Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Brak!
Brugh!
Seseorang berpakaian pelayan terlempar hingga ke meja Rania. Ia dan keempat anak yang sedang menikmati makanan tersentak kaget. Rania berdiri dan berbalik, menatap sekelompok preman yang datang mengacau di restoran itu.
Seorang laki-laki paruh baya dengan perut buncit dan kepala botak muncul. Berlagak angkuh dan sombong. Dia menatap lurus pada kedua manik Rania, bibirnya mencibir, mengejek ibu satu anak itu. Lalu, seseorang membawa kursi untuknya duduk. Memberikan sebatang rokok dan menyulutnya. Meniupkan asap ke udara laksana jagat raya adalah miliknya.
"Siapa kalian? Kenapa kalian membuat keributan di sini?" tegur seorang laki-laki yang memakai setelan jas hitam, dia manager restoran.
Bugh!
Satu orang preman maju dan tiba-tiba menampar manager tersebut dengan sangat kuat hingga daging dalam pipinya robek dan berdarah.
"Kenapa kalian memukulku?" Dia bertanya sembari meringis menahan sakit di pipi.
"Buka matamu lebar-lebar! Dia Bos Kamsah dari kota Pakis! Bulan ini kau terlambat membayar hutang hingga Bos kami harus turun sendiri ke kota ini," hardik salah seorang dari mereka menuding lurus manager restoran itu.
"Hutang? Bukankah sudah dilunasi sejak bulan lalu berikut dengan bunganya? Kenapa masih menagih?" Sang manager bingung sendiri, seingatnya semua hutang sudah dilunasi. Untuk itu, dia pergi ke kota Anggrek mencari pekerjaan baru.
Rania mengernyit, memperhatikan dengan saksama setiap orang dari mereka.
"Jika sudah lunas kami tidak akan menagih. Karena masih berhutang maka kami datang menagih," sahut mereka enteng.
Laki-laki bertubuh tambun itu bangkit, berjalan mendekati Rania. Ia berdiri di hadapan Rania, memindainya dari atas hingga bawah. Hanya dalam beberapa hari saja, sosok Sania telah berubah. Yang berdiri di hadapannya adalah Rania, mantan agen rahasia dari kota Anggrek.
Wajahnya dingin, tatapan matanya mematikan. Laki-laki yang dipanggil dengan sebutan bos Kamsah itu bergidik saat bertemu pandang dengan kedua manik Rania. Ia gugup, tapi menepisnya dengan cepat.
Kenapa? Kenapa tatapan matanya menakutkan sekali?
Ekhem!
Dia berdehem, mengibaskan kerah kemejanya sendiri untuk mengusir rasa takut yang tiba-tiba datang mendominasi.
"Kau pikir bisa bersembunyi dariku, hah? Kau merubah penampilan agar aku tidak mengenalimu. Kau salah, Sania! Ke mana pun kau pergi, aku akan tetap menemukanmu," desisnya menunjukan seringai yang jahat hingga menampakkan deretan giginya yang menguning dan sebagian menghitam.
Rania diam, pelukan kecil di kaki membuatnya sadar akan situasi. Dia bukan lagi Sania, tapi Rania.
"Ibu, siapa laki-laki jahat ini?" bisik Rasya seraya menatap tajam pada kedua mata bos Kamsah.
"Kenapa kau memarahi Ibuku? Kami hanya makan di sini dan tidak melakukan apapun," bentak anak kecil itu dengan berani.
Tak hanya bos Kamsah yang ternganga dengan aksinya, tapi manager toko pun ikut terperangah karena takut para preman itu akan menyakiti mereka.
Bos Kamsah mengulurkan tangannya hendak mengambil Rasya, tapi Rania menendangnya dengan kuat hingga jatuh tersungkur dan menabrak meja.
Brugh!
Argh!
Dia merintih merasakan sakit pada punggung yang menghantam meja dan kursi. Rania mengusap kepala Rasya dan memintanya berlindung bersama ketiga anak lainnya.
"Menjauh dari sini, ajak mereka juga," katanya diangguki Rasya dengan cepat.
Mereka berlari menjauh, bergabung dengan para pelanggan lain yang ketakutan. Sementara Rania, tetap berdiri di sana dengan kedua tangan terkepal kuat.
"Aku bukan gadis yang kau maksud. Aku penduduk asli kota Anggrek. Sepertinya kau bukan penduduk asli kota ini. Aku baru pertama kali melihatmu," ucap Rania berpura-pura tak ingat pada laki-laki yang telah membeli Sania dari orang tuanya itu.
"Aku menagih hutang kepadanya. Kebetulan bertemu denganmu. Sekarang, kembalikan semua uangku atau aku akan memerintahkan mereka untuk menangkap mu," jawab laki-laki itu menunjuk keberadaan manager toko yang tak berani berkutik.
Dia memang mempunyai hutang kepada bos Kamsah saat di kota Pakis dulu sebelum pergi mencari pekerjaan di kota Anggrek. Namun, meski sudah dilunasi, mereka masih tetap menagih bunganya.
"Uang? Uang apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti," sahut Rania sembari tersenyum mencibir.
"Kurang ajar! Tangkap wanita itu!" titah lelaki tambun itu dengan geram.
Lima orang preman yang ikut bersamanya mengepung Rania, menggerakkan tubuh mereka sebagai pemanasan. Semua orang panik, tapi Rania tetap tenang.
"Nona!" Manager toko menghampiri, menjadikan dirinya pelindung untuk Rania.
"Pergilah, Nona! Ini urusan saya," katanya meski takut. Ia sendiri tidak mampu melawan kelima preman itu.
Tanpa mereka tahu, seorang bawahan Riko melihat sosok Rania. Ia bergegas mengambil gambar Rania, dan mengirimkannya kepada Riko.
Di gedung, Riko berlari memasuki ruangan Hadrian. Menunjukkan gambar yang diberikan orang-orang suruhannya.
"Tuan!"
"Rania!"
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄