Sita adalah gadis yang sangat menjauhi percintaan. Kenangan masa lalu yang meninggalkan noda dalam hatinya.
Erick datang menyelamatkan Sita dari kekangan sang ayah yang ingin menjualnya. Untuk mengajak menjadi istri hanya untuk membuktikan kalau ia bisa melupakan mantan kekasihnya.
Sebuah kepura-puraan membawa luka pada hidup Sita. Lelaki yang ia harapkan bisa membawanya dalam kebahagiaan justru menyakitinya.
"Kamu sangat indah Sherena ...."
Seketika hati Sita seperti di iris-iris. Bagaimana tidak, di saat Erick sedang menikmati tubuhnya justru menyebut nama orang lain yang telah pergi darinya.
Saat Erick menyadarkan semua telah terlambat. Sita telah pergi dari hidupnya. Akankah dengan seiring berjalannya waktu mereka akan dipertemukan lagi oleh takdir?
Folow Ig author @Samar_Jenny1
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama Kali Merasakan
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 : 00 para tamu sudah pergi dan rumah dengan cepat dibersihkan oleh para pelayan sehingga rumah bersih seperti sedia kala.
Dari balkon kamar Sita berdiri di sana menatap langit yang meredup akibat bulan tertutup oleh awan hitam. Sepertinya hujan akan datang karena angin mulai berembus dengan kencang membuat daun-daun berguguran dari pohonnya.
Erick yang baru memasuki kamar mendengar suara isakan tangis seorang perempuan. Ia mencari sumber suara tersebut, mencari keberadaan Sita di dalam kamar tidak ada. Pikirannya langsung mengarah ke suara tersebut. Ia langsung menerka bahwa isakan tangisan itu adalah Sita.
Ia melangkah menuju balkon berdiri di belakang Sita yang sedang menangis di bawah langit hitam.
“Apa kamu menangis, Sita?” tanyanya membuat Sita seketika mengusap air matanya. Lalu Erick berjalan berdiri tepat berada di samping Sita.
Sita terisak-isak walau ia sudah mencoba menahannya tapi itu sangat sulit. Tangis Sita kembali pecah ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Ia seperti tidak mempunya harga diri di hadapan Erick.
“Ayo masuk, angin malam ini sangat kencang. Kamu bisa masuk angin nanti kalau terlalu lama di sini.” Erick menggandeng tubuh Sita membawanya masuk ke dalam kamar. Setelah Sita duduk ia berbalik memilih akan ke sofa. Kalau boleh jujur, ia sangat malu melihat pakaian Sita. Perempuan itu mengenakan lingerie berwarna merah hati membuat naluri kelelakian Erick tergugah. Namun lelaki itu masih bisa menahan hasratnya karena ia tahu Sita tidak menginginkannya saat ini.
“Kamu mau ke mana?” tanya Sita menghentikan langkah Erick.
“Aku hanya merasa pusing. Aku akan pergi ke ....”
“Black Devils?” sambung Sita sebelum Erick melanjutkan kata-katanya.
Erick diam tidak menjawab. Ternyata Sita bisa menebak ke mana ia akan pergi tanpa memberitahunya. “Aku hanya ingin pergi keluar sebentar.” Ia segera pergi dengan langkah cepat ia keluar dari kamar.
Ternyata benar apa yang dikatakan Sherena. Sita harus menyimpan perasaannya kalau sewaktu-waktu ia jatuh cinta pada Erick. Karena lelaki itu tidak akan pernah mencintainya di hatinya masih ada Sherena wanita pertama yang telah ia tiduri.
Setelah waktu hampir dini hari pukul 03:00 Sita belum bisa tidur. Ia berguling ke kanan dan ke kiri tampak gelisah tidak bisa tidur, dengan secara bersamaan hujan turun dengan lebat. Entah kenapa rasa khawatir melingkupi pikirannya tentang Erick belum juga kunjung pulang. Sita tahu Erick pasti pergi untuk minum karena ia sangat terpukul dengan kedatangan Sherena.
Tak selang berapa lama, saat ia sudah mulai hanyut tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Bruk!
Sita mendongakkan kepala menatap dari balik balutan selimut siapa yang terjatuh itu. Ia melihat Erick tersungkur di lantai lemah dan bicara meranyau tidak jelas. Sita seketika menyingkap selimut lalu berjalan ke arah Erick.
Tercium aroma alkohol yang menyengat dari tubuh Erick. Dengan segera ia membopong tubuh lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya itu, walau agak kepayahan ia membawa tubuh yang setengah sadar itu ke tempat tidur. Saat meletakkan tubuh Erick ia pun ikut ter jerambah di atas tubuh Erick.
Sita ingin segera bangkit. Namun tangan Erick justru melingkar di punggungnya mengunci sehingga ia tidak bisa beranjak dari atas sana.
“Erick, kamu mabuk. Biar aku buatkan minuman hangat.” Sita mencoba melepaskan tubuhnya, tetapi Erick justru semakin mempererat tangannya.
“Tetap di sini sayang ... jangan tinggalkan aku sendiri,” ucap Erick dengan suara mengerinyau.
Sayup-sayup Erick membuka mata melihat gadis cantik dengan pakaian seksi bibir mungil membuat ia tergoda. Ia pun lengah melepas tangannya lalu melabuhkan satu jarinya untuk menyusuri wajah Sita. “Kamu cantik sekali ....” pujinya.
Seketika pipi Sita merah dan ada hal aneh yang mengeloyor dalam tubuhnya. Wajahnya terasa panas, tapi ia buru-buru menyadarkan diri dari buaian Erick.
“Maaf, Erick. Aku harus pergi, tubuhmu sangat bau alkohol kau harus mengganti pakaian.”
“Aku hanya ingin bersamamu, sayang ....” Erick dengan mata terbuka samar mengangkat tubuhnya untuk duduk di sebelah Sita.
“Tapi Erick!”
“Sudah berapa kali aku mengatakan. Panggil aku Mas. Tapi kamu selalu memanggilku dengan sebutan tuan atau Erick. Sepertinya kau harus di beri hukuman.”
“Apa yang kamu lakukan, Mas. Aku harus menyiapkan air hangat buat kamu buat Mandi. Supaya tubuhmu segar.” Sita berbalik akan pergi, dengan cepat Erick menarik tangan Sita hingga kembali terduduk di hadapannya.
“Sita, Kamu adalah wanita yang paling cantik di dunia ini.” Erick membelai-belai rambut istrinya lalu mencium aroma sampo yang ekstra melon itu.
Kebanyakan minum alkohol ternyata membuat Erick seperti orang gila. Lelaki itu menatap wajah Sita layaknya sebuah bunga yang siap dihisap madunya.
Sita sangat panik dan takut, bagaimana jika Erick berbuat hal-hal yang seharusnya dilakukan seorang suami istri. Sita belum siap terlebih lagi saat ini Erick dalam keadaan setengah sadar.
Sita mendorong dada Erick. “Apa yang kamu lakukan, Mas.” Masih menghalangi dada suaminya itu supaya berada tidak terlalu dekat dan memalingkan muka.
“Kamu cantik sekali, Sita ....” Erick memandang dengan nada sensual. Sedangkan ibu jarinya berkelana ke mana-mana di anggota wajah Sita.
Dengan cepat Erick menyelusupkan tangan ke tengkuk Sita lalu dengan perlahan ia menyapukan bibirnya ke bibir Sita. Ia memagut bibir semanis madu itu. Menyesap, menikmati lebih dalam lagi sensasi yang dia rasakan. Permainan sepenuhnya dipimpin oleh Erick. Ia bahkan tidak memberi kesempatan untuk Sita mengambil napas hingga kecupan berangsur ke leher jenjang wanita yang berkulit putih itu sehingga tak terasa desahan lolos dari mulut Sita.
Ini gila! Sita benar-benar mendamba setiap sentuhan serta cecapan seorang Erick. Kini ia merasakan kecupan setiap kecupan di lehernya hingga meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
“Erick, hen-ti ... kan ....” Tolaknya walau ia mendamba tubuh Erick, ia juga sadar kalau Erick dalam keadaan mabuk.
Sita tidak ingin melakukan hubungan suami istri dengan secara tidak sadar. Ia ingin melakukan atas kesadaran masing-masing dengan kepastian kedua belah pihak.
Namun setiap sentuhan lembut jemari serta kecupan bibir Erick membuat Sita mengerang meminta lebih dari itu. Dia tidak boleh mengikuti permainan Erick lebih dalam lagi, secepatnya ia harus menyadarkan diri dari kenikmatan yang diberikan Erick.
Saat jari tangan Erick hendak menerobos area terlarang itu Sita buru-buru mencegah tangan itu dengan susah payah.
Ini adalah untuk pertama kali Sita merasakan semua ini. Tubuhnya mengejang rasa takut bercampur ragu, di samping itu pula dia adalah istri sah Erick. Yang berkewajiban melayani suaminya kapan pun dia menginginkan.
Yaaah bersambung.... 🤣 kasian deh yang udah menegang wkwkwkw
makanya kak Vote jenny pakai koin atau poin ya...🥰
sukses
semangat
mksh
keren