NovelToon NovelToon
Hamil Tanpa Suami

Hamil Tanpa Suami

Status: tamat
Genre:Hamil di luar nikah / Kehidupan di Kantor / Lari Saat Hamil / Tamat
Popularitas:342.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: tita dewahasta

Lana adalah perawat yang selalu berpindah kota. Kota baru yang dia tinggali (Koja) ternyata membawanya ke dalam kisah cinta yang sulit untuk tergapai.

Syafira, sahabat Lana sejak SMP yang dulu menemaninya melalui masa remaja Lana yang sulit dan menyedihkan, menolongnya lagi untuk mendapat pekerjaan di Koja. Dia mengagumi seorang dokter bernama Nathan.

Setelah Lana masuk ke rumah sakit yang sama, Lana pun jatuh cinta kepada orang yang dikagumi sahabatnya sendiri yaitu Nathan.

Di tengah kisah cintanya, Lana, Nathan, Dion (sahabat Nathan) dan Asa (istri Dion) juga rajin berdonasi untuk menolong para ibu muda yang mengalami kehamilan tidak terencana.

Kemudian, mereka mendirikan dan mengurus bersama sebuah rumah singgah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa suci yaitu anak dari kehamilan tidak terencana.

disclaimer:
Nama tokoh, kota, aplikasi dalam novel ini hanyalah fiktif. Jika ada kesamaan, itu hanya kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tita dewahasta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Masih Cemburu

“Ayo naik, aku antar, Na,” tawar Nathan.

Meski tak yakin dengan jawabannya, namun dia tetap berusaha untuk sekedar mengantar.

Lana menghela napas dalam-dalam, memandang Nathan sebentar dan menutup pintu mobil itu.

“Nggak usah repot-repot, Dok, makasih.”

Lana berjalan kaki kembali. Nathan pun pergi dengan kecewa dan langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Oh, jadi kamu lebih suka diantar sama Soni ketimbang aku? (Nathan).

Sesampainya di kos, Inda sedang menyemir sepatu di depan kamarnya.

“Hai mbaknya, baru pulang udah ditekuk gitu mukanya,” sindir Inda.

“Nda, tahu nggak, ternyata Nathan nggak suka sama Syafira. Dia suka sama aku.”

“Nggak kaget." Inda berekspresi datar seperti berita dari Lana sudah lama dia ketahui.

“Iya, aku tahu kamu lebih peka kok dari aku. Aku masih inget kamu ngomong gini ‘sukanya siapa ngajak jalannya siapa’.”

“Hahah, aku emang ratunya peka. Terus kenapa itu muka cemberut gitu?”

“Syafira udah terlanjur ngungkapin perasaan ke Nathan, terus ditolak. Nathan bilang terus terang kalau dia sukanya sama aku. Syafira ngerasa malu banget.”

“Ehm...Ya iya lah”

“Dia juga nggak bolehin aku pacaran sama Nathan.”

“Wow, kejam juga ya.”

“Siapa yang bisa nyalahin dia? Aku yang salah.”

“Hah, kalian berdua salah semua. Kalau waktu bisa diputar, kamu nggak usah ngomong ke Syafira tentang dugaan siapa perempuan yang disukai Dokter Nathan. Syafira juga nggak usah nembak Nathan segala. Kalian itu butuh konsultan kayak aku.”

“Hahah, masak konsultannya jomblo?”

“Meski jomblo, aku kan lebih peka."

Lana sedikit tersenyum pada candaan Inda.

“Udah baik moodnya?”

“Ya, sedikit. Thanks Nda."

“Jujur aja, aku kasihan sama kamu dan Nathan." Inda menerawang. "Eh, kenapa nggak kasih tahu Nathan aja terus kalian pacaran diam-diam?”

“Tadinya aku juga mikir gitu. Tapi itu nanti bikin Nathan benci sama Syafira. Pengennya sih, ya Syafira sama pasanganku nanti siapa pun itu, bakal berteman juga.”

Lana undur diri dan ke kamarnya. Di kamar, dia terus memikirkan permintaan Syafira agar dirinya tidak berpacaran dengan Nathan. Apa itu masuk akal?

Namun, sejauh apa pun Lana memikirkan, ujung-ujungnya dia merasa bersalah. Karena rasa bersalahnya itu, permintaan Syafira menjadi wajar.

Tapi dia bilang, aku nggak boleh pacaran kan sama Nathan? Berarti temenan boleh kan? Aku jadi temennya nggak apa-apa kan selama nggak ada status pacaran? (Lana).

***

Dion dan Asa...

Sepulang kerja, Dion mandi. Asa melihat-lihat ponsel Dion. Dia membuka pesan Chatapp, dibacanya satu-persatu.

Mereka berdua memang terbuka sehingga ponsel pun tidak pernah disembunyikan satu sama lain.

Sembari membaca, Asa tiba-tiba bersedih dan menangis.

Dari kamar mandi, sayup-sayup Dion mendengar suara istrinya menangis. Dia pun mempercepat mandinya.

"Kenapa?" Tanya Dion seraya duduk di dekat ranjang tempat Asa tengkurap menenggelamkan badan dan wajahnya.

Asa menggeleng. "Nggak apa-apa."

"Kalau nggak kenapa-kenapa nggak mungkin kamu nangis. Apa aku bikin salah?"

"Aku lihat handphone kamu."

"Kamu lihat chat dari siapa?"

Semakin keras Asa menangis.

"Asa, kalau aku ada salah, tolong maafkan. Tapi aku yakin ini salah paham. Aku nggak punya hubungan dengan siapa pun."

"Bukan chat, Mas. Aku lihat status teman kantormu," masih sambil terisak, Asa mencoba menjelaskan. "Statusnya Heri bagian IT."

Dion membuka ponselnya dan langsung melihat status Heri. Teman kerjanya itu memajang foto testpack bergaris dua dibubuhi caption 'bersyukur pada Tuhan, sebentar lagi aku jadi bapak'.

Dion pun ikut sesak dan tercabik hatinya. Tapi dia berusaha mengendalikan diri.

"Dia dan istrinya baru 3 bulan menikah, Mas. Kita sudah 8 tahun lebih. Sebentar lagi kita anniversary ke 9. Kenapa mereka langsung dikasih anak dan kita enggak?"

Dion menenangkan istrinya. "Aku nggak bisa ngomong apa-apa sayang. Itu sudah rejeki mereka."

"Mungkin anak bukan salah satu rejeki kita, Mas."

"Ssssshhhh, jangan ngomong gitu. Kita harus yakin dan terus usaha."

"Tapi sampai kapan? Gimana kalau omonganku tadi benar? Mungkin anak bukan rejeki kita kalau kita berpasangan. Mungkin itu rejeki Mas dengan wanita lain, atau rejekiku dengan pria lain."

Dion mendekap istrinya dengan erat. Pikiran Dion seketika kembali ke kenangan mereka saat memperjuangkan hari bahagia yaitu pernikahan mereka. Meski tidak tragis seperti kisah-kisah cinta lain, hubungan itu juga mereka perjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Apalagi mereka sempat terpisah karena study Asa di Singapura. Dan pada akhirnya mereka menikah. Saat ini mereka berhadapan dengan masalah keturunan yang ternyata jauh lebih sulit daripada perjuangan cinta mereka dahulu.

"Mas...gimana kalau kita cerai?" Asa melontarkan kata-kata yang terasa bagai petir.

Dion tidak melepaskan pelukan, malah semakin erat.

"Mas, tolong kasihani aku. Aku ditanya terus-terusan sama ibu kamu. Aku ditanya terus-terusan sama tetangga. Kenapa mereka semua berpikir hanya aku saja yang bertugas membuat anak? Kenapa mereka memojokkan aku?"

Dion tidak mau bicara. Dia hanya mendekap istrinya. Dia tidak mau bercerai, tapi juga tidak bisa merubah keadaan.

***

Rumah Sakit Keluarga Bahagia...

“Makan siang? Ada kedai nasi bakar baru di seberang jalan.” Nathan menghampiri Dion di ruangannya.

Dion menggeleng pelan dan tidak bertenaga.

“Oh, Oke. Mau nitip? Mau dibawain sesuatu?”

Dokter kandungan itu menggeleng kembali.

Nathan pun keluar dan makan sendiri di kedai. Kedai baru itu memberikan potongan harga yang membuat banyak orang berdatangan.

Lana pun datang ke sana, diikuti oleh Soni.

Setelah sedari pagi Lana dan Nathan saling diam bahkan saat bekerja, dia kini harus melihat pemandangan tidak mengenakkan lagi saat makan siang. Nathan menyantap makanannya sembari menunduk.

Lana dan Soni mengantri di meja kasir untuk memesan dan membayar.

“Mau pesan apa, Na? Sekalian aku pesenin.”

“Kamu duluan aja, aku lihat-lihat menu dulu.”

Lana mengelilingkan pandangannya dan menemukan Nathan makan sendiri. Nathan tampak sangat berkonsentrasi dengan makanannya.

Padahal Nathan bukannya sedang berkonsentrasi atau terlalu asyik, dia hanya sedang menghindari melihat pandangan yang baginya tidak menyenangkan.

Lana berubah pikiran dan memilih pergi dari sana.

“Na, mau ke mana?” tanya Soni.

“Mau makan di kantin aja, di sini terlalu rame.”

Soni sudah terlanjur memesan dan mendapat nomer meja sehingga dia tidak bisa mengikuti Lana.

~

Usai makan siang, Nathan segera kembali ke rumah sakit. Teringat Dion yang belum makan apa-apa, dia mampir ke kantin untuk membelikan roti dan minumanl.

Lhoh, Lana kok ada di sini? Bukannya tadi makan di kedai baru itu sama Soni? (Nathan).

Nathan mendatangi Lana yang sedang makan di meja pojok kantin. Dia langsung duduk di hadapan Lana.

“Astaga, Dok, ngagetin orang!” Lana terkejut dengan kedatangan Nathan.

“Kamu udah berapa hari nggak makan?”

“Makan tiap hari kok.”

“Apa emang makan kamu banyak?”

“Aku cuma makan satu porsi, banyak dari mananya sih?"

“Tadi kamu makan nasi bakar di kedai baru itu, sekarang makan lagi di sini.”

“Yang tadi itu nggak jadi kali, Dok. Eh, ternyata Dokter lihat ya?”

“Iya, kenapa? Nggak boleh? Aku kan punya mata,” kata Nathan sembari beranjak pergi.

Idih, ketus amat tuh orang. Katanya suka? Suka kok aku masih diketusin juga. (Lana).

to be continued...

Jogja, February 14th 2021

1
Nur Syamsi
Itulah kesalah fahaman, coba jga Nathan cepat ngasih tau Dion kan cepat dicarikan solusinya inibbapak anak sama" pendam senditri akhirnya Lana berasumsi sendiri
Nur Syamsi
Alhamdulillah, udah ketemu dan turut senang, dipanggil tu sobat ma ibumu Nathan ....
Nur Syamsi
Temuin Lana Natha yg dikandung itu anakmu lo
Nur Syamsi
Dari kemarin" jek jelasinnya ma sobat ku ini Uda berbulan bulan ntar Lananya Hamidun gimna, Nathan Nathan
Nur Syamsi
Makanya Nathan cerita ma mbak Asa atau Dion ttg Lana, Krn ini kamunya belum mop on ma Lana...
Nur Syamsi
😭😭😭 kasian bangat ma Lana Tdk ada sanak keluarganya trus klaw misal dia hamil gimna kasian, 😭😭😭, tp itu Kana langsung ngilangin jejak Tdk ke mbak Asa untuk curhatan ..
Nur Syamsi
Betul Dion korek apa yg terjadi sama Nathan dan Kana mpe Kana meninggalkan pekerjaan yg dicintainya, bicara dari hati ke hati spya tdk ada kesalah fahaman
Nur Syamsi
dr Nathan ayo Certa SMA dr Dion ttg Lana
Nur Syamsi
Jgn ambil keputusan yg salah Lana ntar nyesal Lo kan Syafira benar dah nyerah..
Nur Syamsi
Rumit Thor antara cinta dan sahabat
Nur Syamsi
Hatimu punya kamu Lana, jgn pikirkan Syafira benar kata Inda kamu bukan pihak ke tiga, Krn dr Nathan jg sdah berterus terang na Syafira ....
Nur Syamsi
Untuk peristiwa tiga gadis ini, klaw bisa Indah sbgai penengah dan jelaskan ke Syafira spya tdk egois, Mada orang dilarang pacaran pdahal suka sana suka lagian jga dr Nathan sukanya ma Lana m, cinta Tdk boleh dipaksakan Syafira, kamu hrs ikhlas ma temanmu jgn dilarang kan egois nmanya....
Nur Syamsi
Bercandanya kekewatan mas Dion mpe nyelakain teman sendiri
Nur Syamsi
Klaw bisa Nathannya TLP Asa pura" nyato Dion, setelah itu baru wa bhw Dip bsok" saja cuma Mae nenangin diri sja dirumah
Nur Syamsi
Yg sabar mbak Asa,
Ledy Gumay
Lumayan
desember
wkwkwk
desember
🤣🤣🤭
Henym
Luar biasa
Selu Andyka
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!