Bukan salahmu karena kamu lahir dari seorang wanita yang belum menikah.
Tapi takdir begitu kejam. Hanya karena tidak punya Ayah, hampir semua orang mencemoohnya.
Saat mengetahui dia lahir dari pemerkosaan, Syahida bertekad untuk mencari keadilan buat ibunya yang selama ini telah berjuang sendiri merawat dan membesarkan dirinya..
Bisakah Syahida membuktikan kalau ibunya wanita baik-baik yang tidak mendapatkan keadilan
Dan bagaimana pula perjalanan cintanya?..
Yuuuk ikuti kisahnya di novel ini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Hampir semalaman Andra tidak bisa tidur. Pagi hari matanya nampak merah. Dia tidak bisa berhenti memikirkan Kayla.
"Kayla … ternyata selama ini kita sama-sama menderita," ringis Andra.
Andra membolak balikan tubuhnya di tempat tidurnya, namun matanya enggan terpejam membayangkan penderitaan Kayla selama ini, juga membayangkan Nadien yang akan dia nikahi besok.
***
Pagi hari Andra tengah bersiap untuk akad nikahnya dengan Nadien.
"Wah akhrinya anak mama nikah," seru Sovia.
"Kakak pasti tegang, sepertinya kakak tidak tidur semalaman," seru Nirmala sambil membantu memakaikan pakaian Andra.
Setelah siap mereka semua segera menuju hotel tempat acara akan berlangsung.
Di hotel tersebut nampak ramai, beberapa tamu yang di undang juga memenuhi ruangan hotel tersebut. Nadien napak cantik dengan gaun pengantin bewarna putih tersebut. Di samping Nadien seorang wanita paruh baya nampak asyik memangku seorang anak kecil.
Andra berjalan kearah Nadien.
"Dia Syafana?" Sapa Andra.
"Iya dia Syafana, ini pembantuku namanya bu Kinar, tapi bagiku dia adalah ibuku, selama ini dia yang menemaniku dan menjaga putriku," jawab Nadien.
"Kamu cantik sekali," seru Andra.
Terimakasih, kamu juga lebih ganteng dari biasanya,"
"Ya ampun kak Nadien cantik banget!" Seru Nirmala sambil memeluk Nadien.
Syafana minta turun dari pangkuan Kinar, setelah turun dia langsung berlari.
"Syafa …." Kinar panik meliha Syafa berlari.
"Papa …!" Teriak Syafa berlari kearah Kevin.
Perasaan Andra aneh melihat anak Nadien yang memanggil Kevin dengan panggilan papa. Andra melihat betapa akrabnya Kevin dan Syafana.
Kevin membuka tangannya dan langsung menggendong Syafa.
Nadien merasa canggung karena tatapan Nirmala, Sovia dan Andra padanya.
"Aku sudah lama mengenal pak Kevin, Kevin juga kenal dengan suamiku, sedang Syafa tidak punya papa, sewaktu kecil dia memanggil siapa saja laki-laki yang dia temui dengan sebutan papa," Nadien berusaha santai.
"Awal bekerja sama Nadien selalu membawa Syafana, makanya aku akrab dengan anak ini," seru Kevin.
Andra memandangi Kevin dan Nadien bergantian
"Kevin, sampai kapan kamu akan menyembunyikan Kayla? Aku sudah tahu di mana Kayla dan akhir-akhir ini aku bersama Kayla," seru Andra.
"Bukannya kak Kayla di luar negri?" Tanya Nirmala.
"Selama ini Kayla di rumah sakit jiwa, dia mengalami gangguan jiwa karena perbuatan papa waktu dulu," seru Andra.
"Kamu sudah tahu?" Suara Gita bergetar.
"Nadien, maaf aku mundur dari pernikahan ini, aku sangat mencintai Kayla, aku akan berusaha membantu dia sembuh," seru Andra.
"Andra, lakukanlah sesuai kata hatimu," seru Nadien.
"Tapi pernikahan ini tidak boleh batal, atas apa kita membatalkan pernikahan ini?" Tanya Andra.
Seketika wajah Nadien tegang.
"Kevin … maukah kamu mengganti posisiku? Kasian anak itu, dia ingin kamu jadi papa dia, kasian juga wanita itu jika aku tinggal di hari pernikahannya," seru Andra.
Seketika wajah Gita, Kinar, Nadien dan Kevin ceria.
"Nadien …." ucap Andra lirih.
"Apa aku pantas jadi pendamping Kevin, dia laki-laki yang sangat luar biasa baik," Nadien memandang Kevin yang menggendong Syafana.
"Selama ini aku cinta padamu Nadien, tapi … aku …"
"Kalau kamu cinta, nikahi dia sekarang," seru Andra memotong ucapan Kevin.
"Nadien, mau kah kamu jadi bagian dalam hidupku?" Tanya Kevin.
Nadien tersenyum dan mengangguk.
"Kalau iya, ayo peluk aku," seru Kevin.
Nadien berjalan ke arah Kevin dan langsung memeluknya.
Akad nikah Kevin dan Nadien pun berlangsung.
Sahutan "sah!" Dari kedua saksi bagai angin penyejuk bagi semua orang. Nadien salim pada Kevin, sedang Kevin langsung mencium alis Nadien. "Kita lakukan akad lagi setelah ini, aku ingin menikahi Syahida binti Kinar," bisik Kevin.
Nadien mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih," ringis Gita sambil memeluk Kinar.
"Papaaa" ringis Syafa.
Mendengar kata "papa" Kevin menoleh dan langsung mendekati Syafa.
"Mau sama papa?" Kevin membuka tangannya.
Syafa mengangguk, dia kini dalam gendongan Kevin.
"Terimakasih banyak atas rasa cintamu padaku dan pada anakku," Nadien memeluk Kevin.
"Ekhhhem!" Dehaman Andra mengejutkan Nadien yang tenggelam mendalami perasaannya.
"Kami izin pergi, aku ingin menemui Kayla, oh ya tante, nanti kalau Kayla sembuh izinkan aku dan Kayla seperti mereka," seru Andra.
"Itu pasti sayang," seru Gita.
Suasana begitu hangat, semua orang memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Nadien tidak melepaskan tangannya pada lengan Kevin, sedang tangan Kevin yang satunya masih menggendong Syafana.
"Akhirnya kamu bisa jadi milikku," seru Kevin.
Nadien memyandarkan wajahnya di bahu Kevin. Hatinya begitu bahagia dicintai begitu besar oleh laki-laki yang ada di sampingnya.
Sedang Gita dan Kinar masih berpelukan, melihat anak mereka bahagia bersanding di pelaminan.
"TAMAT"