Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Kota Pahlawan
19 Juni 2025. Pukul 14.00 WIB.
Perpustakaan Balai Pemuda, Surabaya.
Surabaya menyambut Alina dengan udara panas yang menyengat, seolah matahari menggantung hanya sejengkal di atas kepala. Namun, di dalam ruang arsip perpustakaan tua yang dingin ini, Alina menggigil.
Di layar monitor mikrofilm, Alina menatap sebuah tajuk berita kecil di koran "Soerabaijasch Handelsblad" tertanggal 20 Juni 1931. Besok (dalam hitungan waktu paralel).
> OPSCHUDDING IN KEMBANG JEPUN
> (Keributan di Kembang Jepun)
> "Seorang wanita pribumi muda diamankan oleh Veldpolitie (Polisi Lapangan) sore ini setelah membuat keributan di kawasan perniagaan Kembang Jepun. Wanita yang tampak linglung itu berteriak-teriak memanggil nama suaminya yang sudah meninggal. Dia membawa sebuah tas berat berisi mesin tik tua. Saat ini dia ditahan di Pos Polisi Sekaan untuk pemeriksaan lebih lanjut karena tidak memiliki kartu identitas jalan."
>
Alina meremas jemarinya hingga memutih.
"Pos Polisi Sekaan," desis Alina.
Jika Sarsinah ditahan di sana besok sore, polisi akan memeriksa barang bawaannya. Mereka akan menemukan mesin tik Remington itu. Dan jika ada polisi yang cukup rajin mengecek nomor seri barang sitaan... alarm akan berbunyi di kantor pusat PID Batavia.
Van Heutz akan tahu mesin tik "curian" itu ada di Surabaya.
Dan dia akan tahu Sarsinah—tunangan Arya—ada di Surabaya.
Kesimpulan logisnya: Arya ada di Surabaya.
"Habis," bisik Alina. "Operasi Senyap Arya akan terbongkar dalam 24 jam."
Alina melihat jam tangannya. Dia tidak bisa menghubungi Arya. Mesin tik itu ada di tangan Sarsinah yang sedang menggelandang di jalanan Surabaya tahun 1931.
Alina hanya bisa menjadi saksi bisu dari bencana yang sedang merangkak mendekat.
Kecuali... kecuali Arya menemukannya lebih dulu.
"Ayo, Arya... gunakan insting jurnalis-mu," doa Alina di depan layar monitor yang berkedip. "Dengar gosip itu. Temukan dia sebelum polisi menemukannya."
19 Juni 1931. Pukul 15.00 waktu Surabaya.
Warung Nasi di Kawasan Pabean Cantikan.
Bung Miko (Arya) sedang menyantap nasi rawon dengan lahap. Shift kerjanya di pelabuhan baru saja selesai. Tubuhnya pegal linu, bau keringat dan oli kapal menempel di kulitnya yang makin gelap.
Di meja sebelahnya, dua orang pedagang kain Madura sedang mengobrol seru dalam bahasa daerah yang keras.
"...Iyo, edan wedokan iku. Bengok-bengok nggoleki bojorne. Jenenge sopo mau? Aryo? Arjo?" (...Iya, gila perempuan itu. Teriak-teriak mencari suaminya. Namanya siapa tadi? Aryo? Arjo?)
Sendok di tangan Arya berhenti di udara.
"Ho'oh. Ayue talah, tapi klambine kucel. Nggowo tas wesi abot. Sakno, koyoke wong Jawa Tengah nyasar." (Iya. Cantik sih, tapi bajunya kucel. Bawa tas besi berat. Kasihan, sepertinya orang Jawa Tengah nyasar.)
"Nang endi saiki?" (Di mana sekarang?)
"Mubeng-mubeng nang Jembatan Merah. Mengko lak diciduk Londo." (Keliling-keliling di Jembatan Merah. Nanti pasti diciduk Belanda.)
Darah Arya berdesir hebat. Jantungnya memacu adrenalin yang sudah lama tidur.
Jawa Tengah.
Bawa tas besi berat (mesin tik).
Mencari "Aryo".
"Sarsinah," bisik Arya. Nama itu terasa asing sekaligus akrab di lidahnya.
Wanita itu nekat menyusulnya? Dari mana dia tahu Arya di Surabaya? Siapa yang memberitahunya?
Arya melempar uang koin ke meja, tidak peduli kembaliannya. Dia menyambar topi kulinya, menutupi wajahnya serendah mungkin, lalu berlari keluar warung.
Jembatan Merah. Itu pusat perniagaan yang ramai dan dijaga ketat. Banyak polisi patroli di sana. Jika Sarsinah berteriak-teriak di sana, itu sama saja bunuh diri—untuk mereka berdua.
Arya berlari menyusuri gang-gang sempit Pabean, memotong jalan menuju Jembatan Merah. Napasnya memburu.
"Jangan bodoh, Sarsinah... Sembunyi..." batinnya menjerit.
Dia adalah hantu yang bersembunyi dari matahari. Dan sekarang, masa lalunya datang membawa matahari tepat ke wajahnya.
19 Juni 1931. Pukul 15.30 waktu Surabaya.
Jembatan Merah (Roode Brug).
Lalu lintas di Jembatan Merah macet. Sebuah delman terhenti karena kuda yang kaget, mobil-mobil sedan pejabat Belanda membunyikan klakson tidak sabar, dan kerumunan orang berkumpul di trotoar.
Di tengah kerumunan itu, Sarsinah berdiri dengan wajah kusut dan mata bengkak. Kebayanya kotor oleh debu jalanan. Dia memeluk tas mesin tik Remington itu erat-erat di dadanya, seolah itu bayinya.
"Mas Arya!" teriaknya parau. "Mas Arya! Keluar!"
Orang-orang menertawakannya. Anak-anak kecil melemparinya dengan kulit jeruk.
"Gila ya, Mbak? Suaminya mati ya?" ejek seorang tukang becak.
"Dia nggak mati!" bentak Sarsinah, matanya liar. "Dia di sini! Dia jadi kuli! Mas Arya, saya tahu Mas dengar saya! Jangan sembunyi!"
Dari arah pos jaga, dua orang Veldpolitie (polisi pribumi berseragam) berjalan mendekat sambil memegang pentungan.
"Bubar! Bubar!" bentak polisi itu mengusir kerumunan.
Mereka mendekati Sarsinah. "Hei, Yu. Jangan bikin ribut di sini. Mana surat jalanmu?"
Sarsinah mundur ketakutan. "Saya... saya cuma cari suami saya."
"Ikut ke kantor dulu. Jelaskan di sana," polisi itu mencengkeram lengan Sarsinah kasar.
"Lepas! Saya nggak mau! Mas Arya!" Sarsinah meronta. Tas mesin tik di pelukannya terlepas.
BRAKK!
Tas itu jatuh ke aspal. Kancingnya terbuka. Mesin tik Remington hitam itu menggelinding keluar, tergores aspal panas.
"Oalah, bawa barang curian juga rupanya," kata polisi itu curiga. "Bawa semuanya!"
Sarsinah menangis histeris saat diseret.
Saat itulah, sebuah tangan kekar berkulit gelap menahan lengan polisi itu.
"Maaf, Pak Agen," suara itu berat, berlogat Jawa Timuran kasar. "Jangan kasar sama perempuan. Ini istri saya."
Polisi itu menoleh. Sarsinah menoleh.
Mereka melihat seorang pria berkumis tebal, memakai kaos oblong kumal dan celana komprang, dengan kacamata bulat yang retak sebelah.
Sarsinah mengerjap. Dia tidak mengenali pria ini. Tapi baunya... bau keringat yang bercampur dengan aroma tembakau cengkeh yang khas...
Pria itu menatap Sarsinah tajam. Tatapan itu. Tatapan yang selalu membuat Sarsinah merasa dilindungi.
"Mas..." bibir Sarsinah bergerak tanpa suara.
"Maaf Pak Agen," kata Arya (Miko) lagi, menyelipkan beberapa keping uang perak ke saku polisi itu dengan gerakan cepat. "Istri saya ini agak... sakit pikirannya sejak anak kami meninggal. Dia sering keluyuran. Maaf bikin repot. Biar saya bawa pulang."
Polisi itu meraba uang di sakunya. Lumayan buat beli rokok.
"Urus istrimu yang benar, Miko. Jangan sampai dia teriak-teriak di depan Tuan Belanda. Bisa kena cambuk nanti."
"Siap, Pak. Maturnuwun."
Arya segera memungut mesin tik di aspal, memasukkannya kembali ke tas, lalu menarik tangan Sarsinah.
"Ayo pulang, Bune," katanya tegas.
Sarsinah menurut. Kakinya lemas. Dia membiarkan dirinya ditarik oleh pria asing yang ternyata adalah kekasihnya yang hilang.
Mereka berjalan cepat meninggalkan keramaian Jembatan Merah, masuk ke labirin gang-gang sempit Kampung Ampel yang berliku.
Setelah dirasa aman dan jauh dari polisi, Arya menarik Sarsinah masuk ke sebuah gang buntu di belakang masjid tua.
Dia melepas tangan Sarsinah, lalu membuka kacamatanya.
"Kamu gila, Nah!" desis Arya, suaranya bergetar menahan marah dan takut. "Kamu mau bunuh kita berdua?!"
Sarsinah menatap wajah itu. Kumis tebal itu. Kulit hitam itu.
"Mas Arya..." Sarsinah jatuh berlutut, memeluk kaki Arya. Tangisnya pecah. "Mas hidup... Mas beneran hidup..."
Arya ingin marah. Dia ingin membentak Sarsinah karena kecerobohannya. Tapi melihat wanita itu bersimpuh di kakinya, menangis penuh kelegaan setelah perjalanan jauh dari Batavia... hati Arya luluh.
Dia berjongkok, memegang bahu Sarsinah.
"Bangun, Nah. Jangan begini."
"Kenapa Mas bohong?" isak Sarsinah, memukul dada bidang Arya pelan. "Kenapa Mas bikin sandiwara mati? Kenapa Mas suruh 'Malaikat' itu bohongin saya?"
Arya terdiam. Malaikat?
"Malaikat?" tanya Arya bingung.
"Suara di mesin tik itu! Dia bilang Mas sudah tenang di laut! Dia nyuruh saya nikah sama guru!" Sarsinah menunjuk tas mesin tik yang dibawa Arya.
Arya terpaku. Dia menatap tas itu.
Alina.
Alina mencoba mencegah Sarsinah. Alina mencoba menyelamatkan skenario kematiannya dengan berpura-pura jadi malaikat.
Arya tersenyum pahit. Dua wanita ini... satu nekat menembus jarak, satu nekat menembus waktu, hanya untuk menyelamatkannya dengan cara masing-masing yang bertolak belakang.
"Ayo," kata Arya, membantu Sarsinah berdiri. "Kita nggak aman di jalanan. Saya bawa kamu ke kosan saya. Di sana kita bicara."
Arya memanggul tas mesin tik itu di satu bahu, dan menuntun Sarsinah dengan tangan lainnya.
Mesin tik Remington NK-40992 telah kembali ke tangan pemilik aslinya.
Koneksi telah pulih.
19 Juni 1931. Pukul 19.00 waktu Surabaya.
Kamar Kos Miko di Ampel.
Kamar itu lebih kecil dan lebih kumuh daripada di Batavia. Hanya ada tikar pandan, lampu teplok, dan tumpukan buku bekas.
Sarsinah sudah mandi dan berganti pakaian (memakai kaos Arya yang kebesaran). Dia duduk diam di tikar, memperhatikan Arya yang sedang memeriksa mesin tiknya.
"Rusak?" tanya Sarsinah pelan.
"Cuma lecet dikit. Mesin ini tangguh," gumam Arya. Dia memasang pita tintanya yang sempat lepas.
Arya menatap Sarsinah.
"Nah, besok pagi kamu harus pulang ke Batavia."
"Nggak mau!" Sarsinah menggeleng keras. "Saya sudah ketemu Mas. Saya mau di sini. Saya mau ikut Mas. Saya nggak peduli Mas jadi kuli atau jadi buronan. Saya mau ngabdi sama Mas."
"Sarsinah..."
"Mas Sudiro bisa cari istri lain. Saya maunya Mas Arya."
Arya memijat pelipisnya. Masalah baru. Sarsinah yang keras kepala.
Tapi sebelum dia mendebat Sarsinah, Arya punya urusan mendesak.
Dia memutar kursinya membelakangi Sarsinah. Dia memasukkan kertas ke dalam mesin tik.
"Sebentar ya, Nah. Saya harus... 'lapor' dulu."
"Lapor sama siapa? Sama Malaikat itu?" tanya Sarsinah sinis.
Arya tidak menjawab. Dia mulai mengetik.
> Alina...
> Ini Arya.
> Mesin tik sudah di tangan saya.
> Sarsinah ada di sebelah saya.
> Kami selamat. Polisi tidak curiga.
>
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Nyawa seolah dalam genggaman penjahat.
Damai sekejap, lepas beban berat
tapi belati dan peluru kembali mengintai.
Jika cinta butuh pengorbanan,semua telah berkorban.
Mengalah
Melepaskan
Merelakan dalam keikhlasan.
Bertahan walau hidup serasa di parit busuk.
Melindungi sekeping hati dari duka.
Menjaga dan mencoba memperpanjang kontrak hidup
mati-matian mencari jalan keluar
Pontang- panting dengan akses masa depan yang canggih
semoga kali ini bisa lolos lagi dari si mata satu
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.
Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.
kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera