"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cya Pergi
Pagi-pagi sekali, Rajendra meminta Cya membuatkan kopi karena ia sedang sibuk memeriksa berkas penting yang harus dibawanya ke kantor.
Cya tersenyum miring saat mengaduk tiga gelas kopi di hadapannya.
Setelah selesai, ia membawa satu gelas ke ruang kerja Rajendra, sementara dua gelas lainnya ia tinggalkan di meja makan.
“Ini, Om, kopinya,” ujar Cya sambil meletakkan cangkir di depan Rajendra.
“Terima kasih,” jawab Rajendra tanpa mengalihkan fokusnya dari berkas.
Setelah itu, Cya kembali ke dapur.
Di sana, Bu Riska dan Pak Sammy sudah duduk di meja makan. “Tumben Rajendra nggak masak,” komentar Bu Riska saat melihat meja kosong.
“Mungkin nggak sempat,” sahut Pak Sammy.
“Eh, ini ada kopi. Pasti Rajendra yang bikinin buat kita.”
Tanpa curiga, keduanya langsung mengambil dan meminum kopi tersebut.
“Wah, enak banget kopi buatan Rajendra,” puji Bu Riska.
Cya yang bersembunyi di samping kulkas menutup mulutnya, menahan tawa. Silakan dinikmati… batinnya puas.
Sekitar lima belas menit kemudian—wajah Bu Riska mulai berubah.
Ia mencengkeram perutnya.
“Kenapa, Ma?” tanya Pak Sammy khawatir.
“Perut aku sakit, Mas…”
Pak Sammy mengernyit, lalu tiba-tiba ikut meringis. “Kok sama… serut aku juga.”
Tanpa banyak bicara, Bu Riska langsung berdiri dan berlari ke arah kamar mandi.
Namun—tangan Pak Sammy lebih dulu meraih gagang pintu.
“Mas, aku duluan!” pekik Bu Riska panik.
“Aku dulu!” balas Pak Sammy tak kalah panik.
“Aku udah nggak tahan!”
“Sama, aku juga!”
Tiba-tiba—“Prruuttt…”
Bu Riska tak bisa lagi menahan.
Pak Sammy langsung menutup hidung. “Bau banget!”
Tanpa basa-basi, ia langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.
“Mas! Buka pintunya!” teriak Bu Riska sambil mengetuk panik.
“Kamu ke kamar mandi di kamar aja!”
“Nggak sempat, Mas! Perut aku udah mules banget!”
Cya yang masih bersembunyi di dekat kulkas sampai harus menahan napas agar tidak tertawa keras.
“Rasain…” gumamnya pelan. “Siapa suruh jahat sama cewek polos tapi barbar kayak gue.”
Ternyata, saat membuat kopi tadi, Cya sengaja mencampurkan obat pencuci perut ke dalam dua gelas kopi untuk Bu Riska dan Pak Sammy.
Sedangkan kopi untuk Rajendra—tentu saja aman.
Ia belum mau cari masalah besar.
Cya tersenyum puas melihat Bu Riska yang akhirnya berjongkok di depan pintu kamar mandi sambil memegangi perutnya.
Tak lama kemudian, Pak Sammy keluar dengan wajah pucat.
Bu Riska langsung menerobos masuk tanpa permisi.
BRAK!
Pintu ditutup keras.
Belum sempat Pak Sammy menjauh—perutnya kembali mulas.
Ia langsung berbalik dan mengetuk pintu lagi. “Riska, cepetan! Aku mau masuk lagi!”
Dari dalam terdengar suara panik Bu Riska.
Keduanya pun akhirnya bergantian keluar-masuk kamar mandi.
Cya yang merasa aksinya sudah cukup berhasil akhirnya meninggalkan dapur dengan wajah puas.
Ia berjalan santai menuju kamarnya dengan senyum kemenangan yang tak bisa ia sembunyikan.
***
“Kamu kenapa senyum-senyum?” tanya Rajendra begitu Cya masuk ke kamar.
Cya langsung menghentikan senyumnya.
“Loh… Om sudah di sini? Kerjaannya sudah selesai?”
“Sudah,” jawab Rajendra singkat. “Kamu mau berangkat sama aku atau sendiri?”
Cya mengernyit. “Memangnya Om ada jadwal ngajar lagi di kampus saya hari ini?”
“Nggak. Aku ngajar di sana cuma dua kali seminggu.”
“Terus ngapain ngajakin saya berangkat bareng?”
Rajendra menyandarkan tubuhnya santai. “Karena aku belum beliin kamu kendaraan.”
Cya langsung melirik. “Om mau beliin saya kendaraan?”
“Iya. Rencananya begitu. Kamu bilang saja mau mobil apa, nanti aku belikan. Sekalian aku carikan sopir.”
“Jangan mobil deh, Om.”
“Kamu mau motor?”
Cya menggeleng pelan, lalu mengetuk dagunya seolah berpikir keras. “Saya mau delman aja, Om.”
Rajendra langsung menatapnya datar. “…Cya.”
“Kenapa?” jawabnya polos.
“Zaman sekarang mana ada delman di kota besar kayak gini?”
Cya cemberut. “Kalau gak ada delman… ya kudanya aja, Om. Kayaknya seru deh ke kampus naik kuda.”
Rajendra menghela napas panjang. “Mana ada orang ke kampus naik kuda.”
Cya langsung manyun, semangatnya hilang seketika. “Ya udah deh… gak usah sekalian. Saya naik ojek online aja tiap hari.”
Rajukannya bikin pipinya mengembung seperti bakpao.
Rajendra menahan senyum. “Udah, jangan ngambek,” katanya sambil mendekat. “Nanti hari Minggu aku ajak kamu ke Puncak. Kita naik kuda di sana.”
Mata Cya langsung berbinar. “Beneran?”
“Iya. Tapi beli kudanya gak bisa. Kita gak punya kandang, dan kamu juga gak mungkin nyari rumput tiap hari.”
Cya langsung menghela napas pasrah.
“Iya sih…”
“Jadi?”
“Ya udah… nggak usah beli kendaraan. Tapi janji ya, Minggu ke Puncak.”
“Janji.” Tangan Rajendra terangkat, mengelus puncak kepala Cya.
“Yey!” seru Cya senang.
Senyumnya menular—Rajendra ikut tersenyum tipis tanpa sadar.
Akhirnya, Rajendra tetap mengajak Cya berangkat bersama.
Awalnya Cya menolak, tapi setelah Rajendra mengancam akan membatalkan rencana ke Puncak, gadis itu langsung menyerah.
Kini mereka berjalan berdampingan menuruni tangga.
Namun—begitu sampai di ruang keluarga—keduanya berhenti.
Bu Riska dan Pak Sammy terlihat meringkuk di sofa dengan wajah pucat, tangan memegangi perut masing-masing.
“Mama sama Papa kenapa?” tanya Rajendra.
“Perut kami sakit…” jawab Bu Riska lemah. “Setelah minum kopi buatan kamu…”
“Iya,” sambung Pak Sammy. “Mungkin kopinya sudah kadaluarsa…”
Rajendra mengernyit.
Kopi buatan aku?
Padahal kopi tadi jelas dibuat oleh…
Perlahan, Rajendra menoleh ke arah Cya.
Tatapannya tajam.
Cya pura-pura melihat ke arah lain, bersiul kecil tanpa suara.
Senyumnya nyaris lolos.
Rajendra menghela napas. “Dasar gadis nakal…” gumamnya pelan.
Tanpa banyak bicara, ia langsung menarik tangan Cya. “Ayo.”
“Eh—” Cya tak sempat protes.
“Lepas, Om!” Cya meringis kesakitan karena cengkeraman tangan Rajendra yang terlalu kuat.
Namun, Rajendra sama sekali tidak menghiraukannya. Ia baru melepaskan tangan Cya setelah mereka sampai di samping mobil.
“Masuk!” titah Rajendra tegas setelah membuka pintu mobil.
Cya masuk tanpa banyak bicara. Begitu ia duduk, Rajendra menutup pintu mobil dengan keras hingga membuat Cya sedikit tersentak.
Rajendra kemudian berputar dan masuk ke kursi pengemudi. Tatapannya langsung mengarah tajam ke Cya yang sedang memasang sabuk pengaman.
“Kamu, kan, yang bikin kopi yang diminum Mama dan Papa?” tanyanya dingin.
“Iya,” jawab Cya singkat.
“Kamu taruh apa di kopi mereka sampai mereka sakit perut seperti itu?”
“Gula, kopi, sama air panas.” Cya menjawab polos, meski ada satu bahan yang sengaja ia sembunyikan.
“Cuma itu?” Rajendra menatapnya penuh selidik.
Cya mengangguk pelan.
“Jangan bohong, Cya.” Suara Rajendra mulai menekan.
Cya menghela napas pelan, lalu menjawab jujur, “Saya… nambahin obat pencuci perut.”
Rajendra langsung mengusap wajahnya kasar. “Ya ampun, Cya… kenapa kamu bisa setega itu?”
“Habisnya kesel!” balas Cya cepat. “Kemarin pasti Mama mertua Om yang sengaja naruh air di depan pintu. Dan Om malah ngebelain dia. Padahal gak mungkin ada air kalau gak ada yang naruh!”
Rajendra terdiam sejenak. Ia terlihat makin frustrasi.
Ia pikir masalah itu sudah selesai, ternyata tidak.
“Aku minta maaf,” ucapnya akhirnya.
Cya mengernyit heran. “Apa Om sekarang percaya kalau memang Mama mertua Om yang sengaja naruh air di depan pintu?” tanyanya berharap.
Namun Rajendra justru menggeleng.
Seketika wajah Cya berubah. Bibirnya mengerucut kecewa. Ia langsung melepas sabuk pengaman yang baru saja ia pasang.
“Kamu mau ke mana?” tanya Rajendra cepat saat melihat Cya membuka pintu.
"Saya berangkat sendiri aja,” jawab Cya dingin.
“Cya, tunggu!” Rajendra ikut keluar dari mobil, tapi terlambat. Cya sudah berlari menjauh ke arah gerbang.
Rajendra hanya bisa berdiri di tempat, menghela napas panjang. “Ya ampun… salah lagi,” gumamnya putus asa.
Sejak kedua mertuanya tinggal di rumah itu, hampir setiap hari Rajendra dibuat pusing oleh tingkah Cya.
Namun ironisnya, ia tetap tidak punya keberanian untuk menyuruh kedua orang tua Aurel itu pergi.
***
Rajendra melajukan mobilnya, mengikuti Cya yang berjalan dengan langkah lebar sambil menggerutu tidak jelas.
Sudah berkali-kali ia membunyikan klakson, berharap Cya mau berhenti. Namun gadis itu tetap keras kepala, tidak sedikit pun menoleh. Hingga akhirnya Rajendra mengambil keputusan untuk menghadangnya. Mobil itu berhenti tepat di depan Cya, membuatnya terpaksa menghentikan langkah.
Rajendra buru-buru turun dari mobil dan mendekatinya.
“Ayo naik mobil.” Ia hendak meraih pergelangan tangan Cya, tetapi gadis itu dengan cepat menghindar.
“Enggak mau. Saya mau berangkat sendiri.”
“Kalau kamu terus jalan kaki, kapan sampainya?”
“Om enggak usah ngurusin saya. Urus aja mertua kesayangan Om. Besok saya mau pulang ke rumah orang tua saya saja.”
Cya sudah benar-benar tidak tahan. Sejak tadi berjalan, ia sudah memikirkan semuanya dengan matang. Daripada terus makan hati di rumah itu, lebih baik ia kembali ke rumah orang tuanya. Meski di sana pun sepi, setidaknya ia bisa hidup lebih tenang.
Rahang Rajendra mengeras. “Kemarin aku sudah menawarkan kamu pindah ke rumah baru, tapi kamu menolak. Sekarang kamu malah mau kembali ke rumah orang tua kamu. Maunya kamu itu apa sih, Cya?” emosi Rajendra mulai memuncak.
“Saya mau pindah, tapi bukan sama Om. Kalau saya pindah sama Om, sama saja bohong.”
“Kenapa kamu ggak mau pindah sama aku? Aku ini suami kamu. Di mana pun kamu berada, aku tetap ada di sana.”
Cya memutar bola matanya malas. Baginya, ucapan Rajendra sama sekali tidak sejalan dengan sikapnya.
“Saya malas tinggal sama Om.”
“Kenapa? Supaya kamu bisa keluar malam sesuka hati, hidup seenaknya, dan jadi kupu-kupu malam, begitu?”
Ucapan pedas Rajendra benar-benar menyinggung perasaan Cya. Tanpa pikir panjang, tangan gadis itu terangkat dan mendarat keras di pipi Rajendra.
Plak!
“Saya memang perempuan nakal, enggak baik, menyusahkan, dan pembangkang seperti yang Om bilang,” ucap Cya dengan suara bergetar. “Tapi saya perempuan yang menjaga harga diri saya, Om.”
“Aku tidak berma—”
“Kalau Om enggak bisa menerima saya, seharusnya dari awal Om menolak perjodohan kita!” potong Cya cepat, tak memberi kesempatan Rajendra menjelaskan.
“Cya, dengarkan aku dulu.”
“Saya capek, Om. Jangan ikuti saya lagi.” Mata Cya mulai berkaca-kaca.
Namun Rajendra tidak mengindahkan permintaan itu. Ia tetap mengikuti Cya saat gadis itu melangkah pergi, bahkan mencekal pergelangan tangannya.
“Cya, aku belum selesai bicara.”
“Lepas, Om. Enggak ada yang perlu Om bicarakan lagi sama perempuan kupu-kupu malam kayak saya!” Air mata Cya akhirnya jatuh. Meski polos, ia tetap paham arti dari ucapan yang tadi dilontarkan Rajendra.
Hati Rajendra mencelos melihat air mata itu. Perlahan, ia melepaskan genggamannya dan hendak menghapus air mata Cya. Namun, Cya menepis tangan itu dengan cepat.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Cya menghentikan sebuah taksi dan langsung masuk ke dalamnya.
Kali ini, Rajendra tidak menahan. “Astaghfirullahaladzim…” gumamnya pelan, memejamkan mata sejenak. “Aku salah lagi.”
Meski begitu, Rajendra tetap masuk ke mobilnya dan mengikuti taksi yang ditumpangi Cya dari kejauhan. Ia sengaja menjaga jarak agar Cya tidak menyadari keberadaannya.
Ia hanya ingin memastikan… Apakah Cya benar-benar pergi ke kampus, atau justru pulang ke rumah orang tuanya dan meninggalkan semuanya.
Setelah memastikan Cya benar-benar turun di kampus, barulah Rajendra menghentikan mobilnya sejenak. Ia menatap gerbang kampus itu dengan tatapan kosong, lalu menghela napas panjang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia memutar arah mobilnya… dan melanjutkan perjalanan menuju kantor, dengan hati yang terasa jauh lebih berat dari biasanya.
***
Hari itu Rajendra pulang pukul delapan malam. Pekerjaannya di kantor benar-benar padat, ditambah lagi ia baru saja menyelesaikan meeting dengan klien dari Jepang.
“Assalamu’alaikum.”
Ia mendapati kedua mertuanya duduk santai di ruang tamu, menikmati camilan sambil menonton televisi.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bu Riska dan Pak Sammy bersamaan.
“Papa sama Mama sudah baikan?”
“Perut Mama masih agak sakit, tapi sudah enggak separah tadi pagi. Sekarang juga Mama sudah jarang bolak-balik ke kamar mandi,” jawab Bu Riska.
“Kalau Papa?” tanya Rajendra.
“Sama, Papa juga sudah mendingan,” sahut Pak Sammy.
“Jangan lupa minum obat,” ucap Rajendra singkat sebelum beranjak naik ke kamar.
Namun baru beberapa menit di atas, Rajendra kembali turun dengan langkah cepat.
“Mama, Papa… lihat Cya di mana?”
Bu Riska dan Pak Sammy saling pandang sejenak. “Enggak tau. Dari tadi pagi dia belum pulang. Bukannya kalian tadi berangkat bareng?” jawab Bu Riska.
“Cya belum pulang dari tadi pagi?” ulang Rajendra, nadanya mulai berubah tegang.
Keduanya mengangguk.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Rajendra langsung berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar.
“Rajendra, kamu mau ke mana, Nak?” teriak Bu Riska.
Namun Rajendra sama sekali tidak menggubris. Pikirannya hanya dipenuhi satu hal—Cya.
Ia segera masuk ke dalam mobil dan mencoba menghubungi nomor Cya, tapi ponsel gadis itu tidak aktif.
“Cya, kamu di mana…” gumamnya frustasi, lalu memukul setir mobil.
Mobilnya melaju kencang membelah jalanan malam. Beberapa pengendara lain sampai mengumpat kesal karena cara menyetirnya yang ugal-ugalan.
Tak butuh waktu lama, mobil Rajendra berhenti di depan rumah orang tua Cya. Ia langsung turun dengan tergesa.
“Den, Rajendra…” sapa satpam yang berjaga sambil hendak membuka pagar.
“Cya ada di dalam?” tanya Rajendra cepat, tanpa basa-basi.
“Enggak ada, Den. Bukannya Non Cya tinggal sama Aden?” jawab satpam itu heran.
“Tadi siang dia ke sini?”
“Enggak juga, Den.”
Rajendra menghela napas berat, rahangnya mengeras. “Bapak tau Cya biasanya pergi ke mana? Atau sama siapa kalau keluar malam?”
Satpam itu menggeleng. “Waduh, saya enggak tau, Den. Dulu Non Cya memang sering keluar malam, tapi gak ada yang tahu dia ke mana.”
“Baik… terima kasih, Pak.”
“Sama-sama, Den.”
Rajendra kembali masuk ke mobilnya. Untuk sesaat, ia hanya diam, kedua tangannya mencengkeram setir dengan kuat.
asa.
Ia tetap mengemudi sambil terus mencoba menghubungi Cya. Namun, berkali-kali panggilan itu tidak dijawab.
“Sial!” umpatnya pelan, rahangnya mengeras. Ia yakin, Cya sengaja mengabaikannya.
Rajendra menggenggam setir dengan kuat. Untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa sesak—ia tidak tau apa-apa tentang istrinya sendiri. Tidak tau ke mana biasanya Cya pergi, tidak tau siapa saja teman dekatnya, bahkan tidak tau harus mencari ke mana saat gadis itu menghilang seperti ini.
Namun, ia tidak menyerah.
Mobilnya terus berkeliling, menyusuri jalan demi jalan, dari satu tempat ke tempat lain yang bahkan ia sendiri tidak yakin. Setiap sudut kota seolah menjadi harapan kecil… kalau-kalau ia bisa menemukan Cya di sana.
Waktu terus berjalan. Lampu-lampu jalan mulai redup, langit perlahan berubah warna.
Hingga akhirnya… Pukul empat subuh. Tubuh Rajendra sudah benar-benar kelelahan. Matanya perih, kepalanya terasa berat, dan kesadarannya mulai goyah. Sejak pulang kerja, ia tidak beristirahat sedikit pun—hanya berkeliling tanpa arah, mencari seseorang yang bahkan tidak ingin ditemukan.
Dengan napas berat, ia akhirnya menepikan mobil di pinggir jalan yang sepi. Untuk beberapa detik, ia hanya diam, bersandar di kursi, menatap kosong ke depan.
“Cya… kamu ke mana…” bisiknya lirih.
Tak lama, rasa lelah itu mengalahkan segalanya.
Matanya perlahan terpejam.