NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:433
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30. Pelajaran Berharga

Khiya dan Astrid melangkah masuk ke aula utama yang hangat, di mana Raja Hrolf sedang duduk bersama Ube sambil menikmati daging asap. Suasana yang tadinya santai berubah menjadi serius saat Astrid berdiri dengan tegak di hadapan Sang Raja.

"Rajaku, cucumu bukan lagi gadis yang ragu - ragu. Selama latihan, dia telah menaklukkan angin utara. Busur panah di tangannya bukan lagi sekadar kayu, tapi sudah menjadi bagian dari nyawanya." Ucap Astrid sambil menundukan sedikit badanya.

"Begitukah? Jadi, kau merasa dia sudah siap, Astrid?" Tanya Raja Hrolf sambil Menaruh cangkir minumnya, matanya berbinar bangga.

 "Dia sudah menguasai sasaran diam dengan sempurna. Tapi perang tidak pernah diam, Tuanku. Musuh bergerak, lari, dan menyerang balik. Karena itu, aku meminta izinmu untuk membawanya ke hutan di kaki gunung. Sudah waktunya Khiya berlatih memanah benda bergerak dengan cara berburu. Seru Astrid kepada Raja Hrolf

"Hutan? Serigala di sana sedang lapar - laparnya karena salju turun lebih lama. Itu berbahaya." Jawab Raja Hrolf sembari Mengelus janggutnya yang tebal. Ube Tiba - tiba berdiri, "Kalau begitu, aku ikut. Aku tidak akan membiarkan keponakanku masuk ke hutan itu hanya dengan Astrid. Ube menyela.

"Paman, aku bisa menjaga diriku sendiri. Astrid telah mengajariku banyak hal." Ujar Khiya dengan keyakinan jika dia sudah berkembang. Ube Tersenyum tipis namun matanya serius dan berucap "Ini bukan soal meragukanmu, Khiya. Aku sudah berjanji pada Kurza sebelum dia pergi ke Alabas. Aku bersumpah akan melindungimu dengan nyawaku selama dia tidak ada di sini. Jika sesuatu terjadi padamu, aku tidak akan punya muka untuk bertemu dengannya lagi, atau lebih buruk, aku harus menghadapi amarah seorang vampir.

"Hahaha! Benar, janji pria Viking adalah harga mati. Pergilah! Ube, Jaga keponakanmu selama berburu. Dan Khiya... bawakan aku rusa jantan terbesar sebagai bukti bahwa kau siap untuk berperang!" Seru Raja Hrolf yang antusias dengan perkembangan cucunya.

Khiya Mengangguk mantap "Aku akan membawakannya untukmu, Kek." janji Khiya kepada Raja Hrolf. ‎Mereka bertiga kemudian bersiap menuju hutan. Ube menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan selama dihutan. Dia membawa empat prajurit untuk membawa barang - barang seperti tenda, selimut dan senjata.

Pagi sekali mereka bergerak menuju hutan. Sesampainya di hutan mereka langsung berburu, hanya empat prajurit yang mendirikan tenda dan tidak ikut berbur. Ube, Astrid dan Khiya menelusuri hutan mencari rusa dab hewan apa saja yang bisa dimanfaatkan menjadi sumber makanan.

Setelah seharian berburu mereka hanya bisa menangkap beberapa ekor kelinci. Udara hutan di kaki gunung terasa jauh lebih menusuk saat matahari mulai terbenam. Kabut tebal merayap di antara batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari.

Meskipun mereka telah menyisir wilayah yang cukup luas sejak pagi, rusa jantan yang dijanjikan Khiya kepada Kakeknya masih belum menampakkan diri. Di depan tenda kecil yang mereka dirikan di dekat aliran sungai yang membeku, api unggun kecil mulai menyala. Aroma daging kelinci yang dipanggang oleh Ube mulai tercium, sedikit mengobati rasa lelah mereka.

‎"Jangan cemberut begitu, Khiya. Hutan ini punya aturannya sendiri. Terkadang dia memberimu pesta, terkadang dia memintamu untuk bersabar. Kelinci ini cukup untuk mengisi tenaga kita sebelum besok kita masuk lebih dalam ke area lembah." Seru Ube Sambil memutar tusukan daging kelinci.

"Aku hanya merasa gagal, Paman. Seharian ini aku sudah menyiapkan anak panahku, tapi tidak ada satu pun hewan besar yang lewat. Apa aku terlalu berisik saat berjalan?" Jawab Khiya sambil membersihkan busurnya dengan kain.

"Bukan kau yang berisik. Angin berhembus ke arah yang salah hari ini, mereka mencium bau kita sebelum kita melihat mereka. Tapi lihat sisi baiknya kau berhasil memanah tiga kelinci ini saat mereka sedang berlari zig-zag di balik semak. Itu latihan yang jauh lebih sulit daripada memanah rusa yang sedang diam makan rumput." Seru Astrid duduk di samping Khiya sambil memperhatikan Ube yang sedang memanggang kelinci.

"Benar kata Astrid. Memanah kelinci butuh kecepatan tangan yang luar biasa. Jika kau bisa mengenai makhluk kecil secepat itu, rusa besok akan terasa seperti sasaran diam bagimu." Ucap Ube yang terkekeh.

"Terima kasih, Paman. Besok, aku akan bangun sebelum burung pertama berkicau. Aku tidak akan pulang dengan tangan kosong." Timpa Khiya yang mulai tersenyum tipis.

"Tetap waspada. Malam di hutan ini bukan milik manusia. Ube, kau ambil giliran jaga pertama. Aku merasa ada yang mengawasi kita dari balik bukit itu sejak sore tadi." Seru Astrid Menatap ke arah kegelapan hutan yang lebih dalam, matanya menyipit.

Suasana mendadak sedikit tegang. Ube mengangguk perlahan sambil meletakkan tangannya pada gagang kapak besar yang ada didekatnya. Meskipun mereka sedang berburu, mereka sadar bahwa di hutan liar ini, pemburu pun bisa menjadi mangsa.

‎Suasana hangat di sekitar api unggun pecah seketika. Ube, yang tadinya tampak santai, tiba-tiba berdiri tegak dengan otot leher yang menegang. Indra tempurnya yang sudah terasah puluhan tahun menangkap getaran di tanah dan patahan ranting yang tidak wajar.

"Astrid! Jaga Khiya!" teriak Ube menggelegar, suaranya mengalahkan desis api. Dari kegelapan semak-semak, sesosok raksasa putih muncul. Seekor beruang kutub raksasa, jauh lebih besar dari beruang biasa, menerjang masuk ke area perkemahan. Bulunya yang tebal tampak kotor oleh bekas luka lama, dan matanya merah penuh amarah lapar.

"ROOOAAARRRR!!!" Raungan itu menggetarkan dada Khiya, namun Ube tidak mundur selangkah pun. Ia justru berlari menyongsong maut. Pertarungan Sengit Ube vs Sang Penguasa Es .

Beruang itu berdiri di atas dua kaki belakangnya, menjulang setinggi tiga meter, dan menghantamkan cakar depannya ke arah Ube. Ube melakukan gerakan guling ke samping, lalu dengan satu sentakan kuat, ia mengayunkan kapak besarnya ke arah kaki sang beruang.

Klang! Kulit beruang itu begitu keras dan tebal hingga kapaknya hanya berhasil menyayat sedikit permukaannya. Beruang itu berputar dengan kecepatan yang mengejutkan, menghantam pundak Ube dengan moncongnya hingga Ube terpental menghantam pohon pinus.

"Paman!" teriak Khiya sambil menarik busurnya, namun Astrid menahan tangannya. "Jangan! Kau bisa mengenai Ube dalam jarak sedekat itu!" Ube meludah darah, tersenyum liar khas prajurit Viking yang sedang dalam kondisi Berserker. Ia bangkit, melepaskan jubah kulitnya, dan menerjang kembali.

Saat beruang itu mencoba menggigit kepalanya, Ube menusukkan gagang kapaknya ke dalam mulut terbuka makhluk itu sebagai ganjalan, lalu dengan tangan kosong, ia melayangkan tinju bertubi-tubi ke arah hidung sensitif sang beruang.

Beruang itu meronta hebat, cakarnya merobek baju kulit di dada Ube hingga mengucurkan darah. Namun, Ube tidak melepaskan cengkeramannya. Ia memanfaatkan berat tubuh beruang itu untuk membantingnya ke arah tanah yang membeku. "BRAKK!" Tanah bergetar.

Saat beruang itu mencoba bangkit kembali, Ube berhasil menarik kapaknya yang tadi terganjal. Dengan raungan yang menyerupai guntur, ia melompat ke udara dan menghantamkan mata kapaknya tepat ke arah leher beruang itu. "Demi Odin!!!" Darah merah menyembur ke atas salju yang putih.

Beruang raksasa itu terdiam, lalu tumbang dengan dentuman keras yang membuat api unggun mereka hampir padam. Ube berdiri di atas bangkai itu, napasnya memburu, tubuhnya penuh darah dan uap panas yang keluar dari luka-lukanya. Ube menoleh ke arah Khiya dengan seringai bangga meski wajahnya berlumuran darah.

"Lihat, Khiya? Itu... adalah cara menyambut tamu di hutan ini." Seru Ube yang berdiri penuh dengan darah. Khiya terpaku melihat kekuatan pamannya. Ia sadar, dunia yang ia masuki sekarang bukan lagi sekadar latihan, tapi tentang hidup dan mati.

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: oke. nanti gw mampir.
total 3 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!