Aaron Bradley, seorang pekerja konstruksi di Kota New York, mendapati keluarganya tewas terbunuh saat ia kembali bekerja. Tidak hanya sampai di situ, ia juga tertangkap tangan sedang memegang sebuah pistol yang menjadi senjata pembunuhnya.
Ia harus membuktikan dirinya tidak bersalah dengan mencari pembunuh sebenarnya. Selain itu, dendam di hatinya yang begitu besar membawanya pada liku liku kejahatan di Kota New York. Kehidupannya yang bahagia berubah 180 derajat karena ia sudah kehilangan semuanya.
Apakah ia bisa menemukan pembunuh sebenarnya? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
Kisah ini mengandung sedikit adegan kekerasan dan juga action.
Salam,
PimCherry
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMICU KEMARAHAN
Hari ini adalah hari sabtu, Aaron tidak bekerja, karena di MonPro memang tidak ada aktivitas. Hari ini ia akan pindah ke rumah Peter. Mereka tak membawa banyak barang, hanya sebagian dari barang barang yang dibawa Elbert dari rumah sewaan bersama istrinya.
"El, apakah aku boleh menitipkan sebagian barang barangku dulu di sini?" tanya Aaron.
"Tentu saja, dengan senang hati aku akan menyimpannya."
"Jika aku sudah memiliki rumah sendiri, aku akan mengambilnya."
"Ya, aku tahu. Apa ada yang perlu kubantu lagi?" tanya Elbert.
"Tidak. Aku hanya bawa sedikit."
Peter yang baru saja keluar dari rumah Elbert sambil membawa sebuah tas kini sudah meletakkan tas nya di kursi penumpang di mobil bak terbuka yang mereka sewa untuk kembali ke rumah Peter.
"Jadi kapan kalian akan mengunjungiku lagi?" tanya Elbert.
"Ya ampun El, kita pergi saja belum, sudah kamu tanyakan kapan kita akan datang lagi. Tenang saja, kami akan sering sering datang karena kami sudah berjanji pada Aunty Klara," ucap Peter.
Mereka akhirnya berpamitan sambil memeluk Aunty Klara yang sudah mereka anggap seperti orang tua mereka sendiri. Meskipun mereka tidan terlalu lama berada di rumah Elbert, tapi karena penerimaan yang begitu terbuka dari keluarga Elbert, membuat mereka nyaman dan saling menyayangi.
*****
"Ar, menurutmu siapa yang bisa melakukan manipulasi angka seperti ini?" tanya Edward.
"Jika kita periksa alur dari mana laporan ini berasal, yang mungkin melakukannya ada di bagian keuangan."
"Tuan Luis?"
"Kemungkinan besar. Setiap laporan harus melalui Tuan Luis untuk mendapatkan tanda tangan. Kalaupun bukan Tuan Luis, pasti ada seseorang yang harus bekerja sama dengannya untuk bisa membantunya mengerjakan ini semua."
"Dean adalah supervisor yang menggantikan dirimu. Dia adalah keponakan dari Tuan Luis. Apa mungkin mereka bekerja sama?"
"Saya belum mengenal Dean dan tidak tahu seperti apa dia. Nanti saya akan mencari tahu lebih dahulu mengenai dirinya."
"Baiklah, aku menyerahkan semuanya padamu, Aaron. Secepatnya kita harus mengungkap semua permainan ini," pinta Edward.
Edward menekan salah satu tombol pada telepon di atas mejanya, "Gin, apa kamu sudah mendapatkan laporan terbaru lagi dari bagian keuangan?"
"Sudah Tuan. Sebentar akan saya bawa masuk setelah saya susun dengan laporan dari divisi lain," jawab Regina.
Tak lama, Regina masuk sambil membawa setumpuk map yang merupakan laporan dari semua divisi yang berada di MonPro. Berhubung sudah berada di semester terakhir tahun ini, setiap divisi sudah mulai membuat hasil kerja mereka sejak awal tahun.
"Ya ampun, mengapa laporannya begitu banyak?" ucap Edward sambil memegang kepalanya.
"Ini adalah laporan hasil kerja mulai dari awal tahun. Semester akhir ini memang kita selalu membuat seperti ini, Tuan," jelas Regina.
"Tahun ini berlalu begitu cepat dan sungguh, tahun ini benar benar tahun yang sangat memusingkan. Baiklah Gin, letakkan dulu di meja itu, aku akan melihatnya nanti."
"Baik, Tuan," Regina pun meninggalkan ruangan Edward sambil menoleh ke arah Aaron, yang saat itu tengah fokus pada lembaran lembaran di hadapannya.
Lihatlah ke arahku sebentar saja, Ar. Apa kamu sama sekali tak bisa memandangku?
Dengan berat, Regina akhirnya meninggalkan ruangan Edward.
*****
"Gin, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Aaron yang kini berada di depan meja Regina.
"Tentu saja, Ar. Apa yang mau kamu tanyakan?" Regina begitu senang karena Aaron berada di hadapannya, meskipun tadi siang Aaron tidak mempedulikannya saat berada di ruangan Tuan Edward.
"Apa kamu tahu tentang Dean Anderson?"
"Dean?" Regina sedikit bingung kenapa Aaron menanyakan tentang Dean padanya.
"Ya, waktu itu kamu pernah cerita kalau Dean menggantikanku sebagai supervisor."
"Ooo, iya. Setauku Dean itu keponakan Tuan Luis. Dia belum lama lulus kuliah. Aku juga kurang tahu bagaimana proses diterimanya, tiba tiba saja Tuan Luis sudah membawanya masuk ke perusahaan dan memperkenalkannya sebagai supervisor."
Hal itu pasti memicu kemarahan David. David sangat senang saat aku keluar karena ia menginginkan posisiku. Tapi ternyata Tuan Luis justru membawa Dean, yang adalah keponakannya, untuk menggantikanku.
"Apa Tuan Edward tidak tahu kalau Dean yang menggantikanku?"
"Tentu saja tidak. Mungkin Tuan Luis langsung berbicara dengan Tuan Pierre, karena setauku Tuan Luis dekat dengan Tuan Pierre."
"Tuan Pierre?" gumam Aaron.