Bagaimana jika tujuan yang harusnya sudah kamu tetapkan nyatanya harus berubah? Ya tentu saja bisa karena tujuan bukan berarti takdir, itu tidak bisa kita rubah.
Dan bagaimana jika takdir itu membawa kamu pada kehidupan kamu yang sebelumnya? Kehidupan yang ingin kamu tinggalkan, karena kamu merasa tak pantas dalam kehidupan seperti itu.
Tetapi nyatanya nasib baik selalu tetap milikmu. Seberapapun kamu merasa kurang pantas, tetapi takdir memang memantaskan kamu untuk itu.
Felisha Claire yang ingin membuang keberuntungan hidupnya namun terus saja mendapatkan keberuntungan yang lebih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Strawberry Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Kenal
Hari terus berganti, lebih dari dua minggu juga sudah berlalu dan selama itu bayangan Alther terlalu sering hadir dalam hari-hari Feli. Tidak berhubungan secara langsung tetapi mereka selalu berkesempatan untuk ada di tempat yang sama. Feli selalu menyempatkan diri untuk berada di cafe yang dia tau bahwa pria yang sama yang sudah tidak mengganggunya lagi selalu ada di tempat itu menikmati sarapan paginya.
Untuk Alther jangan ditanya lagi, dia memang ada disana dengan tujuan, seakan menjauh untuk lebih dekat. Dia sengaja membiarkan hubungannya dengan Feli seperti kebetulan. Alther bahkan mengerjakan pekerjaan kantor disana, begitu juga dengan Feli yang entah kenapa merasa betah, saling curi pandang sudah pasti ada.
Tetapi tidak dengan beberapa hari terakhir, ini sudah hari keempat Feli tidak melihat kehadiran Alther disana walau hanya sebentar, entah kenapa itu membuat Feli gelisa meski tidak menyadarinya. Dia jadi bosan berlama-lama di cafe itu. Feli memutuskan segara berangkat ke bandara untuk menunggu sahabatnya disana.
Ya, hari ini adalah jadwal kedatangan Nata, Dea dan Daniel ke Swiss.
**
"Mark, aku akan ke cafe," ucap Alther sembari melihat pergelangan tangannya dan menyadari waktu yang masih memungkinkan untuk mengunjungi cafe favoritnya itu.
"Hmm silahkan tuan, lakukan apa maumu," jawab Mark. Tentu saja dia tau kalau Alther sudah tidak sabar ingin melakukan kegiatan unfaedah itu, tiga hari di Los Angeles membuat dia uring-uringan dan ingin segera kembali ke Swiss, bahkan permintaan mommynya untuk tinggal lebih lama ditolak oleh Alther.
Bughh
Alther tidak sengajah menabrak seseorang, wanita itu terjatuh dan Alther memberi kode kepada Mark untuk membantunya.
"Auchh," wanita yang ditabrak meringis.
"Anda tidak apa nona?" tanya Mark yang segera membantu wanita itu berdiri sembari memegang lengannya. Alther sendiri mengambil ponsel wanita itu yang terlempar tidak begitu jauh.
Wanita itu menelpon sembari berjalan dengan cepat, tidak menyadari keberadaan Alther, begitu juga dengan Alther yang sibuk melihat jam tangan dan memperhitungkan waktu.
"Ah yaa, tidak apa, terima kasih," ucap wanita itu menarik tangannya.
Mark tercengang ketika melihat wajah wanita di hadapannya, dia kemudian tersenyum penuh makna.
"Ah nona, maafkan atasan saya, dia memang suka tidak melihat ketika berjalan karena sibuk memikirkan seseorang,"
"Heyyy, kau bicara..." Alther yang mendengar ucapan Mark segera mengangkat kepalanya, dia bingung kenapa Mark malah berkata seperti itu didepan wanita yang dia tabrak. Tetapi kalimatnya terputus ketika dia menyadari wajah wanita yang sudah ditabrak olehnya, wanita yang beberapa hari ini dia rindukan hanya untuk sekedar dipandang.
"Astagah Felisha dan aku malah menyuru Mark yang membantunya," ucap Alther dalam hati.
"Ehmm, maaf saya tidak sengajah," ucap Alther kemudian menetralisir perasaannya.
Mark dan Feli hanya menatap sang pemilik suara yang berucap dengan begitu formal.
"Ya, maaf saya juga salah, permisi ponsel saya," ucap Feli melirik ponselnya yang masih di berada didalam genggaman tangan Alther.
"Ah ya," ucap Alther sembari berpikir kalau dia tidak boleh membuang kesempatan yang ada.
Feli menerima ponselya dan segera mendekatkan ke telinga karena telpon itu masih terhubung dengan Nata yang juga baru tiba di bandara Jenewa.
"Nat, sorry lu dimana?" ucap Feli sembari ingin beranjak tetapi langkahnya terhalangi dengan Alther dan Mark yang masih berada didepannya. Feli memberi isyarat untuk segera pergi tetapi sepertinya mereka masih ada yang ingin dibicarakan.
Akhirnya Feli diam ditempatnya sembari terus berbicara kepada Nata mengarahkan dimana posisinya saat ini. Obrolan Feli sedikit tidaknya menarik perhatian Alther karena bahasa yang dia gunakan.
"Is she from Indonesia?" Alther bertanya pada dirinya sendiri, beberapa saat kemudian dia akhirnya tersenyum tipis.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ucap Alther ketika Feli selesai dengan sambungan telponnya.
"Hmmm?" Feli sedikit menaikan alis matanya, masih ada sedikit sifat dingin Feli yang terlihat, padahal dia sendiri rindu dengan sosok pria di hadapannya saat ini.
"Makan siang bersama sebagai ucapan rasa bersalahku, ponselmu sepertinya sedikit retak," ucap Alther yang memang melihat ada sedikit retakan di ponsel Feli tadi.
"Ah tidak perlu, ponselku sudah retak sebelum tadi terjatuh," tolak Feli dengan jujur yang beberapa saat kemudian dia menyesalinya.
"Kenapa tidak aku terima saja ajakannya, hahhh Feli kok jual mahal," ucap Feli pada dirinya sendiri.
"Ah baiklah kalau begitu," ucap Alther yang juga sedikit gengsi untuk memaksa. Entah mungkin rasa gengsi Alther hanya datang disaat-saat tertentu.
"Yang benar saja, kenapa langsung mengiyakan penolakanku," batin Feli.
"FELLIIIIIIIIIIIIII.." suara seorang wanita begitu terdengar ditelinga mereka sontak membuat mereka bertiga memalingkan wajah ke arah sumber suara.
"Yaampun, wanita itu lagi," batin Mark seakan tidak suka dengan keadaan selanjutnya.
"Hay, kemari," ucap Feli melambaikan tangan.
"I missyouuuuu," ucap Nata dengan haru, dia belum memperhatikan orang yang ada disekitarnya, fukusnya hanya pada Feli yang sudah sangat lama tidak dia temui, dia segera menghamburkan pelukan kerinduan kearah sahabat kesayangannya itu.
Pelukan penuh haru yang berlangsung lumayan lama membuat Alther tetap tinggal ditempatnya, dia bahkan belum ingin beranjak meski Mark sudah terlihat gusar tidak ingin bertemu dengan wanita didepan mereka.
"Ehmm," Feli berdehem setelah melerai pelukannya dengan Nata, sedikit memicingkan mata seolah bertanya kenapa dua pria itu masih ada disini padahal tadi bahkan dia tidak menawarkan kembali untuk makan siang.
"Ah karena kau menolak untuk makan siang bersama kami, jadi kami permisi dulu," ucap Alther yang kemudian akan beranjak.
"Anda mengajak makan siang? Kami tidak akan menolak, aku sudah begitu lapar." Ucap Nata menahan langkah Alther.
"Yang diajak itu teman anda nona, bukan anda." Mark membuka suaranya.
"Dan temanku tidak mungkin meninggalkan aku disini sendiri tuan!" balas Nata dengan senyuman.
"Ya tapi teman anda sudah menolak ajakan kami sebelumnya,"
"Aku pastikan temanku sudah berubah pikiran," jawab Nata membuat Feli memicingkan mata, ada apa dengan sahabatnya, tidak mungkin dia tidak mampu membeli makan siang dan berharap orang lain yang mentraktir.
"Tapi maaf kami akan segera pergi, ayoo," ajak Mark pada Alther.
"Hey.."
"Ada apa dengan kalian?" ucap Alther menginterupsi perdebatan Nata dan kemudian dia menelisik penampilan wanita itu, seketika teringat kalau wanita itu adalah wanita yang datang dengan penerbangan yang sama dengan mereka bahkan duduk di first class.
"Apa kau tidak keberatan untuk makan bersama?" tanya Alther kemudian, bodoh amat dengan gengsi, bodoh amat dengan rencana menjauh untuk dekat, dia rasa ini adalah kesempatan yang baik, terlihat dari raut wajah Feli yang dingin tetapi seakan tidak menolak itu.
"Ehm baiklah," ucap Feli kemudian membuat Mark membulatkan matanya.
"Tuan, bukankah anda harus ke cafe?" tanya Mark membuat Alther menatap tajam seakan berkata, "kau ini bodoh atau apa, yang menjadi tujuanku ke cafe justru sudah ada didepan mata!"
"Tidak jadi, kita cari makan siang saja,"
"Baiklah ayooo," Nata yang terlihat begitu bersemangat sedangkan Mark hanya menarik nafas kasar, mau tidak mau dia tetap harus ikut.
"Kita makan disekitar sini saja, kami juga masih harus menunggu teman kami,"
"Ah, baiklah kalau begitu,"
Akhirnya mereka memutuskan untuk menikmati early lunch disalah satu restoran yang ada di bandara Jenewa, dengan Feli dan Alther yang saling curi pandang, Nata yang ingin mengganggu Mark, sedangkan Mark yang sangat terlihat kesal.
"Fel, dimana lo kenal mereka?" tanya Nata berbisik.
"Gue bahkan belum kenal mereka," jawab Feli santai.
"Fel jangan bercanda,"
"Siapa yang bercanda, gue pikir kalian yang udah saling kenal,"
"Whatttttttttt..." ucap Nata sedikit keras, dia tidak habis pikir ternyata mereka makan siang dengan orang asing. Tadi dia berpikir kalau Feli sudah saling kenal dengan mereka dan memanfaatkan keadaan itu untuk membuat Mark kesal.
"Dia baru bertanya sekarang, padahal tadi aku mengira kalau mereka yang sudah saling kenal," gumam Feli menggelengkan kepala, dia tidak ingin menceritakan kalau pria yang memang tidak dikenalnya ini bahkan sudah mengisi pikirannya beberapa hari terakhir.
...🍓🍓🍓🍓🍓...
mau minta THR udah telat ya..💃💃
met mlm ka bery sehat selalu dan makin sukses..cepetan up donggg kangen ma bang Althernya😘😘😘😘
Yuk mampir di novel perdanaku
" 100 hari pertama menjadi janda"
Kisah novel yang diadaptasi dari pengalaman pribadi. Perjuangan mempertahankan kewarasan dari cengkraman kesulitan ekonomi pasca diceraikan oleh suami. mendapatkan tekanan mental dari keluarga mantan dan masyarakat.
100 hari pertama harus dilalui seorang janda agar ia dapat benar-benar bangkit menjadi pribadi yang baru dan siap menjalani hari berikutnya.
Ikuti kisahnya ya🤗 jangan lupa like dan comment untuk mendukung penulis❤️ terimakasih