ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27--Perisai Black Card dan Serigala Industri
Nada terakhir piano Rahmat bergetar di udara, menyisakan keheningan magis selama tiga detik sebelum akhirnya...
BOOOOOMM!!!
Seluruh Aula SMA Garuda meledak dalam gemuruh standing ovation. Tidak ada lagi perbedaan antara pendukung Kanaya, pemuja Alya, atau bahkan pembenci dari SMA sebelah. Semuanya berdiri. Ribuan tangan bertepuk tangan hingga memerah, meneriakkan nama
"TRIO STAR!" berulang-ulang seolah itu adalah mantra suci.
Alya berdiri di tengah panggung, napasnya tersengal-sengal, keringat mengucur dari pelipisnya hingga ke leher, membuat kostum merahnya berkilau terkena lampu sorot.
Ia menoleh ke arah Rahmat, matanya yang berkaca-kaca memancarkan rasa terima kasih yang mendalam. Rahmat hanya mengangguk tipis, menutup penutup piano dengan gerakan yang sangat elegan.
Baru saja tirai panggung tertutup sepenuhnya, suasana di backstage mendadak kacau. Anissa yang bertugas menjaga keamanan pintu belakang kewalahan.
Bahkan untuk iron lady seperti dia, anisa sampai mengeluarkan keringat lesu. Dia tadi melihat pertunjukan dan tersenyum atas keberhasilan acara, namun antrian para pencari talenta di belakang backstage membuat dia kerepotan.
"Minggir! Saya dari Star Orbit Entertainment! Saya harus bicara dengan gadis berbaju merah tadi!"
"Langkah kaki saya lebih dulu! Kami dari Neo-Pop Agency, kami punya kontrak eksklusif untuknya!"
Sekelompok pria dan wanita berpakaian rapi dengan kartu nama di tangan menerobos barikade OSIS. Target mereka cuma satu: Alya.
Alya yang baru saja mau minum air mineral langsung tersentak. Ia dikepung oleh lima orang dewasa yang menyodorkan berbagai brosur dan kartu nama.
"Dek, kamu punya aura yang kuat! Ikut agensi kami, bulan depan kamu langsung debut!"
"Jangan dengarkan dia! Agensi kami punya koneksi ke Jepang. Kamu bisa jadi bintang internasional!"
Alya gemetaran. Ia mundur selangkah, merasa terintimidasi oleh serigala-serigala industri yang mencium aroma uang dari bakatnya.
"A-anu... saya... saya belum terpikir… sejauh itu, saya cuma menjalankan hobi …”
Rahmat yang tahu bahwa Alya dalam kerepotan dan butuh bantuan langsung sigap membantu. Lagian semua orang yang menawarkan itu dari agensi tidak jelas, dengan bakat alya dia tidak mau dia tercemari begitu saja.
"Permisi kalian mengganggu.”
Sebuah suara dingin dan berat memotong keriuhan itu. Rahmat melangkah maju, berdiri tepat di depan Alya seperti perisai baja.
Jas hitam-emasnya masih rapi, dan aura sultannya memancar begitu kuat hingga para pencari bakat itu tanpa sadar mundur setapak.
"Siapa kamu? Kakaknya? Atau manajernya?" tanya salah satu pencari bakat dengan nada meremehkan.
Rahmat mengeluarkan kartu nama dari saku jasnya—bukan kartu nama agensi, melainkan kartu identitas bank kelas atas miliknya yang berwarna hitam legam.
“Bukan. Hanya teman doang. Tapi Saya adalah orang yang memulai konser ini. Dan mulai detik ini, Alya tidak menerima tawaran dari agensi mana pun yang modalnya bahkan tidak cukup untuk membeli senar piano saya," ucap Rahmat dengan nada datar namun sangat menghina.
Para pencari bakat itu melongo melihat Black Card di tangan Rahmat. Itu adalah kartu yang bahkan bisa membeli agensi mereka dengan mudah.
"Dengar," Rahmat melanjutkan sembari menatap mereka satu per satu dengan mata tajamnya.
"Kalau kalian mau bicara soal bakat Alya, bicaralah pada saya. Tapi pastikan nilai kontrak kalian punya angka nol yang cukup panjang untuk tidak membuang-buang waktu saya dan Alya. Sekarang, keluar dari ruangan ini sebelum saya menelepon pemilik gedung ini untuk mengusir kalian secara tidak hormat."
Ucap Rahmat protektif karena dia tahu orang orang ini cuma serigala biasa dan tidak begitu menjanjikan.
Setelah para pencari bakat itu pergi dengan wajah kecut, suasana menjadi sunyi. Alya menarik ujung jas Rahmat pelan.
"Rahmat... itu tadi... apa nggak keterlaluan?" bisik Alya malu-malu.
"Terlalu lembut, malah," jawab Rahmat santai. Ia menoleh ke arah Kanaya yang sedang asyik mengipasi wajahnya sendiri.
"Gimana? Nggak iri kan kalau adik asuhmu ini sekarang jadi rebutan?"
Kanaya tertawa renyah, meski ada sedikit rasa lelah di wajahnya.
"Iri? Justru aku bangga! Alya, kamu dengar tadi kan? Mereka bilang kamu bisa menyayangiku. Tapi ingat, Rahmat benar. Jangan asal tanda tangan kontrak. Yang barusan itu, aku merasa tidak enak karena mengatakan ini, tapi agensi mereka masih gak jelas. Serigala-serigala itu cuma mau uangmu."
“Kalau kau dilirik agensi yang lebih baik … kamu harus lebih bekerja keras lagi.”
“Ba-baik dimengerti kana!” Ucap Alya terbata-bata karena menerima saran dari seniornya.
Di sudut ruangan, Alfian yang baru saja menyelinap masuk membawa plastik cilok dan es teh manis langsung bersorak.
"HIDUP RATU KANAYA! HIDUP RATU MERAH ALYA! Tadi gue denger penonton sebelah pada nangis gara-gara nyesel udah ngehina!"
Di belakangnya Rozak ikut berjalan kedua tangan membawa gorengan dan botol minuman, kendati mereka berdua mengeluh mereka menjalankan tugas sebagai supporter beneran jadi tukang dukung dan pengantar minuman.
“Barusan gila! Ratu Kanaya dan Alya ini minuman dari kami … silahkan ambil.”
“Ah makasih,” ucap Kanaya dia mengambil minuman dari rozak, sementara alya mengambil minuman dari alfian.
Kedua ketua fans club itu senang bukan main karena minuman mereka diambil begitu.
Sementara Rahmat. “Lah buat gue mana?”
Alfian dan Rozak menoleh ke arah Rahmat secara serempak. Mereka saling pandang selama dua detik, lalu kembali menatap Rahmat dengan wajah datar tanpa dosa, seolah-olah Rahmat adalah tukang parkir yang tiba-tiba minta jatah parkir ke pemilik showroom Ferrari.
"Lo kan Sultan, Mat," celetuk Alfian sembari mengunyah ciloknya dengan santai. "Masa minuman seribuan begini masih mau minta ke rakyat jelata? Beli pabriknya sana!"
"Setuju," sahut Rozak mantap. "Tugas gue sebagai ksatria adalah melayani Ratu Kanaya. Lu itu... apa ya? Sopir piano? Eh, tukang angkut piano?"
"Sialan kalian berdua," umpat Rahmat pelan, namun sudut bibirnya terangkat. Ia tahu ini cara mereka mencairkan ketegangan setelah panggung yang gila tadi.
Alya yang melihat Rahmat "diabaikan" oleh kedua sahabatnya itu merasa tidak enak. Ia menatap botol minuman dingin di tangannya yang baru saja ia buka, lalu dengan ragu menyerahkannya ke arah Rahmat.
"Rahmat... kalau mau, ambil punyaku saja. Aku... aku belum meminumnya kok," ucap Alya lirih, wajahnya merona merah hingga ke telinga.
Seketika, atmosfer di ruangan itu berubah. Alfian tersedak cilok, sementara Rozak menjatuhkan bungkusan gorengannya.
"ANJIR! INDIRECT KISS?!" teriak Alfian heboh. "Alya, jangan kasih! Dia itu buaya ber-Ducati! Dia bisa beli truk tangki air kalau mau!"
"Rahmat! Jangan berani-berani lo sentuh botol suci itu!" Rozak ikut histeris, pasang badan di depan Alya.
Rahmat hanya tertawa kecil. Ia melihat tangan Alya yang masih sedikit gemetar karena sisa adrenalin panggung. Alih-alih mengambil botol itu, Rahmat justru mengulurkan tangannya dan menepuk pelan puncak kepala Alya, mengacak rambut side-pony-nya yang sudah sedikit berantakan.
"Minum saja. Kamu yang paling banyak mengeluarkan energi tadi. Aku tidak haus," ucap Rahmat lembut.
Alya mematung. Sentuhan di kepalanya itu terasa lebih hangat daripada lampu spotlight panggung tadi. "T-tapi..."
"Ehem!" Anissa berdehem keras dari arah pintu, membuat semua orang tersentak.
Sang Ketua OSIS itu melangkah masuk. Ia membawa satu botol air mineral dingin—merek premium yang harganya tiga kali lipat dari minuman Rozak—lalu melemparkannya dengan akurat ke arah Rahmat.
HAP!
Rahmat menangkapnya dengan satu tangan tanpa menoleh.
"Minum itu, Rahmat. Jangan ganggu anak asuhmu," ujar Anissa dingin, tapi ada nada lega dalam suaranya. "Dan kalian semua... segera bereskan barang-barang. Lima belas menit lagi aula harus dikosongkan untuk evaluasi panitia."
"Siap, Ibu Negara!" sahut mereka serempak.
*
Mereka telah selesai membersihkan perabotan, hari telah menjadi sore. Rahmat dan alfian terlihat berjalan bersama setelah angkut angkut barang dan balik dari gudang Sekolah.
“Sialan aku gak nyangka kak Anisa memang berhati iblis, menyuruh membawa perabotan seberat ini bolak balik. Sungguh berhati dingin.”
Alfian lalu mendekat ke arah Rahmat dan berbisik pelan. Sekarang adalah topik penting.
"Mat, soal 'tikus' kemarin malam, di area teknisi tadi… sudah beres."
Rahmat tersenyum, menyipitkan mata. "Bagus, dimana?"
“Gue tali dan gue sekap di balik gudang, bersamaan dengan tabletnya. Biar mampus.”