"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
"mommy kangen..." ujar nyonya sandrina mencium pipi mahiya sambil meluk.
" kenapa sih kael males banget main kemari?" mommynya kael ngomel dan cemberut sambil melotot ke anak bungsunya itu, tangannya memeluk pinggang ramping mahiya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"namanya juga pengantin baru, tentu lebih sering ngabisin waktu berdua sebanyak mungkin, apalagi mereka belum bulan madu" sahut oma santai berjalan di sisi kael yang memeluknya.
"oma tahu aja"
Kael cengar-cengir, membuat oma dan mommynya terbahak.
"oma mau ngomong apaan sih?" tanya kael setengah berbisik, mata kael melihat sekilas ke arah meja makan, formasi lengkap semua anggota keluarga inti sedang duduk, seakan menanti mereka.
Dan yang membuat kael deg-degan nggak karuan, ada martin yang duduk di samping gerard, menatap ke arahnya dengan sorot mata menyebalkannya.
"kita makan dulu" sahut nyonya sandrina cepat.
"martin punya sesuatu yang ingin di sampaikan katanya"
Mahiya dan kael saling pandang, ada rasa gelisah terlihat jelas dari sorot mata gadis itu.
Kael juga gelisah, tapi dengan cepat ia menjaga ekspresi wajahnya. Dengan mesra kael meraih pinggang mahiya, mahiya sedikit tersentak. Tapi dia juga dengan cepat memeluk lengan kael mesra.
Gerard tak berkedip menatap kedatangan mereka tadi, tapi begitu kael dengan sok mesra memeluk pinggang mahiya, gerard melengos jengah. Dan itu tak luput dari tatapan kael, kael mengernyitkan keningnya heran, mengapa gerard selalu terlihat tak suka melihatnya memeluk mahiya.
"buruan lah pengantin baru, kami semua lapar nih!"
Martin berseru setengah berteriak, sepupunya kael itu juga terlihat jengah melihat kemesraan 'palsu' kael dan mahiya itu.
Mahiya duduk di samping kael, setelah mencium pipi irene yang berdiri menyambutnya.
"ngapain lo kemari?cari makan gratis?" ujar kael dengan kasarnya, walau nada suaranya tetap saja datar.
"hussst kael.." tegur nyonya sandrina mendelik, martin yang mendengar ucapan kasar kael cuman tertawa. Tapi tawa pria itu terdengar menyebalkan, nggak menjawab sindiran kael sama sekali.
Mahiya yang masih deg-degan, duduk dengan gelisah. Kael yang menyadarinya dengan tenang meremas jemari mahiya, gadis itu menoleh kaget.
Mahiya menatap lekat mata kael, entah mengapa hatinya mendadak tenang. Sorot mata kael menenangkannya. Senyum manis kael menerobos bebas, masuk dengan santainya ke hati mahiya yang kembali deg-degan, tapi deg-degannya bukan karena gelisah lagi, jantungnya berdegub kencang dan membuat wajah mahiya merona merah.
Kael terpana, wajah salah tingkah mahiya membuatnya terpesona. Dia juga nggak tahu mengapa jantungnya sedikit berpacu, karena tatapan mata 'istrinya' itu. Tatapan mata penuh harap yang mengerjab indah, hampir membuatnya terperangah bodoh, namun kael kembali menguasai perasaannya, menjaga ekspresi wajahnya sedatar mungkin.
"katakan yang ingin kamu sampaikan martin"
Suara wibawa daddynya kael, menyentakkan sepasang pengantin baru itu, kini mereka berdua menoleh ke arah martin yang menatap tuan adrian.
"heum, anu om"
Kael mengernyitkan keningnya, perasaanya kembali tak enak. Melihat martin gugup kael semakin gelisah, tiba-tiba dia tersentak, melirik tangan yang berada di pangkuannya. Jemarinya di remas lembut mahiya, hati kael menghangat seketika, padahal gadis itu sama sekali tak melihat ke arahnya, tapi remasan jemarinya itu memberi ketenangan padanya.
"martin ingin menikah om"
Semua menatap martin penuh selidik, kael sampai menaikkan alisnya sebelah.
"kenapa juga lo mau menikah harus ngumpulin kami semua? Lagian kami juga udah tahu dari om herman"
Martin menggeleng santai, senyum menyebalkannya terlihat lagi.
"karena wanita yang ingin kunikahi adalah clarissa"
"itu juga kami udah tahu!" sahut kael santai but sure, sambil masih menyuap makanannya.
"trus apakah semua juga udah tahu kalau clarissa membatalkan pernikahan kami, karena kamu?"
Kael tersedak, dia batuk-batuk. Mahiya dengan cepat mengulurkan segelas air sambil menepuk-nepuk pelan punggung kael.
"kok karena aku?" sembur kael kesal dengan mata memerah, karena tersedak tadi.
"apa urusannya ama aku?"
"karena sejak ketemuan dengan kamu 3 hari yang lalu, clarissa tetiba berniat membatalkan rencana pernikahan itu"
Gerard tersentak, 3 hari yang lalu tepat saat dia juga makan siang dengan mahiya kah, pria itu melirik mahiya yang ternyata sedang menatapnya.
"elo ngomong apa ke cla?hah!"
Martin melotot kesal, jari telunjuknya menunjuk wajah kael.
"enak aja lo, main tuduh sesuka udelmu!, emang kamu punya bukti apa nuduh aku?"
"sudah...sudah..."
Gebrakan tangan tuan adrian di atas meja, melerai perkelahian mulut antara kael dan martin yang mulai memanas.
Tapi kedua pria itu masih saling pandang dengan sorot penuh kemarahan.
"jadi sebenarnya, kamu kemari untuk apa martin?"
Pertanyaan tenang dengan suara berat tuan adrian mengalihkan perhatian semuanya, mereka menatap ke arah martin.
"aku mau minta kael tanggung jawab om, undangan sudah di sebar, kael harus membujuk cla untuk menikah denganku"
"cihhhh"
Terdengar decihan dari mulut kael yang masih kesal, wajah tampannya terlihat tidak terima.
"kenapa jadi aku yang repot" gerutu kael ngedumel sebal.
"oma tidak setuju" ujar oma nurmala tiba-tiba.
"urusan membujuk clarissa biar oma, jangan ganggu kael dan istrinya"
Serentak semua mata menatap oma nurmala, mata martin memicing, sementara kael tersenyum manis, sorot matanya terlihat penuh terima kasih.
"kamu ajak besok clarissa jumpain oma di kampus sentral, oma tunggu jam 9 pagi. Okey"
Martin masih mengamati omanya dengan mata memicing, agak kesal sih. Padahal dia emang sengaja pengen buat kael repot, tapi tetiba aja oma ikut campur.
Martin mendengus kasar, tapi dia cuman bisa ngangguk doang, di keluarga besar suwondo, ucapan oma adalah titah yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Jangankan dia yang cuman sorang cucu, papanya saja herman suwondo tidak akan berani membantah oma nurmala.
"boleh oma tanya sesuatu ke kamu martin?"
Martin menoleh, yang lain juga. Wajahnya pada serius semua, kecuali mahiya sih tentunya. Dia mah santai saja, masih asyik mengunyah.
"kenapa harus clarissa?, kamu tahu kan siapa dia?"
Martin mengangguk, jakunnya terlihat naik turun, kelihatan juga tuh cowok rada gugup.
"martin menyukai clarissa oma, dan menurut papa pernikahan itu akan membawa keberuntungan untuk kedua keluarga"
Oma manggut-manggut, tapi wajah tua itu nggak bisa berbohong. Wajah oma terlihat jelas tidak suka, tiba-tiba oma mengedikkan bahunya.
"terserah kamu deh, sebenarnya oma kurang setuju, tapi kalau papa mamamu sudah setuju, oma bisa apa?" ujar oma santai, walau jelas terdengar seperti sebuah keluhan.
"trus kamu kemari cuman mau ngomongin itu doang? Segala ngumpulin kami semua lagi, lu pikir semua orang nggak punya kerjaan kali yah?" tanya kael sewot dengan wajah tampan kesalnya, tiba-tiba martin tersenyum sinis. Smirk menyebalkan di wajahnya membuat perasaan kael mendadak nggak enak.
"emang oma, om, tante dan semua keluarga percaya, kalau kael dan istrinya benar-benar saling cinta?"
"deghhh.."
Kael kaget, mahiya apalagi. Berasa kek dengar petir di siang bolong, mahiya dan kael saling pandang.
"mereka menikah cuman di atas kertas oma" lanjut martin dengan santainya, mengamati wajah-wajah yang menatapnya.
Semua terlihat terkejut, apalagi oma. Wajah wanita sepuh itu memerah, jelas menahan emosi.
Oma menatap kael lekat, begitu juga kedua orangtua kael. Hanya wajah gerard yang tidak terlihat terkejut,
"benarkah itu kael?"
Suara tuan adrian terdengar berat, menatap kael dan menantunya bergantian.
"benarkah kalian membohongi kami?"
"sayang..." panggil nyonya sandrina menyentuh lengan mahiya yang terdiam. Kepala wanita paruh baya cantik itu menggeleng tidak terima,
"martin bohongkan?"
Mahiya menatap nyonya sandrina, bingung nggak tahu mau ngomong apa. Mahiya menoleh, menatap kael lekat, seakan meminta kael menjawabnya.
Tiba-tiba kael menangkup kedua pipi mahiya, mahiya tersentak kaget, eh belum hilang kagetnya tetiba kael mencium bibirnya. Melumat bibir mahiya dengan mesra di depan semua yang menatap mereka, terkejut dan tak percaya.
Bersambung...