Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Ular dan Belalang
"Na..."
"Iya, Yah." Jawab Naina yang masih duduk di ranjang rumah sakit.
"Kamu yakin masih mau melanjutkan hubungan sama Kalandra?" Tanya Ayah Naina.
Pertanyaan itu, tentu saja membuat Naina, Bunda dan Nadi langsung menoleh dan menatap serius ke arah Ayahnya.
"Maksudnya gimana, Yah?" Tanya Naina yang kini merubah posisi duduknya menghadap ke Sang Ayah.
"Apa kamu yakin masih mau melanjutkan hubungan sama Kalandra? Ayah tau dia orang yang baik, tapi, pekerjaannya itu bikin Ayah menjadi was - was." Jawab Ayah.
Mendengar itu, Naina, Bunda dan Nadi pun mengerti kemana arah pembicaraan Ayahnya. Tak dapat di pungkiri, Ayah dan Bunda Naina merasa resah dan was - was dengan pekerjaan dari kekasih putrinya itu. Profesi yang penuh tantangan dan bisa di bilang dekat dengan maut.
"Kalau masalah kepribadian, sikap dan adabnya, Ayah tentu suka. Tapi Ayah merasa was - was dan khawatir dengan profesinya. Kamu ngerti maksud Ayah kan, Na?" Kata Ayahnya lagi.
"Maksudnya, Ayah takut Mbak Nana cepet jadi janda karena pekerjaan Bang Kalandra yang 'menantang' maut?" Tanya Nadi yang hanya di jawab helaan nafas berat kedua orang tuanya.
"Emang mereka yang pekerjaannya berdagang, umurnya udah pasti bisa lebih panjang, Yah?" Tanya Nadi yang kini membuat Naina tersenyum. Adiknya itu ternyata berdiri di pihaknya saat ini.
"Lagian ya, Yah. Hidup dan mati itu kan urusannya Allah. Kalo misal Mbak Nana jadi sama Bang Kalandra ya, Yah, Ayah gak perlu khawatir sama masa depan anak dan cucu Ayah. Dimana lagi coba, Ayah bisa dapetin calon mantu yang ganteng, rajin, sholeh, pekerja keras, sayang keluarga lagi. Bukannya itu menantu idaman banget?" Kata Nadi.
Ayah dan Bunda Naina pun terdiam. Tampak memikirkan setiap perkataan dari Nadi. Memang benar, Kalandra yang mereka kenal itu adalah pria yang benar - benar baik dan bertanggung jawab. Jika sedang membawa Naina pergi, ia pasti akan selalu mengabari kondisi Naina pada Ayah dan Bundanya.
"Yah, Nana ngerti gimana khawatirnya Ayah sama Bunda. Tapi, menurut Nana, hidup dan mati itu kan sudah takdirnya Allah. Selamat atau celaka, semua itu udah di atur sama Allah. Tapi, memiliki pasangan yang baik dan bertanggung jawab bukan hal yang gampang di cari, kan?" Kata Naina.
"Lagian, kalau misal Nana berhenti sama Abang, belum tentu Nana bisa dapat laki - laki yang lebih baik dengan pekerjaan yang gak berbahaya." Imbuh Naina kemudian.
"Sekarang, calon Kakak Ipar mana sih, Yah, yang bisa sepeduli Bang Kal? Aku aja ngerasain sendiri gimana pedulinya dia. Tiap waktu sholat kalau kita lagi bareng, pasti dia ngajak aku sama Nata sholat di Masjid, bukan cuma nyuruh aja." Kata Nadi lagi.
"Ck! Kalo aku, punya calon mantu modelan gitu, pasti aku suruh cepet - cepet nikah, sih. Takut di ambil gadis lain." Nadi terus menjadi kompor hingga membuat Naina dan Bundanya tertawa.
"Kayaknya Nadi deh yang ngebet punya Kakak Ipar." Kekeh Bunda.
"Ya kalo modelan Bang Kal, harus di segerakan lah, Bun. Lagian dia itu orangnya baik, royal, gak pelit sama adek - adeknya Mbak Nana." Kata Nadi.
"Kok kesannya kayak lebih ke matre ya kamu, Di? Jadi curiga, jangan - jangan kamu sering minta sesuatu sama Abang, ya?" Tuduh Naina.
"Sembarangan banget sih, Mbak." Sergah Nadi.
"Aku gak pernah minta - minta gitu ya, sama Bang Kal. Tapi kalau Bang Kal nawarin sesuatu, ya langsung aku terima. Masak rezeki di tolak." Kekeh Nadi.
"Huuuu! Dasar kamu ini." Kata Bundanya sambil memukul bahu Nadi yang duduk di sampingnya.
"Yasudah kalau misal kamu bener - bener yakin menjalani hubungan sama Kalandra. Tapi pesan Ayah, kamu harus siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi kedepannya, Na. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari." Pesan Ayah yang di jawab anggukan tegas oleh Naina.
...****************...
Hawa panas masih terasa membakar kulit. Asap tebal dari hutan gambut yang terbakar pun terasa menyesakkan dada. Sudah satu minggu Kalandra dan teman - temannya serta anggota Damkar dari beberapa markas lain bekerja keras untuk memadamkan api di lahan gambut itu.
Tak kenal lelah mereka semua bekerja keras agar api tak semakin meluas dan menyebabkan terbantuknya asap berbahaya yang bisa mengganggu pernafasan masyarakat di sekitar sana. Beruntungnya, peralihan antara musim hujan dan kemarau masih berlangsung, sehingga hujan masih kerap kali turun.
Meskipun belum benar - benar padam, namun perjuangan mereka sudah membuahkan hasil. Mereka hanya perlu menjaga agar api tak kembali berkobar di sana. Karena situasi yang mulai kondusif, Kalandra dan rekan - rekannya pun akhirnya di perbolehkan untuk kembali ke wilayah masing - masing.
Begitu tiba di Markas, mereka segera membersihkan diri. Setelahnya, mereka pun langsung beristirahat. Sambil merebahkan diri hamparan karpet, mereka semua berbincang - bincang santai. Canda dan tawa memenuhi ruangan meskipun tubuh terasa sangat letih.
Baru saja mata hendak terpejam, mereka di bangunan dengan laporan warga yang memerlukan bantuan untuk mengevakuasi ular sanca kembang berukuran besar di atap salah satu rumah warga. Meski mata terasa sangat lengket, namun mau tak mau, mereka tetap harus menjalankan tugas.
"Wil, ayo jalan." Ajak Kalandra.
"Sama aku, Kal?" Tanya Wildan.
"Iya, ayo cepet." Jawab kalandra.
"Ikut, Kal." Kata Oji yang juga bangun dari posisi nyamannya.
"Ah, ikut - ikutan aja anak satu ini. Padahal gak berani juga pegang ular." Cicit Wildan.
"Aku kan bisa bantu pegangin senter." Sahut Oji yang membuat mereka terkekeh.
Pada akhirnya, Kalandra, Oji dan Wildan berangkat bersama driver mobil Damkan menuju ke lokasi malam itu. Jam menunjukkan pukul delapan malam saat mereka berangkat menuju ke lokasi. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di lokasi.
"Kal... Kal, awas, Kal." Kata Oji saat melihat kalandra mulai menarik ekor ular besar itu dari atap rumah yang sudah di lubangi.
"Jangan komentar aja, Ji. Arahin lampunya yang bener." Kata Wildan yang membantu Kalandra menarik ekor ular itu.
"Ya Allah, berat banget. Kayak cobaan idup aja." Komentar Kalandra yang memecah tawa rekan - rekannya.
"Tarik, Wil!" Perintah Kalandra kemudian.
"Lemes, Kal. Kamu sih bikin orang ketawa aja." Jawab Wildan.
Setelah tiga puluh menit berusaha menarik tubuh ular, pada akhirnya ular sepanjang satu setengah meter itu menyerah juga hingga dengan mudah mereka menarik separuh tubuh ular yang masih berada di atap.
Kalandra dan Wildan pun segera memasukkan tubuh ular itu ke dalam karung dan akan melepaskan ular itu di hutan yang berada di dekat Markas Damkar.
"Alhamdulillah, beres." Kata Wildan yang tampak riang karena bisa beristirahat setelah ini.
"Ji, ini bawa ke mobil." Perintah Kalandra.
"Kalandra! kurang ajar banget anak satu ini ngerjain aja. Iket dulu itu karungnya!" Omel Oji yang membuat kalandra dan Wildan tertawa. Kalandra pun kemudian mengikat karung berisi ular itu sebelum memberikannya pada Oji.
"Nih, tukeran!" Kata Oji sambil meletakkan seekor belalang sembah (walang kekek) di tangan Kalandra.
"Hiih! Oji kurang ajar!" Seru Kalandra sambil berlari dani mengibas - kibaskan tangannya.
"Huu! Sama belalang aja takut!" Ledek Oji yang tertawa puas bersama Wildan.