NovelToon NovelToon
My Ustadz My Husband

My Ustadz My Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Patahhati / Perjodohan / Poligami / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:22.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: SkySal

(DALAM TAHAP REVISI!)

Di pertemuan pertamanya dengan Ustadz pembimbingnya yang bernama Bilal, putra kiai Khalil pemilik pondok pesantren Al Hikmah di Jakarta. Asma Azzahra hanyalah gadis remaja yg manja, ceria dan ke kenak kanakan sekalipun ia adalah putri dari seorang kiai pemilik yayasan Ar Rahman di desa nya. Asma menjadi dekat dengan Ustadz yg membantunya menyelesaikan ujian kelulusannya itu.
Dan beberapa hari setelahnya, Sang Ustadz memperkenalkan istri nya yang bernama Khadijah, wanita dewasa yg anggun. Asma menyambut perkenalan itu dengan senang hati.
Namun di hari berikutnya, sebuah kenyataan yg tak pernah ia bayangkan menghantam nya, saat sang Ayah mengatakan Bilal adalah suaminya dan Khadijah adalah madunya.

Ig @Skysal
Fb SkySal Alfaarr

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 28

Asma masih terlihat canggung berada di tengah keluarga besar Bilal. Ia tidak menyangka di usia nya yg baru 18 tahun ia sudah menjadi seorang istri dan menantu, Asma benar benar tak tahu bagaimana cara menjalankan peran nya itu.

"Loh, kenapa makannya sedikit? Apa masakan Ummi tidak se enak masakan Ummi Kulsum?" tanya mertua nya pada Asma yg melihat Asma hanya makan sedikit. Saat ini, Asma, Khadijah dan Bilal sedang bersama keluarga Bilal untuk makan malam. Bahkan ada Shofia dan suami nya. Dan juga kakak lelaki Bilal dan istrinya juga berkumpul. Kakaknya itu sudah punya dua anak yg lucu lucu dan menggemaskan.

"Masakan nenek enak, Tante. Laila suka, apa tante tidak suka?" tanya salah satu keponakan Bilal.

"Suka, rasanya enak. Hanya saja aku masih kenyang "

"Oh ya, Asma. Apa kamu sudah mengikuti tes masuk?" tanya Shofia, Asma menggeleng " Oh begitu, engga usah buru buru, lagi pula ada Kakak dan Mbak Khadijah yg akan membantu mu, santai aja. Kalau kamu sudah selesai, ayo kita jalan jalan sebentar di sekitar sini" ajak Shofia yg langsung di setujui Asma.

"Tunggu Zahra..." panggil Bilal saat Asma beranjak dari kursi nya. Kemudian Bilal melepaskan jaket nya dan memakaikan nya pada Asma "Di luar dingin, Sayang" lanjut nya. Semua orang memperhatikan mereka berdua membuat Asma menjadi salah tingkah, dengan cepat ia pun menarik Shofia untuk pergi dari ruang makan.

Shofia membawa Asma berkeliling di sekitar rumah nya yg cukup besar. Karena mereka semua tetap tinggal bersama, kecuali Shofia, karena Shofia harus ikut suami nya tinggal di Mekkah. Dan beberapa hari lagi mereka harus kembali ke Mekkah. Shofia juga membawa Asma ke asrama putri dan juga area sekolah.

Asma tampak menyukai tempat itu, seandainya ia tak menikah, maka dia akan tinggal di asrama seperti santri yg lain nya dan menikmati masa remajanya.

"Asma..."

"Hem" Asma hanya bergumam saat Shofia memanggil nya.

"Aku liat, kamu masih belum sepenuhnya menerima kakak" Asma menghentikan langkah nya seketika, ia menatap Shofia sekilas kemudian berjalan lagi dan langsung di ikuti Shofia "Aku bisa mengerti, ini pasti engga mudah. Tapi percayalah, Asma. Kakak benar benar mencintai mu, dia selalu memuji mu, dan setiap kali dia membicarakan mu, matanya selalu memancarkan kebahagiaan"

"Memuji bukan berarti mencintai, Shofia"

"Tapi mencintai pasti akan memuji kan?"

Asma tak menanggapi ucapan Shofia, ia terus berjalan di sekitar asrama putri, beberapa santri menyapa Shofia dengan hormat, dan menatap Asma seolah penasaran karena tak pernah melihat Asma. Hingga tiba tiba, seorang wanita datang meminta Shofia dan Asma kembali.

Setelah Bilal dan kedua istri nya itu segera kembali ke rumah nya sendiri setelah berpamitan dengan keluarga nya. Mereka berjalan kaki melewati asrama putra, beberapa santri putra juga menyapa Bilal dan Khadijah, dan tak sedikit dari mereka yg juga memperhatikan Asma. Menyadari hal itu, Bilal tiba tiba merangkul pinggang Asma.

"Lepaskan aku, malu di liatin orang" bisik Asma.

"justru karena di liatin, mereka menatap mu. Berani sekali mereka menatap istri ku"

"Mungkin dia penasaran karena tak pernah melihat Asma sebelum nya. Dan pasti mereka belum tahu kalau Asma itu istri mu" sambung Khadijah.

.

.

.

Asma sadar ia tak bisa terus terusan menghindari Bilal dan Khadijah, sekarang mereka adalah keluarganya, Asma harus membuka hati untuk mereka dan berdamai dengan takdir nya.

Walaupun sulit, sangat sulit. Terkadang hati nya masih marah pada Khadijah yg di mata Asma adalah wanita egois, dan jika apa yg Khadijah lakukan demi cinta, maka bagi Asma cinta itu buta dan bodoh. Dan ia tak bisa memahami jenis cinta seperti itu.

Setelah selesai mandi, Asma mengeringkan rambut nya dengan handuk, kemudian ia menggunakan hair dryer supaya rambut panjang nya itu cepat kering. Saat akan menyalakan hair dryer nya, tiba tiba pintu terbuka dan Bilal masuk begitu saja, membuat Asma terkejut dan langsung mengambil handuk kemudian menutupi kepala nya. Bilal yg melihat itu juga tercengang.

Selama ini, Asma tak pernah melepas hijab nya di depan Bilal, ia bahkan tidur masih menggunakan hijab nya, tak pernah sekalipun Bilal melihat sehelai pun rambut Asma, ia tak tahu warna rambut Asma dan sepanjang apa rambut nya.

"Ada apa?" tanya Asma sembari memegang erat handuk yg menutupi kepala nya, namun tak bisa menutupi seluruh rambutnya yg terurai setengah basah itu.

"Sampai kapan kamu akan menutup diri, Zahra? Aku bahkan engga tahu warna rambut mu" ucap Bilal dan berjalan masuk.

"Warna nya hitam" jawab Asma singkat membuat Bilal tersenyum simpul, kemudian ia merebahkan diri di ranjang dan Asma menatap nya heran "Kamu ngapain disini?" tanya nya

"Tentu saja untuk menghabiskan waktu bersama istri kecil ku"

"Kenapa? Bukankah kamu seharusnya bersama Mbak Khadijah?"

"Sudah 3 malam aku bersama nya, jadi tiga malam berikut nya aku akan bersama mu" Asma tersenyum kecut mendengar ucapan Bilal.

"Berbagi " batinnya berkata tak suka.

"Engga perlu seperti itu, kamu boleh bersama Mbak Khadijah selama yg kamu mau, aku engga masalah dengan itu, lagian aku juga engga suka kamu disini, sudah ku bilang aku engga suka berbagi kamar dengan orang lain" Asma meraih hijab yg ada di ranjang, kemudian dengan cepat mengenakannya.

"Tapi aku yg masalah, Sayang. Dan aku suka di sini dan ya, aku bukan orang lain, untuk yg ke sekian kalinya aku ingatkan aku itu suami mu" Asma mendelik kesal namun ia tetap tak bisa berbuat apa apa.

"Jadi, itu cara mu berbuat adil pada kami? 3 malam bersama ku dan 3 malam bersama nya, lalu dengan siapa kamu akan habiskan sisa satu malam dalam seminggu itu?"

"Mungkin aku akan menyendiri, mengisi malam ku dengan ibadah, atau ku habiskan dengan salah satu dari kalian"

"Oh, kirain sisa satu malam itu untuk mencari istri lagi"

"Hah?" Bilal langsung menatap Asma dengan tatapan tak percaya "Bicara apa kamu ini?"

"Siapa tahu kamu mau tambah lagi"

"Apa boleh?" tanya Bilal dengan santai nya dan membuat Asma langsung memelototinya. Tampak kemarahan di wajah nya, melihat itu tawa Bilal langsung pecah "Aku cuma bercanda, jangan menatap ku seolah ingin memusnahkan ku begitu"

"Bukan ingin, tapi akan. Jika kamu menikah lagi, aku akan memusnahkan mu" kata kata itu terucap begitu saja tanpa Asma sadari.

"Kamu cemburu?" goda Bilal

"Ya...engga... bukan gitu... cuma... ya...."

"Cuma apa sayang?" goda Bilal lagi.

"Ya jangan rakus jadi orang, sudah punya dua istri masak masih kurang" seru Asma Akhir nya.

Bilal hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Asma. Asma pun segera naik ke ranjang nya dan meletakkan guling sebagai pembatas antara diri nya dan Bilal seperti malam malam sebelum nya. Namun Bilal mengambil guling itu dan menyingkirkan nya.

"Aku engga mau lagi ada pembatas di antara kita"

mendengar itu, Asma berdecak kesal, ia kembali mengambil guling itu dan meletakkan nya di tengah, dan kali ini Bilal melempar guling itu ke lantai membuat Asma memberangut kesal.

"Zahra, sampai kapan akan ada pembatas di antara kita?" Asma tak menjawab nya, ia kemudian membaringkan tubuh nya memunggungi Bilal. Bilal hanya bisa menatap nanar punggung Asma.

"Jika aku mengalami hal yg sama seperti Mbak Khadijah, apa kamu akan menikah lagi?" Asma bertanya dengan suara rendah, ia sendiri tak tahu kenapa pertanyaan itu bisa muncul dalam benaknya dan bisa terucap begitu saja dari bibirnya. Mendengar pertanyaan Asma membuat Bilal sedih dan hati nya terasa tercabik cabik karena rupanya Asma masih berfikir Bilal menikahi nya hanya karena keadaan Khadijah. Bilal menggeser tubuh nya hingga begitu dekat dengan Asma. kemudianY ia mengusap kepala Asma dengan sayang.

"Zahra, berapa kali harus ku jelaskan, aku menikahi mu karena aku mencintai mu. Jika aku menikah lagi hanya karena keadaan Khadijah, maka aku pasti sudah menikah lagi sejak lama, Khadijah bahkan menjodohkan ku dengan teman nya, dan yg pasti mereka itu dewasa, seumuran dengan ku. Tapi aku tidak mencintai mereka. Tapi saat melihat mu hari itu, untuk pertama kali nya aku merasa jatuh cinta. Ku mohon Zahra, jangan berfikir aku menikahi mu karena keadaan Khadijah. Karena alasan pernikahan ini adalah cinta, aku mencintai mu. "

Asma berkaca kaca mendengar penjelasan Bilal. Entah kenapa, mudah sekali hati nya tersentuh oleh Bilal. Bilal mencium kepala Asma yg masih terbungkus jilbab.

"Jangan tidur dengan rambut basah, engga baik" ucap Bilal yg menyadari rambut Asma masih lembab. namunY Asma tak menanggapi ucapan Bilal "Ayo bangun" Bilal menarik tangan Asma hingga terduduk.

"Kenapa?" Asma bertanya malas.

"Aku akan mengeringkan rambut mu"

"JANGAN" teriak Asma panik, ia segera memegang jilbab nya.

"Zahra,, engga baik tidur dengan rambut basah"

"Ya udah, aku... aku akan mengeringkan nya, kamu... keluar dulu"

Bukannya menuruti permintaan Asma, Bilal malah mengambil hair dryer yg ada di meja rias.

membuat Asma mengernyit bingung.

"Mau apa?"

"Sudah ku bilang, aku akan mengeringkan rambut mu"

"Enggak mau, aku... aku bisa sendiri" Asma hendak meraih hair dryer itu namun Bilal mencegahnya.

"Ayolah sayang, biar aku yg melakukan nya. Buka dulu jilbab mu" Asma menggelengkan kepala nya dengan cepat.

"Zahra..." Bilal membujuk nya namun Asma masih merespon yg sama.

"Zahra... ayolah"

"Ya sudah sini, aku bisa sendiri"

"Engga, biar aku saja, ya. Please"

"Tapi.... aku... aku malu" ucap Asma sambil menunduk malu. Ia tak pernah melepaskan hijabnya di depan seorang pria selama ini.

"Malu kenapa? Aku ini suami mu" Bilal berkata dengan sangat lembut. Asma masih menggeleng. Namun kemudian Asma memberanikan diri untuk mendongak, dan seketika tatapan nya bertemu dengan tatapan Bilal yg saat ini menatap nya dengan tatapan yg tak bisa Asma mengerti. Asma sudah tahu Bilal keras kepala dan dia tidak akan berhenti sampai Asma menuruti nya.

"Ya udah... iya...." ucap Asma kemudian, dengan ragu ragu ia melepaskan hijab nya, membuat Bilal tersenyum penuh kemenangan. Saat jilbab Asma terlepas, Bilal semakin mengagumi kecantikan Asma dengan rambut panjang nya yg hampir menyentuh pinggang, rambut nya hitam lekat dan bergelombang. Bilal membelai rambut Asma dan bermain main dengan rambut nya, senyum di bibirnya tak hilang walau sedikitpun, raut wajahnya tampak sangat bahagia. Membuat t Asma bingung apa yg membuat Bilal sebahagia itu? Apa hanya karena melihat rambut? Rasanya itu konyol.

"Aku suka rambut panjang mu, Zahra jangan memotong nya ya "

"Aku berniat akan segera memotong nya, ini sudah kepanjangan. Susah merawat nya"

"Aku akan membantu mu merawat nya" Asma menatap heran pada Bilal.

"Maksud nya?"

"Ya aku akan membantu mu merawat nya. Jika kamu malas keramas, biar aku yg mengeramasi rambut mu, jika kamu kesulitan mengeringkan atau menyisir nya, biar aku yg melakukan nya" Asma tertawa geli mendengar ucapan Bilal. Namun ia juga tak percaya Bilal akan melakukan apa yg di katakan nya itu.

"Aku serius, Zahra" ucap Bilal seolah tahu apa yg Asma fikirkan. Bilal pun mulai mengeringkan rambut Asma dengan hati hati. Asma tak bisa menyembunyikan senyum senang nya dengan perlakuan romantis Bilal.

Namun tiba tiba ia teringat kembali status nya yg sebagai istri kedua. Dan membayangkan Bilal juga melakukan hal yg sama pada istri pertama nya, membuat hati Asma terasa perih.

"Apa kamu juga mengeringkan rambut Mbak Khadijah?" tanya nya terus terang

"Enggak pernah" Bilal menjawab dengan lugas

"Bohong"

"Tanya saja pada Khadijah. Tapi kadang kadang dia mengeringkan rambut ku"

"Lalu kenapa kamu mau mengeringkan rambut ku?"

"Entah lah, Sayang. Hati ku ingin melakukan nya. Apa ini sudah cukup?" Asma memegang rambut nya dan mengecek nya.

"Sudah"

Bilal mematikan hair dryer nya dan mengembalikan ke tempat nya. Sementara Asma hendak mengikat rambut nya namun Bilal mencegahnya.

"Biarkan terurai, aku ingin melihat nya"

"Tapi...."

"Zahra...."

dan sekali lagi Asma mengalah, ia membiarkan rambut nya terurai Bilal membelai rambut Asma yg sudah kering, ia mendekatkan wajahnya dan menghirup aroma rambut Asma. Hal itu membuat hati Asma bergetar, dan wajahnya pun merona. hingga tiba tiba...

cup

Satu kecupan singkat mendarat di pipi nya begitu saja membuat Asma melotot terkejut.

"Apa yg kamu lakukan?" teriak nya pada Bilal sambil memegang pipi nya. Kecupana itu hanya se per sekian detik, tapi ia merasakan tubuh nya terbakar karena kecupan itu.

"Mencium istri kecil ku" jawab Bilal dengan santai nya dan kembali merangkak ke atas ranjang.

"Sudah ku bilang, jangan menyentuh ku tanpa se izin ku" ia mengingatkan dengan sangat marah

"Dan sudah ku bilang, aku engga bisa janji hal itu" Asma mengepalkan tangannya kuat kuat dan menatap tajam Bilal. Ia menggertakkan gigi nya saking kesal nya

"Kamu....." Bahkan Asma sudah kehilangan kata kata untuk melampiaskan kekesalannya itu.

"iya, aku. Suami mu, Sayang" jawab Bilal dengan senyum nakal nya dan berhasil membuat emosi Asma semakin naik.

▪️▪️▪️

Tbc...

1
Lusi Andriani
sedih
Lusi Andriani
udah ikutan mewek ehhhh ujung2nya kocak 🤣🤣🤣🤣
Lusi Andriani
sedih banget bacanya
aqil zafran
khadijah nma yg bagus tp hatinya hurm...jgn bermadu klaw hatimu ngak lurus spt katamu..nmanya munafik..Aq ngak suka sama kamu khadijah..egomu terlalu tggi bg seorg wanita kononnya demi kebahagian suami
ᨶᷢ𝔦ᬉᷡ𝖏..ༀ⋆ʙͫᴏᷧɴᷠᴇͥᴋᷧ⋆ༀ
ngeri weh mau lanjut baca,, ini istri pertama yg awalnya baik lemah lembut, akan jadi jahat gak sih nnti klo cemburu, ntar para readers jadi membenci istri pertama karena jahat, ah aku takut bacanya😭😭
ᨶᷢ𝔦ᬉᷡ𝖏..ༀ⋆ʙͫᴏᷧɴᷠᴇͥᴋᷧ⋆ༀ
astaga kan kan bikin sakit hati bacanya.. biasanya brpikir begitu,, mentang mentang anak kiyai besar kah jadi kyk bebas gitu punya istri 2 3 ,, astaga
ᨶᷢ𝔦ᬉᷡ𝖏..ༀ⋆ʙͫᴏᷧɴᷠᴇͥᴋᷧ⋆ༀ
heran ama abinya emang suami yang baik dan sholeh itu cuma bilal ?hanya bilal gitu ? gak ada yg lain kah di dunia yang lebar ini, bilal kan sudah ada istri, siapa yg akan memikirkan sakit hatinya istri pertamanya, bohong sekali jika istri pertamanya gak sakit hati, demi apa istri pertamanya mengizinkan suaminya nikah lagi 😭😭😭
ᨶᷢ𝔦ᬉᷡ𝖏..ༀ⋆ʙͫᴏᷧɴᷠᴇͥᴋᷧ⋆ༀ
sampai sini aku masih mikirin perasaan istri pertamanya.. astaga kenapa bisa Bilal menikah lagi kalau sudah punya istri, astaga kenapa pula cinta pertamanya jadi istri ke dua, beda 11 tahun woy astaga cinta pertama cinta sejak usia berapa itu, aku tak habis pikir😭
ᨶᷢ𝔦ᬉᷡ𝖏..ༀ⋆ʙͫᴏᷧɴᷠᴇͥᴋᷧ⋆ༀ
astaga kok ngeri bacanya anaknya sendiri dj jadikan istri ke 2 ama abinya.. Inalilahi, gmn perasaan istri pertamanya, apa dia nerima di madu astaga, semoga istri pertamanya gak tersakiti, ngeri woyy mau lanjut 😭😭😭 suka baper klo baca😭😭
Dewi saroh Qurotuaini
khadijah terlalu egoisss , mementingkan diri sendiri
Alejandra
Nggak berniat dari mana sich, dari awal Asma udah bilang kalau perutnya sakit, tapi Mbak yang sok baik ini hanya menganggap angin lalu. Itu sama aja udah berniat kan...
Kurnia Nia
aku baca dari taun 2021,sampe sekarang ngak bosen bosen..
🥰🥰🥰🥰
bu mid Galakz
katanya cinta,tp selalu banding²in .. Bilal bulolll
bu mid Galakz
bocil di gombalin gitu aja udah klepek klepek 🤣🤣
bu mid Galakz
nanti ujung ujungnya khatijah yang merasa paling tersakiti 😏😏
ainnnajhn
hai kak, boleh aku kasih rating? setelah aku baca dri tahun 2021 smpe skrng, udh berulang kali aku baca thor.

dri usia ku msih 15 thun dn aku kmbali membacanya di usia 20 tahun, secara signifikan cerita kamu bagus, dlu aku selalu mendukung asma tapi rasanya skrng aku kembali membaca dengan fikiran lebih terbuka, aku sadar ternyata kondisi khadijah itu menyakitkan terlepas dia sendiri yabg mau suaminya poligami tapi tetap menyakitkan sebab suaminya ngga pernah sekalipun mencintai dia sebagai mana bilal mencintai asma, bilal menjalankan kewajibannya pada khadijah atas dasar status sebagai suami sedangkan saat bersama madunya, bilal melakukan hal itu atas dasar cinta.

aku nyesek mikirin kondisi khadijah dan itu betul betul menyakitkan smpe dadaku juga ikut sesak, tiba tiba aku berfikir "Istri pertamanya loh yang nemanin dari awal tapi kok bisa bisa nya dia lebih mencintai org yang baru dtng" aku tahu terlepas dri kesalahan khadijah tapi dia ngga sengaja seandainya bilal ngga memamerkan kemesraan mereka dpn istrinya dan malu asma mungkin khadijah ngga akan merasa cemburu, dia pantas merasakan kecemburuan itu karena dia ga pernah melihat bilal memperlakukannya sama seperti memperlakukan asma.

.
Nina Maryanie: bener aku jg ud bolak balik baca. tp tetap suka aku salut pada watak asma ..biasa ny paling males baca bab plakor..la tp aku bela asma di cerita ini🤣🤣
total 2 replies
Nur 'aeni
bagus aku suka ceritanya plus sekalian dpet ilmu juga
Filli Ananta sunardi
73
Zakiyah Saiful
penulisn yg sgt bgus dgn kata2 yg tk trlalu brlebihn tp mmbuat emosi yg mmbaca naik trn..gnti blk air mata aku😅tahniah pd penulis..semoga brjaya
Aniyatur Rohimah
dari cerita ini membuktikan tidak ada yang bener² bisa Adil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!