"Satu malam yang salah, satu rahasia yang terkunci rapat, dan satu pertemuan yang tak terelakkan."
Bagi Naira, malam di dalam mobil mewah lima tahun lalu adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah yang tak sengaja. Terjebak dalam situasi yang tak terkendali bersama seorang pria asing yang dingin, Naira kehilangan mahkotanya. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya membuat Naira melarikan diri ke pelosok Jombang, membawa rahasia besar di dalam rahimnya.
Lima tahun ia berjuang sendirian menjadi ibu tunggal bagi Arkana, putra kecilnya yang cerdas namun terus menanyakan sosok ayah. Demi menyambung hidup, Naira terpaksa kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai Office Girl di sebuah perusahaan raksasa, Wiratama Group.
Namun, dunia Naira runtuh saat ia pertama kali mengantarkan kopi ke ruang CEO. Pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Nevan Adhiguna Wiratama—pria yang sama dengan pria di mobil malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seteguk Maut yang Gagal
Suasana di dapur mansiun Wiratama yang biasanya hangat oleh aroma masakan, mendadak berubah mencekam. Musik latar seolah berdetak kencang dengan lengkingan violin yang menyayat hati. Di pojok dapur yang terlindung dari pandangan pelayan lain, Nadia berdiri dengan mata melotot tajam, memancarkan kebencian yang murni.
Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening dari saku gaun mahalnya. Dengan gerakan cepat, ia menyodorkannya ke depan wajah Bi Inah yang sudah gemetar hebat.
"Masukkan ini ke dalam teh manis Naira. Sekarang!" bisik Nadia tajam, penuh penekanan yang mengancam. "Jangan sampai ada yang lihat, atau kamu tahu sendiri apa konsekuensinya bagi keluargamu di kampung, Bi!"
Tangan Bi Inah bergetar hebat saat memegang gelas teh pesanan Naira. "Tapi... tapi Non Nadia... ini dosa besar, Non. Kasihan Non Naira, dia orang baik... dia sangat sopan pada saya..."
Nadia langsung mencengkeram bahu Bi Inah, kuku-kuku tajamnya menembus kain seragam pelayan itu. "Kebaikan tidak ada gunanya di rumah ini! Naira sudah merebut segalanya dariku, dan dia harus membayar harganya. Cepat tuangkan! Dia sudah menunggu di ruang tengah!"
Dengan air mata yang menetes karena rasa bersalah, Bi Inah terpaksa menuangkan cairan itu. Cairan bening yang tampak tenang di dalam teh manis, namun membawa maut yang tersembunyi.
Naira sedang duduk anggun di sofa beludru sambil membalik halaman majalah fesyen. Wajahnya tampak tenang dan cantik, memancarkan aura kebahagiaan seorang istri yang dicintai.
Bi Inah datang dengan nampan di tangannya. Suaranya terdengar parau dan tidak stabil. "I... ini Non Naira, teh manisnya. Silakan diminum selagi hangat."
Naira mendongak dan tersenyum tulus, senyum yang justru membuat hati Bi Inah semakin teriris. "Makasih ya, Bi. Tenggorokan aku emang lagi terasa haus banget dari tadi. Tapi Bibik kok pucat? Bibik sakit?"
Bi Inah hanya menunduk dalam, tak sanggup menatap mata bening Naira. "Enggak Non... Bibik cuma sedikit pusing. Bibik permisi dulu ke belakang..."
Nadia mengintip dari balik pilar besar, senyum licik tersungging di bibir merahnya. Ia menahan napas saat melihat jemari lentur Naira perlahan menyentuh gagang gelas kristal itu. Naira mengangkatnya, mendekatkannya ke bibir. Sedikit lagi... hanya satu senti lagi maut akan menjemputnya...
"MAMAAAAAA! GENDOOOONG!"
CRAAASSSHHH!
Suara gelas pecah berkeping-keping di atas lantai marmer menghancurkan kesunyian.
Arkana berlari kencang dari arah tangga dan langsung menerjang kaki Naira dengan pelukan maut. Tabrakan mendadak dari jagoan kecil itu begitu kuat hingga gelas di tangan Naira terpental dan hancur berkeping-keping. Teh beracun itu tumpah ruah, mengotori lantai marmer yang putih bersih.
"Astaga! Arkana! Kamu kagetin Mama, Sayang..." seru Naira terkejut, jantungnya berdegup kencang karena kaget.
Arkana cemberut manja, sama sekali tidak peduli dengan kekacauan yang ia buat. "Mama lama banget! Arka mau liat burung di taman, mau digendong Mama sekarang! Ayo Ma!"
Naira melihat ke lantai dengan tatapan menyesal. "Aduh, sayang sekali tehnya tumpah. Padahal Mama lagi haus banget."
Di balik pilar, Nadia mengepalkan tangannya hingga gemetar karena amarah yang memuncak. Matanya membelalak tak percaya. Rencananya yang sudah disusun rapi gagal total hanya karena bocah yang sangat ia benci itu.
"Sialan! Kenapa anak itu selalu jadi penghalang?! Sedikit lagi Naira lenyap, tapi bocah itu malah menghancurkannya!" maki Nadia dalam batinnya.
"Bi Inah! Tolong dibersihkan ya, maaf gelasnya pecah," panggil Naira lembut. "Arka, ayo... Mama gendong ke taman. Tapi hati-hati kakinya jangan kena beling ya."
Bi Inah berlari keluar dari dapur dengan wajah yang tiba-tiba lega luar biasa, seolah beban berat baru saja diangkat dari bahunya. Sementara itu, Arkana tertawa menang dalam pelukan Mamanya, seolah secara naluriah dia tahu bahwa dia baru saja menyelamatkan nyawa orang yang paling ia cintai di dunia ini.
Di taman belakang, sinar matahari sore menyinari wajah Naira yang tampak berseri-seri. Ia menurunkan Arkana di atas rumput hijau yang lembut.
"Ayo, Sayang! Katanya mau lihat burung di sangkar? Itu mereka sedang bernyanyi," ucap Naira lembut sambil mengusap peluh di dahi putranya.
Arkana tertawa girang, berlarian mengejar kupu-kupu yang hinggap di bunga-bunga mawar. "Mama! Lihat! Burungnya warna-warni kayak di buku Arka!"
Naira tersenyum tulus, duduk di bangku taman sambil memperhatikan setiap gerak-gerik anaknya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa menit yang lalu, nyawanya hampir saja melayang jika bukan karena interupsi "malaikat pelindung" kecilnya itu.
Sementara itu, di dalam ruangan yang sunyi, Bi Inah berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Di hadapannya, Nadia berdiri dengan napas yang memburu, wajah cantiknya kini berubah mengerikan karena amarah yang memuncak.
"Ma... maaf, Non Nadia... Rencananya gagal. Den Arkana tiba-tiba lari dan menabrak Non Naira sampai gelasnya pecah," lapor Bi Inah dengan suara yang hampir hilang karena ketakutan.
PLAKK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bi Inah hingga wanita paruh baya itu tersungkur ke lantai marmer. Nadia tidak peduli, ia justru melangkah maju dan mencengkeram kerah baju Bi Inah.
"Dasar tidak berguna! Kamu itu pelayan atau pecundang?!" bentak Nadia, suaranya melengking tajam. "Hanya memasukkan cairan itu saja kamu tidak becus! Sedikit lagi jalang itu lenyap dari hidup Nevan, tapi kamu membiarkan bocah ingusan itu merusak segalanya!"
"Ampun, Non... Bibik benar-benar tidak sengaja. Den Arkana datangnya cepat sekali," isak Bi Inah sambil memegangi pipinya yang mulai memerah.
Nadia melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Bi Inah terjerembap kembali. "Jangan bawa-baca nama anak itu! Dia sama menyebalkannya dengan ayahnya! Karena kebodohanmu, aku harus memutar otak lagi!"
Nadia mondar-mandir di ruang tengah dengan langkah yang menghentak. Matanya berkilat penuh dendam saat melihat ke arah jendela, di mana ia bisa melihat siluet Naira dan Arkana yang sedang asyik bermain di taman.
"Nikmati sisa waktumu, Naira," desis Nadia dengan suara rendah yang sangat mengancam. "Kalau racun tidak mempan, aku akan menggunakan cara yang lebih kasar. Aku akan memastikan Nevan sendiri yang mengusirmu dari rumah ini, atau Tuan Tommy yang akan menyeretmu ke ranjangnya!"
Nadia kemudian menoleh kembali ke arah Bi Inah yang masih terisak. "Berhenti menangis! Bersihkan semua pecahan gelas itu dan jangan sampai ada satu tetes pun cairan tadi yang tersisa di lantai. Kalau Nevan atau asistennya yang cerewet itu curiga, aku pastikan keluargamu di kampung tidak akan pernah melihat matahari besok pagi!"
Bi Inah hanya bisa mengangguk pasrah dalam ketakutan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa dirinya kini terjepit di antara dua kekuatan besar, sementara hatinya mulai menangis melihat kebaikan Naira yang justru hendak dihancurkan oleh wanita iblis di hadapannya ini.