Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku ini Siapanya Kamu
Damar menarik Kirana ke dalam pelukannya Kirana sempat berontak.
“Lepas…” ucapnya pelan tapi penuh emosi.
Namun Damar tidak melepas Damar justru memeluknya lebih erat.“Jangan marah," Kalimatnya sempat berjeda, "Aku tersiksa,” bisik Damar pelan di dekat telinga Kirana.
Kirana menahan napas. “Emangnya aku nggak?” sahutnya cepat, masih terisak nada suaranya bergetar antara marah dan sedih.
“Terus aku harus gimana," Bisik Damar lagi, "supaya kamu nggak marah lagi?” katanya masih memeluknya.
Kirana tidak menjawab dia tetap diam, dia napak pasrah dalam dekapan Damar. Detak jantung Damar terdengar jelas dan entah kenapa membuatnya Kirana semakin tegang.
Damar tersenyum kecil tangannya terangkat, perlahan membelai rambut Kirana suasana hening. Seolah dunia di luar berhenti sejenak beberapa menit berlalu tanpa kata hanya napas mereka yang saling bersahutan.
Damar kemudian meraih wajah Kirana pelan mengarahkan wajahnya agar Kirana menatapnya.
Mata mereka bertemu dalam Damar mendekat Kirana sempat mundur sedikit namun tatapan Damar menahannya.
Ada sesuatu di sana kerinduan, penyesalan dan hasrat, perlahan Damar mengecup Kirana, lembut hati-hati seolah takut kehilangan momen.
“Aku kangen…” bisik Damar di sela napas dia mencium Kirana lagi kali ini lebih dalam lebih menekan, tangan Kirana refleks mencengkeram lengan Damar.
Tidak menolak tapi juga belum sepenuhnya menerima dekapan mereka semakin erat. Hingga Kirana terdorong sedikit ke belakang.
Napas mereka mulai tak teratur setuhan Damar mulai tak terkontrol Kirana mulai kehilangan kendali atas tubuhnya, Saat tangan Damar mulai menyasar kancing kemejanya Kirana terkesiap.
“Damar, jangan ” suara Kirana pelan, hampir berbisik.
Damar langsung berhenti nafasnya masih memburu seolah tak rela momen ini terlewatkan. Namun akhirnya Damar menjauh sedikit, mencoba mengatur napasnya.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap masih dekat dan asih hangat.
“Kalau kamu nggak serius sama aku,” ucap Kirana pelan, “jangan dilanjutkan.”
Kalimat itu langsung membuat suasana berubah Damar terdiam tatapannya berubah terlihat ragu.
Kirana menatapnya sekarang. “Jadi aku ini apa, Damar?”
Hening Damar menarik napas panjang. “Aku, suka sama kamu,” kata Damar jujur. “Tapi untuk komitmen, aku nggak yakin bisa.”
Wajah Kirana berubah.“Kamu anggap aku wanita apa?” tanyanya Kirana kesal
“Bukan begitu,” jawab Damar cepat. “Aku nggak yakin Aku bisa sesuai harapan kamu,"
Kirana terdiam kalimat itu menusuk.
“Harapan aku, aku bukan orang yang menaruh ekspetasi tinggi,” Sahut Kirana, “Kirana hidupku nggak sederhana dan aku nggak mau kamu terluka karena itu.”
Kirana menatapnya lama matanya mulai berkaca-kaca.
“Kalau begitu," suaranya melemah, “ngapain kamu lakukan semua ini?” Kirana mendorong dada Damar pelan, hendak menjauh.
Namun Damar segera menarik tangannya.“Kirana,” Nafasnya masih memburu “Kasih aku waktu,” ucap Damar serius Kirana menatapnya tajam.
“Lepasin aku Damar,” kata Kirana tegas Damar menghela napas panjang dia menatap Kirana dalam. “Aku nggak bisa” kata Damar jujur hendak mencium Kirana lagi
Kirana langsung mengernyit memalingkan wajahnya “Jangan?" Damar tersenyum tipis kali ini dia benar-benar menjaga jarak.
Kirana membenahi dirinya merapikan bajunya. "Jangan ada kontak fisik," ucap Kirana sambil melirik Damar, "Kalau nggak ada status aku yang rugi," kata Kirana terdengar serius.
Damar tersenyum meperhatikan Kirana “Kalau kamu merasa rugi aku bisa ganti rugi sekarang juga,"
Kirana menatap Damar heran. “Maksudnya?"
Damar menyandarkan tubuhnya ke sofa, masih menatap Kirana.
“Kamu boleh ngelakuin apa aja sama aku, aku nggak akan melawan,” kata Damar santai sambil melentangkan tangannya
Kirana membelalakkan mata, "Ih Apaan sih," Damar tertawa kecil.
“Intinya," kata Damar lebih tenang, “aku tertarik sama kamu.” dia berhenti sejenak. “Dan itu bukan hal main-main.” Kirana masih menatapnya, mencoba memahami.
“Soal Komitmen” lanjut Damar, “Kamu pikir dulu aku prajurit.”
Kirana menghela napas panjang. Dalam hati dia bergumam, red flag juga ini orang namun matanya tidak bisa berbohong Kirana benar-benar tergila-gila kepada Damar.
“Aku cuma,” Damar menatap Kirana lebih lembut "nggak mau kamu terluka,”
Hening, Kirana menunduk perasaannya campur aduk.
antara marah dan kecewa tapi juga tidak ingin pergi.
kembali menatap Damar.
“Kalau gitu, mau kamu apa” kata Kirana pelan, “kita Jalani aja seperti ini.” Kata Damar mulai mendekat dan mencium Kirana lagi.