Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gejolak di Hati
Sudah beberapa hari berlalu sejak malam berdarah itu, tetapi rumah besar tersebut belum sepenuhnya kembali menjadi tempat yang tenang. Aktivitas berjalan seperti biasa—pelayan keluar masuk rumah, dapur kembali mengepul sejak pagi, dan rutinitas di dalam rumah itu dijalankan dengan rapi—namun kewaspadaan tidak pernah benar-benar mereda. Hal tersebut terlihat dari jumlah penjaga yang jauh lebih banyak dari sebelumnya, dengan senjata yang cukup terlihat dan tidak berusaha mereka sembunyikan, seolah menjadi pengingat bahwa bahaya belum sepenuhnya pergi.
Sementara itu, Liam sudah berada dalam kondisi yang cukup stabil. Ia sudah sepenuhnya sadar, mampu berbicara, dan pikirannya kembali jernih, meskipun tubuhnya masih membatasi ruang geraknya. Dokter yang sama, yang menangani Liam sejak hari pertama ia terluka pun datang secara rutin, memeriksa luka, mengganti perban, dan memberi instruksi tegas untuk tidak banyak bergerak dan tidak memaksakan diri. Dan setiap perintah itu dipatuhi, meski dengan kesabaran yang tampak dipaksakan.
Maria masih tinggal di rumah itu. Namun, hingga detik ini tidak ada yang secara resmi menjelaskan posisinya kepada Rachel. Meskipun hanya dengan melihat caranya diperlakukan membuat semua orang termasuk Rachel paham, bahwa kehadirannya sangat dihormati. Ia bebas bergerak, suaranya selalu didengar, dan keputusannya jarang dipertanyakan.
Rumah itu memang terlihat tenang, tapi bukan tenang yang mendamaikan. Pagi itu, Rachel berada di area belakang rumah, menyelesaikan tugas ringan yang sengaja dipilih agar tidak mendekati area terlarang di sekitar kamar Liam. Rutinitas memberinya jarak yang aman dari hal-hal yang tidak ingin ia rasakan.
Ketika ia berbalik membawa keranjang kecil berisi tumpukan kain bersih, pandangannya menangkap sesuatu yang membuat langkahnya melambat. Sebuah kursi roda bergerak perlahan di jalur batu menuju taman belakang. Liam duduk di sana, dan tubuhnya tampak lebih kurus dari terakhir kali ia melihatnya. Wajahnya masih sedikit pucat, pertanda bahwa ia belum pulih sepenuhnya.
Lalu, tepat di belakangnya, terlihat sosok Maria yang mendorong kursi roda itu dengan langkah tenang. Saat mereka berpapasan dengan Rachel, Maria memperlambat langkahnya. Sementara itu, Liam mengangkat kepala, hingga tatapan mereka bertemu.
Liam menatap Rachel sedikit lebih lama. Bukan sekadar tatapan kosong, melainkan ada kesadaran di sana. Rachel bisa merasakannya dengan jelas, sehingga membuatnya refleks menunduk, menyingkirkan pandangan seolah telah melakukan kesalahan. Kendati demikian, tidak ada sapaan yang keluar dari mulut Liam. Tidak ada senyum yang menghiasi sudut bibirnya. Bahkan tidak ada satu kata pun yang ditujukan untuk Rachel.
Lalu, Maria tiba-tiba menghentikan kursi roda yang dinaiki Liam di dekat taman belakang. Ia menoleh dan memanggil kepala pelayan, “Mrs. Cassel?”
Nada suaranya terdengar akrab, tanpa tekanan, bahkan tanpa kesan memerintah. Dan Mrs. Cassel pun segera menghampirinya.
“Segera siapkan sarapan untuk Liam.” kata Maria. “Juga untukku.”
“Tentu, Nona,” jawab Mrs. Cassel sigap. Ia kemudian menoleh ke arah Rachel dengan gerakan cepat. “Rachel, cepat bantu di dapur!”
Saat nama itu disebut, Maria sontak menoleh. Pandangannya berpindah dari wajah Rachel, lalu sekilas ke arah Liam, dan kembali lagi pada Rachel. Tidak ada ekspresi berlebihan di wajahnya, hanya ketertarikan yang tenang dan perasaan waspada.
Nama itu tidak asing di telinga Maria. Beberapa malam sebelumnya, Maria duduk di kursi dekat tempat tidur Liam, memastikan Liam meminum obatnya dengan benar. Kondisinya saat itu masih lemah, bahkan demam masih kerap datang dan pergi. Hingga akhirnya, dalam tidurnya Liam mengigau. Suaranya terdengar rendah, terputus-putus, dan nyaris seperti permintaan yang tertahan.
Tanpa sadar, Liam memanggil satu nama. 'Rachel'. Ia memanggil nama itu berulangkali dengan nada lirih.
Malam itu Maria tidak membangunkannya. Ia hanya duduk diam, mendengarkan, dan menyimpan nama itu di kepalanya. Sebab nama yang keluar dari mulut seseorang yang kehilangan kesadaran seperti Liam, jarang sekali tanpa makna. Dan pagi ini, sepertinya Maria telah menemukan jawabannya.
Di dapur, Rachel bekerja seperti biasa. Gerakannya tampak rapi, terukur, dan tidak tergesa. Ia memotong buah, menata piring, dan mengikuti instruksi Mrs. Cassel tanpa banyak bicara. Tidak lama setelah itu, Maria dan Liam datang dan menunggu sarapan disajikan di meja makan.
Dari tempatnya duduk, Maria tampak mengamati Rachel sesekali—cara Rachel menunduk saat berjalan melewati orang lain, caranya menghindari pandangan ke arah ruang makan, juga caranya tetap fokus pada pekerjaan meski jelas menyadari kehadiran Liam di sekitarnya. Saat ini, Maria memang belum menemukan jawaban terkait siapa sebenarnya sosok perempuan bernama 'Rachel' yang sudah memasuki pikiran Liam itu. Tapi, ketidakjelasan itu justru membuat semuanya semakin menarik bagi Maria.
Maria tersenyum kecil, hampir tak terlihat, sambil menerima cangkir teh yang baru saja disajikan oleh Rachel. Di rumah ini, banyak hal disampaikan tanpa kata-kata. Dan pagi itu, Maria merasa telah menemukan satu kepingan yang hilang.
Sarapan pagi itu disajikan di meja makan utama, meja panjang yang biasanya hanya digunakan untuk jamuan penting atau kehadiran orang-orang yang dianggap memiliki posisi yang setara. Liam duduk di kursinya, posisi yang sama seperti sebelum insiden itu, meski kini kursi rodanya diletakkan sedikit ke belakang agar ia lebih mudah bergerak. Sementara itu, Maria mengambil tempat duduk di sampingnya, cukup dekat hingga lengan mereka hampir bersentuhan.
Para pelayan tengah berdiri rapi di sisi ruangan. Rachel berada di barisan kedua, mengambil posisi aman—tidak terlalu dekat, tidak tampak mencolok, dan cukup jauh untuk menjaga jarak. Namun pagi itu, pandangannya sulit lepas dari arah meja makan.
Suasana di ruang makan terasa cukup sunyi. Maria tampak mengambil piring lebih dulu. Ia memenuhinya dengan beberapa pilihan menu makanan, lalu mengangkatnya ke arah Liam.
“Biar aku bantu,” katanya ringan.
“Aku bisa sendiri, Maria.” jawab Liam tenang, bahkan terkesan cukup lembut. Tangannya sedikit terangkat, gestur kecil yang biasanya cukup untuk menghentikan siapa pun.
Maria pun tersenyum. Bukan senyum menggoda, bukan pula menantang. Melainkan senyum seseorang yang sudah terlalu terbiasa berada di ruang pribadinya. “Aku tahu. Tapi biarkan aku membantumu.”
Ia pun tetap menyodorkan sendok itu. Liam menatapnya sebentar, lalu menurunkan tangannya. Ia akhirnya diam, dan menerima suapan itu tanpa berkomentar lagi. Dan entah kenapa Rachel tiba-tiba merasakan bahunya mengeras tanpa ia sadari.
Maria melanjutkan aksinya. Setelah beberapa suap, ia meraih gelas susu dan memegangnya, lalu menyodorkannya ke bibir Liam. “Sedikit saja,” katanya. “Dokter bilang memenuhi kebutuhan cairan juga penting.”
Liam tampak hanya menurut. Saat ia menurunkan gelas itu, setitik sisa noda susu tertinggal di sudut mulutnya. Maria mengambil tisu dari meja, mendekat, dan membersihkannya dengan gerakan lambat—terlalu dekat dan terlalu personal untuk dilakukan di hadapan orang lain. Namun, nyatanya tidak ada seorangpun yang bereaksi di sana—tidak ada yang berani melakukannya.
Lalu, Maria mulai berbicara, seolah suasana itu memang hanya milik mereka berdua. Ia menyebut hal-hal kecil, seperti tentang kebiasaan Liam yang tidak pernah berubah, beberapa makanan yang masih disukai dan tidak disukainya, juga hari-hari dimana dulu mereka sering menghabiskannya bersama.
“Kau selalu begitu,” kata Maria, suaranya cukup keras untuk terdengar oleh ruangan. “Kurasa tidak ada yang berubah sedikitpun darimu.”
Rachel menunduk sedikit lebih dalam. Ia tidak menoleh langsung, tapi tubuhnya jelas menegang. Tangannya mengepal sebentar, lalu ia memaksa dirinya untuk rileks kembali. Ia bertanya dalam hati, kenapa pemandangan ini bisa mengganggunya? Ia tidak tahu siapa Maria. Ia tidak tahu hubungan seperti apa yang mereka miliki. Dan ia tidak punya alasan untuk merasa apa pun tentangnya. Semua itu seharusnya sama sekali bukan masalah untuknya. Tapi nyatanya, ada sesuatu di dadanya yang bergerak tidak nyaman.
Sementara itu, Liam sendiri menyadari kehadiran Rachel lebih dari yang ia tunjukkan. Ia tahu Rachel berdiri di sana, mendengar setiap kata-kata di antara dirinya dan Maria, juga melihat setiap adegan yang terjadi. Sesekali, tatapannya bergerak cepat ke arah barisan para pelayan, berhenti sepersekian detik pada wajah yang sudah dikenalnya, lalu kembali ke piring di depannya.
Ia tidak menghentikan Maria. Tidak juga membalas kedekatan itu secara berlebihan. Ia membiarkannya terjadi, seolah itu adalah hal yang wajar. Mungkin karena ia juga tidak ingin menjelaskan apapun. Atau mungkin karena ia belum siap menghadapi apa yang bisa terbaca dari reaksi Rachel. Atau justru mungkin karena diam adalah pilihan paling aman.
Sarapan pun berakhir dalam waktu yang tidak terlalu singkat, juga tidak terlalu panjang. Maria meletakkan sendoknya, dan Liam tampak menyandarkan tubuh sedikit ke kursi. Mrs. Cassel memberi isyarat halus, sehingga para pelayan sontak bergerak hampir bersamaan, mundur selangkah, lalu membubarkan diri dengan tertib. Termasuk Rachel. Ia berbalik dan berjalan keluar ruangan. Langkahnya tampak stabil, dan wajahnya netral. Sepertinya tidak ada satupun orang yang bisa menebak apa yang tengah bergejolak di dalam dirinya.
Ia memang belum memberi nama pada perasaan itu. Ia bahkan belum mengakuinya. Tapi satu hal menjadi jelas saat ia berjalan menjauh dari tempat Liam dan Maria berada, bahwa ada sesuatu yang ia rasakan terhadap Liam. Dan tubuhnya tampak sudah lebih dulu bereaksi, hingga kesadaran itu perlahan membuatnya takut.