Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Back to Activity
Setengah jam berlalu, dan Sera masih belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari kamar mandi. Di dalam sana, suara gemercik air wastafel sudah lama mati, digantikan oleh keheningan yang membuat Yunkai tahu bahwa gadis itu sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah tercecer di dalam pondok.
Yunkai bangkit dari ranjang. Dengan santai, ia memungut kemeja sutranya yang kehilangan beberapa kancing akibat keliaran Sera semalam, lalu memakainya begitu saja tanpa dikancingkan—membiarkan dada bidangnya yang penuh "mahakarya" merah itu tetap terekspos.
Ia melangkah mendekati pintu kamar mandi, lalu mengetuknya dua kali dengan buku jarinya.
Tok. Tok.
"Seraphine," panggil Yunkai, suaranya kembali berat dan dalam, namun ada nada geli yang tertahan di sana. "Kau tidak bisa bersembunyi di dalam sana selamanya. Turunlah kebawa untuk sarapan— Atau kau butuh bantuanku untuk membawakan pakaian ganti kedalam?”
Di dalam kamar mandi, Sera yang sudah mengenakan jubah mandi handuk putih tebal langsung menegang. Mendengar tawaran Yunkai, bayangan tentang dirinya yang tanpa busana semalam kembali berputar di otaknya.
"Tidak perlu!" sahut Sera setengah berteriak, suaranya sedikit sengau karena menahan malu. "Tinggalkan saja pakaiannya di atas kasur. Dan kau... menjauhlah dari pintu!"
Yunkai terkekeh rendah. Suara tawa maskulinnya terdengar begitu dekat di balik pintu, membuat dada Sera berdebar aneh. "Baiklah, my Phine. Aku akan turun untuk memeriksa sarapan. Jangan terlalu lama, atau aku yang akan menjemputmu ke dalam."
Sera melepaskan nafas lega setelah mendengar langkah kaki Yunkai yang menjauh, diikuti suara pintu kamar loteng yang tertutup rapat.
Dengan perlahan, Sera membuka pintu kamar mandi dan mengintip keluar. Benar saja, Yunkai sudah tidak ada. Di atas ranjang yang masih berantakan, sudah tergeletak sepasang pakaian bersih—sebuah gaun kasual berwarna biru dongker yang elegan milik rumah mode kelas atas.
Sera segera berganti pakaian dengan cepat. Saat ia merapikan pakaiannya di depan cermin besar, matanya kembali tertuju pada lehernya yang bersih tanpa noda. Ia menyentuh kulitnya sendiri dengan jemari yang agak bergetar. Mengingat kembali bagaimana Yunkai mati-matian menahan diri hingga menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah, ada rasa hangat yang asing sekaligus manis yang perlahan mekar di sudut hati Sera. Pria itu benar-benar menepati janjinya untuk tidak menyentuhnya dalam keadaan tidak sadar.
Begitu turun ke lantai bawah, aroma roti panggang, mentega, dan daging asap langsung menyambut indra penciuman Sera. Di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah danau kabut, Yunkai sudah duduk di meja makan kayu oak. Pria itu sedang menyesap kopinya, penampilannya sudah jauh lebih rapi dengan sweater tipis membentuk tubuh berwarna hitam pekat, namun luka kecil di bibir bawahnya masih terlihat jelas.
Sera melangkah dengan ragu, mencoba memasang wajah sedatar mungkin—topeng defensif andalannya. Ia menarik kursi di hadapan Yunkai dan duduk tanpa bersuara.
Yunkai menurunkan cangkir kopinya, menatap Sera yang kini sengaja mengalihkan pandangan ke arah piring sarapannya.
"Bagaimana tidurmu setelah... meluapkan seluruh perasaanmu semalam?" tanya Yunkai santai, sengaja menekankan kata 'perasaanmu'.
Sera yang baru saja hendak menenggak minumannya langsung membeku. Ia meletakkan kembali gelasnya, lalu memberanikan diri menatap lurus ke dalam manik mata gelap Yunkai.
"Kau sengaja ingin membuatku mati karena malu, hah?" desis Sera, wajahnya kembali merona samar. "Dan soal rekaman suara itu... hapus sekarang juga, Yunkai. Itu curang."
Yunkai memajukan sedikit tubuhnya, menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja. Jarak mereka yang mengikis membuat Sera bisa melihat kilat posesif dan jenaka yang berbaur menjadi satu di mata Sang Pangeran.
"Curang? Itu adalah bukti otentik, Sera. Kau menyatakan cinta padaku, menciumku duluan, dan melarangku mengatur mu meskipun aku seorang Pangeran Agung," bisik Yunkai dengan suara rendah yang seksi. "Aku tidak akan menghapusnya. Rekaman itu adalah jaminan bahwa kau tidak akan bisa mengelak lagi dari perasaamu saat kita kembali ke ibu kota nanti."
Sera menggigit bibir dalamnya, merasa kalah telak. Ia memandang luka di bibir bawah Yunkai, lalu suaranya melunak, kehilangan seluruh keangkuhannya.
"Kenapa kau menahannya semalam?" tanya Sera lirih, matanya menatap Yunkai dengan tatapan batin yang dalam. "Aku... aku bahkan sudah menyerahkan diriku seutuhnya. Tapi kau justru menyiksa dirimu sendiri di kolam dingin."
Senyum miring di wajah Yunkai perlahan memudar, digantikan oleh tatapan yang teramat serius dan intens. Ia meraih tangan kanan Sera yang berada di atas meja, menggenggam jemari lentik itu dalam remasan yang hangat dan protektif.
"Karena aku menginginkanmu secara utuh, Seraphine. Jiwa dan ragamu," jawab Yunkai, suaranya terdengar begitu mutlak tanpa ada keraguan sedikitpun. "Aku bisa saja mengambilmu semalam dan mengunci takdirmu di bawah kuasaku. Tapi aku menolak menjadi pria bajingan yang memanfaatkan ketidakberdayaan wanita yang kukasihi. Aku ingin saat pertama kita terjadi, kau menatap mataku dengan kesadaran penuh, tahu persis bahwa kau melakukan itu karena kau menginginkanku, bukan karena pengaruh setetes anggur."
Sera terpaku. Jantungnya bergemuruh hebat mendengar untaian kalimat yang keluar dari bibir Sang Pangeran. Rasa hormat dan ketulusan yang ditunjukkan Yunkai justru menjadi senjata paling mematikan yang berhasil meruntuhkan seluruh benteng pertahanan di dalam jiwanya.
"Jadi..." Yunkai menatap hangat Sera. "...karena ingatanmu sudah kembali, dan kau sudah tahu betapa tersiksanya aku menahan diri semalam... kurasa kau harus bersiap, Sera."
Sera mengerutkan dahinya. "Bersiap untuk apa?"
Yunkai menarik sudut bibirnya, mengulas senyum miring yang teramat tampan namun mengintimidasi. "Bersiap untuk menepati janjiku semalam. Begitu urusan kita selesai, dan kau akan tetap berdiri di sisiku dalam keadaan sadar seutuhnya... aku pastikan kau tidak akan bisa turun dari ranjangku selama tiga hari tiga malam, my Phine.”
UHUK!
Sera tersedak ludahnya sendiri sementara Yunkai hanya tertawa lepas—suara tawa yang begitu renyah dan puas, memenuhi pondok hutan pagi itu dengan dinamika hubungan mereka yang kini telah berubah selamanya.
Hari itu cukup bagi mereka untuk menghabiskan waktu bersama, Sera setelah kejadian semalam meminta Yunkai untuk membawanya kembali ke asrama Veridion Academy.
Saat mereka tiba di parkiran basement Veridion, Sera tidak sengaja menangkap secercah warna kemerahan yang pekat mengintip di balik kerah sweater rajut yang dikenakan Sang Pangeran. Yunkai bahkan sudah berusaha meninggikan kerah pakaiannya, namun mahakarya liar perbuatan Sera semalam tampaknya terlalu kontras untuk disembunyikan.
Sera mengeluarkan scarfnya dan melangkah mendekati Yunkai, ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka.
"Tunggu—" sebut Sera lirih.
Tanpa aba-aba, tangan lentiknya bergerak naik, mencengkeram lembut kerah sweater Yunkai dan menarik pria tegap itu agar sedikit merunduk menyamai tingginya.
"Besok-besok, kenakan scarf untuk menutupi lehermu. Akan sangat memalukan jika citramu sebagai Pangeran Agung yang tak tersentuh luntur hanya karena bekas merah ini," ujar Sera lembut, suaranya mengalun rendah berbaur dengan deru napasnya saat ia dengan telaten melingkarkan dan mengikat scarf miliknya di tengkuk leher Yunkai.
Yunkai terpaku di tempatnya berdiri. Di balik ekspresi wajahnya yang berusaha tetap tenang, detak jantung Sang Pangeran justru bergemuruh hebat di dalam rongga dada. Kedekatan yang tiba-tiba ini, ditambah aroma manis tubuh Sera yang kini berpindah ke lehernya melalui scarf itu, selalu sukses membuat seorang Yunkai Shenzar merasa gugup dan bergetar hebat.
Seulas senyum miring yang teramat seksi perlahan terbit di bibir Yunkai yang terluka. Ia melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Sera, menarik tubuh ramping gadis itu masuk ke dalam dekapan posesifnya.
"Apa kau sudah cukup berani untuk memerintahku sekarang, Sera?" bisik Yunkai parau, menantang manik mata sayu di hadapannya.
Sera tidak mundur, ia justru mendongak, menatap lurus pada sepasang manik mata gelap Yunkai sebelum pandangannya turun pada belahan bibir pria itu yang kian merunduk mendekat.
"Aku tidak memerintah. Aku memohon, Yang Mulia," balas Sera dengan senyum tipis yang sarat akan godaan sensual.
Atmosfer di basement itu mendadak berubah pekat dan mendesak. Jarak di antara bibir mereka terkikis hingga hitungan milimeter, bersiap untuk menuntaskan hasrat yang sempat tertahan semalam.
BRAAAAK!
BUG!
Suara pintu mobil yang ditutup dengan keras disusul langkah kaki yang terburu-buru mendadak menggema, memecah keheningan basement.
"Yang Mulia—!" sambut Xan yang tiba-tiba muncul dari balik pilar beton, melangkah cepat menghampiri dengan dokumen di tangannya tanpa menyadari situasi krusial yang baru saja ia hancurkan.
Sera yang terkejut setengah mati refleks mendorong kuat dada bidang Yunkai hingga tautan lengan pria itu terlepas. Wajah Sera seketika merona merah padam hingga ke ujung telinga akibat tertangkap basah dalam posisi yang begitu intim.
Sementara itu, Yunkai mendengus kesal, menatap tajam ke arah Xan yang kini langsung mematung dengan wajah pucat setelah menyadari aura membunuh yang dipancarkan sang pangeran. Namun, kekesalan Yunkai mereda dalam sekejap begitu ia menoleh kembali dan melihat betapa menggemaskannya wajah merona Sera saat ini. Yunkai sangat menyukai pemandangan itu.
"A-aku akan kembali ke asramaku sekarang," ujar Sera gugup setengah mati.
Tanpa menunggu jawaban Yunkai, Sera berbalik dan langsung berlari kencang meninggalkan area basement menuju koridor asrama wanita, meninggalkan Sang Pangeran Agung yang hanya bisa menatap kepergiannya sembari mengusap pelan scarf hangat yang kini melingkari lehernya dengan senyuman puas.