JUARA 1 LOMBA MENULIS HOROR TAHUN 2023
Prequel dari Rumah di tengah Sawah.
Pada tahun 1958, seorang dukun dikeroyok oleh warga desa hingga kehilangan nyawa. Setelah dukun itu tiada, barulah warga desa menyadari ada sosok perempuan yang tinggal di rumah sang dukun.
Namanya Narsih. Kulitnya putih bersih, berparas ayu, bersuara merdu. Tapi, siapa sebenarnya Narsih? Kehadirannya di desa Karang akankah membawa kebaikan atau malah sebaliknya?
Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, dan kejadian hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pitulikur
Hanya tiga hari waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pembuatan parit sepanjang tiga kilometer itu. Bahkan warga desa yang mengerjakannya pun dibuat heran. Bagaimana mungkin parit yang awalnya diperkirakan memakan waktu lebih dari satu minggu pengerjaannya, tapi dalam tiga hari sudah selesai?
Muncul desas desus di kalangan warga, jika pembuatan parit tidak pernah berhenti bahkan di malam hari. Seringkali terdengar suara riuh orang menggali di waktu malam. Bahkan ada yang bersumpah pernah melihat puluhan pekerja yang terus menggali di tengah malam.
Banyak warga yang mengelu-elukan nama Wira. Bayan berusia muda, membawa kemakmuran pada warga desa. Di musim kemarau, warga tak lagi bingung soal pengairan sawahnya. Muncul pula anggapan, Wira selain memiliki pendidikan akademis yang bagus juga menerima ilmu mantra dari Sang Bapak. Ada juga segelintir orang yang mengidolakan secara berlebihan, hingga meminta Mbah Lurah diganti oleh Wira.
Suka cita warga desa terdengar ke telinga Wira. Petang kali ini, dia tengah memberi makan ayam bekisar bersama Sugeng dan Tarno di halaman depan rumah.
"Siapa yang menduga bocah yang dulu cengengnya minta ampun sekarang jadi idola semua warga desa," ujar Sugeng mengolok-olok Wira.
"Sampek ada yang fanatik banget, minta agar Lurahnya diganti," sambung Tarno.
"Orang-orang semakin ngawur. Padahal Mbah Lurah itu sosok yang benar-benar memikirkan warganya. Kita beruntung lho punya pemimpin seperti Mbah Lurah. Peduli, ngayomi, merangkul anak muda juga," balas Wira. Sebenarnya dia cukup senang dengan ketenaran yang didapatkan.
"Mas, tapi dirimu memang dipandang sosok idaman, lengkap, sempurna lho. Pinter, sekolah tinggi, dikabarkan sakti juga, dan satu lagi yang jadi bahan omongan, istrinya cantik. Mbak Narsih selalu jadi bahan perbincangan Bapak-bapak di warung," ucap Sugeng sembari menyulut rokok di bibirnya.
"Kamu mengejekku Geng? Kamu juga tahu kan aslinya Narsih gimana? Seandainya kamu di posisiku, apa kamu mau punya istri sepertinya?" Wira terlihat marah. Tarno melotot pada Sugeng. Merasa salah ucap, Sugeng hanya tersenyum masam.
Terdengar suara laki-laki berdehem. Ki Mangun berdiri di ambang pintu depan, dengan tongkat berukir harimau di tangan kanannya. Ki Mangun terlihat lebih kurus. Tulang pipinya nampak menonjol.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ki Mangun. Suara seraknya tetap terdengar menakutkan dan mengintimidasi. Tarno dan Sugeng menunduk, mengunci mulutnya rapat-rapat.
Ki Mangun berjalan ke halaman depan. Sorot matanya tajam dan terlihat kesal.
"Wira, tidak seharusnya kamu menggunjing istrimu sendiri. Kamu terpelajar, seharusnya tahu betul bahwa istri adalah sosok yang harus dihargai. Bukankah istrimu sudah menunjukkan setya, bekti, mituhu, mitayani? Baik buruknya istrimu tergantung bagaimana kamu mengarahkannya," bentak Ki Mangun melotot ke arah Wira.
Sugeng dan Tarno saling sikut mengetahui kemarahan Ki Mangun. Bagaimanapun semua terjadi berawal dari gurauan mereka pada Wira. Sedangkan Wira tertunduk membisu. Membantah orangtua adalah sebuah dosa, Wira menanamkan hal itu di benaknya.
Narsih datang membawa nampan berisi teh dan kopi. Dia tidak tahu jika Ki Mangun sedang memarahi Wira. Sambil tersenyum, Narsih meletakkan nampan berisi minuman hangat di lantai.
"Minumannya, monggo," ucap Narsih kalem. Sugeng dan Tarno mengangguk sambil nyengir.
"Nduk Narsih?" panggil Ki Mangun. Suaranya terdengar berbeda. Tidak segalak kala membentak Wira. Lebih kalem dengan seulas senyuman di bibirnya.
"Ikut aku sebentar," ucap Ki Mangun, berjalan meninggalkan Wira yang masih tertunduk. Narsih pun menurut, mengekor di belakang Ki Mangun. Mereka masuk ke dalam rumah dan berhenti di ruang depan. Ki Mangun duduk di kursi khusus miliknya. Kursi kayu besar yang terukir gambar harimau. Kemudian mengambil kotak kayu di tengah meja yang berisi rokok kobot kesukaannya.
"Duduklah." Ki Mangun menyulut rokok sebatang. Narsih duduk di kursi menghadap Ki Mangun. Sementara itu di ujung ruang tamu, Mbok Ginah diam-diam menguping pembicaraan suami dan menantunya.
"Pembuatan parit sudah selesai. Bukankah kita perlu untuk syukuran? Kamu mau 'ditanggapne' wayang? Atau kamu lebih suka campursari?" tanya Ki Mangun. Narsih sedikit bingung mendengar pertanyaan mertuanya itu.
"Kenapa kulo yang ditanya Pak? Kiranya apa yang disukai warga, itu lebih utama," jawab Narsih kalem.
"Ya biar bagaimanapun, kesuksesan Wira, berhasilnya pembangunan saluran irigasi, tidak terlepas dari sosokmu yang mendukung penuh suami," sahut Ki Mangun. Menyesap asap pembakaran tembakau dalam-dalam.
"Sejujurnya kulo tidak mempunyai ingatan soal hiburan yang Bapak sebutkan. Mungkin di masa lalu, kulo belum pernah melihat hiburan semacam itu."
"Mungkin wayang saja ya. Kurasa kamu akan menyukainya." Ki Mangun menimpali.
"Manut Bapak saja," tukas Narsih singkat.
"Pak? Bolehkah kulo bertanya?" Narsih terlihat ragu-ragu. Ki Mangun mengangguk sambil terus menyesap rokok dari kulit jagung beraroma menyengat.
"Njenengan memang sudah memberitahu jika benar Ki Darso adalah Bapak kulo. Meski sampai sekarang hal itu masih kulo ragukan," ucap Narsih lirih. Ki Mangun tiba-tiba meletakkan putung rokoknya yang masih terbakar separuh bagian. Kiranya ucapan Narsih mengganggu pikiran Ki Mangun.
"Kulo hanya ingin tahu. Siapa sebenarnya Ibuk kulo? Orang yang melahirkan kulo."
Ki Mangun menghela nafas. Dia terbatuk-batuk beberapa saat. Narsih sedikit panik melihatnya.
"Maaf Pak. Kulo hanya ingin tahu saja. Sungguh kalaupun bisa bertemu dengan Simbok, kulo tidak akan meninggalkan Mas Wira dan keluarga ini. Janji kulo sudah terpatri saat di tempuran sungai. Kulo akan setia mengabdi pada suami, Mas Wira," ucap Narsih bersungguh-sungguh.
"Kamu perempuan yang baik Nduk," sahut Ki Mangun setelah batuknya mereda.
"Bukannya aku tidak mau memberitahumu, hanya saja aku sungguh tidak tahu siapa Ibumu. Kuharap kamu menemukan kebahagiaan bersama anakku. Menemukan kepingan hatimu yang hilang ketika bersama keluarga ini. Jangan pikirkan tentang masa lalu. Berbahagialah di masa sekarang, dan masa depan," tukas Ki Mangun sambil tersenyum.
Narsih menitikkan air mata. Laki-laki yang awalnya terasa menyeramkan, kini sangat peduli padanya. Dia merasakan kehangatan seorang Bapak dari sosok Ki Mangun. Tapi kenapa Darso berpesan pada Narsih untuk menjauh dari Ki Mangun?
"Sudah ya, aku mau ke kamar untuk istirahat. Badan tua ini semakin hari kian terasa berat saja," keluh Ki Mangun sembari meraih tongkat, kemudian berdiri dari duduknya. Laki-laki renta itu terlihat kesulitan untuk berdiri. Meski begitu dia menolak dibantu menantunya.
"Oh iya, untuk syukuran di balai desa tadi kamu setuju kan jika aku nanggap wayang?" tanya Ki Mangun memastikan.
"Manut njenengan saja Pak," ujar Narsih mengangguk.
"Kuyakin kamu bakalan suka dengan pertunjukan wayang. Dua atau tiga hari lagi kupanggilkan dalang rekan lamaku dari desa sebelah."
Ki Mangun berjalan perlahan menuju kamarnya. Meninggalkan Narsih yang masih terpaku di ruang tamu. Langkah Ki Mangun terhenti kala mengetahui Mbok Ginah berdiri di ujung ruang tamu, bersembunyi di balik dinding lorong menuju bilik kamar tidur.
"Nah Ginah, jangan suka nguping. Congekmu bisa tebal menyumpal nanti," gerutu Ki Mangun menghela nafas. Mbok Ginah diam saja, memilin ujung bajunya.
Bersambung___