NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FAKTA YANG DI INGINKAN

Pekerjaan input data yang seharusnya memakan waktu hingga malam, berhasil diselesaikan Ana lebih cepat dari perkiraan—sebuah efisiensi yang didorong oleh rasa cemburu dan ingin segera angkat kaki dari sana.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang sangat dikenal Ana menggema di koridor. Adi masuk dengan kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku, dasinya sudah dilonggarkan, dan wajahnya tampak kuyu setelah seharian berurusan dengan birokrasi kampus.

"Selamat sore semuanya," sapa Adi, suaranya yang berat mengisi ruangan. Matanya langsung mencari sosok Ana. "Gimana? udah beres?"

"Sudah, Pak," jawab Ana singkat. Ia bahkan tidak mendongak dari layar laptop, tangannya sibuk merapikan kabel charger dengan gerakan mekanis yang kaku.

Adi mengernyitkan dahi. Biasanya, Ana akan memberikan kerlingan mata atau setidaknya senyum kecut yang menjadi ciri khas 'jutek' kesayangannya. Namun kali ini, atmosfer di sekitar Ana terasa dingin, seolah gadis itu baru saja memasang tembok es setinggi raksasa di sekelilingnya.

"Kamu cepet banget kerjanya, Ana. Makasih banyak ya, gak salah memang Adi hire kamu sebagai asisten pribadi," puji Eva tulus sembari merapikan tasnya. Ia menoleh ke arah Adi lalu kembali ke Ana. "Kalau udah bosen kerja sama Adi, boleh pindah ke saya aja ya, An. Saya butuh orang seteliti kamu."

"Enak aja, aku gak akan ngelepasin Ana semudah itu," sahut Adi cepat, mencoba mencairkan suasana dengan nada kelakar. Ia melirik Ana, berharap mendapatkan reaksi.

Tatapan mereka bertemu sejenak. Ada kilat kekecewaan dan luka di mata cokelat Ana yang membuat jantung Adi berdesir aneh. Ana segera membuang muka, merasa kikuk dan sesak secara bersamaan. Kata-kata Eva di tukang bakso tadi seolah menjadi beban tak kasat mata yang menggelayut di pundaknya. Adi menyatakan cinta... Kalimat itu berputar seperti gasing di otaknya.

"Baik Bu Eva, terima kasih. Kalau gitu saya pamit dulu ya Bu, Pak... takut kesorean," pamit Ana datar. Ia menyampirkan tas tote bag-nya dengan gerakan terburu-buru.

"Bareng aja Ana, saya kebetulan mau ke arah kampus lagi," ajak Adi spontan.

"Lho, gak jadi diskusi kita, Di?" Eva menyela, wajahnya menunjukkan keheranan karena mereka sudah menjadwalkan pembahasan lanjutan sore ini.

Adi menghela napas, matanya masih terpaku pada punggung Ana yang sudah mulai menjauh menuju pintu keluar. "Nanti saya kirim via email aja ya, Va. Capek banget aku hari ini. Mau ke kampus dulu ambil berkas tadi kelupaan, terus langsung balik istirahat biar besok seger."

Eva hanya mengangkat bahu meski tampak sedikit kecewa. "Oke deh, hati-hati."

Di parkiran, Ana mempercepat langkahnya, berharap bisa menghilang sebelum Adi menyusul. Namun, langkah lebar sang dosen tentu lebih unggul. Suara kunci mobil yang terbuka terdengar tepat saat Ana hendak menuju gerbang keluar.

"Ana, masuk," perintah Adi. Bukan permintaan, tapi perintah khas 'Dosen Killer'-nya.

"Saya bisa naik ojek online, Pak," kilah Ana tanpa menoleh.

"Ana. Masuk. Sekarang." perintah Adi dengan nada tinggi tanda tidak ingin dibantah.

Dengan helaan napas panjang yang dramatis, Ana akhirnya membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang. Ia memilih menatap jendela samping, mengamati deretan pohon mahoni yang berjajar di sepanjang jalan keluar laboratorium. Keheningan di dalam mobil terasa begitu pekat, jauh lebih mencekam daripada ruang ujian skripsi.

"Ada apa?" tanya Adi akhirnya setelah mobil melaju di jalan raya.

"Nggak ada apa-apa, Pak."

"Jangan panggil 'Pak' kalau kita cuma berdua, Na. Dan jangan bilang 'nggak ada apa-apa' dengan nada suara dan wajah jutek gitu. Eva ngomong sesuatu?"

Ana terkekeh sinis, masih tanpa menatap Adi. "Bu Eva baik banget, kok. Dia cerita banyak hal. Cerita yang sangat... informatif."

Adi menghela napas, ia mulai paham arah pembicaraan ini. "Informatif soal apa?"

"Soal betapa serasinya kalian dulu. Satu almamater, satu proyek, sering ketemu, sampai akhirnya..." Ana menjeda, tenggorokannya terasa tercekat. "...Bapak menyatakan cinta ke dia. Manis banget ya, Pak. Ternyata Bapak bisa juga se-pujangga itu."

Mobil mendadak melambat. Adi terdiam. Ia tidak menyangka Eva akan membuka kotak pandora itu di depan Ana. Memang benar, itu adalah bagian dari masa lalunya, bagian dari dirinya yang masih muda.

"Itu masa lalu, Ana. Jauh sebelum saya mengenal kamu," ujar Adi tenang, meski tangannya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat.

"Masalahnya bukan soal masa lalunya, Pak Adi yang terhormat," Ana akhirnya menoleh, matanya berkaca-kaca namun suaranya tetap tegas. "Masalahnya adalah bagaimana Bapak dengan mudahnya menyatakan status ke dia dulu, sementara ke saya? Kita ini apa? Asisten? Murid bimbingan? Atau cuma tempat Bapak istirahat sebentar kalau lagi capek sama proyek riset dan tempat Bapak mampir kalo lagi "pengen"?"

"Ana, kenapa kamu ngomong kaya gitu? kamu tahu perasaan saya—"

"Saya nggak tahu kalau Bapak nggak bilang!" potong Ana cepat. "Bapak panggil saya 'sayang' di chat, Bapak kasih perhatian, tapi Bapak nggak pernah benar-benar 'menembak' saya atau seenggaknya memperjelas hubungan ini namanya apa?. Saya merasa seperti pengecut yang bersembunyi di balik status asisten supaya bisa dekat sama Bapak tanpa dicurigai orang-orang, termasuk Bu Eva."

Adi menepikan mobilnya di bahu jalan yang agak sepi. Ia mematikan mesin, membuat kesunyian kembali merayap. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Ana, menatap wajah gadis yang selama beberapa bulan ini telah mengacak-acak ritme hidupnya yang teratur.

"Kamu ingin sebuah pernyataan resmi? Seperti anak SMA?" tanya Adi pelan.

"Saya ingin kepastian. Bukan sekadar panggilan sayang yang terselip di antara perintah input data," suara Ana melemah, ia menunduk, memainkan ujung sabuk pengamannya.

Adi mengulurkan tangan, mengangkat dagu Ana agar mereka saling bertatapan. "Saya nggak menyatakan cinta dengan cara yang sama kayak dulu, karena apa yang saya rasakan ke kamu itu berbeda. Dengan Eva, itu adalah kekaguman antar rekan. Sama kamu... saya sudah lebih dewasa. Jadi apa masih perlu kita main tembak-tembakan?. Saya udah bilang sama kamu soal perasaan saya, bahwa kamu ini adalah sesuatu yang bikin saya ingin selalu pulang. Apa itu nggan cukup, Ana?. Tho kamu bukan lagi anak remaja."

"Nggak cukup," bisik Ana.

Adi tersenyum tipis, sebuah senyum langka yang hanya ia berikan pada Ana. "Oke. Kalau itu yang kamu mau. Denger baik-baik, karena saya nggak akan mengulanginya di depan dewan dekanat."

Ia menarik napas panjang. "Saya, Adi Nugraha, mencintai asisten saya yang paling jutek dan paling keras kepala ini. Saya nggak ingin kamu hanya jadi asisten, saya ingin kamu jadi masa depan saya. Puas?"

Wajah Ana memerah seketika. Kemarahan yang tadi meluap-luap mendadak menguap entah ke mana, digantikan oleh debar jantung yang tak beraturan. Ia ingin tersenyum, tapi gengsinya masih setinggi langit.

"Masih kurang romantis," gumam Ana, mencoba kembali ke mode juteknya, meski matanya sudah berbinar jenaka.

"Besok setelah yudisium, saya akan buat itu jadi sangat romantis. Sekarang, berhenti cemberut. Kita cari makan dulu, Oke?"

Ana mendongak, matanya membelalak. "Lho, bukannya Bapak hari senin sibuk sama dewan dekanat? Aku pikir nggak bisa datang di acara yudisium?"

Adi menyalakan kembali mesin mobilnya, seringai nakal muncul di wajahnya yang biasanya kaku. "Siapa bilang saya nggak datang?. Saya kan bisa dateng setelah prosesi selesai. Kejutan, kan?"

Ana tertegun. Ternyata, di balik sikap formal dan pesan-pesan singkat yang membosankan itu, Adi tetaplah pria yang selalu memprioritaskannya dengan caranya sendiri yang kaku namun pasti.

Dasar Pak Dosen Killer, pergerakannay sellau gak bisa diprediksi. Umpat Ana dalam hati, kali ini dengan senyum lebar yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Sore itu, keruwetan di dalam pikiran Ana telah terurai, digantikan oleh harapan baru yang jauh lebih berwarna. Ternyata, fakta yang tidak menyenangkan bisa berubah menjadi akhir yang manis, asalkan ada keberanian untuk jujur pada perasaan sendiri.

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!