NovelToon NovelToon
Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.

​Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.

Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.

Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Penulis di Atas Takdir

​Ruang redaksi semesta itu terasa begitu sunyi, jenis kesunyian yang membuat telinga berdenging. Ribuan mesin tik dan komputer bekerja tanpa suara, hanya lampu indikator kecil yang berkedip-kedip seperti jutaan mata serangga yang mengawasi. Aruna berdiri di depan wanita tua yang mengklaim sebagai dirinya dari masa depan. Wajah itu, meski keriput dan lelah, memiliki garis kepedihan yang sangat Aruna kenali.

​"Apa maksudmu... harganya?" Aruna bertanya, suaranya bergetar saat menatap Arel yang terkurung dalam tabung kaca di belakang wanita itu.

​Wanita tua itu mengelus pinggiran meja kerjanya yang dingin. "Kau bisa membawa Arel kembali. Kau bisa menyelamatkan Arvand dari penghapusan di bawah sana. Tapi, naskah ini harus memiliki seorang 'Penulis' yang menetap di sini untuk selamanya. Seseorang yang menjaga agar tinta kehidupan mereka tidak kering."

​Aruna menelan ludah. "Maksudmu, aku harus tinggal di sini? Menjadi sepertimu? Mengetik takdir orang lain tanpa pernah merasakannya sendiri?"

​"Lebih buruk dari itu," wanita tua itu tersenyum pahit. "Kau akan dilupakan. Begitu kau menandatangani kontrak sebagai Arsitek Semesta yang baru, ingatan Arvand dan Arel tentangmu akan dihapus total. Bagimu, mereka adalah segalanya. Tapi bagi mereka, kau tidak pernah ada. Mereka hanya akan merasa hidup mereka 'baik-baik saja' tanpa tahu siapa yang memberikan kebahagiaan itu."

​Darah Aruna terasa membeku. Dilupakan oleh orang yang paling ia cintai adalah jenis kematian yang paling mengerikan. Namun, di layar monitor raksasa di belakang mereka, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hati. Arvand sedang berjuang di tengah reruntuhan Novel-City yang mulai mencair menjadi tinta hitam. Arvand berteriak memanggil namanya, meski suaranya mulai terputus-putus karena sistem yang rusak.

​"Ratri! Jangan menyerah!" raungan Arvand terdengar lewat pengeras suara ruangan itu.

​"Lihat dia, Aruna," wanita tua itu berbisik. "Dia akan mati dalam hitungan menit jika kau tidak segera duduk di kursi ini. Pilihannya sederhana: Mereka hidup tapi melupakanmu, atau kalian semua mati bersama dan sejarah kalian dianggap sebagai naskah gagal yang dibakar."

​Aruna menatap Arel. Bocah itu tampak begitu tenang di dalam tabung, seolah-olah dia sedang memimpikan padang rumput hijau yang pernah mereka lalui. Aruna teringat janji yang ia buat saat pertama kali menemukan Arel di kereta jenazah. Ia berjanji akan memberikan bocah itu kehidupan yang layak.

​"Baiklah," Aruna melangkah maju, tangannya meraih pena berlian hitam yang kini bercahaya redup. "Aku akan melakukannya."

​"Ibu? Jangan..."

​Suara kecil itu membuat Aruna tersentak. Arel telah membuka matanya di dalam tabung. Mata emasnya menatap Aruna dengan penuh air mata. Lewat koneksi batin yang mereka miliki, Arel bisa mendengar setiap kata dalam ruangan itu.

​"Arel, kamu sudah bangun?" Aruna mendekati tabung kaca, menempelkan telapak tangannya di sana.

​"Jangan duduk di kursi itu, Ibu! Kalau Ibu jadi Penulis, Ibu tidak akan bisa peluk Arel lagi!" tangis Arel pecah. "Arel lebih baik hilang jadi angka daripada tidak punya Ibu!"

​"Diam, virus kecil!" wanita tua itu membentak, tangannya bergerak di atas keyboard untuk menekan emosi Arel. "Ini satu-satunya cara agar siklus ini tidak berakhir dengan kehampaan!"

​Namun, saat wanita tua itu lengah, Aruna tidak duduk di kursi Penulis. Ia justru mengayunkan kipas besi pemberian Seraphina sekuat tenaga ke arah tabung kaca Arel.

​PRANG!

​Kaca setebal baja itu retak, namun tidak hancur. Alarm merah meraung di seluruh kantor raksasa itu. Ribuan penulis tanpa wajah berdiri dari kursi mereka, mata mereka yang kosong kini tertuju pada Aruna.

​"Apa yang kau lakukan?!" wanita tua itu menjerit, wajahnya berubah menjadi monster digital yang mengerikan. "Kau akan merusak segalanya!"

​"Aku tidak akan mengikuti skenariomu!" Aruna berteriak. "Kau bilang kau adalah aku dari masa depan? Kalau begitu kau seharusnya tahu, aku tidak pernah suka mengikuti garis yang sudah ditentukan orang lain! Jika aku harus menjadi Penulis, maka aku akan menulis naskah yang sama sekali baru!"

​Aruna menusukkan pena berlian hitam itu bukan ke kontrak, melainkan langsung ke jantung mesin utama yang ada di bawah meja kerja raksasa itu.

​"Arsitek Semesta, dengarkan aku!" suara Aruna bergema, menelan bunyi alarm. "Aku menolak menjadi Jangkar! Aku menolak menjadi Penulis! Aku menominasikan seluruh dunia ini untuk menjadi 'Karya Milik Publik'!"

​Seketika, seluruh kantor itu bergetar hebat. Kode-kode emas mulai merembes keluar dari mesin yang rusak, menyebar ke seluruh ruangan. Para penulis tanpa wajah mulai berteriak saat tubuh mereka perlahan-lahan berubah menjadi manusia sungguhan dengan emosi yang kembali.

​"Kau gila! Kau membebaskan seluruh karakter dari kendali?!" wanita tua itu mulai memudar, tubuhnya hancur menjadi debu naskah yang tertiup angin. "Tanpa kontrol, dunia itu akan menjadi kacau!"

​"Biar saja kacau, asal kami yang memegang kendalinya!" balas Aruna.

​Tabung Arel akhirnya pecah sepenuhnya. Aruna menangkap tubuh mungil itu, mendekapnya erat. Di saat yang sama, pilar cahaya emas menarik mereka kembali turun, menembus awan, menuju Novel-City yang sedang sekarat.

​Aruna jatuh di atas aspal yang kini terasa padat kembali. Ia terengah-engah, memeluk Arel yang juga masih gemetar. Di depannya, Arvand sedang berlutut, pedang patahnya tertancap di tanah untuk menopang tubuhnya.

​"Ratri?" Arvand menoleh, wajahnya penuh debu tapi matanya bersinar lega. "Kau... kau kembali?"

​Aruna berlari menubruk Arvand. Mereka bertiga berpelukan di tengah jalanan Sudirman yang kini tampak berbeda lagi. Langit tidak lagi abu-abu, tidak lagi biru dengan dua matahari. Langit itu kini berwarna jingga senja yang sangat cantik, persis seperti Jakarta yang asli.

​Namun, ada yang aneh. Seluruh kabel-kabel transparan yang tadinya menjuntai dari langit kini telah putus dan jatuh ke tanah seperti benang sutra yang tidak berguna.

​"Kita bebas?" bisik Arvand.

​Aruna melihat ke sekeliling. Orang-orang di jalanan mulai bergerak dengan alami. Tidak ada lagi gerakan berulang, tidak ada lagi tatapan kosong. Mereka benar-benar hidup.

​"Kita bebas, Arvand. Tidak ada lagi yang menulis takdir kita di atas sana," Aruna tersenyum, menyeka darah di bibir suaminya.

​Arel memungut kunci berlian hitam yang jatuh di dekatnya. Kunci itu kini sudah mati, tidak lagi bersinar. "Ibu, kunci ini sudah rusak. Apakah itu artinya kita tidak bisa kembali ke rumah sakit?"

​Aruna terdiam. Ia melihat ke sekeliling kota yang merupakan perpaduan ajaib ini. Ia melihat gedung kantor lamanya di kejauhan, tapi di puncaknya ada bendera Kerajaan Utara yang berkibar tertiup angin.

​"Kita sudah di rumah, Arel," Aruna membelai rambut anaknya. "Dunia ini... inilah rumah kita sekarang. Dunia di mana kita bisa menulis hari esok kita sendiri."

​Malam mulai turun menyelimuti Novel-City. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memberikan suasana romantis dan tenang. Arvand merangkul bahu Aruna saat mereka berjalan menuju arah istana yang kini menyatu dengan taman kota. Untuk pertama kalinya, Aruna tidak memikirkan tentang retensi pembaca, tidak memikirkan tentang cliffhanger, atau apa pun yang diinginkan editor.

​Namun, tepat saat mereka melewati sebuah toko buku tua di pinggir jalan, langkah Aruna terhenti.

​Di etalase toko buku itu, terpajang sebuah buku baru dengan sampul yang sangat ia kenali. Judulnya adalah: "BIOGRAFI ARUNA: SIKLUS KE-1000".

​Aruna mendekati etalase itu dengan rasa ingin tahu yang mencekam. Di bawah judul itu, tertulis nama penulisnya: "SERAPHINA".

​Aruna membuka pintu toko buku yang berdenting pelan. Di dalam sana, di balik meja kasir, duduk seorang wanita yang sangat mirip dengan Seraphina, namun ia mengenakan seragam sekolah SMA Jakarta yang modern.

​Gadis itu menatap Aruna dengan senyum misterius, lalu meletakkan sebuah pena di atas meja.

​"Selamat, Aruna. Kau berhasil memutus siklusnya," ujar gadis itu. "Tapi kau lupa satu hal. Di setiap dunia yang bebas, selalu ada 'Pembaca' yang mengawasi. Dan saat ini, mereka sedang sangat marah karena kau menghentikan drama favorit mereka."

​Tiba-tiba, seluruh buku di dalam toko itu mulai terbang dan terbuka secara bersamaan. Dari dalam lembaran-lembaran buku itu, muncul suara ribuan orang yang berbisik secara serentak, menuntut satu hal yang sama.

​"Beri kami konflik lagi... Beri kami penderitaan... Kami butuh hiburan!"

​Gadis itu menunjuk ke arah luar jendela. Di tengah Bundaran HI, sebuah retakan baru muncul. Bukan berwarna ungu, bukan berwarna emas, tapi berwarna hitam pekat yang seolah-olah menghisap seluruh cahaya di sekitarnya.

​"Mereka sudah datang, Aruna," bisik Seraphina muda itu. "Dan kali ini, mereka bukan karakter. Mereka adalah para 'Pembaca' yang ingin masuk ke dalam ceritamu untuk menulis ulang akhirannya sesuai keinginan mereka sendiri."

​Siapakah sebenarnya sosok 'Pembaca' yang kini mencoba masuk secara fisik ke dalam dunia Aruna? Mampukah Aruna melindungi dunianya dari keinginan jutaan orang yang hanya menginginkan drama dan penderitaan? Dan senjata apa yang bisa digunakan untuk melawan mereka yang selama ini hanya mengonsumsi cerita tanpa pernah merasakannya?

1
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
apakah ini berry atau yg mulia summer /Facepalm//Facepalm/
Erchapram: Siapa pun yang tidak berpihak... 🤭
total 1 replies
vj'z tri
hadeuhhhh gak bisa liat orang senyum dikit ni mahluk 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ semoga bisa bersama kalian
Erchapram
LUAR BIAS!
Travel Diaryska
utk yg suka cerita intens perang ya mgkn bagus aja ceritanya.
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Travel Diaryska
mc nya ga OP, sistemnya cuma jd notif doang, ga kasih hadiah obat bagus apa gitu biar mc fit. ga ada waktu buat mc heal dlu.
vj'z tri
kelennnnn lahhhh pokoke oyeeee🎉🎉🎉🎉
Erchapram
Sudah bab 18, teman-teman yang sudah baca tapi belum lanjut. Diharap segera melanjutkan karena sebentar lagi akan masuk bab 20.

Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.

Terima kasih.
XZR-1ERLAND
Sungguh plotwits nyaa
vj'z tri
hadeuhhh olah raga jantung terus ini /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
vj'z tri
OMG pilihan apa lagi ini/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kasihan jendral
vj'z tri
eeedodoeeee wes keracunan masih tenggak racun lagi /CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
XZR-1ERLAND
duh thorr gw gak sabar liat ending nya , semoga happy ending ya thorrr, semangat trs thorr 💪
XZR-1ERLAND: iya kak Sama-sama, kakak juga jgn lupa mampir baca novel ku ya,btw aku masih jadi athour pemula, mohon dukungannya, kritik atau saran Kakak 👍
total 2 replies
vj'z tri
tahan diset loh ngobrol nya mau meledak ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
oalahhhh ini biang Lala nya ternyata 🤧🤧🤧
vj'z tri: sabarrrrr tunggu up /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ siapa lagi itulah sabar sabar
vj'z tri
kerennnnn 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
sabar sabar tunggu kelanjutan /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
bener bener ni ya kelakuan pangeran kaleng /Shame//Shame//Shame//Shame/
vj'z tri
benar benar konspirasi /Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!