Charol Voldemir adalah seorang permaisuri yang kejam di Kekaisaran Behati. Diakhir hidupnya, ia dihukum oleh suaminya sendiri, yaitu Kaisar Rudine Voldemir lantaran menyiksa selir kesayangan raja. Merasa tidak adil, Charol bertobat di depan tiang gantungan. Ia mendapat kesempatan mengulang hidup, tetapi ini bukan yang diimpikan. Kejadian masa lalu tidak seperti gambarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaisar yang Ingin Bertemu
Pria bermata merah ini menarik selimut sampai batas leher Charol, kemudian mengibaskan jubahnya ketika ia sedang berbalik. Melodi mengintip dari balik tempat tidur dengan rasa takut karena intimidasi tatapan lelaki itu.
"Jaga dia untukku," ucap pria itu.
Melodi mengangguk, ia memandang pergi pria itu. Melodi jatuh ke tempat tidurnya. Ia bernapas lega.
"Dia menakutkan baik bermata merah maupun tidak," gumam Melodi. Ia terbang ke sisi Charol, lalu tidur di sampingnya. "Tidur yang nyenyak, Yang Mulia."
Karena sihir yang diberikan oleh pria itu, Charol tertidur begitu pulas hingga tanpa sadar bangun pada saat matahari telah bersinar terang. Bahkan ia belum merasakan tidur senyenyak ini. Charol berpikir mungkin karena lelah setelah membasmi monster lever tiga.
"Selamat pagi, Yang Mulia." Asha dan Vitasa muncul melaksanakan tugasnya dengan mempersiapkan Charol.
"Hari-hariku begitu santai. Aku ingin keluar istana," ucap Charol.
"Yang Mulia tidak bisa lagi keluar istana. Kaisar Rudine telah kembali tadi malam. Jangan sampai beliau tahu Yang Mulia terus keluar istana," sahut Vitasa.
"Dia tidak peduli padaku. Mungkin sekarang dia sibuk dengan istrinya yang lain." Charol bosan di istana karena tidak ada pekerjaan yang harus ia lakukan. Tiba-tiba ia punya keinginan untuk menemui Rowen. Berkunjung ke tempatnya pasti sangat menyenangkan.
Terdengar suara ketukan dari luar. Vitasa membuka pintu dan mempersilakan Ariel Deroza masuk.
"Salam Yang Mulia. Ada utusan dari istana kaisar." Ariel mempersilakan utusan itu masuk.
Utusan tersebut memberi salam lebih dulu, kemudian memberitahu maksud dan tujuannya. "Saya membawa pesan dari Kaisar Rudine. Yang Mulia diharapkan hadir pada perjamuan teh pagi ini di taman matahari. Beliau berpesan agar Yang Mulia datang tepat waktu."
"Sampaikan pesanku pada Kaisar. Aku akan datang."
Utusan itu pamit undur diri. Setelahnya Charol, Asha, dan Vitasa kaget dengan pesan yang baru saja disampaikan. Kaisar Rudine selama ini selalu menghindar, tetapi sekarang malah ingin bertemu.
"Cepat siapkan gaun terbaik, Yang Mulia," ucap Asha, sedangkan Ariel Deroza segera keluar kamar. Ia akan menunggu Charol siap di depan.
"Semua gaun yang indah telah dipermak. Tidak ada yang cocok," ucap Vitasa.
Charol menggeleng akan kepanikan kedua pelayannya itu. Mereka mungkin berharap Rudine berubah, tetapi Charol sangat tahu hati suaminya. Selamanya hati Rudine hanya membenci. Cintanya hanya untuk wanita yang telah tiada itu.
"Pakai gaun warna biru saja. Gaun itu sama seperti mata kaisar," ucap Charol.
"Baik, Yang Mulia."
Entah apa tujuan dari kaisar, Charol tetap ingin menemuinya. Ia juga bersedia berdandan sesuai dengan statusnya, tetapi tidak berlebihan.
"Yang Mulia sangat cantik," ucap Asha dan Vitasa berbarengan.
"Jangan biarkan kaisar menunggu. Kita berangkat sekarang."
Dengan didampingi Ariel Deroza serta Asha, Yang Mulia Charol pergi menemui Rudine di taman matahari. Tiba di sana, pria itu memang sudah menunggu. Tidak ada tanda keberadaan Luna D' Orzas. Apa ini pertemuan khusus? Charol akan segera tahu.
"Salam kepada matahari kekaisaran Behati, Yang Mulia Kaisar Rudine." Charol menekuk kaki, menundukkan kepala.
Rudine mengulurkan tangan, dan Charol menyambut. Pria ini membawa istrinya duduk di kursi yang telah disediakan.
"Tinggalkan kami," ucap Rudine memerintah.
Charol mengangguk pada Ariel dan Asha. Kemudian keduanya menjauh. Membiarkan pasangan suami istri ini menikmati jamuan tehnya.
Karena di sini pelayan pun disuruh pergi, maka Charol mengambil tugas membuatkan suaminya teh. Ia menghidangkan, dan mempersilakan Rudine mencicipi.
"Rasanya selalu pas. Kau selalu tahu kesukaanku."
Jantung Charol berdegup kencang. Padahal ia telah berjanji untuk tidak mengharapkan cinta Rudine. Namun, karena satu pujian, Charol merasa hatinya berbunga-bunga. Ia ingin melompat kegirangan.
"Salah satu cara agar bisa bersamamu," sahut Charol.
Rudine meletakan cangkir teh ditatakannya. Ia memandang Charol lekat. Mata biru yang memikat mudah membuat wanita jatuh cinta menatap tanpa bisa Charol artikan tatapan seperti apa itu.
"Aku dengar beberapa hari ini kau tidak kunjung keluar istana. Apa kau sakit?" tanya Rudine.
"Seperti yang Kaisar lihat, aku baik-baik saja. Aku menghabiskan waktuku di kamar dengan tidur dan bersantai. Rasanya menyenangkan tanpa beban."
"Apa yang membuatmu berubah? Apa ini salah satu trikmu? Kau punya banyak teman."
Charol tersenyum mendengarnya. "Teman hanya mengejekku saja. Lebih baik menjauh."
Ucapan itu seperti sindiran. Putri bangsawan kekaisaran kini telah beralih menjadi teman Ratu Luna. Selama Rudine tidak di istana, Luna sering mengadakan jamuan teh, padahal Charol adalah permaisuri.
"Hector," panggil Rudine.
Pengawal bayangan tersebut muncul di hadapan Rudine. "Salam kepada Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri."
Charol mengangguk, bukti jika ia menerima salam pengawal bayangan itu. Sedikitnya Charol tahu tentang Hector. Dia pengawal terkuat kaisar dan setia.
"Siapkan kereta kuda dan perbekalan. Aku ingin mengajak Permaisuri mengunjungi suatu tempat."