Nawalisya Nasyirah, berusia 28 tahun telah menikah dengan Fandyka Satya Mahardika yang telah berusia 21 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Nawal menerima perjodohan itu atas dasar rasa sayang dan hormat kepada orang tuanya, Hingga akhirnya Nawal membuka hati dan belajar mencintai sang suami.
3 bulan awal pernikahan Fandy dan Nawal berjalan biasa saja, meski mereka tak saling dekat. Namun, setelah 3 bulan itu, Fandy memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Mila.
Disitulah cinta Nawal di uji. Akan kah mereka tetap bertahan? Ditambah lagi dengan masalah usia Nawal yang lebih matang dari fandy?
Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali hancur
Nawalisya
Aku duduk termangu di bangku taman rumah sakit sanglah, Denpasar, Bali. Mengingat kembali momen tadi malam saat aku berpegang teguh pada pendirianku untuk meminta cerai dari mas Fandy.
Ibu begitu syok mendengar keputusanku. Hingga ia pingsan dan dilarikan ke rumah sakit sanglah.
Aku berpikir, Apa aku egois? Apa aku salah? Lantas, kalau memang salah, bagaimana untuk benarnya? Aku tidak lagi mengeluarkan air mata meski hatiku terlampau hancur. Bukan karna aku tak sedih, tapi karna lebih tepatnya aku sudah lelah. Sangat lelah.
Suara dering ponsel mengagetkanku, ku tatap gawaiku. Nama Tristan tertera di sana. Aku ragu untuk mengangkatnya.
"Ya, Tristan".
"Kau masih dirumah sakit?",
"Heh? Kau tau darimana?"
"Jihan". Hening, aku sudah tau pasti lah kak Jihan sutradaranya.
"Mau makan siang denganku? Kurasa.... Aku merindukanmu". Aku mengerjap perlahan mendengar pernyataan Tristan kali ini. Rindu? Yang benar saja?
"Baiklah, Aku tunggu di halaman rumah sakit sanglah. Hubungi aku jika kau sudah sampai".
"Tentu saja, sweetheart. Tunggu aku, aku tidak akan lama". tak lama panggilan pun berakhir.
Apa ini keputusan benar? Meninggalkan mas Fandy dan memberi harapan Tristan yang lebih bijaksana dan lebih dewasa? Jika memang Tristan lebih baik dari mas Fandy, lalu apa Kenan nanti akan bahagia? Aku lelah dan dalam dilema.
Seminggu lalu, Tristan mengutarakan maksudnya untuk meminang ku. Tentu saja aku tidak menolak, hanya saja, statusku saat ini masihlah sebagai istri orang lain.
Lagi pula siapa sih yang mau nolak lamaran pria blasteran indo-amerika ini? Tampannya kelewat banget. Lagipula di usiaku yang sudah menginjak tiga puluh tiga tahun ini, lebih pantas dengan Tristan yang memasuki usia tiga puluh lima tahun. sangat berbanding jauh antara usiaku dengan mas Fandy. Tristan pun terlihat menyayangi Kenan dan Kenan juga menyukainya.
"Hai", Suara Tristan menggema di telingaku. Aku menoleh dan tersenyum padanya, membalas sapaannya.
"Hai".
"Kau sendirian?",
"Tentu saja. Memangnya kau lihat aku duduk dengan siapa?", tanyaku. Tristan terkekeh mendengarnya.
"Jadi benar? mertuamu dirawat di sini?".
"Ya, begitulah", memang seperti itulah kenyataannya. Aku tidak akan menyembunyikan apapun dari Tristan.
"Suamimu?",
"Di dalam", jawabku apa adanya.
"Lalu?",
"Lalu apa?".
"Kau akan kembali padanya?", Aku tersenyum lembut. Sorot matanya, aku tau dia menyimpan ke khawatiran, tapi dia mampu menutupinya dengan sempurna.
"Jangan tanyakan itu Tristan. Bukankah aku juga berhak bahagia? Suamiku sudah bahagia bersama istri muda nya. Jadi aku memutuskan....".
"Hmm...??", Tristan melirik ke arahku dengan mengangkat satu alisnya. Sungguh, ekspresi yang seperti ini membuatku sangat gemas padanya.
"Menerima pinanganmu..... setelah aku resmi menjanda nantinya", jawabku lirih dengan menyembunyikan rasa malu yang seketika menjalar hingga mungkin wajahku sudah merona... Oh tuhaaan, aku berasa seperti kembali gadis dengan perasaan sepeti ini. Ada apa dengan aku?
"Ya, janda yang cantik dan baik hati dengan segala ketulusannya".
"Berhenti membuatku malu Tristan. Ini tidak lucu", Aku bersungut kesal untuk menutupi rasa malu ku.
"Jadi, mas kawin apa yang kau inginkan dariku sweetheart?".
"Aku ingin pesawat jet tempur". Jawabku menggodanya. Dia tercengang mendengar penuturanku, persis seperti bocah yang dikerjai habis-habisan. Aku berusaha menahan tawaku yang seakan ingin meledak.
"Heh? untuk apa?", katanya ya dengan wajah cengo.
"Untuk bertempur dan berperang melawanmu jika suatu saat nanti kau berniat akan menikah lagi.
"Jangan samakan aku dengan suamimu", jawabnya dengan senyum lembutnya. "Kau semakin nakal sekarang ya".
"Ya, begitulah".
Hingga canda kecil dan tawa ringan kami slaing bersahut-sahutan, Mas Fandy muncul dan terpaku menatapku dari jarak yang lumayan jauh. Sesaat mata kami saling bersirobok. Dia datang menghampiri kami dengan raut wajah yang sulit untuk aku mengartikannya.
"Na".
"Ya," sahutku tenang.
"Kamu jangan seperti ini saat hubungan kita masih berstatus suami istri, tolong jaga batasan kamu". Oh, dia marah rupanya.
"Aku hanya bercanda dengannya mas, apa ada yang salah? jika memang salah, lalu bagaimana dengan tingkahmu dulu waktu dengan terang-terangan menikahi Mila? Apa itu tidak salah?".
"Tolong na, Aku tau aku salah. Tapi.....".
"Kalau kamu merasa risih, percepat lah untuk menalakku secepatnya mas. Jangan menunggu lama untuk menggugat cerai aku. Aku sudah lebih dari sekedar siap menerimanya". kataku dingin sambil berlalu meninggalkannya dan Tristan. Sayup-sayup aku mendengar Tristan berpamitan padanya dan menyusul ku. Jujur saja, aku lelah dengan semua ini. Apapun yang ku alami di masa lalu, selalu melintas jelas dalam benakku.
☀️☀️☀️☀️
Fandyka
Aku mendesah pasrah dengan segala kerumitan yang ku alami ini. Duduk di ruang kerja di resto ku saat ini memang lah satu-satunya pilihan. Ku tatap surat cerai dari pengadilan agama, ku lihat nama Mila sebagai pihak penggugat.
Tepat satu bulan yang lalu, Mila pergi dariku setelah kepulangan kami dari rumah sakit di Bali waktu itu. Sedang saat ini, proses awal perceraian ku dan Nawal sedang berjalan, Mila juga mengajukan perceraian di pengadilan.
Hari ini, adalah hari ku untuk menjemput Kenan di Pasuruan untuk ku bawa menginap di rumahku selama seminggu. Semenjak pertemuan ku dengan nawal waktu itu, Nawal mengijinkan Kenan untuk sesekali ikut denganku. Nawal juga sudah pulang ke rumahnya di Pasuruan dan memberitahukan tentang Kenan pada keluarganya.
Ya, keluarga nya di Pasuruan memang tidaklah mengetahui kalau Nawal selama ini tengah tinggal dan bekerja di Bali. Aku seperti tidak punya muka sebenarnya untuk bertemu dengan keluarga Nawal. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku harus tetap lah bertemu dengan mereka karna akan sering-sering menjemput Kenan meski nawal tetap tinggal di Bali.
Mila, entah mengapa aku tidak merasa sakit hati ataupun kehilangan saat dia pergi meninggalkanku. Justru yang membuatku sesak saat ini adalah, perpisahan ku dengan Nawal yang benar-benar akan terjadi. Terlebih lagi, ku dengar selentingan kabar bahwa ia akan menikah dengan pria yang bernama Tristan setelah perceraian kami sudah resmi dan selesai masa Iddah nya.
Berulang kali aku meminta Nawal untuk membatalkan perceraian ini, namun aku bisa apa? aku tak punya kemampuan lebih karna memang segala kesalahan dan cacat cela memang lah ada padaku. Tiba-tiba, dering ponsel membuyarkan lamunanku.
"Hallo", ucapku dengan malas.
"Mas," Suara yang sedikit serak dan berbeda dari biasanya terdengar di telingaku. Ku lihat sekali lagi layar ponselku, itu suara Mila. ya, itu Mila.
"Iya mil, kenapa? Apa terjadi sesuatu?", ku dengar dia terisak dan menahan tangisnya.
"Aku sekarang di Bali", katanya lagi. Aku pun kaget mendengarnya.
"Ngapain kamu di Bali?".
"Aku berusaha membujuk mba Nawal untuk kembali sama kamu mas, tapi.... aku tidak bisa. Aku gagal mas", Jawabnya lagi dengan suara tangisan yang dia lepaskan.
"Ngapain kamu ngomong gitu? Nawal nggaka kan mungkin mau mil. Aku sadar kesalahanku dengan Nawal sangat lah besar, atau bahkan mungkin tidak akan bisa di maafkan. Terutama Kenan". ucap ku miris dan melemahkan intonasi ku saat kalimat terakhir ku ucapkan.
"Maaf mas, maaf. aku mohon ampun sama kamu. Dari awal, semua ini terjadi karna salahku. Maaf karna nggak bisa mengembalikan keadaaan seperti semula".
"Nggak usah khawatir mil. mungkin ini suratan takdir. Insya Allah aku ikhlas menerimanya. Aku yakin, ini hukuman. Aku harus menjalaninya dengan berbesar hati, harus kehilangan dua istri dalam satu waktu. Tidak apa-apa, jangan khawatir kan aku. Aku bisa mengurus diriku sendiri dengan orang tua ku".
"Mas, tentang mbak Nawal dan pria yang bernama Tristan itu.....".
"Aku sudah tau, mereka akan menikah kan?".
"Kamu tau?",
"Ya, tentu saja", Aku memejamkan mataku, menikmati rasa luka yang coba ku tutupi dari semua orang.
"Lalu, kita harus apa sekarang mas?".
"Menjalani hidup kita masing-masing dengan ikhlas. Ini memang hukuman untuk kita".
"Aku akan bujuk mbak Nawal sekali lagi".
"Jangan", Sahutku cepat.
"Kenapa?"
"Karna dia berhak bahagia", Aku tidak tahan lagi mengingat Nawal dengn segal kejahatanku padanya selama ini. Aku menangis lagi. Menikmati detik-detik kehancuran ku kembali. Ya, aku kembali hancur.
"Kamu harus kuat mas, demi Kenan. Meski kita udah pisah, Aku tetap mencintaimu. Membawa cinta ini sampai aku mati. Meski sekarang cinta kamu bukan untukku lagi.".
pengen kesel, kok ada cewe mcm bgono, mslhnya ini cuma novel