Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 4
Hari ini warung bakso libur. Setiap hari senin, karena kalau liburnya weekend biasanya pelanggan malah ramai berdatangan makanya mba Nia memutuskan untuk libur di hari seninnya.
Setelah mencuci pakaianku sendiri, aku kembali masuk ke dalam kamar. Hari ini waktu istirahatku. Jadi akan aku manfaatkan dengan baik.
Tak ada jadwal apapun, jadi aku bebas membaca novel online favorit ku.
Tok..tok..
Suara pintu kamarku diketuk.
"Manda!" Itu suara kakakku.
Aku bangun untuk membuka pintu. Untung di rumah ini masih punya privasi.
"Kenapa kak?" Tanyaku. Mataku melihat kakakku sudah rapi berpakaian. Wangi parfumnya pun sudah menusuk hidungku.
"Mau minta duit." Ucapnya enteng.
"Buat apa kak?"
"Hari ini mau ada reunian. Udah cepet sini mana duitnya."
"Ga ada kak. Kemarin kan uangku udah diambil semua buat bayar kompensasi kan?"
"Kemarin kan habis gajian lagi. Jangan bohong kamu."
Aku menghela nafas lelah. "Uangnya kan mau buat makan hari ini. Hari ini aku libur kak, jadi ga ada pemasukan."
Kak Toni mendengus kesal. Aku tau itu, karena suara nafasnya terdengar jelas.
"Kalau gitu mana duit makan buatku hari ini. Biar aku cari makan sendiri nanti disana."
Aku mengalah. Seperti berdebat dengan anak kecil yang merengek minta mainan. Aku masuk ke dalam kamar. Mengambil uang dua puluh ribuan. Lalu menyerahkan pada kakakku.
"Masa segini?"
"Dua kali makan kan? Ya segitu bagiannya. Kalo lebih aku ga punya lagi."
Kakakku menghela nafas. Seperti mau membentakku tapi ditahannya. Dia lebih memilih pergi keluar. Menerima uangku.
Sabar manda. Ucapku dalam hati. Aku kembali masuk ke dalam kamar. Merebahkan badanku di atas kasur.
Siang harinya aku pergi ke depan jalan, mencari pedagang nasi.
"Bu, mau dibungkus 2 ya. Pake sayur aja semuanya sama tempe."
Aku menyerahkan uang 20 ribuan, dan setelahnya aku menerima pesananku. 2 bungkus nasi. Walaupun libur dan ibu di rumah, kami jarang sekali memasak. Padahal dulu pas ayah masih hidup, ibu rajin memasak. Bahkan bermacam-macam. Tapi setelah ayah tidak ada saja kami jadi sering beli nasi bungkus. Pernah aku tanya sekali kepada ibu kenapa tidak memasak saja, katanya malas. Mending beli, karena nantinya ia jadi ingat almarhum ayah. Mungkin memang benar begitu.
Aku berjalan pulang ke rumah.
"Manda." Itu suara ibu.
Dipertengahan jalan pulang, aku bertemu ibu. Sama seperti kak Toni tadi pagi saat bertemu aku, ibu pun sama sudah berpakaian rapi.
"Mau kemana ibu?"
"Mau arisan. Ibu cariin kamu di rumah, tapi ga ada."
Aku mengangguk. "Ini habis beli nasi bungkus buat kita makan." Aku mengangkat plastik berisi nasi bungkus.
"Ibu ga makan di rumah. Ibu minta uang buat arisan."
"Arisan? Memangnya ibu ikut yang seperti itu? Padahal ibu tau keuangan kita lagi begini?"
Ibu mendengus. "Makanya itu ibu ikut arisan. Nanti kalau menang kan lumayan."
"Manda ga bawa uangnya bu. Tadi udah dipake buat beli makan."
Ibu langsung menarikku pulang. Kasar. Hampir seperti dicengkeram, karena tanganku terasa sakit.
"Pelan-pelan bu." Ringisku di belakang langka ibu.
"Kamu bayak omong dari tadi. Bukannya cepetan ke rumah."
Aku mengekor dibelakang ibu. Sambil sesekali meringis. Setiap kami berpapasan dengan orang ibu menyapa dengan senyuman. Mengendurkan cengkeramannya juga. Tapi setelah tidak ada orang ibu kembali menarikku. Seperti tidak sabaran untuk segera sampai di rumah.
Klik.. pintu rumah terbuka. Ibu kembali menyeretku ke dalam rumah
"Sekarang ambil uangmu. Ibu butuh tiga ratus ribu sekarang!"
Ibu mendorongku masuk ke kamar. Mau tak mau aku mengambil kembali uang tabunganku yang tersisa. Dan sisanya memang uang tiga ratus ribu pas. Uang tabunganku yang aku ambil di mba Nia.
Mau menangis pun aku sudah lelah. Hatiku bergetar.
Dengan langkah pelan aku kembali menemui ibu. Yang masih mengamatiku dari luar kamar.
"Sini! Ibu buru-buru."
"Kenapa banyak sekali bu?" Aku bertanya.
Ibu memasukkan uangnya ke dalam tas. "Karena ini pertama kali ikut, jadi harus bayar uang awal. Sama sekalian beli bedak juga."
"Itu uang terakhir tabunganku bu." Berharap ibu berbelas kasih mau menyisihkan sedikit uangnya. Aku tak berharap untuk sekolah lagi. Paling tidak untuk membeli kebutuhannya sendiri.
"Ya terus? Besok kan kamu masih kerja kan?" Jawab ibu acuh tak acuh.
Aku melihat ibu keluar rumah. Berbelok menelusuri jalan. Entah kemana perginya ibu, aku tidak perduli.
Kembali masuk ke dalam kamar. Meratapi nasibku yang tidak beruntung. Menatap nasi bungkus yang tadi aku beli, tidak ada niatan untuk memakannya karena rasa laparku tergantikan dengan rasa sedih dan bayang-bayang ayahku.
Belum terlambat. Kataku dalam hati.
Tak berniat makan, aku memutuskan untuk tidur. Lelah sekali walaupun tidak melakukan apapun.
......................
Sore harinya, setelah mandi aku melihat ibu dan kakakku baru pulang. Mereka tertawa sembari berjalan masuk ke pekarangan rumah. Terlihat wajah mereka tanpa beban, berbeda sekali dengan dirinya yang tadi kembali menangis mengingat ayah.
"Besok ke sana lagi aja. Nanti Toni kasih tau makanan yang enak disana."
Itu suara kakakku. Mereka duduk di kursi depan.
"Sudah pulang?"
Ibu dan kakakku menengok ke belakang. Ke arahku. Hanya anggukan yang aku dapat.
"Ini buat ibu. Tadi liat bagus kayaknya kalo ibu pake." Kak Toni menunjukkan sebuah kerudung motif.
"Kamu tau sekali selera ibu Ton."
"Untukku tidak ada kak?" Aku berharap setidaknya kakaknya masih mengingat dirinya.
"Uangnya ga cukup. Lagian kamu tadi cuma ngasih dua puluh ribu kan? Berharap dikasih oleh-oleh." Cibir kakakku.
"Sudah! Masuk rumah, sudah mau maghrib."
Harapanku sebagai anak bungsu yang dibela ibuku sendiri sudah lama aku hilangkan. Percuma bukan berharap pada manusia.
"Buat bayar makanku saja tadi ga cukup uangmu itu man." Ucap kakakku sembari melewati diriku yang masih diluar.
Apakah itu masih bisa dianggap sebagai kakak? Bukankah kakak-kakak dari teman-temanku selalu membela adiknya?
"Ibu mau makan malam?" Tanyaku melihat ibu di dapur.
Ibu menggeleng. "Ibu sudah makan diluar tadi sama kakakmu."
"Ibu ga beliin aku makan juga?"
Ibu memutar bola matanya. "Kamu kasih uang ke ibu cuma cukup buat bayar arisan sama beli makan berdua." Ibu mencuci tangannya. "Kamu beli saja sendiri sana! Uangmu kan banyak!"