📢📢 WELCOME DI AREA BAWANG GORENG😭😭
Kamiya Maulida harus merelakan kebahagiaan yang selama ini ia bangun hancur, demi mewujudkan wasiat terakhir sang ibu. Tahun ke tahun ia berusaha menghapus semua kenangan indah yang makin lama nampak semakin nyata. Bahkan sosok sempurna di depan matanya tak bisa menggantikan satu nama yang tetap tersimpan apik di hati.
"Gue nggak pernah pengen lu pergi, Mi. Tapi kalo lu nggak percaya sama kebahagiaan yang gue tawarin lu boleh pergi. pergilah, gue tetep di sini. tapi jika suatu saat lu kembali, gue pastiin perasaan ini bukan buat lu lagi. gue pastiin nggak akan ada 'kita' lagi." Ardi Rahardian.
"Aku dan kamu pernah bersama, bahagia. Berada di fase dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Karena suatu hal aku pergi, membiarkanmu merasakan ditinggal pas sayang-sayangnya. Jika kini aku kembali, bisakah kamu dan aku menjadi kita?" Kamiya Maulida.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
Sementara itu di rumah Mama Ratna, Freya sedang uring-uringan karena bangun kesiangan. Dia segera memandikan kedua anaknya. Membawa Retha dan Sakha ke ruang tamu, kemudian beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Sudah ada Mamanya dan Bi Tuti di sana.
“Maaf yah Ma, aku kesiangan. Gara-gara Hp nya Ardi nggak ada alarm nya.” Ucap Freya.
“Lah kok jadi HP nya Ardi yang disalahin?”
“Iya soalnya HP aku kemaren ketinggalan di tempat reuni. Makanya aku suruh Ardi balik kesana buat ambilin, terus aku pinjem HP dia soalnya anak-anak pengen ngomong sama Bang Ar semalem. Biasalah mereka itu nggak pada mau tidur kalo belum denger suara papanya.” Ujar Freya.
“Oh gitu. Nggak apa-apa sayang. Lagian ini udah mau selesai kok. Kamu temenin anak-anak aja sana.” Mama Ratna menunjuk kedua cucunya yang sedang bermain di ruang tamu. Retha dengan buku gambarnya dan Sakha yang asik menonton kartun spons berwarna kuning.
“Aku bantuin Mama aja. Retha itu anteng kalo udah di kasih buku gambar, dia seneng banget ngegambar Ma. Lagian jarang-jarang aku bisa bantuin Mama.” Ucap Freya, dia mengambil alih sop yang sedang di masak oleh Bi Tuti.
“Biar aku aja, Bi.” Ucapnya.
“Wah non Freya sekarang beda yah Bu? Jadi rajin dan pinter masak.” Puji asisten rumah tangga yang sudah bekerja di sana sejak Freya kecil hingga ia tau bagaimana putri semata wayang majikannya itu tumbuh dewasa sampai menikah dan kini memiliki dua anak.
“Beda gimana atuh Bi? Masih sama aja ah.” Balas Freya.
“Ya kan dulu mah non Freya nggak pernah ke dapur. Nggak bisa masak, eh sekarang udah jago banget masaknya.”
“Kata siapa ih bibi mah gitu. Dari dulu juga aku pinter masak tau. Semua masakan aku bisa.” Jawab Freya sambil mengaduk sop nya.
“Iya semua masakan bisa, tapi dalam bentuk mie.” Ejek Mama Ratna.
“Iya Bu. Indomie.... seleraku...” Bi Tuti ikut-ikutan meledek anak majikannya.
“Tau ah! Bi Tuti sama Mama ngeselin. Aku mau bangunin Ardi aja buat sarapan.” Ucap Freya setelah menuangkan sop ke wadah dan meletakannya di meja.
“Jangan di bangunin dulu Den Ardi nya Non, kasian.” Ujar Bi Tuti.
“Lah kenapa Bi? Kan kita mau sarapan?”
“Ardi baru pulang tadi jam lima. Biarin aja dia tidur dulu.” Timpal Mama Ratna.
“Wah nggak beres nih si daddy abal-abal. Di suruh ngambil HP malah klayaban sampe pagi.” Ucap Freya. Bukannya menuruti kata-kata Mama Ratna, dia malah berjalan meninggalkan dapur.
“Ardi, aku masuk.” Teriak Freya dari depan pintu kamar, kemudian membuka pintu yang tak terkunci.
Benar kata Mamanya, Ardi masih tidur bahkan dengan sepatu yang masih belum di lepas. Freya mendekati adik iparnya, tak ada niat untuk membangunkan Ardi. Ia hanya ingin mengembalikan HP Ardi dan mengambil HP nya.
Freya sudah meletakan HP Ardi di meja samping tempat tidur. Tapi dia belum menemukan HP nya. “Pasti di saku celana nih.” Gumam Freya.
“Huh bener kan.” Ucapnya lirih setelah berhasil menggeser tubuh Ardi dengan susah payah hingga ia bisa mengambil HP di saku belakang celana Ardi.
Belum sempat ia beranjak, Ardi malah menarik dirinya. Memeluknya erat-erat, “sayang, janji yang jangan pergi lagi.”
Freya hanya menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya melepaskan pelukan erat Ardi, “sayang... sayang apaan sih Di, Mamanya Retha ini. Bukan Mommy nya Retha.” Ucap Freya.
Freya jadi menatap Ardi dengan sedih, “cinta banget sama Miya yah Di? Sampe sekarang aja belum bisa move on. Aku karap kalo kalian emang berjodoh bisa cepet ketemu lagi, kalau pun bukan jodoh aku harap kamu bisa cepet dapat pengganti Miya, Di.” Batin Freya kemudian melepas sepatu Ardi dan menyelimuti adik iparnya.
Pukul sebelas menjelang siang, Ardi keluar dari kamar dengan penampilan super rapi. Celana jeans hitam dan kemeja hitam membalut tubuh tinggi itu, tak ketinggalan kaca mata hitam yang membuat wajahnya semakin menawan.
Sambil bersiul dan memainkan kunci mobil di tangan kanannya, ia melewati Freya, mama Ratna dan dua anak kecil yang sedang bermain di ruang keluarga.
“Ardi...” panggil Freya, tapi adik iparnya itu masih saja berlalu.
“Woy Ardi...” kesal merasa di abaikan Freya melempar bantal sofa hingga mengenai punggung lelaki jangkung itu.
Ardi berbalik dan membuka kaca matanya, lalu menghampiri Freya, mencium kedua keponakannya yang sedang bermain.
“Daddy Ardi udah seperti oppa-oppa yang suka di tonton Mama di HP.” Celoteh Retha menatap Ardi yang duduk di hadapannya.
“Ganteng yah?” tanyanya pada Retha penuh percaya diri.
“Banget daddy.” Balas gadis kecil itu sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Freya mengerutkan keningnya mendengar percakapan adik ipar dengan putrinya. “Apa Ardi salah minum obat? Kenapa ini anak jadi gaje gini. Jadi senyum-senyum mulu dari tadi.” Batin Freya.
Freya meletakan telapak tangannya di kening Ardi yang masih terus ngobrol dengan Retha.
“Nggak panas.” Ucap Freya.
“Apaan sih Fre?” kini Ardi balik menatapnya.
“Aneh aja kamu hari ini. Kemaren aja masih keliatan ‘wajah hidup enggan mati tau mau’ tapi sekarang aku kayak ngeliat Ardi yang dulu.” Ujar Freya.
“Semalem abis ngambil HP kamu kemana? Kata mama kamu pulang pagi.” Imbuhnya.
“Kapan-kapan deh aku ceritain, Fre. Sekarang aku harus pergi. Buru-buru nih takut telat.” Ucap Ardi.
“Pergi kemana? Ntar jam satu kan kita harus balik ke Bandung, Di!”
“Kita pulangnya ntar malem aja. Aku ada urusan.” Ujar Ardi.
“Aku terserah kamu. Emangnya nggak cape kalo besok sampe rumah kamu langsung ngantor?”
“Nggak apa-apa. Ini penting banget soalnya.” Jawab Ardi.
“anak-anak daddy pergi dulu yah.” Ucapnya pada Retha dan Sakha kemudian mencium kedua keponakannya. Tak lupa ia juga berpamitan pada Freya dan ibunya.
Beranjak dari ruang keluarga, Ardi kembali mengenakan kaca matanya dan bersiul. Aura bahagia benar-benar tak bisa disembunyikan dari wajah rupawan itu.
semuanya👍👍👍👍👍