Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.
Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.
Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.
Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.
Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.
Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.
Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.
Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.
Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.
Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ki Jalak Lawu
“Hai Aki…. Namaku Anandhita, apakah kamu akan menemani perjalananku?” Sapa Anandhita pada seekor burung yang hinggap di dahan yang berdekatan dengan pucuk cemara tempat Anandhita menapakkan kakinya.
Sebenarnya Anandhita sudah merasa kehadiran burung tersebut sejak memasuki Cemoro Sewu. Seekor burung berbulu hitam dan mempunyai paruh berwarna kuning gading.
Awalnya Anandhita hanya menyangka sebuah kebetulan saja, akan tetapi, karena burung tersebut tetap mengikutinya dari jauh, akhirnya Anandhita menginginkan untuk menjadikannya teman selama perjalanan.
Burung tersebut merasa tidak asing dengan arua yang ada di tubuh Anandhita, terutama pada sayap Anandhita.
Akan tetapi, karena aura tersebut berpadu dengan aura Darah Dewa yang mengalir pada tubuh seorang gadis kecil, menyebabkan aura tersebut terasa berbeda.
“Aku Ki Jalak Lawu. Kamu boleh memanggilku Anis Lawu ataupun Anis Gunung. Kalau kamu berlaku baik kepadaku, aku akan menemani perjalananmu.” Jawab Jalak Lawu layaknya seorang anak kecil, menirukan tingkah dan logat Anandhita.
‘Bukankah seharusnya Burung Kutilang? Kenapa ini Burung Jalak ya?’ Batin Anandhita yang baru mengetahui bahwa jenis burung tersebut adalah burung Jalak.
Sedangkan di lagu anak-anak jelas-jelas disebutkan Burung Kutilang-lah yang bernyanyi di pucuk pohon cemara.
“Baiklaaah… Aku akan memanggilmu Anis Lawu. Aku akan berlaku baik kepadamu.” Anandhita menganggukkan kepala, Seutas senyuman terlintas di bibir mungilnya.
Kamu boleh hinggap di pundakku. Kita kembali kesana.” Ucap Anandhita seraya menunjuk ke tempat Dimas Arya menunggunya.
Dimas Arya hanya menatap bayangan Anandhita di kejauhan dengan harap-harap cemas.
Cemas karena tidak tahu apa yang terjadi dengan Anandhita, dan juga cemas dengan dirinya sendiri yang ditinggalkan Anandhita di kegelapan.
“Aku akan terbang sendiri.” Ucap Ki Jalak Lawu.
“Baiklah, mari kita berlomba!” Sahut Anandhita.
Anis Lawu melesat kearah Dimas Arya. Dimas Arya sama sekali tidak dapat melihat ataupun merasakan kehadiran Ki Jalak Lawu yang hinggap di bebatuan cadas di atasnya.
Alih-alih mengejar Anis Lawu, Anandhita malah terbang semakin tinggi, berhenti sejenak di angkasa, menutup kedua sayapnya, kemudian menukik tajam dengan posisi kepala terlebih dahulu kearah Dimas Arya.
“Blak!!” Anandhita seketika membentangkan sayapnya dan berhenti seketika sebelum kepalanya menghantam ke tanah.
Dalam kedipan mata, Anandhita sudah berada di depan Dimas Arya. Anandhita membalikkan tubuhnya dan berdiri dengan sempurna, menginjakkan kakinya satu persatu ke tanah, tepat di dihadapan Dimas Arya.
“Jangan ulangi lagi!! Jangan jauh-jauh dariku!!” Kata Dimas Arya dengan nafas sedikit memburu karena keterketujannya menyaksikan atraksi yang diakukan Anandhita.
Anandhita hanya tersenyum lebar menyaksikan kecemasan dan keterkejutan terbias bersama di wajah Dimas Arya.
“Kak Arya, kenalkan temanku Ki Anis Lawu.” Anandhita menunjuk burung yang masih bertengger di bebatuan cadas di atas Dimas Arya dan Anandhita berdiri.
Dimas Arya yang belum mengerti apa yang dimaksud Anandhita, menolehkan kepalanya kebelakang sambil menengadah ke arah yang ditunjukkan Anandhita.
Dimas Arya sedikit heran tahu-tahu ada burung jalak hitam berparuh gading, hinggap di atas bebatuan cadas di belakangnya.
“Perkenalkan, nama saya Dimas Arya, teman seperguruan Anandhita.” Ucap Dimas Arya sambil menganggukkan kepala perlahan.
Tak mungkin juga ia menjabat sayap si burung jalak seperti berjabatan tangan layaknya dua orang manusia yang sedang berkenalan.
Ki Jalak Lawu menganggukkan seluruh badannya untuk membalas salam Dimas Arya, karena kalau hanya menganggukkan kepala mungkin tidak akan kentara, Dimas Arya tidak akan bisa melihatnya, nanti Dimas Arya mengira ia terlalu sombong tidak mau membalas salamnya. (Mungkin demikian maksud hati Anis Lawu).
“cuit..cuit… ckck.. siut siut… cr cr… (Kalian harus melanjutkan perjalan. Carilah tonjolan-tonjolan di bebatuan cadas itu sebagai pegangan, dan sela-sela lobang sebagai pijakan)” Kata Anis Lawu menjelaskan.
Anandhita mengangguk tanda mengerti, sedangkan Dimas Arya mengambil posisi kuda kuda dan berniat akan melompat ketika Anandhita tiba-tiba menarik lengannya, mengurungkan niatnya untuk melompat. Hampir saja Dimas Arya terjatuh dibuatnya.
“Kata Kakek, kita harus melewatinya setahap demi setahap, tidak boleh melompat!” Anandhita mengingatkan Dimas Arya.
Dimas Arya menepuk dahinya dan mengurungkan niatnya untuk melompat.
Anandhita mencari tonjolan dan sela-sela di bebatuan cadas itu sebagai pegangan sekaligus tempatnya berpijak dan memastikan kepadatannya.
Anandhita mulai merayap perlahan mendaki bukit batu cadas yang menjulang setinggi tiga pohon cemara.
Dimas Arya yang tidak mau ditinggalkan lagi segera menyusul mengikuti gerakan dan jejak Anandhita.
Sedangkan Ki Jalak Lawu melompat dari tonjolan batu yang satu ke batu lain yang lebih tinggi mendampingi mereka berdua.
Tak lama kemudian, Anandhita sudah sampai di atas bukit batu cadas. Anandhita merebahkan tubuhnya, tertelungkup di bibir bukit dan mengarahkan tangannya ke arah Dimas Arya untuk membantunya berpegangan. Dan Dimas Arya juga sudah sampai pula di atas bukit batu cadas.
Setelah mengambil beberapa helaan nafas, mereka pun melanjutkan perjalanan. Walaupun jalan di depannya masih jalan berbatu, namun tidak seterjal sebelumnya.
Mereka masih bisa melaluinya dengan berjalan kaki dengan badan sedikit condong kedepan untuk menyesuaikan diri dengan ketinggian sudut pijakan kaki.
Anandhita dan Dimas Arya berjalan beriringan. Nafas Dimas Arya sedikit memburu, tapi Anandhita masih terlihat biasa.
“Anis Lawu… bolehkan aku bertanya sesuatu kepadamu?” Anandhita bertanya kepada Ki Jalak Lawu seraya menolehkan kepala pada si burung yang bertengger di bahunya.
“Cuit (Tentu saja)” Jawab Anis Lawu.
“Kenapa kau mengikutiku? Aku sudah melihatmu sejak dari Cemoro Sewu.” Lanjut Anandhita.
“Cuit…siut…(Aku kira kamu temanku.)”
“Bukankah kita memang sudah berteman?”
“Cuit cuit.. cr..(Aku kira kamu adalah temanku yang dulu)”
“Ehmmm... Ceritakan kepadaku.” Sambil terus berjalan, Anandhita bercakap-cakap dengan Ki Jalak Lawu.
Semenjak mengetahui Anandhita berbicara dengan sepasang rusa saat memulai perjalanan mereka, Dimas Arya sudah tidak terkejut lagi saat Anandhita sekarang berbincang-bincang dengan seekor burung.
Apalagi dengan adanya seoasang sayap di punggung Anandhita yang nampak seperti sayap burung besar, Dimas Arya menduga mereka mempunyai asal yang sama, tapi bagaimana caranya? Dimas Arya tidak mengetahuinya.
Haha, salam dari Clarissa ❣️