Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di balik aroma kayu manis
Malam di Pesantren Salsabila selalu membawa keheningan yang magis. Setelah suara tadarus dari asrama santri mulai mereda, hanya ada desis angin yang menyelinap di sela-sela pohon jati. Namun, di dapur utama ndalem, suasananya jauh dari kata hening. Lampu gantung berwarna kuning temaram menyinari seisi ruangan yang kini dipenuhi oleh aroma mentega cair dan bubuk kayu manis.
Aira sedang sibuk dengan celemeknya, rambutnya diikat asal ke atas, menampakkan leher jenjangnya yang sedikit berkeringat. Di depannya, mangkuk besar berisi adonan kue bolu cokelat siap untuk diolah.
"Kak, tolong ambilkan loyang di rak bawah," ujar Aira tanpa menoleh.
Ghibran, yang biasanya duduk di ruang kerja dengan tumpukan laporan audit, kini berdiri kikuk di tengah dapur. Ia telah menanggalkan jubahnya, hanya mengenakan kaus hitam polos yang mencetak jelas lekuk bahunya yang lebar. Dengan patuh, ia berjongkok, menggeledah rak hingga menemukan loyang yang dimaksud.
"Loyang ini?" tanya Ghibran sambil mengangkat benda logam itu seolah itu adalah dokumen negara yang sangat rahasia.
Aira tertawa kecil melihat ekspresi serius suaminya. "Iya, Kak. Tolong olesi dengan mentega, ya. Tipis-tipis saja."
Ghibran mulai bekerja. Cara ia mengolesi mentega sangat mirip dengan caranya menandatangani kontrak: sangat teliti, presisi, dan tidak boleh ada satu sudut pun yang terlewat. Namun, kecerobohan terjadi ketika Ghibran mencoba membantu Aira menuangkan tepung terigu. Sebuah gerakan yang terlalu semangat membuat debu putih itu terbang dan mendarat tepat di ujung hidung mancung Ghibran.
Aira terdiam sejenak, lalu tawa renyahnya pecah memenuhi ruang dapur. "Kak Ghibran... hidungmu!"
Ghibran mengernyit, mencoba melihat hidungnya sendiri, yang tentu saja mustahil. Aira mendekat, ia meletakkan spatula kainnya dan menggunakan ujung jemarinya untuk mengusap sisa tepung di wajah suaminya. Jarak mereka seketika menghilang. Aroma kayu manis dari adonan kue bercampur dengan wangi maskulin dari tubuh Ghibran.
Tangan Ghibran bergerak cepat, menangkap pergelangan tangan Aira sebelum istrinya itu menjauh. Ia menatap Aira dengan pandangan yang dalam, seolah sedang membaca sebuah puisi alam yang paling indah.
"Kau menertawakanku, Salsabila?" bisik Ghibran, suaranya rendah dan serak, membuat getaran halus di ulu hati Aira.
"Hanya... sedikit," sahut Aira malu-malu, napasnya mulai tidak teratur.
Ghibran tidak melepaskan tangan Aira. Ia justru membawa jemari yang masih sedikit terkena tepung itu ke bibirnya, mengecupnya satu per satu dengan perlahan. Tatapannya tidak lepas dari mata Aira, mengunci kesadaran wanita itu sepenuhnya.
"Terima kasih sudah menghidupkan rumah ini," gumam Ghibran tepat di depan bibir Aira. "Dulu, dapur ini hanya tempat untuk membuat kopi pahit agar aku bisa terjaga sepanjang malam. Sekarang, aku selalu merindukan pulang untuk mencium aroma manis dari tanganmu."
Aira merasa dunianya seolah mencair. Ia memberanikan diri untuk berjinjit, mendaratkan kecupan lembut di pipi Ghibran. Namun, suaminya tidak membiarkannya pergi semudah itu. Ghibran menarik pinggang Aira, merapatkan tubuh mereka, dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang terasa jauh lebih manis daripada kue mana pun yang sedang mereka buat.
Tamu yang "Rajin" Secara Mendadak
Keesokan harinya, rutinitas pesantren berjalan seperti biasa. Namun, ada satu hal yang janggal. Azka, yang biasanya hanya datang dua atau tiga kali seminggu untuk urusan mendesak, kini sudah memarkir motor trail-nya di depan kantor yayasan sejak pukul delapan pagi. Dan ini adalah hari ketiga berturut-turut ia melakukan hal itu.
Ghibran, yang sedang berdiri di beranda kantor, memperhatikan Azka yang justru tidak berjalan menuju ruangannya, melainkan berjalan ke arah paviliun belakang—tempat Zivanna biasanya membantu administrasi butik Salsabila sambil mengurus bayi Rayyan.
"Azka!" panggil Ghibran dengan nada otoriter yang sengaja ia kuatkan.
Azka tersentak, hampir saja ia menjatuhkan kotak berisi donat yang ia bawa. Ia berbalik dan nyengir lebar. "Eh, Bos! Pagi benar sudah berdiri di sana. Seperti patung selamat datang saja."
Ghibran berjalan mendekat, matanya tertuju pada kotak donat itu. "Laporan dari bank baru akan selesai siang nanti. Jadi, apa alasanmu ada di sini sepagi ini? Dan untuk apa donat-donat itu?"
"Ini... ini untuk asupan nutrisi staf, Ghib," dalih Azka sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku dengar Zivanna dan bayi Rayyan sedang butuh asupan gula. Kasihan mereka, mengurus administrasi butik Aira pasti melelahkan."
Ghibran menyilangkan tangan di depan dada, menatap sahabatnya dengan tatapan menyelidik. "Sejak kapan kau peduli pada nutrisi staf? Biasanya kau hanya peduli pada kopi hitam dan gorengan di pinggir jalan."
"Yah... manusia bisa berubah, kan? Kau saja bisa jadi 'pelayan payung', masa aku tidak boleh jadi 'kurir donat'?" Azka mencoba membela diri.
Ghibran terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman tipis yang sangat langka muncul di wajahnya. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi. Sejak Zivanna menetap di pesantren dan mulai menata hidupnya kembali, Azka memang terlihat lebih sering bertanya tentang keadaan wanita itu.
"Hati-hati, Azka," ujar Ghibran sambil menepuk bahu sahabatnya. "Zivanna sudah melalui banyak hal. Jangan sampai niatmu hanya untuk main-main."
Wajah Azka mendadak berubah serius, sebuah ekspresi yang sangat jarang terlihat. "Aku tahu, Ghib. Aku tidak sedang bermain-main. Aku hanya... entahlah, aku merasa tenang saat melihatnya menggendong Rayyan. Seperti ada kedamaian yang tidak bisa kubeli dengan uang."
Ghibran mengangguk. "Masuklah. Tapi jangan ganggu dia jika dia sedang bekerja. Aira sangat disiplin soal butiknya."
"Siap, Bos!" Azka kembali dengan gaya cerianya, ia melangkah menuju paviliun dengan siulan kecil.
Dari kejauhan, Ghibran memperhatikan Azka yang disambut oleh Zivanna di depan teras. Ia melihat bagaimana wajah Zivanna yang dulunya selalu muram kini mulai bisa tersenyum malu-malu saat menerima pemberian Azka.
Aira datang menghampiri Ghibran, menyodorkan segelas jus jeruk untuk suaminya. "Mas Azka lagi?"
"Iya," jawab Ghibran sambil merangkul pundak Aira. "Sepertinya pesantren kita akan segera menyelenggarakan pernikahan lagi dalam waktu dekat."
Aira tersenyum senang. "Aku ikut bahagia jika itu benar. Zivanna berhak mendapatkan pria yang tulus seperti Mas Azka."
Ghibran mengecup puncak kepala Aira, menatap hari yang semakin cerah di Salsabila. "Semua orang berhak bahagia, Salsabila. Seperti kita."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂