Di usia kepala tiga dan tak kunjung naik pelaminan membuat Manda merasa resah. Dihantui perasaan takut justru dirinya mulai beranggapan telah terkena sebuah kutukan.
Lantas kesalahan besar apa yang telah Manda perbuat di masa lalu hingga dia punya pikiran seperti itu?
Maka ikuti saja kisahnya...
SQUEL DARI NOVEL SENANDUNG IMPIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Satu
"Itu kenalan dulu sama temannya, ada Risma sama Kak Rizky." Manda mencoba mengenalkan Nagita kepada dua anak dari sahabatnya, tapi yang terjadi justru Nagita terdiam lama tak kunjung mau mengulurkan tangannya.
Risma dan Rizky pun hanya saling pandang, hingga sang Mama pun turun tangan menengahi apa yang terjadi di antara mereka. "Nagita masih inget Tante kan? Kemarin Tante yang datang dan gendong kamu saat muntah-muntah?" ucap Marwah.
Nagita menggeleng, memundurkan langkah malah berdiri di belakang Manda dengan mencengkeram pakaian yang dikenakan Manda.
"Kayaknya Nagita belum terbiasa aja, jarang berinteraksi mungkin dengan anak seumurannya," ujar Marwah dengan suara rendah.
Manda menghela pendek napasnya. "Bisa jadi sih, makanya aku bawa kesini biar dia punya temen."
Marwah mengangguk-anggukan kepalanya, menatap anak itu memang cukup introver bila berada di lingkungan umum, tapi sudah dipastikan dari cerita Manda di rumah memiliki sifat yang bertolak belakang.
"Risma sama Rizky ambil mainan kalian ya, nanti Nagita diajak main sama-sama," ucap Marwah memberi perintah kepada anaknya, dan bergegas keduanya mengambil dan menyeret satu box berisi koleksi-koleksi mainan mereka.
Manda memperhatikan raut heran yang tercetak jelas di wajah Nagita, anak itu begitu terkejut saat Risma dan Rizky mengeluarkan satu persatu mainan mereka.
Manda pun kemudian berjongkok, mencoba berbicara pada Nagita. Membujuk anak itu perlahan untuk ukur bergabung bermain bersama kedua anak sahabatnya.
"Nagita mau ikutan main? Itu lihat yang dibawa sama Risma ada dua pasang boneka barbie, sana temenan. Nanti bisa main bareng-bareng sama Risma dan Kak Rizky," ucap Manda membujuk Nagita.
Anak itu memandangi Manda lama, seperti ingin tapi ada ketakutan tersendiri di diri Nagita. Tanpa ada yang menyuruh kini justru Risma mengulurkan boneka yang di pegangnya pada Nagita. Tak segera mengambilnya, Nagita justru menoleh seperti hendak meminta persetujuan pada Manda.
Sontak Manda mengangguk dan tersenyum. "Risma baikkan, itu dipinjami. Sekarang ambil dan main sama-sama."
Dengan gerak ragu dan malu-malu Nagita pun menerima uluran mainan itu, hingga satu tangannya kini digandeng oleh Risma untuk dituntun menuju kotak mainan dan bergabung bermain bersama.
"Baru juga kemarin, udah banyak perubahannya sekarang?" sindir Marwah.
Manda menipiskan bibirnya, berbalik badan dan mengambil tempat duduk di sofa lalu meraih secangkir teh yang sudah disiapkan Marwah.
"Aku bawa Nagita kesini itu dengan tujuan ngasih dia reward. Kalau ditanya banyak kemajuan, jangan salah. Tadi pagi dia habis nangis, hampir satu jam. Dan nangisnya asal kalau tahu," sejenak Manda mendesah panjang lalu melanjutkan ucapannya. "Di jalanan aspal. Mana dilihatin banyak orang," keluhnya lalu meletakkan cangkir ke atas meja.
Manda tertawa. "Maksudku yang banyak perubahannya itu kamu. Makin sabar aja hadapi itu bocah."
"Oh ya? Capek tahu gak kalau marah mulu. Gak tahu deh tekanan darahku jadi naik berapa ratus semenjak ngurus anak itu."
Marwah kian tak bisa menghentikan tawanya. "Terus kamu bawa kesini, masalah tentang reward, itu apa?"
"Reward karena dia berhenti nangis, dah gitu setelah kelamaan nangis kasian banget lihat wajahnya yang kuyu," ucap Manda dengan membayangkan wajah Nagita sesuai menangis hingga muncul rasa iba di dalam hatinya.
Marwah tersenyum, menyadari sedikit ada perubahan dalam diri sahabatnya. Terlihat mulai muncul kasih sayang, dan bisa jadi esok sosok keibuan melekat dalam diri Manda, batinnya.
"Ngapain malah senyum-senyum!" tegur Manda mendapati sikap Marwah.
Marwah berdehem kemudian menggeleng. "Sering-sering aja ajak main kesini, mereka sepertinya memang cocok. Ya meski awalnya tadi canggung, tapi itu lihat mereka sekarang udah asyik main dan ngobrol," ujar Marwah menunjuk pada anak-anak yang tengah bermain.
"Hmm...," gumam Manda mengiyakan, kemudian dia mulai teringat akan sesuatu dan dari kemarin dia ingin mendiskusikan bersama sahabatnya. "Coba kamu perhatikan Nagita, kamu ngrasa gak sih dia ada kemiripan dengan Akram?" tanya Manda meminta pendapat.
Alis Marwah terangkat, sedikit bingung dengan ucapan Manda barusan. Tapi kini kepalanya teralih menoleh menatap Nagita, tak lama dirinya mengangkat kedua bahunya. "Aku udah sedikit lupa gimana wajah Akram."
Mencebik, Manda menipiskan bibirnya akan tanggapan sahabatnya.
"Lagian ya, udah berapa puluh tahun sih kita lulus dari SMP. Lama kali—"
"Tapi percaya gak kalau aku bilang Nagita bukan anak kandung Akram," ucap Manda membuat Marwah mengerjap. "Itu aku dengar sendiri, baru tadi pagi aku dengar Akram dan Ibunya ngobrol menyinggung kalau Ibunya meragukan Nagita, bukan anak dari Akram," jelas Manda.
"Maksudmu— Lalu kalau bukan anak dari Akram lantas anak siapa?"
Manda menggeleng. "Entahlah," sahutnya asal.
"Terus kalau itu misalkan benar, jadi status Akram—"
"Bukan duda?" seru mereka serempak.
To be Continue