh jalur hukum." ucap Khaty ngotot membuat Ribka tertawa keras.
"Mau pakai jalur hukum? Silahkan! Biar seluruh dunia mengetahui ibu macam apa kamu ini, hahaha ...."
Tawa Ribka tiba-tiba terhenti.
Mata nyalangnya kembali menatap Khaty. " Tapi ingat, jangan coba-coba menyakiti Mirzaku. Atau membuat dia malu. Aku akan mencarimu. Akulah Ibu Mirza. Sekalipun dia bukan terlahir dari rahimku." ucap Ribka penuh penekanan. ***
Dan aku rasa Mirza itu anaknya Raymond dengan Kathy.