Lisa Anggraeni , seorang gadis yang tengah berjalan dengan sahabatnya setelah dari aktifitas kuliah mengalami kecelakaan saat dia tengah menunggu bus yang ada di sebrang jalan. Dia menoleh dan melihat ada motor melanu cepat membuatnya mendorong Hani. Dan membuatnya menjadi korban kecelakaan. Lisa yang mengalami luka luka sempat di bawa ke rumah sakit. Namun sayang, saat dirinya sedang di operasi, nyawanya tak bisa di selamatkan.
Lisa yang tahu dirinya mengalami kecelakaan sebelumnya mengira dia selamat, dan berada di salah satu rumah sakit.
Tapi saat dia sadar justru, dia sedang di salah satu ruangan kosong gelap dan pengap.
Namun saat dirinya berusaha mencari jalan keluar, dia justru melihat bayangan seseorang dari kaca hias kecil.
"Aaaaaa... Wajah siapa yang ada di mukaku ini!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira_Mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Genit
Di tengah keramaian mall yang gemerlap lampu, Rubby melangkah dengan penuh percaya diri, senyum nakal tergurat jelas di sudut bibirnya. Tangannya erat menggenggam lengan Aaron, menariknya maju dengan langkah cepat, seolah sudah menyiapkan strategi licik untuk sore itu.
"Kamu nggak boleh protes. Aku bakalan nguras isi saldo ATM kamu," katanya sambil tertawa kecil, suara tengilnya mengisi sekitar mereka di antara deretan toko dan pengunjung yang lalu-lalang.
Aaron yang sudah akrab dengan tingkah laku Ruby hanya bisa memutar mata dengan malas, namun di dalam hatinya tersembunyi rasa senang. Akhirnya, setelah lama, ia bisa meluangkan waktu bersama Ruby tanpa harus dihantui oleh pengawasan atau jadwal yang padat. Dia mengangguk kecil, menyerah pada rencana nakal Ruby, membiarkan dirinya terbawa dalam keasyikan yang sederhana namun berarti itu.
Mereka berdua melangkah menyusuri lorong-lorong toko mall, tawa dan canda mereka mengisi udara, sementara Ruby sudah membayangkan daftar barang yang akan dia ambil tanpa ampun dari dompet Aaron. Wajahnya bersinar penuh semangat, sebuah petualangan kecil yang manis di antara hiruk-pikuk kota.
"Kita beli baju dulu. Nggak mungkin jalan jalan pake seragam sekolah," Celetuk Aaron yang menarik Ruby ke salah satu toko pakaian anak muda.
*
*
Rubby dan Aaron berdiri di depan deretan setelan pakaian yang tergantung rapi, masing-masing jari mereka menyentuh bahan kain dengan hati-hati, seolah memilih bukan hanya sekadar pakaian, tapi juga strategi yang harus mereka jalankan.
Tatapan Aaron sesekali menatap ke arah pintu, sadar akan pengawasan yang mengintai dari kejauhan. Di balik bayangan patung manekin, dua sosok pria berpakaian serba hitam mengintai dengan mata tajam, sesekali berbisik pelan mengatur langkah.
Aaron mengabaikan itu, dia kembali mencari setelan baju yang akan dia kenakan setelah ini.
Tanpa Aaron tahu, dua pria itu bergerak mendekat saat Aaron dan Rubby di sekat pakaian yang berbeda.
"Cepat, bawa non Rubby pergi. Aku lihat anak buah tuan Bobby sudah mulai mendekat," bisik salah satu dari mereka, suaranya serak tapi penuh kecemasan.
Rekan teamnya tanpa ragu segera melangkah mendekati Rubby, menarik lengannya dengan lembut namun tegas. Rubby terpaku sejenak, tatapannya membelalak saat tubuhnya ditarik menjauh dari Aaron.
"Loh, Om! Kenapa di sini?" suara Rubby sedikit kaget, matanya berkeliling mencari-cari bahaya yang tak terlihat jelas.
Pria itu menunduk sedikit, lal menatap ke arah Ruby, lalu berkata dengan nada pelan namun penuh peringatan sekitar, "Tuan Iram ingin bertemu." Kata-katanya dipilih dengan cermat, sebuah kebohongan halus yang mengunci mulut Rubby agar tak bertanya lebih jauh.
"Papa?"
"Iya, dia sudah menunggu."
Rubby mengangguk, "aku pamit ke temen aku dulu."
Pria itu menggeleng kecil, "tak perlu, teman saya sudah mengatakan itu."
Rubby melihat ke arah dimana ada seorang pria berbadan besar, dan berpakaian sama dengan pengawal yang ada di depannya. Karena tak memiliki pikiran negatif, Rubby mengikuti langkah anak buah ayahnya.
Hatinya berdegup kencang, merasa ada sesuatu yang sedang terjadi dari situasi keadaan ini, tapi ia tak punya pilihan selain mengikuti. Di belakang mereka, bayangan anak buah itu semakin mendekat, siap mengacak rencana yang baru saja mulai terbentuk.
sebelum pergi jauh, dia menoleh ke arah Aaron yang ternyata menatap ke arahnya dengan anggukan kecil seolah dia tahu dirinya akan pergi lebih dulu.
*
*
Jantung Aaron berdetak tak karuan saat sosok anak buah ayahnya tiba-tiba berdiri di belakangnya, membuyarkan segala pikirannya yang tengah kacau. Wajah pria itu serius, nada suaranya tegas namun penuh tekanan saat menyapa, "Tuan muda." Aaron segera menoleh, matanya menyapu ke sekeliling—namun Rubby tidak terlihat di mana pun.
Tapi dia melihat Ruby di bawa dua orang pria yang seperti sudah bersiap dengan keadaan yang akan terjadi. Aaron sedikit lega, jika Ruby sudah lebih awal pergi dari sisinya.
Aaron gelisah merayapi seluruh tubuhnya, ia tahu betul bahwa membawa Ruby ke dalam pusaran masalah keluarga bisa berakibat fatal. Ruby bukan sekadar adik kelas, dia sudah seperti adik sendiri, dan Aaron tak ingin sejarah pahit terulang seperti yang dialami oleh adik kembarnya, Xevar, yang terjebak dalam perjodohan demi mengokohkan kekuasaan bisnis keluarga.
"mari ikut kami,"
Nafasnya terengah pelan, namun ia mencoba menahan kecemasan itu dan membalas dengan nada dingin, "Baik. Saya akan ikut." Keputusan itu keluar dari bibirnya tanpa keraguan, meski hatinya bergejolak antara tanggung jawab dan ketakutan akan masa depan Ruby, jika dia benar benar ketahuan oleh ayahnya.
*
*
Bugh...
"Aduh,,"
Ruby yang berjalan dengan langkah tergesa, matanya terpaku pada layar ponsel yang terus menyala dengan notifikasi pesan masuk. Tanpa sadar, tubuhnya menabrak sosok pria yang sedang berdiri santai, ponsel menempel di samping telinga, sesekali ia tertawa kecil menanggapi pembicaraan. Tubuh Ruby terhenti seketika, dan ia segera menatap pria itu dengan senyum penuh gaya.
"Waah, om tampan. Ketemu lagi kita, om," ucap Ruby dengan suara manja dan penuh riang, lalu mengedipkan satu matanya seolah menebar pesona.
Dari kejauhan, pengawal Ruby yang terbiasa mengawasi tingkah lakunya segera melangkah mendekat. "Mari, nona," suara pengawal itu berwibawa, mengingatkan Ruby untuk segera melanjutkan perjalanan.
Ruby, tanpa melepas senyum dan tawa kecilnya, mencolek dagu pria tampan itu dengan lembut. "Nanti kita ketemu lagi, om tampan, bye bye om," katanya seolah ada janji tersirat yang hanya mereka mengerti.
Di balik tatapannya yang ceria, pria itu menatap balik dengan wajah yang tiba-tiba memerah, seolah terguncang oleh sikap Ruby yang tiba-tiba begitu akrab dan mengusik hatinya. Matanya menunduk sesaat, mencoba menyembunyikan rona malu yang tak terduga.
"Kau sudah dapat apa yang aku minta?" suara pria itu akhirnya terdengar, agak serak dan berat, menandakan ada lebih dari sekadar basa-basi dalam pertemuan singkat itu.
"Sudah tuan, identitas yang ada minta. Sudah saya kirim melalui email anda."
"kerja bagus."
panggilan terputus ketika perintah yang dia berikan sudah mendapatkan hasil.
dan pria itu kembali melangkah pergi ke tempat dimana dia akan mengadakan pertemuan dengan klien yang akan bekerja kerja sama perusahaan miliknya.
Tapi fokusnya justru mengingat bagaimana gadis muda saat mencolek dagunya dengan mudah. matanya berkedip sedikit, lalu tersenyum lembut.
"kau terlalu genit. dan kau salah bermain denganku, baby girl."
hayo loh rimba anak orang nangis 💃💃💃💃