Mentari Handoyo, seorang putri angkat dari Mirna Arzeta Wijaya. Ia harus menyembunyikan identitas aslinya dari Laura, putri kandung Mirna. Mentari bekerja sebagai seorang pengasuh untuk mengelabui kakak angkatnya itu.
Ia hanya menandatangani surat kontrak kerja selama setahun. Siapa sangka, ia terjebak dalam jeratan ayah dari anak yang diasuhnya. Waktu setahun itu bertambah panjang, karena ia melakukan pernikahan kontrak dengan sang majikan.
Siapa sebenarnya Mentari? Mungkinkah mereka bisa saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekar Laveina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Enam bulan berlalu sejak Ryan dan Monic menjadi dekat. Hari demi hari, perasaan mereka semakin tumbuh. Mereka memutuskan untuk mengikat hubungan lewat pertunangan.
"Apa tidak terlalu cepat? Aku masih kuliah," kata Monic sedikit ragu.
Ryan duduk di salah satu bangku taman, melambaikan tangan ke arah Monic agar gadis itu duduk di samping dirinya. Gadis itu segera duduk dengan patuh, menyandarkan kepalanya di bahu lebar milik sang kekasih. Mereka biasa menikmati senja seperti itu setiap hari.
"Kan, cuma bertunangan bukan menikah. Gak akan mempengaruhi kuliah kamu, sayang," tutur Ryan dengan lembut.
"Ya, sih. Terus tante Retha udah setuju?"
"Mama bilang, semuanya tergantung kita. Jadi, gimana pendapat kamu? Aku gak mau maksa kamu," ujar Ryan penuh perhatian.
"Ya udah, aku setuju. Kamu yang tentuin tanggalnya, aku ikut saja," jawab Monic sambil tersenyum menatap wajah kekasihnya yang bersinar memantulkan cahaya mentari jingga.
Mereka memejamkan mata, menikmati moment kebahagiaan, hingga langit berubah gelap. Mentari berganti awan hitam pekat seakan hendak menjatuhkan tetesan air. Namun, beberapa saat kemudian, mereka justru melihat keindahan langka.
"Lihat, sayang! Bintang jatuh!" Monic berseru kegirangan.
"Hm, indah. Sayang, cuma beberapa detik saja. Aku harap, aku tidak seperti bintang jatuh dihatimu," jawab Ryan setengah bergumam.
"Hah? Kamu bilang apa, sayang?" Monic yang terlalu larut dalam kekaguman, tidak mendengar apa yang Ryan ucapkan. Semua pikirannya teralihkan pada bintang jatuh yang bahkan sudah tak lagi terlihat.
"Tidak ada. Sudah malam, aku antar kamu pulang."
Entah perasaan cemas itu datang karena apa. Ryan memiliki firasat bahwa ia mungkin akan Monic. Ia mencoba menepis perasaan cemasnya, tapi semakin ditepis semakin kuat rasa cemas itu menghantui. Ryan kekurangan konsentrasi hingga terdengar suara Monic berteriak.
"AKH!"
Bersamaan dengan jeritan Monic, seorang anak terjatuh di samping mobil. Panik, Monic segera turun melihat keadaan anak kecil yang terjatuh dari sepeda. Sementara di dalam mobil, Ryan termangu, tangannya gemetar memegang setir.
"Hah, untung kamu tidak apa-apa, sayang. Maafin kakak, ya. Kakak gak sengaja," ucap Monic seraya menarik napas panjang. Ia membantu anak kecil itu bangun dan kembali menaiki sepedanya.
Anak laki-laki berusia delapan tahun itu hampir tertabrak dan terjatuh karena kaget. Tidak ada luka serius hanya sedikit lecet di lutut. Monic memeberikan uang seratus ribu sebagai ganti rugi sekaligus untuk membeli obat luka. Melihat anak itu sudah hilang di pintu gerbang sebuah komplek perumahan, ia pun masuk ke mobil.
"Kamu kenapa sih, sayang? Untung aja anak tadi cuma kaget, gak ketabrak. Ada masalah apa sampai kamu gak fokus begitu?" Cecar Monic tanpa melihat keadaan kekasihnya.
Ryan masih terdiam sejak beberapa saat lalu hingga tak sadar Monic sudah duduk disampingnya.
Merasa tidak mendapat respon, Monic menoleh. Baru pada saat itu Monic menyadari ada yang aneh dengan kekasihnya. Dia terdiam seperti kehilangan jiwa, pandangannya jauh ke depan, tapi tatapan itu kosong.
"Sayang, kamu kenapa? Hei, Ryan!"
Monic panik dan mengguncang tangan Ryan hingga kesadarannya kembali.
"Hah? A-ada apa, sayang?" Ryan seolah baru terbangun dari tidur, tidak mendengar apa yang Monic katakan sama sekali.
Hal itu membuat Monic menjadi cemas. Ryan masih baik-baik saja saat di taman, tapi sejak masuk ke mobil, laki-laki itu menjadi pendiam. Biasanya mereka berbincang selama perjalanan, tapi kali ini mereka tidak melakukannya.
"Ada apa denganmu? Kamu seperti sedang melamun sampai hampir menabrak anak yang sedang bersepeda di pinggir jalan," kata Monic dengan tatapan cemas.
"Aku ... tidak apa-apa. Anak itu gimana keadaannya?"
"Dia cuma lecet sedikit. Sudah kuberi uang untuk beli obat, aku juga sudah meminta maaf," jawab Monic dengan enggan.
Ia merasa kecewa karena Ryan tidak jujur padanya. Jelas-jelas sedang memikirkan sesuatu tapi tidak mau memberitahunya.
Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu tidak mau jujur padaku, Ryan? Apa aku masih tidak dapat kamu percaya untuk menjadi teman berbagi? Kenapa, Ryan?
Berbagai pertanyaan menggantung dihati Monic. Ia pikir, hubungan mereka sudah sampai tahap berbagi suka duka dan berbagi segala pikiran bersama. Kenyataannya, Ryan masih menyembunyikan sesuatu darinya.
Mobil berhenti di depan gerbang rumah William. Monic turun tanpa berpamitan pada Ryan. Ia bahkan tidak menawarkan sang kekasih untuk mampir seperti biasanya.
"Selamat malam, sayang," ucap Ryan.
Namun, Monic tidak membalas ataupun menoleh. Ia masuk ke rumah dengan mata berkaca-kaca. Langkahnya cepat menuju kamar, menutup pintu. Gadis itu menangis diam-diam.
○Bersambung○
next chap.. jgn terlalu panas thor.., diluar cuaca nya udh panas.. 😁😁
dear Laura.., knp Will milih Tari.., krn hati nya Tari putih bersih jd terpancar di aura nya.. sementara lau.. hati lau hitam kotor penuh dengki.. jd nya aura lau tuh gelap.. 😡😡
#readersebel (😂😂)
semangat othor.. ☕
bakalan malu tuh si model karbitan.. 😁😁
ayo thor.. lanjut.. 😍😍
tengah hari dibikin makin panas.. hahay.. 😂
mmng yg paling enak itu belah duren yg jatuh dr pohon nya.. (bkn terpaksa) 😁😁
kuy.. ditunggu bunyi gedebuk nya duren yg jatoh.. 😅😅
btw, gimana reaksi ayah nya william.. klo tau anaknya nikah dgn wanita lain yg bkn pilihan nya.. 🤔🤔
next>> 😁
GPL yak.. 😁😁 pinisirin nih.. 🙈