NovelToon NovelToon
Rahasia Terbesar

Rahasia Terbesar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Misteri / Epik Petualangan
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Timbangan Kebenaran Dan Vonis Hukuman.

Lin Tian menatap ketiga hakim di hadapannya dengan ekspresi datar.

"Yang perlu diketahui... saya tidak butuh prosedur untuk membunuh siapa pun, terutama orang-orang yang mengancam nyawa saya," ucap Lin Tian dengan suara tegas.

Zhuxuan yang berdiri di samping langsung menghela napas panjang sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia sudah menduga bahwa bocah ini akan berbicara blak-blakan, tapi tidak seperti ini juga.

Tiga hakim di atas panggung menunjukkan reaksi campur aduk. Pria tua bijaksana mengangkat alisnya, pria paruh baya mengerutkan dahi, dan hakim wanita hanya tersenyum tipis seolah sudah mendengar kalimat seperti ini berkali-kali.

Lin Tian melanjutkan. "Tentang pembelaan. Keempat orang itu hendak mengeksekusi saya tanpa bukti, dan itu hanya berdasarkan penilaian pribadi mereka. Saya rasa ini merupakan langkah ceroboh, yang pantas mendapatkan konsekuensi berupa kematian."

Pria tua bijaksana itu dan dua hakim lainnya masih menyipitkan mata mendengar penjelasan Lin Tian. Mereka saling berpandangan sejenak, lalu hakim wanita berbicara dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.

"Apa yang kami lihat dalam proyeksi hanyalah sebuah potongan adegan pembunuhan. Itu tidak cukup untuk kami jadikan dasar keputusan. Aku dan kedua hakim lainnya ingin mendengar cerita asli darimu, bagaimana semua ini bisa terjadi."

Pria tua bijaksana itu kemudian membentuk segel tangan dengan jari-jarinya yang keriput. Gerakannya lambat tapi penuh konsentrasi, dan sesaat kemudian sebuah artefak besar muncul dari kehampaan di tengah ruangan. Benda itu setinggi orang dewasa, berwarna emas mengkilap, dan berbentuk seperti timbangan kuno dengan dua piringan bundar di kiri dan kanan.

"Ini adalah artefak Timbangan Kebenaran," jelas pria tua itu sambil menunjuk ke arah benda emas tersebut. "Jika jarumnya berat ke kiri, maka kau berbohong. Jika berat ke kanan, maka kau benar. Jika tidak bergerak dan tetap seimbang, itu artinya kau jujur tapi tetap butuh dihukum."

Lin Tian mengepalkan tangannya. Kuku-kuku jarinya memutih karena tekanan. "Ini tidak adil. Jika memang kalian mau menghukum saya... tidak perlu repot-repot mengadakan sidang. Langsung jatuhkan vonis saja."

Keributan langsung meledak di ruangan itu. Para hadirin di kursi samping mulai bersuara, ada yang mendukung Lin Tian, ada yang justru semakin kesal dengan sikap pemuda itu. Suara mereka bercampur menjadi satu, menciptakan kegaduhan yang memekakkan telinga.

DUAR!

Hakim pria paruh baya memukul meja di depannya dengan palu kayu hitam. Suaranya keras dan tegas, memotong keributan itu seketika. "Diam semuanya! Ini aula pengadilan, bukan pasar kota!"

Ruangan kembali hening. Tidak ada yang berani bersuara lagi.

Hakim wanita kemudian berbicara dengan nada yang berusaha menenangkan.

"Tenang saja, anak muda. Hukuman yang kami maksud tidak berat. Kau hanya perlu menyumbangkan setidaknya sepuluh ribu batu roh tingkat rendah, untuk orang miskin di desa-desa kecil. Itu bukan hukuman yang berat."

Lin Tian tertegun mendengar angka itu. Ia menyentuh cincin penyimpanannya lalu mengeluarkan semua batu roh yang ia miliki. Isinya hanya lima puluh batu roh tingkat rendah, sisa jatah dari Sekte Ombak Biru yang ia kumpulkan selama beberapa bulan. Ditambah sekitar tiga puluh batu roh tingkat menengah pemberian ayahnya Bai Feng.

Totalnya bahkan tidak sampai seribu jika dikonversi ke batu roh tingkat rendah.

Para hadirin yang melihat tumpukan batu roh di tangan Lin Tian langsung mendengus. Seorang pria botak di kursi depan berkata.

"Bocah ini lebih layak diberi sumbangan daripada memberikan sumbangan."

Seorang wanita berjubah merah di sebelahnya menimpali. "Kultivasinya saja Nascent Soul tahap akhir, tapi isi kantongnya? Itu lebih cocok untuk petani miskin daripada seorang kultivator."

Lin Tian memasukkan kembali semua batu roh itu ke dalam cincin penyimpanannya. Wajahnya tidak berubah, tapi matanya mulai memancarkan api kecil.

"Dibawa ke sini saya diam, dicurigai bersalah saya diam, dipaksa menunjukkan artefak warisan saya juga diam. Tapi kali ini... SAYA PUTUSKAN... SAYA AKAN LAWAN!!!"

Hening!

Semua orang di ruangan itu menelan ludah.

Bukan karena takut, tapi karena kata-kata ini begitu familiar. Kata-kata ini berasal dari sebuah pidato terkenal dari revolusi suatu bangsa kuno, di peradaban yang telah hilang. Bahkan Zhuxuan, yang sejak tadi berdiri diam, memandang Lin Tian dengan ekspresi terkejut, seperti melihat orang aneh yang tiba-tiba berbicara dalam bahasa yang tidak dikenal.

Pria tua bijaksana berdehem pelan untuk memecah keheningan. "Semuanya, tolong tenang. Mari kita saling menjaga suasana sidang agar lebih kondusif."

Semua orang mengangguk setuju.

Pria tua itu kemudian menatap Lin Tian dengan tatapan yang lebih lembut.

"Kita sudah banyak menghabiskan waktu untuk berdebat tentang hal-hal yang tidak perlu. Sekarang ceritakan saja bagaimana kejadian itu bisa terjadi. Penilaian akan diserahkan pada Timbangan Kebenaran, lalu hakim yang akan memutuskan."

Lin Tian akhirnya mengangguk. Ia mulai bercerita dari awal, mulai dari kematian Bai Feng di Kota Naga Patah, dari kesedihan yang melandanya saat menemukan mayat sahabatnya, dari keempat tetua yang datang dan langsung menuduhnya sebagai makhluk kegelapan, dari ancaman eksekusi tanpa pengadilan, dan dari keputusannya untuk membunuh satu orang sebagai peringatan.

Setelah ia selesai bercerita, semua mata tertuju pada Timbangan Kebenaran di tengah ruangan.

Artefak emas itu tidak bereaksi.

Jarumnya tetap diam di tengah, tidak bergerak ke kiri atau ke kanan. Artinya Lin Tian jujur, setiap kata yang ia ucapkan adalah kebenaran. Tapi tetap perlu hukuman.

Pria paruh baya menghela napas lalu berbicara. "Lin Tian, karena kau tidak memiliki banyak harta, bagaimana jika hukumanmu diganti dengan sesuatu yang lain?"

Kedua hakim lainnya mengangguk setuju.

Lin Tian menatap pria paruh baya itu dengan hati-hati. "Sesuatu? Jika tidak merepotkan, saya akan lakukan."

"Bergabunglah dengan Faksi Kebenaran," ucap pria paruh baya itu dengan tegas. "Dedikasikan dirimu untuk kedamaian masyarakat di seluruh Benua Lingzhou ini. Cukup sepuluh tahun. Mudah, kan?"

Lin Tian memijat pelipisnya dengan ibu jari dan jari tengah. Ia tidak menyangka hukuman pengganti akan berbentuk seperti ini.

Zhuxuan yang melihat gerakan Lin Tian bertanya. "Apa ada masalah?"

Lin Tian menjawab dengan suara pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri, "Guruku menyarankanku untuk datang ke wilayah barat, ke Sekte Bulan Tenang. Katanya di wilayah barat mudah mencari informasi tentang seseorang."

Ketiga hakim yang mendengar kata-kata itu langsung menyipitkan matanya.

Pria tua bijaksana mengangkat tangannya lalu berkata. "Bocah Lin, wilayah barat saat ini sedang hancur lebur karena perang saudara. Sekte Bulan Tenang pun ikut hancur. Jadi percuma saja kau pergi ke sana."

Hakim wanita menunjuk ke udara di depannya, dan sembilan proyeksi berbeda muncul bersamaan. Gambar-gambar itu menunjukkan kehancuran di mana-mana. Kota-kota hancur, desa-desa rata dengan tanah, dan puing-puing bangunan berserakan di setiap sudut. Satu proyeksi menunjukkan sebuah gerbang megah dengan tulisan "Bulan Tenang" di atasnya, tapi itu adalah satu-satunya bagian yang masih utuh. Di belakang gerbang itu, hanya puing-puing yang tersisa.

Lin Tian mengingat perkataan Jiyue, tentang perang saudara di wilayah barat. Kini ia melihat sendiri buktinya.

Ia menghela napas panjang.

Hakim wanita mengibaskan lengannya, dan semua proyeksi itu langsung hilang. "Jika kau membutuhkan informasi tentang seseorang, maka Kota Suci Cifu ini adalah tempat yang paling tepat. Aku mengerti bahwa saran guru adalah sesuatu yang sakral bagi seorang murid. Tapi jika tempat yang disarankan sudah hancur, apa yang akan kau datangi? Arang dan puing-puing?"

Lin Tian tahu itu. Ia juga tahu bahwa gurunya tidak menentukan kapan ia harus berangkat ke barat. Tidak ada tenggat waktu, tidak ada batasan. Untuk sekarang, bergabung dengan Faksi Kebenaran cukup bagus juga, mengingat makhluk kegelapan telah merenggut sahabatnya. Setidaknya dengan bergabung, ia bisa membunuh lebih banyak makhluk itu sebagai balasan.

Pria tua bijaksana berbicara lagi. "Jika kau setuju menerima hukuman ini, kami akan menjadikanmu Komandan Perak, dengan Mu Wan sebagai wakilmu."

Semua orang di ruangan itu menjadi hening. Tidak ada yang menyangka bahwa pemuda berusia delapan belas tahun ini akan langsung diangkat menjadi komandan, melewati semua jenjang yang harus dilalui orang lain.

Zhuxuan mendekati Lin Tian lalu menyerahkan sebuah buku tebal bersampul kulit hitam. "Ini buku aturan hukum Faksi Kebenaran. Baca bagian yang relevan dengan kasusmu."

Lin Tian menerima buku itu lalu membukanya. Ia mencari dengan cepat dan menemukan pasal tentang hukuman pengabdian. Di sana tertulis Lin Tian harus mengabdi selama sepuluh tahun. Namun menariknya Lin Tian tidak dibatasi atau terikat dalam sistem kaku faksi. Tapi di setiap pergerakan pembersihan makhluk kegelapan, dia diwajibkan untuk selalu hadir dan mengupayakan agar makhluk kegelapan tidak banyak membunuh masyarakat sipil.

Lin Tian menutup buku itu lalu mengembalikannya pada Zhuxuan. Ia menghela napas panjang sekali lagi.

"Saya menerima hukuman atas perbuatan saya. Saya akan mengabdi selama sepuluh tahun."

Pria tua bijaksana mengibaskan lengannya, dan Timbangan Kebenaran yang besar itu perlahan menghilang kembali ke kehampaan.

DUK!

Palu hakim diketuk satu kali. Suaranya bergema di seluruh ruangan, menandakan bahwa sidang telah usai dan vonis telah dijatuhkan. Lin Tian kini resmi menjadi anggota Faksi Kebenaran dengan pangkat Komandan Perak. Perjalanan sepuluh tahun telah dimulai.

1
Fajar Fathur rizky
thor cepat bikin bab kaisar Kekaisaran daxia permaisuri pangeran dan putri Kekaisaran daxia mati dengan cara paling kejam dan tragis thor
xi tole
yotyy👍
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏🙏👍
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Dragon🐉 gate🐉
perumpamaan macam apa ini🤣🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
heh! sesama kuntet dilarang body shaming 🤣
Dragon🐉 gate🐉
gw kok bayangin pterodaktil🤔
xi tole
saya lupa
xi tole
saya kaget
🧚Shi Yin 🧚
Eyu.. Lin Han pernah menyebutnya 🤔🤔
🧚Shi Yin 🧚
jangan2 pemimpin kegelapan itu Lin Han 🤔🤔🤔
🧚Shi Yin 🧚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🧚Shi Yin 🧚
😎😎😎😎😎😎
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Hadir..
Aiby Kushina Uzumaki
kalau di bandung mah jigong itu jejak iler kalau bangun tidur 😅🤣🤣🤣
YAKARO: Waduh🤣🤣🤣
Anggota nya tian ada yang jigongan berarti/Facepalm/
total 1 replies
🧚Shi Yin 🧚
udah kehabisan nama ya Thor 😁😁
🧚Shi Yin 🧚: hehe kirain arti yg lain, aroma terapi 🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!