NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 30 VESPER

"Kau bisa berdiri?" desis Reigan, suaranya berat dan kasar.

Hana menatap darah di pelipis Reigan. Logika Hana berputar cepat. Pria ini baru saja membaca berkas yang menyatakan dirinya adalah ancaman berbahaya, tapi insting pertama Reigan saat bom meledak justru melindunginya dari kematian.

"Ya," jawab Hana datar, menguasai kembali emosinya dalam hitungan detik.

Reigan langsung berdiri dengan sentakan kasar, lalu menarik Hana bangkit berdiri bersamanya di tengah kekacauan pelabuhan yang mulai runtuh.

"Tuan Reigan! Nyonya!" Suara Nico terdengar terbatuk-batuk dari balik kepulan asap tebal, berjalan pincang mendekati mereka bersama Marco.

"Aku tidak apa-apa, Nico, tapi Reigan ..."

"Kondisi van?" Reigan memutus kalimat Hana yang ingin mengatakan keadaan dirinya.

"Van komando masih aman, Tuan. Kita harus pergi sekarang sebelum polisi atau orang-orang Leon yang lain datang!" ujar Marco dengan nada mendesak sembari mengedarkan pandangan waspada ke sekeliling.

Reigan tidak menjawab. Dia tidak melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Hana, menarik wanita itu dengan langkah lebar dan tergesa-gesa menuju van hitam yang sudah menunggu di luar area ledakan.

Suasana di dalam pelabuhan hancur, meninggalkan sisa-sisa kehancuran yang membara.

...----------------...

Pintu geser van hitam itu tertutup dengan bantingan keras, meredam suara sirine polisi yang mulai terdengar lamat-lamat dari kejauhan. Mobil langsung melesat menembus jalanan, meninggalkan kepulan asap pelabuhan yang mulai menjauh di belakang.

Suasana di dalam mobil mendadak senyap. Terlalu senyap hingga suara napas mereka sendiri terdengar jelas. menciptakan ketegangan psikologis yang jauh lebih mengancam daripada dentuman bom tadi.

Reigan duduk bersandar di kursi seberang Hana. Pria itu mengabaikan darah segar di pelipisnya yang mulai mengering menodai kerah kemejanya. Sepasang matanya yang menyalang merah terkunci mati pada Hana, tajam dan menuntut.

Di otaknya, nama itu terus bergaung tanpa ampun.

VESPER.

Rahangnya mengeras kencang. Otak Reigan masih mengingat jelas, Foto buram wanita bermata elang di atas meja gudang tadi.

Leon brengsek!

Bajingan itu tidak sedang menjebak tubuhnya dengan peluru, tapi sedang menghancurkan logikanya dengan kenyataan.

Hana duduk diam, menatap lurus ke depan. Wajah esnya kembali terpasang sempurna, menutupi batinnya yang sebenarnya sedang mengumpat habis-habis karena kecolongan taktik Leon.

Di kursi depan, Nico fokus menyetir tanpa berani bersuara. Tangan kirinya sesekali menyentuh jaket bagian dalam. Berkas tebal yang dia sambar diam-diam sebelum gudang meledak tadi terasa berat.

Jantung Nico berdegup kencang—dia baru saja menyimpan informasi berharga. Pria berkacamata ini bahagia. Dia punya bahan dalam pencarian siapa Nyonya Reigan lebih dalam.

Jadi Nyonya Reigan adalah Vesper? Bulu kuduk Nico berdiri.

Reigan memutus keheningan kabin tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah es Hana. Matanya tetap mengunci Hana. Suaranya diarahkan lurus ke depan dengan sorot mata tajam.

"Nico."

Nico tersentak kecil di balik kemudi. Jantungnya mencelos. "Y-ya, Tuan?" Mata Nico naik melihat ke kaca spion di atasnya sebentar. Lalu kembali mengemudi sambil fokus mendengarkan Reigan bicara. berusaha keras menjaga kestabilan laju mobil.

"Begitu sampai di markas, bersihkan sisa kekacauan pelabuhan dari jaringan publik," perintah Reigan, suaranya sedingin es, berat, dan sarat akan perintah terselubung. "Lalu, cari tahu kenapa harus ada anomali disana."

Nico melempar lirik tipis ke spion tengah. Tatapan Reigan yang tajam melintas di kaca, memberi isyarat tak kasat mata yang langsung dipahami oleh otak cerdasnya.

Anomali.

Dia paham itu soal berkas milik Vesper, Hana.

"Hapus semua jejak digital kita malam ini. Mengerti?" tambah Reigan lagi,

Nico menelan ludah berat, mencengkeram setir lebih erat. "Dimengerti, Tuan. Segera saya eksekusi setelah kita tiba."

Hana tetap bergeming di kursinya. Sepasang matanya menatap lurus ke kaca depan, melewati bahu Nico. Wajah esnya tidak menunjukkan reaksi, namun jemarinya di dalam saku jaket perlahan mengetat.

Anomali.

Itu aku. Reigan jelas akan menguliti riwayatku melalui berkas itu.

...----------------...

Van komando itu akhirnya berhenti di pelataran parkir bawah tanah penthouse. Langkah kaki mereka yang berat membawa ketegangan itu masuk, menembus unit apartemen mewah yang sunyi berkabut kecurigaan.

"Jadi kau Vesper, Hana? Sniper dunia bawah?" tanya Reigan tenang tapi sorot mata tajam. Pria itu melangkah maju, memojokkan Hana ke dinding terdekat untuk mengunci ruang geraknya, mendominasi atmosfer ruangan dengan auranya yang menekan.

"Apa itu yang tertulis pada berkas yang kau curi dari gudang Leon?" balas Hana datar, menantang balik tatapan itu tanpa keraguan.

Reigan menipiskan bibir. Senyuman yang mengartikan dia paham. Sebuah kedutan sinis yang sarat akan kepuasan karena telah berhasil mengupas satu lapisan topeng Hana.

"Tidak salah jika kau pandai menggunakan senjata. Tapi ... " Tangan Reigan menyentuh dagu Hana. Mencengkeramnya dengan tekanan yang pas untuk memaksa sepasang mata elang itu menatap langsung ke dalam maniknya. "Kenapa seorang Vesper bisa masuk ke apartemenku menjadi wanita yang dijodohkan oleh kakekku?"

Hana menatap tangan Reigan pada dagunya. Lalu menyingkirkan tangan Reigan. Hanya sebuah tepukan pelan, tapi cukup membuat pria itu menyipitkan mata menatap tangannya yang tersingkirkan dari dagu wanita ini.

"Bukankah Kakek Arthur sudah bilang kalau aku cucu sahabatnya? Aku rasa itu cukup untuk membuatku bisa jadi wanita yang dijodohkan denganmu." Hana melontarkan tameng hukumnya, mengunci argumen Reigan menggunakan nama besar Arthur Douglas yang dihormati keluarga mereka.

Reigan berjalan menjauh. Berjalan beberapa langkah ke tengah ruangan untuk menahan diri agar tidak meledak.

"Anggap saja begitu. Kau masuk ke dalam dunia kakekku karena kau cucu sahabat kakekku, tapi ... kenapa kau setuju dengan pernikahan ini?"  Mata Reigan berkilat berbahaya saat dia berbalik kembali memaku pandangannya pada Hana.

"Sebagai Vesper kau cukup bisa membunuh seseorang dalam senyap. Kau tidak butuh pelindung."

"Apa pernikahan tidak cocok denganku?" Suara Hana mengalun tenang, melemparkan pertanyaan dingin yang seketika memutarbalikkan beban interogasi kembali ke pundak Reigan.

Reigan menggeram. "Kau selalu bisa menjawab setiap pertanyaanku dengan wajah datarmu. Kau lihai, Hana. Sepertinya kau sengaja disiapkan untuk itu," Reigan yang kehilangan kata-kata.

"Aku tidaklah lemah untuk bisa diatur seseorang, Reigan."

Sesaat hening. Reigan dan Hana saling menatap. Beberapa detik saja.

Tiba-tiba Hana berjalan menjauh membuat Reigan heran dan makin kesal. Matanya yang memerah mengikuti ke mana arah langkah kaki Hana yang bergerak tanpa izinnya.

Apa yang dia lakukan? Pergi begitu saja sebelum kita selesai bicara? Batin Reigan mengumpat tajam, merasa otoritasnya diabaikan.

Namun tidak lama, wanita itu kembali. Ada kotak obat dalam tangannya. Ternyata dia hanya mengambil kotak P3K. Reigan terheran-heran.

"Lebih baik obati dulu luka di wajahmu." Hana mendekat kembali, membuka penutup kotak dengan gerakan pas yang tenang, seolah ketegangan mematikan di antara mereka hanyalah angin lalu.

"Kau ingin mengalihkan pembicaraan, Hana?" desis Reigan, rahangnya mengetat saat melihat kapas beralkohol yang kini dipegang wanita itu.

"Kau bisa bicara setelah aku mengobatimu."

1
Normawati
😘
Inah Ilham
terhura....eh terharu nya aku 😭😭😭
E F
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
Inah Ilham
kita yg baca berasa ikut diterperangkap dikegelapan
E F
lanjutt thor💪😍😄
Inah Ilham
sepertinya kok ada bau" gosong ya 🤣🤣🤣
Latifa Latifa
selalu suka karya othor...bahasa simple..alur jelas ..sukaa pokoknya
Inah Ilham
sabar Mas Bro
Inah Ilham
aku tau apa yang ada dikepalamu Reigan 🤣🤣🤣
Inah Ilham
mereka pikir Hana adalah mangsa padahal dialah predatornya
Inah Ilham
kaget ngga tuh si Abang Reigan
Dik Yude
karya2mu sll luar viasa thor..😍
Latifah Latifah
lanjut up thor💪💪😍
Riri
cemburu bang...😄
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!