Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad di Balik Kabut Desa
Pukul Lisa sore sebuah mobil khusus dari markas memasuki halaman rumah Azura. Angga dan Yoga akhirnya kembali dari kota. Tidak hanya membawa berkas administrasi, Angga juga membawa bermacam-macam seserahan hantaran mewah yang dipesan khusus Rayyan untuk Azura. Semuanya tersusun rapi dalam kotak-kotak kaca yang elegan.
Keesokkan harinya, Farhan dan pak Hadi bergerak cepat mengurus berkas ke KUA di kecamatan. Berkat kelengkapan dokumen yang dibawa Angga, semua proses selesai jauh lebih cepat dari perkiraan. Rencana berubah total, mereka tidak lagi menunggu satu Minggu. Pernikahan resmi akan dilaksanakan dua hari lagi, tepat pada hari kamis pagi.
...----------------...
Kehebohan memuncak sore itu ketika geng sahabat Azura, Dian, Nella, Rama, Rizal dan Nanda tiba di rumah. Mata mereka semua tertuju pada sosok pria tegap dengan setelan rapi yang sedang sibuk mengatur kotak seserahan di ruang tengah.
"Eh, sebentar... Ini mata gue yang katarak atau gimana? Itu di Ucup, kan?" bisik Nella sambil menyenggol lengan Dian.
"Demi apa?! Ucup?!" seru Dina tidak percaya.
Rama yang paling kepo langsung lari mendekat dan memutari tubuh Angga seolah sedang memeriksa barang antik
"Woi, Cup! Ini beneran Lo? Kok bisa berubah drastis begini? dulu rambut Lo belah tengah klimis pake minyak rambut sepuluh ribu, kacamata setebal pantat botol. Sekarang? Gila, Lo pakai Pomade apa, hah? Badan Lo juga... Lo makan beton ya di kota?"
Angga hanya bisa nyengir sambil membetulkan kerah kemejanya. "Namanya juga transformasi, Ram. Masa mau culun selamanya. Gue ini asisten pribadi CEO twins Group, Bro!"
"Gaya Lo, Cup!" Sahut Rizal sambil merangkul pundak Angga. "Tapi jujur, pangling banget gue. Tadi gue kira Lo itu bodyguard kiriman dari pusat."
"Heh! Gue dengar ya!" potong Rama cepat. "Tapi serius, Cup... Lo kok bisa bareng sama Azura di desa ini? Trus ini calon suaminya Azura beneran se-level sultan yang sering masuk berita itu?"
"Lo lihat aja besok pas akad, Ram. Siap-siap aja jantung lo copot lihat mas kawinnya, jawab Angga misterius sambil tertawa bangga.
Tak kalah Arka dan Aidan adalah orang yang paling bahagia hari itu. Malam menjelang pernikahan, si kembar sangat manja, mereka meminta tidur bersama Azura dan saat makan malam pun minta disuapi olehnya. Rayyan yang memperhatikan dari kejauhan merasa sedikit iri melihat kedekatan itu, tapi hatinya menghangat.
Kamis pagi jam sembilan, kediaman Azura sudah berubah cantik hiasan tenda sederhana namun berkelas. Seluruh karyawan pengrajin anyaman di undang, begitu juga pada sahabat Azura dari kota yang telah tiba sejak sore sebelumnya. Bu Sulastri dan Bu Laras tampak paling sibuk dan heboh menyiapkan segala keperluan. Sari dan suaminya pun hadir dengan senyum lebar, ikut merasakan kebahagiaan Azura.
Detik-detik ijab Kabul dimukai. Rayyan duduk di depan pak Hadi dengan perasaan yang sangat asing. Ia merasa sangat berdebar sebuah rasa gugup luar biasa, bahkan dibandingkan saat ia menikah dengan Clarissa tidak merasakan apa-apa.
"Saya terima nikah dan kawinnya Azura Nadhira Azelena binti Hadiyansah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai! Ucap Rayyan dengan satu tarikan napas yang mantap.
"SAH!" seru para saksi dan tamu hadirin.
Uang mahar sebesar 1 miliar rupiah tunai, satu set perhiasan emas seberat 100 gram, serta deretan seserahan mewah lainnya membuat para tamu yang hadir, termasuk Rama dan kawan-kawan, terperanjat. Rama sampai melongo tidak percaya melihat tumpukan uang tunai di depan matanya.
Setelah dia selesai dibacakan, Azura turun perlahan dari tangga dengan balutan gamis putih yang sangat anggun. Di kanan kirinya, Arka dan Aidan berjalan dengan bangga menggandeng tangan "Bunda" mereka.
Rayyan terpaku. Napasnya seolah berhenti sejenak melihat pemandangan di depannya. Mulai detik ini, Azura bukan lagi sekedar rekan kerja dia adalah istrinya secara sah.
Setelah seluruh rangkaian acara akad nikah selesai dengan khidmat, satu per satu tamu mulai berpamitan. Geng sahabat Azura akhirnya pamit pulang ke kota. Azura telah menyiapkan mobil khusus untuk mengantar mereka agar perjalanan mereka aman dan nyaman.
Malam harinya, suasana di ruang tengah rumah pak Hadi masih penuh dengan tawa. Keluarga besar berkumpul untuk sekedar mengobrol santai. Tentu saja, sasaran empuk godaan malam itu adalah Rayyan dan Azura yang baru saja sah menjadi suami istri. Tetapi, bukannya tersipu, mereka malah kompak membelokkan godaan itu kepada Farhan.
"Sekarang tinggal Mas farhan nih," goda Alya sambil melirik kakaknya. "Harus segera cari ibu baru buat Rafa, biar Rafa ada temannya di rumah."
Angga tidak mau ketinggalan, ia langsung menimpali dengan semangat. "Benar itu, Mas Farhan! Cepat menikah gih, supaya nanti aku nggak perlu keluar uang banyak buat 'melangkahi' Mas kalau mau nikahi Alya!" seru Angga yang langsung disambut ledakan tawa seisi ruangan.
Farhan hanya bisa cemberut, tidak berkutik dihujani godaan dari adik dan calon iparnya yang ajaib itu. "Bahas itu nanti saja, urus saja dulu latihan bela diri kamu, Ngga!" balas Farhan yang membuat tawa makin pecah.
Saat larut malam tiba, satu per satu anggota keluarga masuk ke kamar masing-masing. Rayyan melangkah masuk ke kamar Azura yang kini sudah berubah cantik. Kamar itu telah didekorasi dengan bunga-bunga segar dan aroma terapi yang menenangkan untuk menyambut pengantin baru.
Rayyan dan Azura baru saja hendak merebahkan diri untuk beristirahat setelah hari yang panjang, tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.
Tok.. Tok.. Tok...
pintu terbuka sedikit, memperlihatkan dua kepala kecil dengan mata bulat yang berkedip lucu. Arka dan Aidan berdiri di sana mengenakan piyama kembar mereka .
"Bunda.. Ayah... Boleh tidur di sini?" tanya Arka manja.
"Kami mau tidur di tengah-tengah," tambah Aidan sambil memeluk bantal kecilnya.
Rayyan dan Azura saling berpandangan lalu tersenyum. Kamar pengantin yang seharusnya sunyi itu seketika menjadi ramai. Si kembar langsung melompat ke atas tempat tidur dan menyelinap di tengah-tengah antara Rayyan dan Azura.
Sebelum memejamkan mata, dalam remang lampu tidur, Rayyan menatap Azura melampaui kepala kedua putranya.
"Azura... terima kasih untuk hari ini," ucap Rayyan dengan suara rendah yang tulus. "Mungkin cinta memang belum datang sepenuhnya di antara kita. Tapi aku siap. Aku siap bersama kamu membangun cinta yang baru dan menghapus luka masa lalu yang pernah kita alami."
Azura tertegun sejenak. Ia melihat kesungguhan di mata Rayyan yang kini nampak jauh lebih hangat dari pertama kali mereka bertemu. Azura menggangguk pelan, sebuah senyum manis terukir di bibirnya.
"Iya, Mas Rayyan. Kita mulai semuanya dari awal, demi anak-anak dan demi kita," jawab Azura lembut
Mendengar panggilan "Mas Ray" keluar dari bibir Azura, jantung Rayyan berdegup lebih kencang dari saat ia mengucapkan ijab kabul tadi pagi. Ada rasa damai yang menjalar di hatinya. Di tengah kepungan napas teratur si kembar yang sudah lama terlelap tidur, malam itu menjadi saksi dimulainya babak baru kehidupan mereka.
biar banyak up lagi🤭🤭
mohon maaf lahir dan batin juga 🙏