Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: misi dan hadiah pertama
"Apakah anda akan tetap menjadi pengecut, atau mencoba melangkah maju tuan?" Dering sistem terdengar kesekian kalinya yang membuat Alvaro sedikit bimbang.
"Apakah anda akan melakukan misi
Ya/Tidak" dering sistem lagi.
Tiba tiba tatapan Alvaro yang sebelumnya bimbang pun berubah secara tiba tiba, ia pun sadar bahkan kalaupun ia tak melawan jika uang yang akan ia bayarkan untuk SPP di ambil oleh mereka ia tetap tak akan bisa mengikuti ujian kelulusan dan itu tak ada beda nya dengan vonis mati baginya untuk mengejar mimpinya.
Ia mengingatnya lagi bagaimana perlakuan Rudi dan anggota nya sejak lama, serta satu kejadian yang tak banyak orang tahu karena dengan sengaja ditutupi oleh pihak sekolah.
Hal itu mengenai seorang siswa yang kini masih terbaring koma di rumah sakit, jika menurut berita dia terjatuh di tangga dan secara kebetulan bagian belakang kepalanya mengenai bagian pinggir pijakan kaki yang cukup tajam.
Namun siapa saja yang sedang berada di lokasi kejadian waktu itu tidak ada yang tahu seolah olah ditutup tutupi, padahal para siswa dan guru guru tahu bahwa tempat kejadian itu adalah tempat nongkrong Rudi dan teman temannya.
Bahkan banyak yang sudah menjadi korban seperti kepala murid berdarah karena kakinya di jegal oleh para preman sekolah itu, ataupun mengalami memar memar.
"Ya akan aku lakukan!." Ucap Alvaro sambil berteriak, nampak bahwa tatapan matanya yang ragu ragu tadi berubah sekejap.
"Mengkonfirmasi..." Dering sistem terdengar di kepala Alvaro bersamaan dengan perasaan energi yang mulai menyebar di otot ototnya, ia merasakan rasa hangat yang perlahan membuat tubuhnya yang kesakitan itu mulai berkurang banyak.
"Apa apaan dia, apakah dia sudah gila hingga berteriak secara tiba tiba?" Tanya Rudi heran.
"Mungkin mereka tak sengaja memukul kepalanya yang sudah bodoh itu, hingga membuat otaknya malah geser hahahah..." Balas siswi di sampingnya sambil tertawa.
"Buakhh... Brukkhh.."
Ketika keduanya masih tertawa tiba tiba perhatian keduanya teralihkan tatkala melihat tubuh yang terlempar di ke depannya.
Baru saja ia ingin mengejek karena ia kira yang terlempar adalah Alvaro, keduanya langsung membeku karena yang terlempar ternyata bukan Alvaro melainkan anak buahnya sendiri.
"cuih.."
"sekarang giliranku.." Ucap Alvaro sambil meludahkan darah yang ia rasakan di mulutnya.
Melihat para pengeroyok itu masih terpaku karena salah satu diantara mereka terlempar tanpa ia sadari ia pun tanpa aba aba langsung melemparkan pukulannya ke arah perut Doni yang jaraknya paling dekat dengan nya.
"Buakhh.. Akhhh... buakhh... Akhh.. Sialan.." Tanpa ampun dua jotosan tangan Alvaro menghujam dengan mulus ke arah perut Doni tanpa perlawanan, Doni pun terdorong mundur lalu jatuh berlutut karena rasa nyeri yang ia rasakan.
"Bodoh kenapa kalian diam saja, dasar tidak becus lawan bocah kurang makan aja kalah!!" Teriak Rudi marah karena para bawahannya malah diam ketika melihat Alvaro melawan.
"Eh iya, ayo keroyok dia. Berani beraninya melawan." Ucap salah satu dari mereka lalu langsung berlari ke arah Alvaro tanpa persiapan.
Yang lainnya pun ikut mencoba mengeroyok Alvaro, sedangkan Alvaro dengan refleknya menahan pukulan anak pertama menggunakan kakinya yang tentu saja membuat tangannya kesakitan.
Sebelum ia melawan kembali Alvaro pun menendang dada nya yang membuatnya terjengkang ke belakang menimpa beberapa temannya.
Melihat temannya terjatuh dari bagian sisi samping nya, Aldo pun mencoba menendang ke arah pinggul Alvaro.
Ketika ia merasa tendangannya akan mengenai Alvaro, ia merasakan bahwa kakinya tak bisa digerakkan karena ternyata Alvaro menangkap kakinya.
Alvaro pun segera menarik kaki Aldo yang ia tangkap yang membuat Aldo menjerit kesakitan karena ia dipaksa split dengan tubuh gempalnya itu.
"Akhhh selangkangan kuuu..." Teriak Aldo sambil berguling guling memegang pusaka warisannya.
Ting... Tung.... Ting..... Tung..... Diberitahukan untuk ananda Alvaro Wibisono dari kelas 12- 3 untuk ke kantor administrasi segera...
"Nadine ibu bisa minta tolong panggilkan Alvaro?, soalnya kok belum datang saja dari tadi di panggil. Katanya dia masuk tadi." Ucap seorang wanita paruh baya kepada siswi di depannya yang sedang mencatat sesuatu di buku besar.
"Baik Bu." Jawab siswi yang di panggil Nadine itu singkat lalu ia pun berjalan keluar dari ruangan yang ternyata adalah ruang administrasi.
Nadine, dia merupakan salah satu bunga sekolah. Sekaligus ia adalah anak dari direktur yang menangani sekolah itu salah satunya.
Ketika di perjalanan menuju ruang kelas 12-3 Nadine berhenti sejenak ketika ia mendengar sesuatu dari beberapa siswa yang berpapasan dengannya.
"Kalian bisa ulang apa yang kalian katakan barusan?" Tanya Nadine tanpa basa basi ke arah siswa yang baru melewatinya.
siswa yang barusan di tanya oleh Nadine secara mendadak nampak sedikit terkejut, namun sedetik kemudian dia seperti salah tingkah karena sadar yang mananyai nya adalah Nadine.
Melihat siswa di hadapannya malah salah tingkah membuat Nadine memutar matanya malas. " Aku tanya dimana Alvaro barusan?" Tanya Nadine lagi yang membuat siswa tersebut langsung kaget.
"Eh anu itu, kalau gak salah waktu istirahat tadi dia berbicara dengan Doni dan Aldo." Ucap siswa itu sedikit gagap dengan wajahnya yang malu malu.
Mendengar nama Doni dan Aldo, Nadine pun mengerutkan dahinya.
"Bukankah keduanya anak buah Rudi ya?" fikir Nadine.
"Emm Nadine, kira kira kamu ada waktu luang gak buat minum ke kantin.?" Tanya salah satu siswa dengan potongan rambut macho.
Nadine yang seolah tak mendengar pun langsung berlalu dan berjalan menuju suatu arah, sedangkan beberapa siswa yang melihat siswa macho itu malah tertawa melihat dia tak diperhatikan oleh Nadine.
"Sialan kalian mengurus bedebah begini aja gak mampu." Ucap Rudi dengan wajahnya yang menggelap karena melihat para bawahannya yang terkapar sambil kesakitan.
Ia memandang ke arah Alvaro yang nampak kelelahan, nampak beberapa luka terlihat dengan jelas di lengan Alvaro.
Sepertinya bahkan dengan bantuan Sistem menambahkan poin kekuatan untuknya itu masih belum cukup untuk melawan gerombolan pengeroyok itu secara bersamaan dan bertubi tubi.
Rudi yang melihat bahwa Alvaro sudah kelelahan pun tersenyum mengejek, ia pun sedikit melangkah ke samping dan mengulurkan tangannya.
"sreett..." Sebuah potongan kayu yang bagian atasnya terdapat besi yang melapisi pun terlihat jelas tatkala Rudi menariknya dari sela sela tumpukan batu bata.
Melihat itu Alvaro sedikit bergetar, namun tekad nya sudah bulat karena pilihan satu satunya sekarang adalah mengamankan uang SPP lalu menghadapi permasalahan yang akan terjadi karena wakil kepala sekolah.
"Maju kau sialaaannn..." Alvaro yang sudah bertekad pun berlari secara membabi buta ke arah Rudi yang malah nampak tersenyum mengejek.
"Dasar gila, kau benar benar menantang maut ya?. Jujur saja sebenarnya aku pingin tahu bagaimana jika kau mati di tangan ku." Ucap Rudi yang mengeratkan genggaman tangannya pada senjata buatannya itu.
"Tidak Alvaroo..." Tiba tiba terdengar suara seorang wanita dari arah belakang yang membuat Alvaro tanpa sadar menoleh ke belakang.
Ia melihatnya, seorang gadis yang sungguh cantik melihat ke arahnya dengan khawatir, rambutnya yang sedikit kelabu dan kulitnya yang putih bersih benar benar seperti penggambaran Dewi di kepalanya

Namun sebelum Alvaro menanggapi ucapan gadis itu yang tidak terlalu jelas ia dengar, sebuah rasa sakit yang terlalu sangat ia rasakan di bagian pelipis kirinya bersamaan dengan rasa hangat di sana.
kritik dan saran boleh kokk