Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara ditemukan meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasih sayang melebihi ibu
...“Bii... Alvaro dimana,” ...
...Ia mengangkat wajah sedikit, matanya mencari ke arah pintu dengan ragu....
...“Sudah pulang,” jawab bibi singkat, tangannya memijat keningnya perlahan. ...
...“Zhara... Bibi sudah mendengar semua tentang kejadian minggu lalu, apa itu yang memicu asam lambungmu kumat?” tanya bibi menatapnya serius. ...
...“Bibi... Itu sebenarnya...” Zhara menggenggam erat, majalah yang ia pegang. Tidak tau apa yang harus ia jelaskan pada bibinya. ...
...“Kamu tidak perlu penjelasan apa pun, kamu bisa bertahan melewati masa kritis itu saja, sudah jadi rasa syukur terbesar bagi bibi.” ucap bibi Widya matanya berkaca kaca, ...
...“Bibi hampir kehilangan kamu nak… melihat kamu masih duduk disini... Hiks... itu sudah cukup membuat hati bibi penuh rasa terima kasih.” lirihnya pecah, tenggelam dalam isak yang tak bisa ia tahan. ...
...Melihat bibinya meneteskan air mata, Zhara diliputi rasa bersalah. ...
...“Bii... Zhara minta maaf...”...
...“Bukan bermaksud menyembunyikan masalah yang Zhara hadapi, hanya saja mulut ini sangat kaku untuk memulainya,” suaranya bergetar, menahan emosinya....
...“Zhara sayang, sudah... sudah...”...
...“Jangan dibahas lagi. untuk saat ini, bibi minta tolong sama kamu, apapun itu tolong jangan pendam semua sendiri... Kamu masih punya kami... Jika kamu tidak bisa terbuka dengan orang tuamu, setidaknya kami masih berguna untukmu,” pinta bibinya dalam isak tangisannya. ...
...‘Itu akan terasa sangat sulit bibi... Aku bukan lah orang yang mudah over sharing,’ batinnya dalam hati. ...
...“Bii... Meski itu sulit, Zhara akan coba,” ...
...“Zhara minta maaf...” ucap Zhara menggenggam tangan bibinya dengan lembut. ...
...“Iya sayang...” suara bibinya lembut, meski masih terselip sisa getar. Ia mengusap pelan punggung tangan Zhara, mencoba menenangkan....
...“Bibi sangat mengenal kamu. Kalau memang terasa sangat sulit untuk memulainya...” ia berhenti sejenak, menatap Zhara penuh kasih. ...
...“kamu bisa datang dan berkonsultasi dengan dokter psikolog. Di sana, kamu akan dibantu untuk memahami apa yang kamu rasakan. Karena, sangat wajar jika kita sendiri, bingung dengan isi hati kita.” lanjut bibinya dengan hati-hati, seolah tak ingin Zhara salah paham....
...“Di sana, kamu akan diarahkan, pelan pelan untuk memahami apa yang kamu rasakan, bagaimana menghadapinya. Bagaimana cara kamu mengenali dirimu sendiri.” ...
...“Datang ke sana, kamu akan didengar... benar benar didengar, tanpa dihakimi.” ...
...Bibi mengusap air mata di pipi Zhara dengan lembut....
...“Jadi... kamu nggak perlu takut atau malu untuk mulai bicara di sana. Karena tidak akan ada yang memarahi, apalagi menyakiti kamu.” ucap bibinya lembut....
...“Kamu akan berada di tempat yang aman, tempat di mana kamu bisa jadi dirimu sendiri, tanpa rasa takut.”...
...“Jika kamu tidak bisa menyampaikannya pada kami, disanalah kamu akan sangat nyaman mulai terbuka,” jelas bibi lembut penuh perhatian. ...
...Zhara menunduk, air matanya kembali jatuh, namun kali ini terasa lebih lepas. ...
...“Bii... terima kasih atas perhatian dan pengertian Bibi,” suara Zhara bergetar, matanya sembab, namun ada sedikit kelegaan di sana....
...“Bibi dapat memahami, walaupun Zhara dari kecil selalu menutup diri, bibi yang paling sabar dalam menghadapi sikap Zhara,” ucap Zhara menunduk. Tangannya saling menggenggam erat, seperti menahan sesuatu yang sudah lama ia simpan sendiri....
...“Zhara... Meski bibi masih muda. Bibi sudah merawat kamu dari kecil, bagi bibi kamu tidak sekedar keponakan, tapi sudah bibi anggap anak yang tidak lahir dari rahimku...”...
...“Melihat kamu gadis lembut, di didik dengan nilai bila baik, tumbuh remaja menjadi gadis cantik...Tapi setelah bertemu pacar, kamu malah hancur se hancurnya...”...
...“Bibi tidak Terima, kamu di sakiti, di sia siakan begitu saja... Kamu kesayangan bibi... Kamu satu satunya kesayangan bibi Zhara...”...
...“Dengarkan bibi baik-baik. Tidak ada yang berhak memperlakukan kamu seperti itu. Tidak boleh, siapapun itu tidak boleh.” ucap bibi bergetar. ...
...Bibi bangkit dari kursinya perlahan, lalu tanpa ragu langsung menarik Zhara ke dalam pelukannya. Pelukan itu penuh kasih sayang, seperti sedang mencoba menenangkan seluruh luka yang sedang disembunyikan Zhara di dalam diamnya. Terdengar bibi Widya menangis terisak dalam pelukannya, tangan bibi mengelus rambut Zhara dengan lembut. ...
...“Bibi...”...
...“Bibi... Zhara...” ...
...Zhara bingung mau mengucapkan selatan kata, pada akhirnya perlahan, ia membalas pelukan itu erat, seperti seseorang anak yang akhirnya menemukan tempat untuk pulang. Tangis Zhara kembali pecah, lebih jujur dari sebelumnya. Semua rasa sakit, kesepian, dan lelah yang ia tahan bertahun tahun akhirnya mengalir tanpa bisa ia hentikan....
...Ketika akhirnya pelukan itu dilepas perlahan, Zhara masih menunduk. Bibi tersenyum tipis, lalu mengusap pipi Zhara dengan hati hati, menghapus sisa air mata yang masih tertinggal. Zhara menggigit bibirnya pelan, menahan rasa yang kembali memenuhi dadanya, kali ini bukan sakit, melainkan haru. ...
...“Kata dokter, kalau kondisi kamu sudah membaik, lusa kamu sudah boleh pulang, tapi untuk sementara kamu tinggal sama bibi saja,” ujar bibi lembut. ...
...“Zhara mau istirahat di kos, lalu kembali bekerja,” jawab Zhara menolak dengan lembut. ...
...“Kenapa? tinggal dengan bibi, mendengar kamu cerita dan menemani kamu itu tidak akan membebani, Zhara. Itu cara bibi menjaga kamu.” pungkas bibinya, dengan suaranya hangat. ...
...“Zhara ingin cepat kembali bekerja, bukan karena ada Kak Daniel, tapi ada banyak teman teman yang membuat Zhara nyaman,”...
...“Bibi tidak usah kawatir. Mereka tau Zhara belum sepenuhnya pulih, mereka akan memberikan pekerjaan yang tidak membebani fisik Zhara,” jelas Zhara meyakinkan bibinya. ...
...Bibi menarik nafas pelan, tatapannya sangat dalam. ...
...“Baiklah... Tapi ada satu syarat!” ucap bibi dengan lembut, lalu tersenyum kecil....
...“Apa?” Zhara menatap bibinya dengan wajah bingung dan penasaran. ...
...“Bibi akan pindah, dan tinggal di sebelah kamar kos kamu,” balas bibi dengan keyakinan penuh. ...
...Zhara tertegun. Matanya langsung menatap bibi, seolah ingin memastikan ia tidak salah dengar....
...“Nanti, bibi jauh berangkat menuju tempat kerja?” ucap Zhara ragu. ...
...“Hanya 40 menit dari menuju tempat kerja. Selama bisa lebih dekat sama kamu, bibi tidak masalah. Kalau kamu butuh apa apa, kamu tinggal ketuk pintu.” jawab bibi sambil tersenyum hangat....
...“Terimakasih bibi Widya cantik,” ucap Zhara senang, masih tidak percaya. ...
...“Sama sama Zhara cantik,” balas bibi tersenyum hangat. ...
...“Kamu istirahat lagi yah... Biar cepat pulih,” ujar bibi tersenyum. ...
...Membantu Zhara berbaring, gerakan bibi begitu lembut. Ia memastikan bantal Zhara nyaman, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dengan hangat. merapikan kembali selimut Zhara dengan hati hati, memastikan tubuhnya benar benar hangat dan nyaman....
...Zhara menatap bibi dari balik selimut, matanya mulai berat setelah ia menangis tapi perasaannya jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Ia mengangguk pelan dan tersenyum lembut, perlahan menutup matanya, napas Zhara mulai teratur. Ketegangan di wajahnya memudar, digantikan ketenangan yang tenang. ...
...“Tidur ya,” bisik bibi lagi, memastikan Zhara sudah terlelap. ...