NovelToon NovelToon
MAINAN RANJANG TUAN

MAINAN RANJANG TUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:3.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: PC. Priyanka Chandler

Bukan bacaan anak di bawah umur, mengandung kata-kata kasar dan adegan ranjang.

Gadis berusia 18 tahun itu nekat mendatangi mansion Tuan Leonel Dankar, demi kebebasan kakaknya yang telah dijebloskan ke dalam penjara usai menggelapkan dana perusahaan Dankar Company. Dan sebagai imbalannya, gadis muda itu harus merelakan keperawanannya untuk direnggut oleh Tuan Leonel.

Namun bagaimana jadinya jika gadis itu malah jatuh cinta pada Tuan Leonel? Sedangkan ia hanyalah dianggap sebagai mainan ranjang tuan. Akankah gadis itu mampu merebut hati Tuan Leonel? Atau justru harus menanggung sakit akibat cinta yang tak berbalas.

~~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PC. Priyanka Chandler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan yang menyiksa

Kudorong tubuh Tuan Leonel, ia terduduk, begitu pun aku, menurunkan kaki ke lantai, mencoba menetralisir nafas yang masih terengah.

Kuraih tasku yang tergeletak di lantai, memakainya di bahu kiri, kemudian berdiri.

"Tunggu,"

Aku yang tadinya sudah melangkah sontak berhenti, tetap berdiri membelakanginya. Ada rasa marah pada diri sendiri yang sudah terbawa suasana hingga aku membalas ciumannya.

Tak ada kata yang keluar dari mulut Tuan Leonel selama aku menunggu dan berdiri, selain dirinya yang melangkah mendekat.

Kuhembuskan nafas kasar bersamaan dengan mata yang terpejam, kemudian kembali melangkah.

"Re,"

Kali ini kuabaikan panggilannya. Aku terus melangkah menuju pintu yang tertutup, dan berhenti menyadari pintu mewah itu terkunci.

"Tolong buka pintunya, Tuan?" pintaku, memohon tanpa berbalik, aku tidak akan berbalik, atau Tuan Leonel akan melihat deraian air mata yang membanjir membasahi pipi.

"Re?"

"Tuan? Kumohon?"

Aku masih menunggu, dan suara beep serta lampu merah kecil yang menyala dari pintu itu akhirnya kudengar, pintu terbuka.

Aku melangkah keluar dari kamar Tuan Leonel, berjalan cepat, kuabaikan tatapan Nyonya Lorena yang memicing kala bertemu, saat aku hendak menuruni anak tangga, juga Paman Butler yang menyapaku saat di lantai ruang tengah.

"Re?"

Dari belakang kudengar suara Tuan Leonel berteriak menyerukan namaku? Apakah dia mengejarku?

"I LOVE YOU!"

DEG.

Langkahku terhenti, bukan hanya karena teriakan Tuan Leonel yang menyatakan cinta, tapi juga karena kulihat dari depan sana, Nyonya Annora datang memasuki ruang tengah.

"I love you too, Leon?" teriak Nyonya Annora berjalan cepat melewatiku yang berdiri mematung.

Aku tak menoleh ke belakang, tapi aku yakin, mereka saat ini pasti sedang berciuman, terdengar dari suara kecupan itu, yang menyakiti pendengaranku.

"Bagaimana kau bisa tahu jika aku datang? Kau pasti sangat merindukanku, aku segera menyelesaikan pemotretan, dan terbang untuk menemuimu, aku ingin ber.cinta."

Nyesss,,,,

Ada yang pecah berserakan di dalam sini, sakit sekali, sampai tubuhku gemetar saking sakitnya.

Cepat kulangkahkan kakiku yang terasa berat, berlari keluar dari ruang tengah, meninggalkan mansion Tuan Leonel Dankar.

***

Hari-hari berlalu suram, semenjak malam itu, kami tak pernah lagi bertemu, jika pun ada kesempatan, kami sama-sama menghindar, entah mengapa, tapi kami sama-sama bersikap seperti dua orang asing yang tak saling mengenal.

Satu Minggu berlalu, dan semua masih sama, aku menjalani hari dengan diam, tawa ceria yang dulu selalu menghiasi wajahku kini lenyap sudah, semua nampak suram. Bahkan dedaunan pohon trembesi yang cantik merah kekuningan di musim gugur, nampak hitam putih dalam pandangan.

Beginikah rasanya patah hati? Pada apa yang tak bisa kita miliki? Sakit itu begitu menyiksa hingga ayam goreng KFC favorite terasa hambar.

"Ada apa?" tanya Crishtie, kami tengah makan siang di restoran dekat kampus, Crishtie yang mengajak, dan dia yang akan membayar.

"Aku jatuh cinta," lirihku.

"Sungguh? Masih mencintai Erick?" setahu Crishtie, aku dan Erick kembali dekat, yah, kami sering terlihat bersama saat di kampus, dan setiap kali ada kesempatan, Erick selalu mendekatiku.

"Bukan, bukan Erick," jawabku.

"Lalu?"

Aku menghembuskan nafas kasar, hanya dengan mengingatnya sudah mampu memporak porandakan seluruh relung hatiku.

"Kau baik-baik saja?" tanya Crishtie cemas, melihatku yang tak seperti biasanya. Tangannya menggenggam tanganku yang saling mengepal di atas meja.

"Aku patah hati,"

Dahi Crishtie mengernyit, sungguh ia tak mengerti.

"Maksudnya? Kau jatuh cinta apa patah hati?" teriak Crishtie tidak sabar.

"Keduanya," jawabku yang semakin membingungkan sahabatku.

"Bisa kau ceritakan dengan jelas?"

Aku mulai bercerita, tentang hati yang tak dapat kukendalikan, tentang hati yang mengkhianati pikiran, tentang hati yang telah salah mencintai milik orang.

"Aku tidak suka rasa ini, ini terlalu menyakitkan, aku selalu merindukannya, melihatnya di mana-mana, bahkan saat aku memejamkan mata, ia hadir di hadapanku, aku sungguh menderita, aku tersiksa, kenapa cinta ini tumbuh begitu besar? Sehingga sakitnya pun luar biasa dalam, aku benci perasaan ini," tangisku pecah. Crishtie berdiri dari kursinya, merengkuhku, memelukku erat.

"Kau tidak salah, kita tidak bisa memilih pada siapa kita akan jatuh cinta, kau sudah berusaha sebaik yang kau bisa, langkah yang kau ambil sudah benar, menjauh dan menghindarinya,"

"Tapi ini menyakitkan, aku sangat tersiksa, Crish,,,," isakku mengadu.

"Aku tahu, Re. Karena aku pun merasakannya," suara Crishtie berubah lirih, sedih.

Kulepaskan pelukan kami, mendongak menatapnya yang juga menangis, kami saling memandang penuh arti, hanya kami yang mengerti, atau juga orang-orang yang merasakan hal yang sama seperti kami.

Tawa kecil hadir di tengah tangisan kami yang menangisi laki-laki, yang belum tentu memikirkan kami, atau bahkan benar-benar sama sekali tak peduli, mungkin.

***

Hati yang tadinya terasa begitu berat perlahan mulai terasa ringan setelah aku bercerita dengan Crishtie, aku dan Crishtie akan berjuang, menenangkan diri dalam gempuran emosi, jika cinta tak bisa kita miliki, setidaknya ada bahagia lain yang bisa kita ciptakan sendiri.

Aku dan Crishtie datang ke cafe, sebagai pelanggan. Seperti biasa, cafe yang dulu menjadi tempatku bekerja ini selalu ramai. Dan di sana, di dalam meja pantry, Bass sibuk membuat pesanan. Sedangkan pria lain yang memakai baju pelayan cafe, ia mondar-mandir dari satu meja ke meja lain, seperti hang kulakukan dulu.

"Silahkan buat pesanan, girls," ucap pria yang kutahu bernama Simon. Dia adalah pria yang Bass temui saat kami pergi ke Club bersama Crishtie waktu lalu, akhirnya mereka benar-benar berjodoh.

Aku dan Crishtie saling melempar senyum, menahan tawa yang serasa ingin meledak, mengingat siapa mereka berdua, yang satu terong, yang satu pisang, parah.

Simon mengernyit, tak mengerti akan arti dari tingkah kami.

"Tinggalkan mereka, Simon, mereka adalah pasien rumah sakit jiwa yang terlepas," celoteh Bass yang datang membawakan dua cangkir coffe latte panas untukku dan Crishtie.

"Gratis untuk kalian,"

"Terimakasih, Bass...." ucapku pada Bass yang meletakkan dua cangkir kopi di meja kami, masih dengan menahan tawa.

"Ayo," Bass meggandeng tangan pria tampan itu agar ikut bersamanya.

"Menurutmu, siapa yang berperan sebagai istri? Apa ya namanya?" tanya Crishtie yang nampak berpikir sebutan kamu sesat itu, semakin membuatku tergelak sampai tak terkontrol. Sempat menjadi pusat perhatian para pelanggan yang lain.

"Kurasa,,,,, Bass kita tetap berperan sebagai seorang suami," jawabku.

"Hei, mereka itu suami-suami," celoteh Crishtie yang membuat kami terbahak ngakak.

***

Aku dan Crishtie keluar dari cafe saat jam menunjukkan pukul 3 sore, aku harus segera pergi ke mansion Tuan Leonel, mengajar Darren, dan Crishtie akan mengantar.

Namun langkah kami terhenti di depan halaman cafe, Tuan Leonel turun dari mobil, berjalan ke arahku yang berdiri bersama Crishtie.

"T-tu tuan?"

"Ayo," ucapnya singkat, dengan nada bicaranya yang halus.

Crishtie melihatku penuh arti.

"Pergilah," ujarnya.

Aku melangkah, masuk ke dalam mobil Tuan Leonel, disusul Tuan Leonel yang duduk di sampingku.

Emilio melajukan mobil dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota London yang ramai lancar.

"Merindukanku?" tanya Tuan Leonel, masih dengan nada bicara yang sama, halus.

Gaya duduknya tak berubah, hanya saja, wajah yang biasa terlihat dingin atau pun datar, hari ini nampak sendu.

Ini adalah pertama kalinya kami bersama sedekat ini, setelah hampir dua Minggu berlalu dari hari itu tanpa temu, selalu saling menghindar.

"Tidak," jawabku tenang, berbohong.

"Tapi aku merindukanmu,"

Nyesss....

Bagaimana mendiskripsikannya? Hati yang berbunga-bunga setelah menyimpan luka dan memendam rindu yang dipaksa terkubur dalam.

"K-ke kenapa?" tanyaku gugup.

"Kau tahu alasannya,"

Kuhela nafas yang berat, dadaku sesak, dan aku ingin menangis. Cinta ini menyenangkan sekaligus menyakitkan.

"Itu salah, Tuan," lirihku.

"Kenapa?"

"Nyonya Annora,"

Hening, tak ada tanggapan yang kudapatkan. Mobil yang kami tumpangi sudah semakin dekat tuk sampai di mansion.

"Satu putaran lagi, Emil," perintah Tuan Leonel pada Emilio.

Pria yang mengemudi itu mengangguk patuh.

"Siapa yang kau salahkan?" tanya Tuan Leonel.

"Perasaan,"

"Apa kau bisa mencegahnya? Atau kau bisa mengendalikannya?"

Aku menggeleng.

"Temani aku berjuang,"

"Tidak, akan ada hati yang patah begitu parah jika kita melanjutkannya,"

"Bagaimana denganku? Yang kesepian selama ini?"

"Tidak ada alasan apapun sebagai pembenaran atas sebuah perselingkuhan,"

"Lantas bagaimana dengan hatiku? Yang terlanjur mencintaimu? Kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku menahan diri agar tak mendekatimu, kau tidak tahu betapa tersiksanya aku atas rindu yang membelenggu, kau tidak tahu bagaimana menjadi aku yang menjalani hari dengan perasaan yang menyiksa, bagaimana, Nona?"

Tangisku satu persatu luruh, semua yang Tuan Leonel ungkapkan adalah apa yang aku rasakan, dia bertanya bagaimana? Tentu aku tahu bagaimana rasanya, karena aku pun merasakannya.

"Aku juga sama, Tuan."

Kedua mata Tuan Leonel terpejam, kepalanya sedikit mendongak ke belakang, jakunnya naik turun dengan nafas yang ia hembuskan terasa berat.

Tangannya yang bersedekap ia turunkan, kemudian satu tangan yang berada di sampingku, mulai menyentuh punggung tanganku, aku diam, hingga ia mulai menggenggamnya penuh perasaan.

***

1
Musrini
crtakok nggantung
Kak Min: Saya penulisnya kak, lupa email sandi akun jadi nggak bisa masuk buat lanjut nulis lagi. 🙏
total 1 replies
heylo
Luar biasa
Siti Ramlah
ngagantung nih..thoor lanjut 🤩
dita18
thoorrr padahal ceritanya baguss bngt,,,, apa gak di lanjutkan lg ya thoorrr??
Nurus Shofiah89
Luar biasa
Lnaa
Next
Rangga Sonjaya
apakah akan ada lanjutannya?
Rangga Sonjaya
bagusss dan sangat bagus
Ati Sumariati
walaupun bacanya telat tapi aku suka banget thor
Ati Sumariati
assalamu'alaikum wah saya terlambat membacanya ya thor
Rose
tinggl kn pria yg suka celup2
Esih Nuraeni
Luar biasa
Vie Desta
rachel tor knpa jd kak laura 🤭
Love 💞💞💞
ceritanya keren 👍👍
inlen
agak aneh sih

emang klw dilihat dari sufut pandang orang ketiga kelakuan re itu keterlaluan sama tuan leon dan nyonya annora pasti sakit hati banget
ya tapi gimana ya pilih jalan yg terbaik buat kedua sisi ajah
re dan tuan leon saling mencintai
nyonya annora jga gak kan publikasi pernikahannya karena jadi model
Anis Nisa
Biasa
Urus Baen
iyah nih seru bagat😁
Darsini Bbt
saling memendam rasa,,😊
Nur Fasyhin
x ini aq pingin komen....anjr jg liat si Renata....kok bisa2 ny sich balek lgi dgn Erick 🙄🙄🙄🙄🙄....kasihan jg liat tuan kaya, udh mutusin Annora....eehhhhh malah ketiban sial re lgi berdua dgn erick, ap sich mau kamu re 😣😣😣😓
nov
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!