Queensa tak menyukai pernikahannya dengan Anjasmara. Meskipun pria itu dipilih sendiri oleh sang ayah.
Dijodohkan dengan pria yang dibencinya dengan sifat dingin, pendiam dan tegas bukanlah keinginannya. Sayang ia tak diberi pilihan.
Menikah dengan Anjasmara adalah permintaan terakhir sang ayah sebelum tutup usia.
Anjasmara yang protektif, perhatian, diam, dan selalu berusaha melindunginya tak membuat hati Queensa terbuka untuk suaminya.
Queensa terus mencari cara agar Anjasmara mau menceraikannya. Hingga suatu hari ia mengetahui satu rahasia tentang masa lalu mereka yang Anjasmara simpan rapat selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Mira?" Anjasmara menyebut nama perempuan itu.
Queensa ikut memperhatikan cara perempuan itu mendekat, terlihat akrab dengan mantan suaminya, mata jernih itu berkilat- kilat bahagia, walaupun yang Queensa lihat Anjasmara bersikap datar.
"Kamu sudah beneran balik, katanya sempat berobat di Surabaya?" tanya Mira sambil meneliti setiap jengkal tubuh pria dihadapannya.
Kening Queensa berkerut, benarkah Anjasmara pergi ke Surabaya berobat? Sakitkah pria itu?
Mira terlihat bersemangat walaupun Anjasmara belum menjawab apa yang ia tanyakan, perempuan itu begitu antusias bertanya banyak hal.
"Siapa dia? Cewek kamu?"
"Dia Queensa, saya sedang ada pekerjaan disini, kami kebetulan bertemu." Anjasmara mendongak menatap Mira dengan satu alis terangkat, sebelum fokus pada ponselnya. Queensa terdiam seraya mengulum bibir yang tiba-tiba terasa getir.
Anjasmara pamit mengangkat telepon, kini tinggallah Queensa duduk kembali di kursinya diikuti Mira yang duduk di bangku yang tadi diduduki Anjasmara.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Mira bertanya pada Queensa.
"Silahkan!" jujur Queensa merasa tidak nyaman dengan keberadaan Mira saat ini.
"Ini tentang Anjasmara."
Queensa mengerutkan kening, "Ada apa dengan Mas Anjasmara?"
"Kamu pasti tau kalau dia sudah bercerai?" tanya perempuan itu.
"Ya, aku tahu." Queensa mengangguk tanpa memutus pandangannya pada Mira.
Mira tersenyum seraya menghela napas. "Apa kamu tahu dia baru saja berobat di Surabaya?"
"Aku nggak tahu, karena kami juga baru bertemu." jawab Queensa ia mulai bingung kemana arah perbincangan mereka itu.
Sorot mata Mira tajam menusuk hati Queensa. Seperti ada peringatan yang Queensa rasakan dari tatapan mata perempuan itu padanya. Perlahan, Queensa menjadi sedikit gentar. "Dan... apa kamu tahu, kalau... " lambat Mira menatap Queensa dan sukses membuat perempuan itu berkeringat, "Aku sejak dulu berusaha mengejarnya, aku sudah lama menginginkannya untuk jadi pasangan hidupku."
Deg.
Queensa menegang. Seketika tulangnya terasa ngilu dan beku, hal yang baru ia dengar cukup mengejutkannya.
Perempuan itu tersenyum sinis menatap Queensa, "Aku tahu kamu adalah mantan istri Anjas, jadi aku bicara seperti itu bukan tanpa alasan, ingin ku, kamu memberi ruang untukku memperjuangkan hati Anjasmara, jangan jadi batu sandungan, bagaimanapun kalian sudah putus hubungan."
Mira berdiri, perempuan itu hanya meninggalkan pesan pada Queensa sebelum menjauh dan pergi dari sana.
Anjasmara datang tak lama kemudian. Queensa pikir laki-laki itu akan bertanya tentang Mira, ternyata tidak. Anjasmara berkata masih ada urusan dan akan mengantarkan Queensa pulang.
Konyolnya Queensa pergi di antar Mansur, pria itu masih menunggu pesan untuk menjemputnya, tapi Queensa justru tak ingin menolak Anjasmara mengantarnya pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, Queensa kerap melirik Anjasmara. Hatinya gelisah mendengar pengakuan cinta wanita lain untuk mantan suaminya.
"Apa Mira mengatakan sesuatu tentang saya?" Anjasmara bertanya langsung pada topik.
"Dia tahu kalau aku mantan istrimu."
"Apa lagi?" tanya Anjasmara tanpa emosi.
Queensa memainkan gestur pura-pura mengingat. "Tidak banyak... hanya dia mengaku memiliki ketertarikan khusus pada Mas, dan aku dimintanya memberi ruang."
Queensa dapat melihat mata Anjasmara sedikit membulat mendengar perkataannya, sepertinya laki-laki itu terkejut.
"Saya bukan orang yang peka, saya benar-benar tidak tahu soal perasaan Mira." jelasnya kemudian.
"Sekarang Mas tahu, apa Mas akan menerimanya?" Sela Queensa. Jantung perempuan itu berdetak kencang bukan karena jatuh cinta. Ini karena riba-tiba dia merasa takut kehilangan yang nyata.
"Yang saya tahu, wanita lebih mudah tertarik pada pria yang tampan."
Queensa tidak setuju. Gugup ia membasahi bibirnya. "Menurutku... wanita lebih mudah tertarik pada pria yang mapan daripada tampan. Dan Mas Anjasmara... menurutku... lebih dari mapan."
"Hmph?" Suara Queensa yang pelan tak mampu Anjasmara dengar dengan jelas.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa Mas tidak akan meninggalkanku atau menyakitiku hanya karena wanita lain." teriak Queensa dengan satu tarikan napas.
Anjasmara mengerjap berkali-kali seakan berusaha kertas memahami ucapan Queensa.
Queensa sendiri sepertinya lupa bahwasanya mereka sudah bukan lagi suami-istri.
######
Nah loh....
Dia menyesal sekarang...
Ternyata Mas Anjasmara ada yang incar sejak lama.
Adakah kesempatan keduanya rujuk?
Teman-teman mohon dukungannya ya,,, cuma semangat dari kalian yang buat author rajin updatenya ☺☺
akhirnya penantian Anjasmara berbuah manis💓