Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mendapat uang 5 juta
“Amira, sepertinya besok aku akan mengemis lagi,” Nanda berkata dengan putus asa.
“Kenapa harus mengemis lagi, Mah?” Amira menatap ibunya itu.
“Ya, lagian kamu malah memberikan uang 500.000 pada pengemis itu. Ini mangkuk, setelah aku gosok-gosok juga tak keluar jinnya, Amira.” Mata Nanda mengerut dan pipinya cemberut.
Amira tersenyum melihat ibunya yang sedari kesal terus menggosok-gosok mangkuk itu, berharap seperti Aladin yang menggosok lampu ajaib lalu datang jin dan mengabulkan semua keinginan.
“Itu hanya mangkuk biasa, Mah. Sampai mangkuk itu pecah karena digosok, tetap tidak akan keluar jin,” jawab Amira terkekeh.
“Kamu sudah tahu mangkuk ini bukan mangkuk istimewa, kenapa kamu beli dengan harga tinggi, Amira? Uang 500.000 itu bisa buat modal kita menyambung hidup, Amira,” Nanda masih kesal dengan keputusan Amira.
Namun Amira masih bersikap tenang. Sesekali bahkan dia mengelap bibir Dewi yang belepotan karena terlalu banyak makan.
“Tenang saja, Mah. Percaya sama Mira, Mah,” ucap Amira dengan penuh percaya diri.
Nanda hanya bisa menghela napas, mencoba tenang, namun tetap saja masih dongkol.
Seorang pengunjung datang menghampiri Amira.
“Lain kali kalau ada orang seperti itu jangan diberi apa-apa. Sekarang itu banyak penipuan.”
Amira melihat lelaki itu dengan saksama. Amira menimbang-nimbang untuk memberikan jawaban yang pas.
“Niat saya memang menolong, Pak. Saya juga dulu pernah dalam keadaan seperti itu, dan saya dulu tidak punya uang sedikit pun, dan saya sangat berharap akan ada yang menolong saya.”
Lelaki itu tampak kecewa dan berkata, “Saya hanya mengingatkan kamu saja.”
“Terima kasih atas sarannya.”
Lelaki itu kemudian berlalu.
Beberapa orang merasa kasihan sama Amira. Dari bajunya saja Amira jelas bukan dari orang kaya. Entah dia dermawan atau bodoh, tidak jauh beda.
Namun Amira hanya diam saja menikmati teh manis. Di permukaan dia terlihat tenang, tapi dalam hati sebenarnya sedang berhitung.
Nanda mengikuti Amira bersikap tenang, namun sudah membulatkan tekad. Dia akan mengemis besok, mau Amira melarang atau tidak.
Tiba-tiba beberapa orang masuk. Ada yang membawa kamera dan menyorot Amira.
Para pengunjung heran kenapa jadi banyak orang yang sepertinya dari televisi.
Wanita lusuh yang membawa mangkuk tadi pun datang dengan senyum sumringah.
Dia membuka wig yang dia pakai, kemudian membersihkan make up-nya, dan ternyata wanita lusuh tadi sebenarnya wanita muda.
Dengan senyum menawan, dia menghampiri Amira.
Beberapa orang mengondisikan suasana, dan beberapa orang mengambil gambar momen itu.
“Mbak, perkenalkan, saya Lusiana. Saya sedang melakukan eksperimen sosial, mencari beberapa yang tulus menolong orang yang dalam kesusahan.”
Amira hanya tersenyum menampilkan wajah kaget.
“Ngomong-ngomong, nama Ibu siapa?” Lusiana mengarahkan mikrofon kecil pada Amira.
Amira tampak berdehem dan malu-malu dalam menjawab. Dia seperti orang bingung.
“Santai saja, tidak usah takut. Tadi kami sedang membuat konten eksperimen sosial untuk mengetahui kepedulian sosial seseorang.”
“Oh, gitu ya. Tadi saya hanya kasihan saja sama orang yang sedang dalam kesusahan,” jawab Amira. Dia menjeda dan menatap polos pada Lusiana. “Nama saya Amira.”
“Oh, dengan Mbak Amira ya,” ucap Lusiana mengulurkan tangan berjabat tangan dengan Amira.
“Apa ini keluarga Mbak Amira?”
“Iya, ini ibu saya, namanya Nanda. Yang lelaki anak saya Arjuna, dan yang perempuan Dewi,” jawab Amira.
“Wah, benar-benar keluarga harmonis. Kalau boleh tahu, apa pekerjaan Amira?”
Amira menampilkan wajah sendu. “Sebenarnya saya belum punya pekerjaan dan penghasilan, dan uang tadi sebenarnya untuk modal saya dagang besok.”
Lusiana menampilkan wajah haru. “Oh, Anda baik sekali ya. Anda mau menolong orang, padahal Anda juga dalam kesusahan.”
“Saya pernah dalam posisi tak punya uang dan anak saya sakit. Saat itu perhatian sekecil apa pun dari orang sangat saya hargai.”
Suasana haru. Beberapa orang terbawa suasana, ada yang terisak menangis.
“Karena Anda bersedia menolong orang kesusahan, maka saya mengembalikan uang 500.000 dan saya beri Anda uang 5 juta.”
Lusiana memberikan uang 500.000 milik Amira dan memberikan uang pada Amira.
Uang itu dihitung satu per satu. Suasana haru meliputi pemberian uang itu.
Beberapa orang merasa terharu, inilah arti sebuah ketulusan dalam menolong.
Namun beberapa orang ada yang menyesal, kenapa tidak dia saja yang menolong wanita lusuh tadi, mungkin mereka yang akan dapat rezeki nomplok.
Setelah memberikan uang pada Amira, Lusiana mengobrol sebentar dengan Amira dan acara pun bubar. Amira tersenyum gembira, rezeki memang datang dari tempat yang tak terduga.
Nanda juga senang, keberuntungan Amira luar biasa.
Setelah makan, Amira keluar dari warteg itu dengan perut kenyang dan hati senang.
“Amira, apakah kamu tahu wanita lusuh itu akan memberi uang?” tanya Nanda penasaran.
“Aku hanya menebak saja sih, Mah. Pertama, walaupun bajunya kusel, tapi betis wanita itu terlihat bersih, dan kakinya memang kotor, itu hanya dikotori saja, bukan memang terbiasa kotor. Terus bajunya kusel tapi tidak berbau matahari, ada sedikit wangi parfum. Robekan baju bukan karena bahannya yang sudah usang, tapi karena digunting sengaja, dan…” Amira menjeda.
“Dan apa, Amira? Jangan buat Mamah penasaran,” ucap Nanda kesal.
“Dan bagaimana mungkin orang yang meminta pertolongan untuk anaknya yang sakit akan setenang itu? Dia sebenarnya belum terlalu mendalami aktingnya sebagai orang susah, dan yang lebih meyakinkan ada seorang lelaki yang berdiri terus dekat wanita itu. Lelaki itu hanya berdiri, tidak makan, dan tidak berbincang dengan yang lain. Nah, dialah yang membawa kamera tersembunyi,” jelas Amira.
“Wah, jadi kamu sudah tahu sebelumnya kalau itu hanya sebuah drama. Tapi orang itu baik sekali ya, ngasih kita uang 5 juta dengan cuma-cuma. Jadi kita bisa langsung buka warung.”
“Ah, mereka juga tidak sepenuhnya baik, Mah. Akting kita sangat natural tadi, Bu. Bahkan muka Mamah tadi yang berkaca-kaca membuat kisah tadi jadi natural. Mereka akan mendapatkan banyak uang dari hasil penayangan video tadi,” kembali Amira menjelaskan.
“Oh, jadi mereka juga nanti akan dapat uang gitu?”
“Pastilah, dan uang 5 juta itu anggap saja uang modal,” ucap Amira.
“Oh, seperti itu ya. Tapi bagaimanapun kita harus berterima kasih sama mereka sudah memberi uang pada kita.”
“Kita sudah berakting senatural mungkin, itu sudah ucapan terima kasih kita, Mah.”
“Bagus, bagus, Amira. Kamu memang cerdas,” puji Nanda tulus.
Amira terus berjalan bersama Nanda, Arjuna, dan Dewi. Mereka sudah cukup punya uang untuk belanja kebutuhan dagang mereka. Amira berjalan menuju pasar untuk membeli kompor gas, etalase, dan peralatan dapur lainnya.
Namun, belum sampai pasar, beberapa orang menghadang Amira, dan ia melihat Lusi di sana. Lusi mendekat pada Amira dan berkata dengan lembut, “Mbak Amira tahu kan tadi hanya konten, jadi menurut saya uang itu terlalu besar. Tolong kembalikan Rp4.500.000. Yang Rp500.000 Mbak ambil saja sebagai upah jadi aktor dalam konten saya. Saya janji akan ikut mempromosikan akun media sosial Mbak.”
besok ibu trus simbok ato biyung🤣🤣🤣
sebagai pelampiasan dewi karena g di izinkn anjani masuk ruko jadilah preman nya yg di hajar dewi dan dililit anjani🤣🤣🤣🤔