NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya soal waktu

“Apaan sih kalian.”

Rania buru-buru berjalan menuju bangkunya dengan wajah yang masih memerah. Ia langsung duduk dan berusaha bersikap biasa, meskipun jelas terlihat sedikit gugup.

“Ada yang jadian, nih,” goda Clara sambil menyeringai.

“Pajak jadian gak sih?” sambung Lara dengan nada jahil.

Beberapa teman di sekitar mereka ikut tertawa kecil melihat reaksi Rania.

Sementara itu, Bintang langsung menarik kursinya mendekat lalu duduk di samping Rania.

“Dugaan gue benar. Revano suka lo, Ran,” ucapnya dengan nada yakin.

“Apaan sih kalian?" balas Rania, pura-pura sibuk memainkan ponselnya agar tidak perlu menatap mereka. Namun pipinya yang masih sedikit merah membuat teman-temannya semakin yakin ada sesuatu yang terjadi.

“Kalau gak suka, mana mungkin Revano akan pegang tangan Rania. Revano tuh sat-set banget kalau ada yang dia suka,” ujar Clara.

Rania mendesah kesal, masih pura-pura fokus menatap ponselnya.

“Kalian ini lebay banget.”

Bintang menyandarkan dagunya di meja Rania sambil menatapnya penuh selidik.

“Lebay dari mana? Kita semua lihat sendiri tadi.”

Lara langsung ikut mendekat.

“Iya, Ran. Dari depan gerbang sampai sini. Pegangan tangan lagi.”

Rania langsung menatap mereka bertiga dengan wajah kesal yang bercampur malu.

“Itu dia yang maksa!”

Clara langsung tertawa.

“Maksa, tapi kamu gak narik tangan kamu?”

Rania langsung terdiam sesaat.

Bintang langsung menunjuknya.

“Nah loh, diam.”

Rania buru-buru memalingkan wajahnya.

“Gue males debat sama kalian.”

Lara menyenggol bahu Rania pelan.

“Ran, jujur deh.”

“Apaan lagi?”

Lara menyeringai.

“Deg-degan gak?”

Rania langsung melotot.

“GAK!”

Clara dan Bintang langsung tertawa bersamaan.

“Bohong!” ujar Clara.

“Iya, kelihatan banget dari muka lo yang merah itu,” sambung Bintang santai.

Rania buru-buru menutup pipinya dengan kedua tangan.

“Ini panas!”

Clara langsung bersandar di kursinya dengan ekspresi puas.

“Fix.”

Bintang mengangguk setuju.

“Rania lagi jatuh ke perangkap Revano.”

“Enak aja!” protes Rania cepat.

Lara justru menambahkan dengan nada dramatis.

“Dan kisah cinta paling heboh di sekolah kita… akhirnya dimulai.”

Rania langsung mengambil buku di mejanya lalu memukul pelan bahu Lara.

“Kalian bertiga berisik banget!”

Namun mereka justru semakin tertawa melihat Rania yang semakin salah tingkah.

~~

“Ada yang panas, tapi bukan matahari,” ucap Rivan dengan nada menyindir.

“Nyesal gak, sih?” sambung Ivan dengan senyum meremehkan.

Di samping mereka, Adrian tampak terbakar api cemburu saat melihat Revano dan Rania berjalan bergandengan tangan.

“Diam lo berdua,” ucap Adrian singkat.

Tanpa menunggu balasan dari mereka, ia langsung pergi meninggalkan tempat itu.

“Brengsek! Gue gak akan biarin Rania bahagia,” gumamnya dengan tangan mengepalkan kuat.

Adrian kemudian terdiam sesaat, seolah memikirkan sesuatu.

“Tapi apa mungkin Rania sudah move on dari gue?” gumamnya pelan.

Beberapa detik kemudian, senyum miring terukir di bibirnya.

“Pasti dia cuma memanasi gue. Mana mungkin secepat itu dia melupakan gue.”

~~

“Yang sabar ya, Bro," Willy menepuk bahu Rendra ketika melihat Revano dan Rania berjalan bersama. Ia tahu sahabatnya itu menyukai Rania.

Rendra tersenyum tipis, lalu berkata pelan, “Ada hal-hal yang tidak ingin terjadi tetapi harus diterima, hal yang tak ingin diketahui tetapi harus dipelajari, dan orang-orang yang tidak dapat hidup tanpanya tetapi harus dilepaskan.”

Willy mengangguk setuju.

“Jadilah cukup kuat untuk melepaskan dan cukup sabar untuk menunggu apa yang pantas kamu dapatkan.”

“Semoga Rania bahagia dengan Revano, dan gue harap Revano menjaganya dengan baik,” ujar Rendra.

Willy tersenyum bangga pada sahabatnya.

“Kita ke kelas.”

Rendra mengangguk, lalu mereka mulai berjalan menyusuri koridor sekolah.

“Lo bagaimana dengan Freya?” tanya Rendra sambil terus melangkah.

“Semenjak Rania bilang kalau Freya juga suka sama gue, gue berusaha deketin dia. Tapi setiap gue ke mansion-nya, Freya selalu gak ada,” jawab Willy.

“Sabar aja. Mungkin kemarin gak ketemu. Bisa saja hari ini,” ucap Rendra menenangkan.

Tiba-tiba—

Brugh!

“Auh…” rintih seseorang.

“Eh, Freya! Sorry, gue gak sengaja,” ucap Willy dengan nada penuh penyesalan saat ia tanpa sengaja menabrak Freya yang baru keluar dari kelas.

“Iya, gak apa-apa, Willy. Gue juga tadi jalan buru-buru,” ucap Freya dengan nada berusaha tenang, meskipun jantungnya sedikit berdebar melihat Willy.

Willy mengangguk.

“Kelas lo di sini?”

“Iya,” jawab Freya singkat. “Ya udah, gue duluan.”

Namun sebelum Freya benar-benar pergi, Willy langsung mencegat tangannya.

“Ada apa?” tanya Freya.

“Kemarin lo ke mana? Gue ke mansion lo, tapi lo gak ada.”

“Gue main sama Bunga. Ngapain lo ke mansion gue?”

“Cuma mampir aja, sih,” balas Willy santai.

Freya mengangguk-angguk pelan.

“Ya udah, lepasin tangan gue.”

“Iya, sorry.” Willy segera melepaskan tangannya, lalu mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Freya. “Catat nomor lo.”

Freya mengerutkan keningnya, tapi tetap mengetikkan nomornya di ponsel Willy.

“Sudah. Gue pamit.”

Tanpa menunggu balasan dari Willy, Freya langsung pergi dengan langkah cepat, sementara jantungnya berdetak tidak karuan.

Rendra yang sejak tadi memperhatikan hanya tersenyum kecil.

“Gue juga bilang apa, gak ketemu kemarin, tapi hari ini.”

Willy menoleh ke arahnya.

“Takdir Tuhan memang gak bisa ditebak.”

~~

Dorrr!

“Astaga, Qis! Ngagetin aja, sih,” kesal Freya ketika Balqis tiba-tiba mengagetkannya dari pintu kelasnya.

Balqis tersenyum jahil.

“Cieee… ada tukaran nomor ponsel nih,” godanya setelah melihat interaksi Freya dengan Willy tadi.

Mata Freya langsung melotot.

“Apaan sih, gak jelas banget,” ucapnya sambil buru-buru pergi meninggalkan Balqis.

Melihat tingkah sahabatnya itu, Balqis hanya tersenyum simpul sebelum akhirnya masuk ke kelasnya.

~~

“Memang benar lo jadian sama Rania?” tanya Darren pada Revano saat mereka masuk ke dalam kelas.

Revano hanya membalas dengan anggukan singkat.

“Lo sat-set juga, baru juga PDKT beberapa hari,” sahut Reyhan sambil terkekeh kecil.

Revano yang sedang meletakkan tasnya di meja hanya melirik sekilas, lalu duduk santai di kursinya.

“Bukan PDKT,” ucapnya datar.

Darren mengangkat alis.

“Terus?”

Revano bersandar di kursinya.

“Langsung jadian.”

Reyhan langsung tertawa.

“Gila, pede banget lo.”

Darren ikut duduk di kursi depan meja Revano sambil menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Serius, Van?”

Revano mengangguk singkat.

“Iya.”

Reyhan menepuk meja pelan.

“Parah sih. Rania baru putus beberapa hari yang lalu, lo sudah gerak cepat banget.”

Revano tidak menanggapi, ia hanya mengambil ponselnya.

Darren menyipitkan mata.

“Dia nerima?”

Revano terdiam sebentar.

“Belum sepenuhnya.”

Reyhan langsung tertarik.

“Maksudnya?”

Revano mengangkat bahu santai.

“Dia belum punya perasaan.”

Darren dan Reyhan saling pandang.

“Terus lo bilang jadian?” tanya Darren heran.

Revano menatap mereka dengan wajah tenang.

“Iya.”

Reyhan tertawa lagi.

“Van, Van… kalau orang lain mungkin udah ditampar.”

Revano justru tersenyum tipis.

“Dia gak nolak.”

Darren menyandarkan punggungnya di kursi.

“Berarti masih ada harapan.”

Revano menatap lurus ke depan.

“Bukan harapan.”

Reyhan mengernyit.

“Terus?”

Revano menjawab singkat dengan nada penuh keyakinan.

“Cuma masalah waktu.”

Ia menatap Darren.

“Lo tahu Rania baru putus dari mana?”

“Ya elah, Van. Masalah ginian mah gampang buat gue,” jawab Darren santai. “Saat tahu dia dekat sama lo, gue langsung cari tahu tentang dia.”

“Lo tahu alasan dia putus sama mantannya?” tanya Revano kembali.

Darren mengangguk.

“Apa?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!