NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Malam itu aku sedang duduk di ruang tengah sambil menggendong bayiku. Ia baru saja selesai menyusu dan kini tertidur dengan wajah yang begitu tenang. Aku menatapnya lama, hati terasa hangat setiap melihatnya.

Di dapur, Arumi baru saja pulang dari kedai ayam geprek kami. Ia langsung duduk di kursi sambil meregangkan tubuhnya.

"Capek banget hari ini, Ran," keluhnya.

Aku tersenyum kecil.

"Ramai?"

"Iya, alhamdulillah. Banyak yang beli."

Belum sempat kami berbincang lebih lama, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah.

Aku dan Arumi saling berpandangan.

"Siapa malam-malam begini?" gumam Arumi.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk cukup keras.

Tok… tok… tok…

Arumi berdiri dengan wajah sedikit kesal lalu berjalan membuka pintu.

"Iya iya, sebentar…"

Namun begitu pintu terbuka, wajah Arumi langsung berubah.

"Kalian?!"

Dari dalam rumah aku sudah bisa menebak siapa yang datang.

Mas Bram.

Dan Monika.

Entah dari siapa mereka tahu aku sudah melahirkan.

Mereka masuk begitu saja seolah rumah ini milik mereka.

Arumi langsung berdiri menghadang dengan wajah kesal.

"Heh! Malam-malam datang ke sini mau apa kalian?"

Monika memandang rumah kami dengan tatapan merendahkan sebelum akhirnya menatapku yang sedang menggendong bayi.

"Cuma mau memastikan sesuatu," ucapnya santai.

"Mastikan apa?" balas Arumi ketus.

Bram tidak menjawab. Ia justru menatap bayi di pelukanku dengan sorot mata tajam.

"Jadi benar… kamu sudah melahirkan," ucapnya pelan.

Tanganku refleks memeluk bayiku lebih erat.

Monika melangkah mendekat sambil menyilangkan tangan di dada.

"Itu anak siapa, Rania?"

Arumi langsung mendengus kesal.

"Monika! Kamu itu nggak punya hati ya? Rania sudah hampir tiga minggu melahirkan, bukannya datang bawa doa malah datang bikin masalah!"

Monika mencibir.

"Kami cuma ingin tahu kebenarannya."

Bram masih menatapku tanpa berkedip.

"Jawab aku, Rania," katanya dingin.

"Itu anak siapa?"

Suasana rumah kecil itu langsung dipenuhi ketegangan.

Arumi berdiri di sampingku seperti siap melindungi.

"Anak siapa juga bukan urusan kalian!" bentaknya.

Monika tersenyum sinis.

"Kenapa jadi panik begitu? Jangan-jangan memang ada yang disembunyikan."

Bayiku mulai bergerak kecil dalam pelukanku karena suara ribut di rumah.

"Cukup, Mas! Cukup dengan pertanyaan-pertanyaan kamu yang konyol itu!" ucapku dengan suara bergetar menahan marah.

Bram menatapku tanpa ekspresi.

Aku menatapnya tajam.

"Kau tahu kan aku istri kamu! Kenapa kamu masih bertanya anak siapa ini?" sinisku.

Monika langsung tertawa kecil dengan wajah mengejek.

"Hallah, sudah Ran! Kamu nggak usah banyak pembelaan," ucapnya meremehkan.

Amarahku semakin memuncak. Aku langsung menoleh tajam ke arahnya.

"Diam kau, Mon!" bentakku.

Ruangan itu langsung hening.

"Ini urusan aku dan Mas Bram!" lanjutku dengan napas memburu.

Suasana rumah kecil itu semakin panas. Tatapan Monika penuh ejekan, seolah ia sedang menikmati keributan yang ia buat sendiri.

Dengan wajah sinis ia melangkah sedikit mendekat.

"Kata siapa ini bukan urusanku!" ucapnya ketus. "Aku ini istri pertama Bram, jadi aku berhak tahu itu anak siapa!"

Aku menatapnya tajam.

Monika tersenyum miring lalu melanjutkan ucapannya dengan nada penuh tuduhan.

"Siapa tahu kamu selingkuh di belakang Bram dengan dokter itu."

Kata-kata itu seperti menyulut api di dalam dadaku. Tanganku langsung mengepal, sementara bayiku bergerak kecil dalam pelukanku.

Aku menahan emosi yang hampir meledak.

"Diam kau, Monika!" bentakku keras.

Arumi sampai sedikit terkejut melihatku yang biasanya lebih banyak diam.

Aku menatap Monika tanpa takut sedikit pun.

"Meskipun aku istri kedua Mas Bram," ucapku tegas, "tapi aku tidak serendah itu!"

Wajah Monika langsung berubah tidak suka.

Sedangkan Bram hanya berdiri diam, memperhatikan kami berdua tanpa mengatakan apa-apa.

Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk.

"Mas," ucapku lirih namun tegas, "kalau kamu datang hanya untuk menuduhku seperti ini… lebih baik kalian pulang."

"Ayo, Mas. Kita pergi saja! Nggak ada gunanya juga di sini," seru Monika sambil menarik lengan Bram.

Bram sempat menoleh ke arah pintu, seolah benar-benar akan pergi.

Namun hatiku tiba-tiba terasa sesak.

"Kamu yakin nggak mau lihat anak kamu, Mas?" seruku.

Langkah Bram terhenti.

Monika langsung menoleh tajam ke arahku.

"Untuk apa?" katanya sinis.

Arumi yang sejak tadi menahan emosi langsung menyahut dengan kesal.

"Untuk lihat anaknya lah! Pakai nanya lagi," jawabnya ketus.

Suasana kembali hening.

Bram perlahan menoleh ke arahku. Tatapannya jatuh pada bayi yang masih berada dalam pelukanku.

Aku mengelus pelan pipi kecil bayi itu.

"Dia sangat mirip denganmu, Mas," ucapku pelan.

Bram terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah ini, sorot matanya berubah. Ada sesuatu di wajahnya—entah ragu, entah terkejut.

Monika langsung tertawa mengejek.

"Halah, mirip katanya. Bayi baru lahir juga semuanya mirip," sindirnya.

Namun Bram tidak menanggapi Monika.

Tatapannya masih tertuju pada bayi itu.

Sementara aku berdiri di tempatku, menunggu… apakah ia cukup berani untuk melihat anaknya sendiri.

Mas Bram berjalan perlahan menuju ke arahku. Langkahnya pelan, seolah ragu, namun tetap mendekat. Tatapannya tidak lepas dari bayi yang ada di pelukanku.

Suasana rumah mendadak menjadi sangat sunyi.

Monika yang sejak tadi berdiri di dekat pintu terlihat mulai gelisah. Ia terus memperhatikan Bram dengan wajah tidak tenang.

Aku tahu betul apa yang ia rasakan.

Ia takut.

Takut kalau Mas Bram akan luluh… takut kalau melihat bayi ini akan membuat hatinya berubah.

"Udah, Mas. Ayo pulang," seru Monika dengan nada tidak sabar.

Namun Bram tidak menoleh sedikit pun ke arahnya.

Langkahnya tetap maju mendekatiku.

Arumi yang berdiri di sampingku hanya melipat tangan di dada sambil menatap Monika dengan sinis.

Sedangkan aku… jantungku berdegup semakin kencang.

Beberapa langkah lagi, Bram sudah berdiri tepat di depanku.

Tatapannya turun ke arah bayi kecil yang sedang tertidur dalam pelukanku.

Untuk beberapa saat, ia hanya diam.

Aku bisa melihat perubahan di wajahnya.

Bayiku bergerak kecil, lalu membuka matanya perlahan. Mata kecil itu menatap ke arah Bram tanpa tahu siapa yang sedang berdiri di hadapannya.

Aku menelan ludah.

"Mas…" ucapku pelan.

Bram masih menatap bayi itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Lalu tanpa sadar, ia sedikit menundukkan tubuhnya… semakin dekat untuk melihat wajah anak itu.

Mas Bram menundukkan tubuhnya sedikit, memperhatikan wajah bayi kecil yang ada di pelukanku. Bayiku yang tadi sempat membuka mata kini kembali tenang, menatap kosong ke arah wajah pria yang berdiri di depannya.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Lalu tiba-tiba Bram berkata pelan,

"Benar… dia sangat mirip denganku."

Aku dan Arumi langsung saling bertatapan.

Arumi masih dengan wajah datarnya, seolah tidak ingin menunjukkan reaksi apa pun di depan Bram dan Monika. Namun aku tahu ia juga terkejut mendengar pengakuan itu.

Sementara Monika di belakang Bram terlihat semakin tidak tenang.

Bram kembali menatap wajah bayi itu lebih lama. Entah apa yang sedang ia pikirkan.

"Kamu beri nama siapa, Ran?" tanyanya akhirnya.

Aku mengelus pelan kepala bayi kecilku.

"Alea," jawabku pelan.

"Alea…" ulang Bram lirih.

Untuk sesaat suasana menjadi sangat tenang.

Nama itu terdengar lembut di dalam rumah kecil kami.

Namun dari belakang, Monika langsung memecah keheningan dengan nada tidak suka.

"Halah, cuma mirip sedikit saja sudah percaya begitu," gumamnya sinis.

Arumi langsung mendengus kesal mendengar ucapan itu.

Sedangkan aku tetap memeluk Alea dengan erat.

Apa pun yang Monika katakan…

bagiku yang terpenting sekarang hanya satu.

Alea. Anak kecil yang menjadi alasan terbesarku untuk tetap kuat.

****

1
Kirana Sakira
semakin seru ceritanya....mantaaaappppp...👍👍👍👍👍
icha aghbath
udah bisa ngambil keputusan itu rania jgn banyak nga enakan lagi.. kan malah jadi emosi liat rania lelet bgt mikir kedepannya
Nur Janah
tuuhhh kaannn🤭🤭
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!