(Update setiap weekend)
Sungguh pahit hidup Olivia yang selama 4 bulan belakangan ini harus menjadi wanita simpanan dari Adams, pria yang merupakan kekasih sahabatnya yang bernama Alena hanya demi menutupi kesalahan yang dilakukannya.
Hidup Olivia kian menderita saat dirinya dinyatakan hamil. Awalnya ia sempat mengira jika anak yang dikandungnya adalah anak dari Adams. Pria yang selalu memanfaatkan tubuhnya sebagai pelampiasan di saat Alena sibuk dengan rutinitas dan jadwal shootingnya yang padat. Namun, Adams mengungkap bahwa ternyata dirinya mandul hingga membuat Olivia merasa bingung dengan ayah dari bayi yang dikandungnya saat ini.
Bagaimana cara Olivia dapat menemukan pria yang telah menghamilinya? Dan, apakah Olivia bisa menemukan kebahagiaan dengan segala kesedihan dan kemalangan yang dialaminya?
Follow Instagram Author: ekapradita_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Asing
Selamat membaca!
Sungguh tidak pernah Olivia bayangkan jika apa yang ia pikirkan ternyata salah. Anak di dalam kandungannya bukan anak Adams karena pria itu memang mandul. Tangan Olivia masih tampak bergetar memegangi selembar kertas hasil dari pemeriksaan yang telah dilakukan Adams. Bahkan Olivia juga ikut menemani segala prosesnya di ruang dokter hingga sulit rasanya untuk menemukan celah jika Adams berbohong, terlebih Adams langsung memberikan hasil pemeriksaannya sebelum sempat dibuka oleh pria itu hingga tidak mungkin jika Adams bisa merekayasanya.
"Bagaimana? Sekarang kamu sudah percaya, kan?" tanya Adams masih menunggu tanggapan Olivia yang tergagap memandangi hasil pemeriksaan di tangannya.
"Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Terus anak siapa yang ada dalam kandunganku ini?" Olivia mulai menatap wajah Adams. Melihat dengan mata yang sendu. Sungguh menyedihkan saat membayangkan jika ternyata ada orang lain yang sudah menanam benih di dalam perutnya dan bodohnya lagi, Olivia sama sekali tidak mengetahui siapa pria itu.
"Aku sendiri juga tidak tau, Liv. Apa kamu sudah memeriksakan kandunganmu? Berapa kira-kira usianya?" Adams bertanya dengan kedua alis yang saling bertaut. Saat ini, ia begitu simpati pada Olivia. Jauh di lubuk hati Adams sebenarnya ada setitik rasa cinta untuk Olivia yang mulai disadarinya setelah berpisah dari wanita itu. Namun, Adams tau, setiap kesalahannya pada Olivia adalah sesuatu yang tidak akan bisa dimaafkan.
Tiba-tiba seorang pria datang. Menghampiri Olivia dan Adams. Pria berjas hitam itu terlihat begitu maskulin dan memiliki tubuh yang berisi. "Selamat malam, Nona. Bisakah Anda ikut dengan saya."
"Siapa kamu?" tanya Olivia masih menatap penuh selidik karena pria yang ada dihadapannya itu memang baru pertama dilihatnya.
"Apa kamu kenal dia, Liv?" Adams yang juga penasaran pun bertanya pada Olivia.
"Aku tidak kenal dengan pria ini. Memangnya Anda siapa?" Kali ini suara Olivia terdengar lebih menuntut. Namun bukannya menjawab, pria itu malah hanya mengulang perkataan sebelumnya.
"Kalau aku tidak mau ikut bagaimana?" Dengan raut wajah yang tegas Olivia mengatakannya.
"Itu pilihan Anda, tapi saya rasa, nanti Anda akan menyesalinya."
"Apa maksudnya?" Adams yang mulai kesal kini coba lebih mendekat, lalu menunjuk pria itu dengan sorot mata yang tajam. "Eh dengar baik-baik ya! Olivia tidak akan ke mana-mana. Jadi sebaiknya Anda pergi saja!"
"Sudah, Adams! Tidak perlu ribut-ribut di sini! Ingat, ini rumah sakit!" timpal Olivia yang tidak suka adanya keributan di rumah sakit karena ia tidak ingin mendapatkan teguran dari pihak rumah sakit seperti yang sebelumnya terjadi.
Setelah menenangkan Adams, kedua mata Olivia kembali tertuju pada sosok pria asing di depannya. "Maafkan saya, tapi saya tidak bisa ikut dengan Anda."
"Dengar itu! Olivia tidak mau ikut denganmu. Jadi sekarang pergilah!" Adams mengusir pria itu. Entah kenapa ia jadi ingin melindungi Olivia dari pria asing yang juga tidak dikenalinya. Sama seperti Olivia, ini pertama kalinya Adams bertemu dengan pria berpakaian formal itu.
"Baiklah, kalau itu memang sudah menjadi keputusan Anda." Pria itu pun beranjak pergi. Meninggalkan beragam pertanyaan dalam pikiran Olivia yang sejak tadi terus mengusiknya. Pikiran tentang siapa ayah dari anak yang dikandungnya? Pria yang sudah menidurinya tanpa sepengetahuannya.
"Kalau dia pergi, itu artinya aku tidak akan punya kesempatan untuk mengetahui siapa pria yang sudah meniduriku hingga aku hamil?" batin Olivia kembali memikirkan jawaban yang sempat menolak ajakan pria asing itu untuk ikut bersamanya.
Setelah bergelut dengan keraguan yang sulit ia usir dari pikirannya, Olivia pun dengan cepat memanggil pria itu, "Tunggu dulu! Aku akan ikut denganmu."
Adams yang tak setuju dengan jawaban Olivia pun bersikeras untuk menahan Olivia yang malah ingin mendekati pria asing itu. "Liv, dengarkan aku dulu! Kenapa kamu mau ikut dengan pria itu? Bagaimana jika dia berbohong dan hanya ingin menyakitimu? Aku benar-benar tidak mau kamu sampai mengalami hal itu, Liv." Adams mengatakan itu dengan penuh perhatian. Namun, itu hanya membuatnya marah.
"Kamu tidak perlu sok perhatian padaku, Adams! Ke mana saja kamu selama 4 bulan ini? Kamu itu hanyalah pria yang tidak punya perasaan. Makanya, Tuhan sampai membuatmu mandul. Mungkin saja itu sebagai teguran untuk kamu karena kamu menyakiti aku dan Alena." Olivia mengatakannya dengan penuh penekanan.
Adams pun seketika melepaskan genggaman tangannya. Perkataan itu seperti menampar keras wajahnya. Membuatnya terdiam tanpa suara dan hanya menatap kepergian Olivia bersama pria itu hingga menghilang dari pandangannya.
"Aku tidak bisa membiarkan Olivia pergi hanya berdua dengan pria itu. Aku harus mengikuti mereka," batin Adams memutuskan, lalu mulai melangkah dengan perlahan untuk menyusul Olivia.
walaupun diajak ngomong cuma anggukan kepala saja .
selama empat bulan bersama kamu hanya kau jadikan simpananmu tak pernah menghargai olive