Menyakitkan jika mengingatnya, menyedihkan saat menjalaninya, mengecewakan saat melihatnya, itulah cinta.
"Naura ?" ucap orang tersebut memastikan orang dihadapannya ini
"Siapa ? hiks,,, hikss,,," tanyaku tidak mengenali orang yang mengajakku bicara
"Kamu Naurakan ? yang bermain bersamaku saat di panti asuhan ?" tanya anak itu lagi
"Deg !" Bayangan itu muncul, potongan mimpi yang terasa nyata itu hadir. Rasa sakit saat dipukuli oleh wanita yang ku anggap ibu, rasa menyalahkan diri karna tidak patuh, rasa yang menyesakkan dada
"Tidak, aku tidak bermain ke panti asuhan. Aku bukan anak yang nakal... hiks,,, hiks,,, " ucapku sambil menahan sakit diperut, ada perban dikepala menutupi luka yang cukup dalam dan besar serta beberapa lebam yang nyeri diwajahku
Itu semua ku dapatkan dari orang yang ku anggap tulus ternyata palsu, dari seorang yang ku anggap pelindung ternyata penjahat, Cinta dari segala bentuk itu menyedihkan Bukan ? Adakah Cinta yang tulus di dunia ini ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ralia Imutz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29_ Lukisan
Seorang pria yang duduk dikursi tamu sebuah rumah nampak menerka-nerka, apa yang sebenarnya terjadi ? Aku siapa ? Aku dimana ? Aku sedang apa ? begitulah posisi pria tersebut saat ini
“Nak, ini hadiah yang saya siapkan untuk Naura” ucap Prof. Dwi yang sudah tiba
“Hah ? iya Prof” jawab Aydin sedikit kaget
“Ini sebagai ijin dari saya jika kamu ingin lebih serius dengan Naura, ikat dia dengan ini” ucap Prof. Dwi memperlihatkan cincin yang tersemat indah didalam kotak
“Maksud Prof ?” tanya Aydin mulai mengerti kearah mana pembicaraan mereka tadi
“Jika kamu meminta ijin untuk serius dengan anak saya, saya akan merestui kamu namun jangan secepat ini. Anak saya masih menjalani pengobatannya dan kamu juga baru bertemu dengan anak saya. Jangan cepat-cepat membawa anak saya pergi !” ucap Prof. Dwi
“Ah, baik Prof. saya memang menyukai Naura, saya ingin serius dengan Naura, terimakasih atas ijin yang Prof. Berikan” ucap Aydin berkata apa adanya tentang perasaanya, padahal ini bukan maksud utama yang ingin dia bicarakan hari ini, tapi sekali dayung dua tiga pulau terlampaui itu sangat bagus bukan ?
“Ya, jaga anak saya baik-baik” ucap Prof. Dwi sambil menyerahkan cincin tersebut
“Prof. apa sebaiknya Prof serahkan langsung kepada Naura jika ini hadiah untukya” ucap Aydin memberi saran
“Ya, saran kamu boleh juga” ucap Prof. Dwi kemudian berdiri ingin memanggil Naura
“Anu Prof. saya belum menyampaikan pertanyaan saya” ucap Aydin mumpung Naura masih belum ada
“Maksud kamu, tujuan kamu bukan hanya untuk meminta ijin untuk dekat dengan anak saya ?” Tanya Prof. Dwi
“Iya, saya juga bermaksud meminta izin untuk bertanya mengenai masa lalu Naura. Bagaiman Prof. Dwi bertemu dengannya” ucap Aydin dan itu membuat Prof. Dwi duduk kembali
“Kenapa kau jadi penasaran dengan masa lalu anakku ?” Tanya Prof. Dwi serius
“Saya teman masa kecilnya Prof. waktu kecil saya pernah bermain bersama Naura. Saya mencari-cari Naura karena dia menghilang setelah terakhir kali bertemu di rumah sakit” ucap Aydin
“Jadi kau anak yang di ingat Naura ?” Tanya Prof. Dwi sedikit kaget
“Sepertinya begitu Prof.” jawab Aydin
“Kau penyelamatya. Kau memberikan dorongan besar pada Naura sehingga dia bisa bertahan sampai sekarang. Saat pertama kali bertemu dengannya, dirinya sangatlah menyedihkan, bahkan dirinya tidak bisa mengangkat kepala didunia yang penuh muslihat ini, dirinya yang polos, seorang anak kecil yang belum mengerti kerasnya dunia terombang-ambing dijalanan tanpa arah. Jika kau melihatnya dulu, kau tidak akan menyangka jika anak tersebut sencatik sekarang” jelas Prof. Dwi
“Ya, Naura dari dulu memang cantik Prof.” ucap Aydin
“Hehehe, kau anak muda yang terlalu jujur” ucap Prof. Dwi tertawa renyah
“Heee,,, oh ya Prof. setelah anda menemukan Naura, apakah Prof. mengetahui siapa keluarga kandung Naura ?” Tanya Aydin
“Saya mencarinya, saya menanyakan kesemua rumah sakit tentang kelahiran anak ini. Namun tidak terdaftar dirumah sakit manapun. Saya mencoba bertanya kepadanya, namun dia tetap diam dan ketika berusaha mengingatknya dia akan gelisah dan ketakutan” ucap Prof. Dwi
“Ya, saya juga melihat hal yang sama saat dia menceritakan potongan mimpi yang dia alami” ucap Aydin
“Dia bisa seterbuka itu denganmu, saya rasa ada titik terangnya sekarang” ucap Prof. Dwi tersenyum
“Dia tidak bercerita dengan Prof. Dwi ?” Tanya Aydin
“Tidak, saya tau semua yang dia rasakan karena melihat lukisannya. Sebuah strawberry yang selalu dia lukis dikala mimpi-mimpi buruk yang tergambar dibenakknya. Banyak hal mengerikan yang dia lukis namun disudut lukisan selalu ada warna mencolok yang hadir dilukisannya, dia melukis itu juga disaat terakhir untuk menutup pikiran negatif dan menenangankan hatinya” Jelas Prof. Dwi
“Saya baru tahu itu” ucap Aydin
“Syukurlah kamu datang dikehidupannya, kamu teman kecilnya jadi kamu sedikit tau apa yang dia lupakan. Kamu tau dimana tempat dia biasa bermain, kita bisa memulainya dari sana” ucap Prof. Dwi
“Apakah tidak apa jika kita memulainya sekarang, apa kondisi Naura memungkinkan ?” ucap Aydin
“Ya, dia sudah menjalni terapi selama 17 tahun. Sudah banyak cara yang saya ajarkan agar membuat dirinya tetap stabil dan tenang saat mengingat kenangan buruk itu” ucap Prof. Dwi
“Hem, Ayah saya juga pernah bertemu dengan Naura saat kecil. Ketika kami bermain di panti asuhan seharusnya Ayah mengenal Naura bukan ?” ucap Aydin
“Derya tidak pernah bertemu langsung dengan Naura saat kecil. Kami hanya bercerita melalui telephone saja, dia teman yang hebat” ucap Prof. Dwi
“Oooh, jika seandainya Ayah bertemu mungkin juga tidak mengingatnya. Karena Ayah orang yang cuek dan tidak memperhatikan sekitar. Saya saat kecil juga belum pernah mengenalkan Naura kepada Ayah” ucap Aydin
“Ya, lain kali kenalkan lah Naura pada keluargamu” ucap Prof. Dwi
“Siap Prof.” jawab Aydin dengan pasti
“Kau bilang, kau biasa bermain dengannya di Panti asuhan ? apa dia anak yatim piatu ?” Tanya Prof. dwi
“Tidak, Naura punya ibu Prof.” ucap Aydin
“Hm,,,, berarti wanita yang digambarnya itu adalah ibunya. Tapi ada dua wanita yang dia gambar disana, satu sosok jahat yang hitam dan mengerikan, satu lagi bak malaikat yang lembut dan penyayang. Keduanya wanita yang berbeda” ucap Prof. Dwi kebingungan
“Em,,, apa boleh saya melihatnya ?” Tanya Aydin
“Kalau begitu ayo kita ke atas” ajak Prof. Dwi
“Baik Prof.” ucap Aydin mengiringi langkah Prof. Dwi
“Itu adalah beberapa lukisan Naura, nampak indah jadi saya memajangnya. Masih banyak lukisan lain didalam ruangannya” ucap Prof. Dwi menunjuk beberapa lukisan yang tertempel di dinding semuanya nampak indah namun menggambarkan kesepian yang jelas disana
“Nah ini ruangannya, kamu ketuklah” ucap Prof. Dwi mempersilahkan Aydin
“Terimakasih Prof.” ucap Aydin melangkah lebih dekat kepintu
“Tok,,,tok,,,tok,,, Nau, apa aku boleh masuk ?” Tanya Aydin sambil mengetuk pintu
“Aydin, masuklah” ucap Naura dari dalam
“Assalamu’alaikum, permisi” ucap Aydin membuka pintu kemudian diirnya dibuat kaget dengan lukisan-lukisan yang ada, semuanya beragam namun dominasi warna hitam menggambarkan suasana ruangan itu dan nampak warna merah disetiap lukisannya, buah strawberry yang nampak aneh berada dilukisan hitam
“Apa kau mengetahui sesuatu ?” Tanya Naura berbalik dari lukisannya untuk menatap Aydin
“Belum, namun ada petunjuk” ucap Aydin menatap Nuara
“Apa ?” Tanya Naura
“Lukisanmu” jawab Aydin
“Lukisanku ?” Tanya Naura sambil memiringkan kepalanya bingung
“Ya, kata Prof. kau melukis dua orang wanita disini. Aku ingin melihatnya” ucap Aydin
“Wanita ini, wanita ini sering hadir dimimpiku” ucap Naura menunjuk wajah yang sedang dia gambar
“Hm, gambarnya tampak abstarak. Aku tidak dapat mengenalinya, kau bisa menggambar wajahnya lebih jelas Nau ?” Tanya Aydin karena wajah wanita itu seperti tertutup kabut hitam
“Aku tidak kuat jika menggambar wajah wanita ini dengan jelas. Rasa takut dan sedih selalu ada saat aku menggambar dia dan itu lebih menyakitkan saat aku ingin menggambarnya dengan jelas” ucap Naura menarik nafasnya dalam-dalam untuk tetap tenang
“Baiklah, lalu bagaimana dengan wanita yang satunya” ucap Aydin
“Dia ada disisi yang lain. Ayo kemari” ucap Naura mengajak Aydin, sedangkan Prof. Dwi mengamati interaksi mereka
“Berapa lama waktu yang wanita ini menghabiskan waktu disini sehingga lukisannya bisa menutupi semua dinding diruangan yang luas ini” Batin Aydin sambil melihat ke sekeliling
“Ay, ini” tunjuk Naura pada beberapa lukisan yang nampak berbeda dari lukisan kebanyakan, lukisan ini bernuanasa putih dan warna lembut lainnya
“Hm,,,, kenapa kurasa aku mengenalnya ya ?” gumam Aydin sambil terus mengamati lukisan yang tergambar jelas ini
“Wajah ini seperti….” Ucap aydin ragu ingin berkata
.
.
.
Hayooo... kira² diluksian itu ada wajah siapa ya ? 🤭
See you next episode ya 😉~~~
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣
Thanks all ❤️❤️❤️
tak enteni iki🤭
meski menanti sedikit membuat hati galau😬
Akhirnya
sama2 tua kekanak kanakkan sumua