"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."
Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.
"Janji?"
"Janji."
"Sumpah?"
Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."
Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.
"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.
"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.
Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~
Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~
Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: First Kiss
Fakultas Ekonomi. Siang hari.
Ruangan kuliah Pengantar Ekonomi Makro terasa lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena dosennya sedang tidak galak. Mungkin karena materi hari ini tentang inflasi yang membosankan. Atau mungkin karena mahasiswa di bangku belakang sedang sibuk dengan ponsel masing-masing.
Angga duduk di tempat favoritnya, paling belakang dekat jendela. Laptop terbuka di depannya, tapi matanya tidak tertuju ke layar. Ia menatap keluar jendela, ke arah pohon rindang di halaman, ke arah langit yang mulai beranjak mendung.
Pikirannya melayang.
Bukan ke rumus elastisitas. Bukan ke kurva permintaan. Bukan ke tugas makalah yang deadline-nya besok.
Tapi ke Adea.
Gadis kecil dengan rambut diikat dua kepang. Gadis yang selalu berlari kecil seperti anak ayam setiap pagi. Gadis yang memeluknya erat di belakang motor setiap berangkat dan pulang. Gadis yang semalam menangis di pelukannya, lalu tertawa di sela-sela air mata.
Gadis yang pagi ini mengatakan "gue juga sayang lo" dengan suara pelan di depan teras rumah.
First kiss.
Angga menghela napas panjang.
Malam itu adalah pertama kalinya ia mencium seseorang. Bukan ciuman di pipi, bukan ciuman di dahi, tapi ciuman sungguhan, bibir bertemu bibir, lidah saling bertaut, nafas beradu.
Dan itu terjadi dengan Adea.
Gadis yang sudah ia kenal sejak ia bisa mengingat apa pun. Gadis yang rumahnya sebelahan dengan rumahnya dulu. Gadis yang selalu ia tunggu setiap pagi agar mereka bisa berangkat sekolah bersama. Gadis yang menangis di pelukannya saat orang tuanya meninggal. Gadis yang ia bawa tinggal bersamanya ketika tidak ada lagi yang bisa menjaga.
First kiss.
Dan ia tidak menyesal.
Ia bahkan ingin mengulanginya.
"Bro."
Yoga, teman sebangkunya, menyenggol lengan Angga. Cowok berkacamata tebal itu menatapnya dengan alis naik turun.
"Side dari tadi senyum-senyum sendiri. Kayak orang kerasukan."
Angga mengerjap. Ia tidak sadar bahwa bibirnya melengkung. Ia segera meluruskannya.
"Gak ada."
"Bohong. Muka side merah."
"Panas."
"Di sini pake AC. Udah dari tadi jam setengah tujuh pagi."
Angga tidak menjawab. Ia menoleh ke depan, mencoba fokus pada dosen yang sedang menjelaskan tentang inflasi dan suku bunga. Tapi matanya kembali ke jendela.
Hari ini praktikum. Semoga dia makan bekalnya.
---
Jam istirahat. Kantin Fakultas Ekonomi.
Angga duduk sendirian di pojok kantin, segelas es teh manis di tangan, ponsel di meja. Ia membuka chat dengan Adea.
Pesan terakhir pagi tadi:
"Gue udah sampe kelas. Dosennya hari ini cantik! 😍"
"Fokus kuliah jangan liatin dosen."
"Cantik kok. Kayak artis. Rambut panjang, putih, matanya biru."
"Lo lagi kuliah kedokteran apa lagi nge-gebet dosen?"
"Gue cuma bilang cantik. Belum tentu gebet. Lagian gue udah punya...."
Adea tidak melanjutkan kalimatnya.
Angga menunggu. Beberapa menit. Lalu sebuah pesan masuk:
"Udah ah. Dosennya masuk lagi. Bye! 💙"
Angga membaca pesan itu berulang kali.
Gue udah punya....
Punya apa?
Punya siapa?
Ia memasukkan ponsel ke saku, menyesap es tehnya, dan tersenyum kecil di balik gelas.
"Angga."
Seorang perempuan duduk di seberangnya tanpa izin. Rambut panjang, kemeja putih, blazer biru muda.
Thalia.
"Thalia. Ada apa?"
"Gak ada. Cuma liat lo sendiri, jadi mampir." Thalia memesan es kopi susu dari pelayan kantin yang lewat. "Lo jarang sendirian. Biasanya kan sama anak-anak."
"Yoga lagi ke toilet. Yang lain lagi main."
"Jadi lo sendirian."
"Iya."
Thalia menatap Angga. Matanya teduh, tidak ada intensitas seperti dulu. Tidak ada rasa ingin tahu yang berlebihan. Hanya... biasa.
"Angga."
"Hm."
"Gue mau minta maaf."
Angga mengangkat alis. "Maaf kenapa?"
"Soal... dulu. Waktu gue baru pindah. Gue terlalu..." Thalia mencari kata. "...terlalu ngejar."
"Gak apa."
"Gue pikir lo cowok biasa yang gampang didekatin. Ternyata lo beda." Thalia tersenyum kecil. "Lo tipe cowok yang setia. Dan gue menghargai itu."
Angga tidak menjawab. Ia hanya menyesap es tehnya.
"Gue juga sekarang lagi deket sama seseorang," lanjut Thalia, agak canggung. "Anak bupati. Baik. Gak sombong. Mungkin gue cocok sama dia."
"Bagus."
"Lo gak kaget?"
"Gue dengar rumor."
"Rumor apa?"
"Kata orang lo lagi deket sama anak bupati."
Thalia tertawa kecil. "Cepet banget nyebar. Gue baru seminggu kenal."
"Kampus kecil. Semua orang tahu."
Thalia menggeleng. Kopi susunya datang. Ia memegang gelas itu dengan kedua tangan, menatapnya sebentar, lalu menatap Angga.
"Angga, gue mau tanya. Jujur."
"Tanya aja."
"Dari awal, lo punya perasaan gak sama gue?"
Angga tidak perlu berpikir.
"Gak."
Thalia tersenyum pahit. "Jujur banget."
"Lo minta jujur."
"Iya. Gue minta jujur. Dan gue hargai itu." Thalia menyesap kopinya. "Tapi gue penasaran. Kenapa lo gak tertarik? Gue tuh... gak jelek-jelek amat."
"Lo cantik, Thalia. Gue udah bilang itu."
"Terus kenapa?"
Angga meletakkan gelas es tehnya. Ia menatap Thalia lurus.
"Karena hati gue udah penuh."
Thalia terdiam.
"Sejak kapan?"
"Sejak gue inget apa-apa."
Thalia menghela napas panjang. Ia tersenyum. Kali ini tulus, tidak terlatih. "Dia beruntung."
"Bukan keberuntungan."
"Terus apa?"
"Pilihan."
Thalia tidak bertanya lagi. Ia menghabiskan kopinya, berdiri, dan membetulkan blazernya.
"Semoga kalian bahagia, Angga. Gue serius."
"Makasih."
Perempuan itu berjalan pergi. Tidak ada drama. Tidak ada tangis. Hanya dua orang dewasa yang saling memahami.
Angga kembali ke ponselnya. Ada pesan masuk dari Adea, dikirim sepuluh menit yang lalu, saat ia sedang bicara dengan Thalia.
"Angga, bekal lo enak banget! Temen-temen pada ngiri. Ada yang minta suap biar gue kasih."
"Jangan dikasih. Itu bekal lo."
"Iyaaaa~ gue belain kok. Gak ada yang berani nyomot. Gue kasih liat pisau lipat."
"Lo bawa pisau lipat?"
"Gak. Cuma foto pisau lipat dari internet. Mereka percaya aja."
Angga tertawa kecil. Orang-orang di kantin menoleh, tapi ia tidak peduli.
"Lo keterlaluan."
"Gue anak kedokteran. Nanti bisa jahit lukanya kalo ada yang berani ambil bekal gue."
"Jangan beneran."
"Santai. Gue bercanda. Tapi jangan coba-coba ambil bekal gue. 💀"
Angga menggeleng. Senyumnya tidak hilang.
Hatinya penuh. Dan yang memenuhi hatinya adalah gadis kecil yang sekarang sedang mempertahankan bekal makan siangnya dengan foto pisau lipat dari internet.
---
Fakultas Kedokteran. Sore hari.
Praktikum selesai lebih cepat dari jadwal. Dosennya baik hati karena hari ini adalah ulang tahunnya, jadi ia memulangkan mahasiswa lebih awal.
Adea keluar dari gedung dengan langkah ringan. Kotak bekal merah muda di tangannya sudah kosong, ludes dimakan siang tadi. Tas ransel di punggung terasa lebih ringan karena tugas praktikum sudah ia kumpulkan.
Ia melompat-lompat kecil di tangga gedung, bersenandung tidak jelas.
"Dea! Lo seneng banget pagi ini?" Eli menyusul dari belakang.
"Biasa aja."
"Biasa aja tapi muka lo kayak orang habis menangis kebahagiaan."
Adea tertawa. "Diem lo, Eli."
"Lo gak bisa bohong. Gue temen lo. Gue tahu kalo lo lagi jatuh cinta."
Adea tersenyum. Tidak membantah.
Eli mengerjap. "Serius? Lo jatuh cinta? Sama siapa?"
"Udah ah. Gue duluan. Angga nunggu."
Adea berlari kecil meninggalkan Eli yang masih berdiri di tangga dengan mulut menganga.
---
Halaman fakultas.
Angga sudah menunggu di tempat biasanya, pohon rindang dekat gerbang. Motor Ninja hitam terparkir rapi. Helm biru di stang. Pria itu berdiri dengan satu tangan di saku celana, satu tangan memegang ponsel.
Ia sedang membaca sesuatu. Matanya fokus ke layar. Bibirnya sedikit bergetar menahan senyum.
Adea mendekat pelan.
Dari belakang, ia melihat layar ponsel Angga.
Chat dengan seseorang. Kontak bernama "Dea❤️".
Pesan terakhir dari Adea: "Angga, bekal lo enak banget! Temen-temen pada ngiri. Ada yang minta suap biar gue kasih."
Balasan Angga: "Jangan dikasih. Itu bekal lo."
Adea tersenyum.
Dia bacain chat kita.
"Angga."
Pria itu menoleh. Matanya sedikit terkejut, tapi ia cepat menyembunyikan ponselnya ke saku.
"Udah selesai?"
"Iya. Dosennya pulang cepet. Hari ini ulang tahun."
"Bagus. Jadi gak usah nunggu lama."
Angga mengambil helm biru dan memasangkannya ke kepala Adea. Biasanya, ia hanya diam dan melakukan itu dengan gerakan otomatis. Tapi kali ini, setelah tali helm terpasang, ia menahan sebentar. Matanya menatap Adea dari balik kaca helm.
"Dea."
"Hm?"
"Pesan lo tadi pagi... 'Gue udah punya' punya apa?"
Adea tersenyum di balik kaca helm.
"Tebak."
"Punya... pacar?"
"Belum."
"Punya... gebetan?"
"Gak."
"Punya... apa dong?"
Adea melepas helmnya sendiri tanpa bantuan Angga. Ia menatap pria itu lurus. Matanya berbinar.
"Gue udah punya seseorang yang selalu masakin gue setiap pagi, nganter jemput gue setiap hari, ngebela gue kalo gue nangis, ngepeluk gue kalo gue mimpi buruk, dan..." ia berhenti. "...nyium gue sampe gue gak bisa napas."
Angga terdiam.
"Seseorang itu ada di depan gue sekarang," lanjut Adea. "Dan gue gak butuh yang lain."
Angga tidak bisa berkata apa-apa. Dadanya sesak bukan sakit, tapi penuh. Terlalu penuh.
Ia meraih helm dari tangan Adea dan memasangkannya kembali ke kepala gadis itu. Kali ini lebih cepat, karena ia tidak ingin Adea melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Naik," ucapnya serak.
Adea tertawa kecil. Ia melompat naik ke jok belakang tanpa diangkat, kali ini berhasil dengan sedikit lompatan.
"Angga."
"Hmm."
"Lo nangis?"
"Gak."
"Bohong. Suara lo berubah."
"Masuk angin."
"Masuk angin di mata?"
"Adea."
"Iya iya."
Adea memeluk Angga dari belakang. Erat. Tangannya melingkar di perut pria itu, pipinya menempel di punggung.
"Angga."
"Hmm."
"Gue seneng banget hari ini."
Angga menyalakan mesin. Suara Ninja menggelegar pelan.
"Gue juga, Dea."
Motor melaju meninggalkan halaman fakultas. Di belakang mereka, matahari sore mulai berwarna jingga, langit Lombok terbentang luas tanpa batas.
Dan di dalam hati Angga, hanya ada satu nama.
Adea Kara.
Gadis kecil yang dulu sering menangis karena jatuh dari sepeda. Gadis yang dulu meminjamkan bekalnya saat Angga lupa membawa uang saku. Gadis yang dulu berjanji akan kuliah di tempat yang sama. Gadis yang kini menjadi first kiss-nya.
First kiss.
Dan ia berharap itu juga yang terakhir.
---
Bersambung...