NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:415
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: PERJAMUAN DENGAN IBLIS

Van hitam itu melesat membelah kemacetan Jakarta yang mulai mencair menjelang tengah malam. Di dalamnya, kesunyian terasa begitu padat, hanya diinterupsi oleh denting halus sendok perak Agatha Waskita yang beradu dengan cangkir porselennya. Sasmita duduk kaku, tangannya masih memeluk kotak baja dari ibunya seolah itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kegilaan ini.

Agatha menatap Sasmita dengan pandangan yang tidak bisa dibaca—tajam namun tenang, seperti permukaan danau yang menyimpan monster di kedalamannya.

"Kamu punya mata ibumu, Sasmita. Tapi rahang dan keras kepalamu... itu murni kutukan dari darah Waskita," ujar Agatha, suaranya lembut namun memiliki daya tekan yang luar biasa.

"Kenapa kamu menyelamatkanku dari Aris?" Sasmita akhirnya bersuara, suaranya parau. "Kamu adalah orang yang paling menginginkanku mati sepuluh tahun lalu. Ibumu sendiri yang menulisnya."

Agatha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya. "Sepuluh tahun adalah waktu yang lama untuk mengubah prioritas, Sayang. Dulu, kamu adalah ancaman bagi kemurnian silsilah Waskita. Tapi sekarang? Kamu adalah peluru paling tajam yang bisa kugunakan untuk menembak jantung Hendra dan membersihkan sampah-sampah yang dia tinggalkan."

"Hendra sudah di penjara!" seru Sasmita.

"Penjara hanyalah hotel dengan keamanan lebih ketat bagi orang seperti Hendra," Agatha meletakkan cangkirnya. "Dia masih mengendalikan faksi-faksi kecil melalui pengacaranya. Dan Aris... Aris adalah anjing liar yang dia lepaskan untuk mencuri sisa asetku. Kamu pikir Aris hanya mengincar uang Janardana? Tidak. Dia mengincar kode enkripsi yang ada di dalam kotak yang kamu pegang itu. Kode yang bisa membuka akses ke Mainframe Waskita Global."

Sasmita menatap kotak di pangkuannya. Jadi, ibunya bukan hanya memberinya identitas baru, tapi juga memberinya kunci untuk meruntuhkan seluruh kekaisaran Waskita.

Van itu berhenti di depan sebuah gerbang tinggi yang tersembunyi di kawasan perbukitan Sentul. Sebuah villa megah bergaya modern minimalis berdiri angkuh di tengah hutan pinus. Tidak ada garis polisi di sini. Tidak ada bau asap kebakaran. Hanya ada kemewahan yang sunyi dan mematikan.

Agatha turun dari mobil, memberi isyarat agar Sasmita mengikutinya. Mereka masuk ke sebuah ruang kerja luas yang dindingnya dipenuhi oleh layar monitor yang menampilkan grafik saham real-time dari seluruh dunia.

"Duduklah, Saga Anindita," ujar Agatha, menggunakan nama palsu Sasmita dengan nada mengejek. "Mulai malam ini, hidupmu yang lama sudah berakhir. Kamu tidak akan lagi bermain-main dengan garis merah di lantai marmer. Kamu akan belajar bagaimana cara menggambar garis merah di peta ekonomi dunia."

Agatha melemparkan sebuah tablet digital ke depan Sasmita. Di layarnya, terlihat foto-foto Aris yang sedang berada di sebuah gudang server tersembunyi di kawasan industri Cikarang.

"Aris sedang mencoba menjebol firewall terakhirku. Jika dia berhasil, dia akan memindahkan semua dana yayasan keluarga ke rekening anonim di Kepulauan Cayman. Kita harus menghentikannya sebelum fajar," kata Agatha.

"Kenapa 'kita'?" Sasmita menyipitkan mata. "Kenapa bukan pasukan bersenjatamu saja yang menyerbu ke sana?"

"Karena Aris telah memasang deadman's switch," Agatha melangkah mendekati jendela besar yang menghadap lembah. "Jika ada serangan fisik, dia akan menekan satu tombol yang akan menghapus seluruh data aset Waskita. Semuanya akan hilang menjadi nol. Kekuasaan, pengaruh, sejarah... semuanya. Hanya satu orang yang bisa mendekatinya tanpa dia curiga: Kamu."

Sasmita tertawa sinis. "Kamu ingin aku menjadi umpan lagi?"

"Bukan umpan. Aku ingin kamu menjadi eksekutor," Agatha berbalik, matanya berkilat dingin. "Ibumu melakukan kesepakatan denganku sepuluh tahun lalu agar aku tidak membunuhmu. Dia memberikan sebagian kode itu kepadaku, dan menyimpan bagian terpentingnya untukmu. Sekarang, gabungkan kode itu. Masuklah ke sana, temui Aris, dan lumpuhkan dia dari dalam sistemnya. Sebagai imbalannya, aku akan memberimu kebebasan yang sesungguhnya. Aku akan menghapus namamu dari setiap daftar pencarian orang dan memberimu modal untuk membangun kerajaanmu sendiri."

Sasmita terdiam. Ia tahu ia sedang melakukan perjanjian dengan iblis. Tapi di dunia yang sudah hancur ini, ia tidak punya pilihan lain. Jika ia ingin benar-benar bebas, ia harus memusnahkan semua orang yang merasa memilikinya.

"Aku butuh Sakti dan Bramasta," ujar Sasmita tiba-tiba.

Agatha mengangkat alisnya. "Sakti sedang dalam perjalan ke sini. Tapi Bramasta? Pengkhianat itu?"

"Bramasta tahu cara berpikir Aris. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa mengalihkan perhatian Aris secara emosional sementara aku masuk ke sistemnya," Sasmita berdiri, memegang kotak bajanya dengan mantap. "Dan aku butuh jaminan. Jika aku berhasil, kamu harus menyerahkan bukti keterlibatan Hendra dalam pembunuhan ayahku, Wirya Janardana. Aku ingin dia membusuk di penjara selamanya, bukan sekadar 'menginap' di hotel mewah."

Agatha menatap Sasmita cukup lama, seolah sedang menilai apakah keponakan haramnya ini benar-benar sanggup melakukan apa yang ia katakan. Akhirnya, wanita tua itu mengangguk.

"Setuju. Tapi ingat satu hal, Sasmita... atau Saga. Di keluarga Waskita, pengkhianatan adalah bahasa ibu kita. Jangan pernah lengah, bahkan terhadapku."

Malam itu juga, persiapan dilakukan. Sasmita mengganti pakaiannya dengan setelan hitam taktis yang disediakan oleh tim Agatha. Sakti tiba dua jam kemudian, tampak lega melihat Sasmita masih hidup. Bramasta ditemukan oleh tim Agatha di sebuah klinik rahasia; ia dibawa masuk dengan kursi roda, wajahnya masih dibalut perban, namun matanya memancarkan tekad yang sama gilanya dengan Sasmita.

"Sasmita... kamu gila jika bekerja sama dengan wanita ini," bisik Bramasta saat mereka berada di ruang persiapan.

"Aku sudah gila sejak aku melihat ibuku diracuni di depan mataku sendiri, Bram," balas Sasmita sambil memasang earpiece komunikasi. "Sekarang diam dan lakukan tugasmu. Kita akan mengakhiri ini malam ini."

Pukul 02.00 dini hari. Mereka berangkat menuju Cikarang. Lokasi Aris adalah sebuah pabrik perakitan komponen elektronik yang sudah bangkrut. Di balik dinding seng yang berkarat, Aris telah membangun benteng digitalnya.

Sasmita turun dari mobil beberapa ratus meter dari lokasi. Ia membawa laptop khusus yang sudah dihubungkan dengan kode dari kotak ibunya.

"Saga, kamu masuk lewat jalur ventilasi belakang. Sakti akan mematikan aliran listrik cadangan selama sepuluh detik. Itu jendela waktumu untuk menanamkan virus trojan ke server utama," suara Agatha bergema di telinganya.

Sasmita bergerak dengan lincah, sisa-sisa pelatihannya saat di London dulu kembali muncul. Ia merangkak di dalam pipa ventilasi yang sempit dan berdebu. Jantungnya berdegup kencang, namun pikirannya sangat jernih. Ia teringat garis merah di rumahnya. Sekarang, garis itu tidak lagi di lantai. Garis itu adalah kabel-kabel fiber optik yang membentang di bawah kakinya.

Ia sampai di ruang server. Dari atas plafon, ia bisa melihat Aris duduk di depan belasan layar monitor, jari-jemarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas keyboard.

"Ayo, Agatha... berikan aku sedikit lagi akses..." gumam Aris, ia tidak menyadari maut sedang mengintai dari atas kepalanya.

Tiba-tiba, lampu berkedip. Satu... dua... tiga...

Sasmita melompat turun dengan suara minimal. Ia segera berlari ke arah rak server utama, memasukkan kabel konektor, dan mulai mentransfer data.

Progress: 10%... 30%...

"Siapa di sana?!" Aris berbalik, senjatanya sudah terkokang.

Sasmita berdiri tegak, cahaya biru dari layar server menerangi wajahnya yang dingin. "Hantu dari masa lalumu, Aris."

Aris tertegun. "Sasmita? Bagaimana bisa..."

"Aku bukan Sasmita. Sasmita sudah mati terbakar di Bogor," ujar Sasmita sambil terus memantau proses transfer di tabletnya. "Aku adalah Saga. Dan aku di sini untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakku."

"Kamu bekerja untuk Agatha? Kamu bodoh!" Aris tertawa histeris. "Dia akan membuangmu begitu dia mendapatkan kodenya! Dia yang menyuruh Hendra untuk menghancurkan Janardana sepuluh tahun lalu karena dia ingin menguasai pasar konstruksi sendirian!"

Sasmita terdiam sejenak. "Aku tahu. Tapi bedanya, Aris... aku sudah menyiapkan jebakan untuknya juga."

Progress: 100%. Complete.

Sasmita menekan satu tombol terakhir. Seketika, semua layar di ruangan itu berubah menjadi merah. Bukan merah peringatan sistem, tapi sebuah gambar garis merah yang membelah layar menjadi dua.

"Apa yang kamu lakukan?!" Aris panik, ia mencoba mengetik sesuatu namun keyboardnya terkunci.

"Aku baru saja membagi Waskita Group menjadi dua," ujar Sasmita. "Satu bagian untuk hukum, dan satu bagian lagi untuk kehancuranmu. Selamat malam, Aris."

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang. Sakti dan tim Agatha menyerbu masuk. Aris mencoba menembak Sasmita, namun Bramasta—yang entah bagaimana berhasil merangkak masuk—menabrak kaki Aris hingga tembakannya meleset dan mengenai bahu Sasmita.

Sasmita terjatuh, namun ia tetap menggenggam tabletnya. Ia melihat Aris dilumpuhkan oleh Sakti.

Agatha Waskita masuk ke dalam ruangan beberapa saat kemudian, melangkah dengan tenang di antara kabel-kabel yang berserakan. Ia mengambil tablet dari tangan Sasmita yang berdarah.

"Kerja bagus, Saga," ujar Agatha sambil memeriksa isinya. Namun, wajahnya perlahan berubah menjadi kaku. "Apa ini? Kenapa aksesnya tidak terbuka?"

Sasmita tersenyum pahit sambil memegang bahunya yang bersimbah darah. "Karena kode itu tidak pernah ada di dalam kotak itu, Agatha. Kode itu ada di sini," Sasmita menunjuk ke kepalanya. "Ibukku tidak pernah menulis kodenya. Dia hanya memberiku cara untuk menghancurkannya. Sekarang, semua aset Waskita terkunci secara permanen. Tidak ada yang bisa mengambilnya, kecuali aku mati atau aku yang membukanya."

Agatha menatap Sasmita dengan kemarahan yang tertahan. Ia menyadari bahwa ia baru saja membesarkan seekor singa yang kini siap menggigit lehernya.

"Kamu baru saja memulai perang yang tidak bisa kamu menangkan, Sasmita," desis Agatha.

"Kita lihat saja nanti, Tante Agatha," balas Sasmita.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!