NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

"Bagaimana dengan kehidupan pribadinya?" Arya mulai bisa mengendalikan emosinya lagi.

"Untuk soal itu,,anu." Rio sempat ragu. Dia takut apa yang akan dia katakan membuat tuannya kembali naik pitam.

"Apa?"

Hening beberapa saat. Rio memantapkan hatinya, siap melihat tuannya kembali murka untuk yang kedua kalinya setelah mendengar informasi darinya. Sebelumnya, laki-laki ini tak tergoyahkan oleh siapapun. Tapi sejak bertemu dengan Nadia, tabiatnya berubah. Laki-laki itu menjadi aneh, setidaknya itulah yang Rio rasakan.

"Nona Nadia memiliki seorang kekasih, mereka berencana menikah akhir tahun ini.

"Apa? Menikah?"

Lagi-lagi Arya bungkam setelah mengungkapkan satu kalimat sakral itu. Ada sesuatu yang terasa tidak nyaman dalam hatinya, seperti tidak rela saat mendengar bahwa istrinya itu memiliki rencana masa depan dengan pria lain.

"Jadi, itu sebabnya dia ingin mengakhiri pernikahan kontrak ini?" Ujar Arya lirih, membuat Rio menoleh.

"Siapa pria itu?" tanya Arya kemudian. Dia ingin mendengar semua informasi mengenai laki-laki yang memanggil istrinya dengan sebutan sayang.

"Dia Galang Mahesa. Mereka sudah sering mengenal sejak kecil. Tapi hubungan mereka belum mendapat restu dari keluarga Mahesa."

"Keluarga Mahesa?" Arya seperti pernah mendengar nama keluarga itu.

"Benar, hubungan tuan Hermawan dan tuan Mahesa sangat baik dari yang diduga. Mereka masih kerabat jauh."

Arya menggeleng." Tidak, bukan itu yang aku pikirkan."

"Ada apa, tuan?" Rio tidak tau apa yang dipikirkan oleh tuannya ini.

"Keluarga ini seperti tidak asing di pendengaran ku. Selidiki semua mengenai keluarga Mahesa dan laporkan padaku segera."

"Baik, tuan."

Kemudian hening, Arya sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Rio hanya diam menunggu perintah selanjutnya dari sang tuan.

"Sejauh mana hubungan mereka berdua?"

"Ya?"

"Hubungan Galang dan Nadia, sejauh mana hubungan mareka? Apakah mereka pernah tidur bersama?"

Rio dikejutkan dengan pertanyaan acak sang tuan. Sejak kapan tuannya itu peduli dengan hubungan orang lain?

Ah, Rio ingat, Nadia bukan orang lain lagi untuk Arya. Mereka adalah suami istri sekarang. Pantas saja laki-laki itu peduli pada Nadia.

"Apakah mereka pernah tidur bersama?" Arya mengulangi pertanyaannya. Dia sungguh ingin tahu apakah Nadia benar-benar belum pernah tersentuh pria manapun seperti pengakuannya ataukah dia berbohong.

Rio diam beberapa detik kemudian menggeleng. " Nana Nadia tidak pernah menghabiskan malam dengan kekasihnya. Dia selalu menolak melakukan hal itu sebelum menikah."

"Benarkah?" Sebuah senyuman terukir di wajah Arya dan membuat Rio terheran.

"Benar tuan, hal yang paling jauh yang mereka lakukan hanya sebatas mencium kening. Hanya itu, tidak lebih."

Senyuman Arya semakin melebar. Hatinya terasa hangat mendengar bahwa dialah pria yang pertama yang menyentuh tubuh wanita itu.

"Tunggu, ada satu tugas lain untukmu." Arya menarik nafasnya dalam-dalam, seolah apa yang akan ia katakan adalah perintah yang begitu penting. Rio memasang telinganya, siap mendengar perintah dari tuannya.

"Balikan satu ikat bunga!"

Apa? Rio terhenyak. Dia tidak menyangka buahnya akan mengatakan hal itu. Laki-laki ini memintanya untuk membeli bunga? Apa dia benar-benar Arya Dirgantara yang dikenalnya selama ini? Sejak kapan tuannya itu menjadi pria yang romantis dan melankolis seperti sekarang?

"Bu..bunga?" Rio memastikan kembali bahwa apa yang didengarnya tidak salah.

Tanpa menjawab pertanyaan asistennya, Arya merancang pergi dari ruang rapat dengan langkah ringan.

Otak seolah berhenti berfungsi. Dia terpaku di tempatnya berdiri. Ada apa dengan tuannya? Beberapa menit yang lalu dia terlihat begitu marah, tapi sekarang dia seperti pria yang paling bahagia di dunia. Mungkinkah Tuhannya itu jatuh cinta?

.....

Nadia keluar dari minimarket dan segera berlari menuju halte bus di seberang jalan. Dia harus menemui Galang di tempat kerja pria itu secepatnya. Hatinya merasa gelisah sejak pagi, merasa bersalah jika terus menyembunyikan pernikahan kontraknya dengan Arya.

Wanita berambut panjang itu mendekatkan ponsel miliknya ke samping telinga, berharap panggilannya segera terhubung.

"Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan tinggalkan pesan setelah bada berikut."

Nadia menekan ikon berwarna merah, perintah untuk mengakhiri panggilan.

"Apakah dia sibuk?" Guman gadis yang sesekali menatap ke arah kedatangan bus. Kakinya melangkah masuk.ke dalam kendaraan besar itu bersama penumpang lain.

Nadia mengamati dia yang ada di pergelangan tangannya. Pukul empat sore. Di akhir pekan seperti ini, biasanya Galang hanya mengambil pemotretan pagi saja, sementara sisanya biasanya mereka gunakan untuk berkencan. Galang sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk sekedar duduk berdua di taman atau sesekali pergi menonton film, itu saja.

"Ah, lebih baik aku langsung menghubungi studio foto saja."

Detik berikutnya, Nadia sudah berbincang dengan pegawai studio foto tempat kekasihnya berkerja.

"Dia sedang tidak ada perkerjaan hari ini?" tanya Nadia heran.

"Benar, acara pemotretan iklannya diundur lusa, jadi dia tidak sayang hari ini. Mungkin Arya sedang berada di rumahnya."

"Baiklah, aku akan ke sana sekarang. Terimakasih informasinya."

Raut wajah heran belum hilang dari wajahnya. Nadia kembali melihat ponselnya, berniat menghubungi kekasihnya sekali lagi. Tapi, justru dia dikejutkan saat melihat riwayat telepon yang bertuliskan Love.

"Galang menghubungi ku semalam?" Keningnya berkerut dalam

Dengan raut wajah heran, Nadia kembali mengingat dimana dia berada semalam. Kenapa dia tidak tau Arya mengubungi nya?

' Bukanlah saat itu dia...' ungkap batin Nadia terjeda. Dia ingat betul semalam pergi ke minimarket yang agak jauh dari rumahnya untuk membeli bahan makanan. ' kalau begitu yang menerima telepon ini...'

Nadia terhenyak, seketika bayangan Arya kembali terlintas. Bisa saja Arya mengangkat panggilan itu, kan? Apa yang telah laki-laki itu katakan pada Galang? Mungkinkah iblis berwujud manusia itu mengatakan sesuatu tentang pernikahan mereka?

Sebuah gelengan kepala menandakan bahwa gadis itu menyangkal prasangkanya sendiri.

"Tidak mungkin. Dia tidak mungkin mengungkapkan hubungan ini begitu saja kan?" Gukan Nadia, mengabaikan pandangan beberapa orang yang kini menatapnya dengan heran karena berbicara sendiri.

Nadia segera turun dari kendaraan umum itu di halte berikutnya. Dia harus segera menuju kediaman Galang dan menjelaskan semuanya, tidak ingin kekasihnya itu salah paham.

Dengan cepat Nadia menghentikan taksi dan memintanya untuk berputar arah. Dia ingin menyelesaikan permasalahan ini secepatnya, jadi dia tidak masalah jika harus membayar sedikit Mama karena memakai roda transportasi terbatas ini.

Setibanya di gedung apartemen mewah itu, Nadia melangkah cepat menyusuri lorong sunyi yang sudah sangat dikenalnya. Setiap pekan, dia datang ke sini sehingga petugas resepsionis pun tak pernah menatap curiga. Tanpa ragu, dia menyeberang menuju lift di ujung koridor yang hening itu. Matanya terpaku pada angka di panel lift yang bergerak pelan seperti waktu yang semakin menekan kesabarannya.

Kakinya bergemetar, sesak dalam dada menahan amarah dan kecemasan yang bergejolak. Denting lift bergema nyaring, pintu besi terbuka menganga seolah menyambut badai yang akan dia hadapi. Nadia melangkah cepat, hampir berlari, menuju pintu di sebelah kanan tubuhnya. Namun, langkahnya terhenti seketika saat bayang-bayang ketakutan melanda.

Pernikahannya dengan Arya belum dia ungkapkan pada Galang. Apa jadinya jika kekasihnya itu marah? Mungkinkah kebencian akan menyesaki hubungan yang dulu begitu erat? Hatinya dipenuhi pusaran tanya yang mengoyak keteguhan dirinya. "Apa yang harus kulakukan sekarang?" bisik Nadia, berjuang melawan badai keraguan yang mengancam untuk menenggelamkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!