No Plagiat ❌
Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara akhirnya meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasih sayang melebihi ibu
...“Bii… Alvaro di mana?”...
...Zhara mengangkat wajah sedikit, matanya mencari ke arah pintu dengan ragu....
...“Sudah pulang,” jawab Bibi singkat, tangannya memijat kening perlahan....
...“Zhara… Bibi sudah mendengar semua tentang kejadian minggu lalu. Apa itu yang memicu asam lambungmu kumat?” tanya Bibi menatapnya serius....
...“Bibi… itu sebenarnya…” Zhara menggenggam erat majalah yang ia pegang. Ia tidak tahu harus menjelaskan dari mana....
...“Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun. Kamu bisa bertahan melewati masa kritis itu saja sudah jadi rasa syukur terbesar bagi Bibi,” ucap Bibi Widya, matanya mulai berkaca-kaca....
...“Bibi hampir kehilangan kamu, Nak… melihat kamu masih duduk di sini… hiks… itu sudah cukup membuat hati Bibi penuh rasa terima kasih,” lanjutnya lirih, suaranya pecah dalam isak yang tak bisa ia tahan....
...Melihat bibinya menangis, Zhara diliputi rasa bersalah....
...“Bii… Zhara minta maaf…”...
...“Bukan bermaksud menyembunyikan masalah yang Zhara hadapi, hanya saja mulut ini sangat kaku untuk memulainya,” ucap Zhara, suaranya bergetar menahan emosi....
...“Zhara sayang… sudah, sudah…”...
...“Jangan dibahas lagi. Untuk saat ini, Bibi minta tolong sama kamu, apapun itu, tolong jangan pendam semua sendiri. Kamu masih punya kami....
... Jika kamu tidak bisa terbuka dengan orang tuamu, setidaknya kami masih ada untukmu,” pinta Bibi dalam isak tangis yang tertahan....
...‘Itu akan terasa sangat sulit, Bibi… aku bukan orang yang mudah untuk over sharing,’ batin Zhara....
...“Bii… meski itu sulit, Zhara akan coba,”...
...“Zhara minta maaf…” ucapnya sambil menggenggam tangan bibinya dengan lembut....
...“Iya, sayang…” jawab Bibi pelan, suaranya masih bergetar. Ia mengusap punggung tangan Zhara, berusaha menenangkan....
...“Bibi sangat mengenal kamu. Kalau memang terasa sangat sulit untuk memulainya…” ia berhenti sejenak, menatap Zhara penuh kasih....
...“Kamu bisa datang dan berkonsultasi dengan dokter psikolog. Di sana kamu akan dibantu untuk memahami apa yang kamu rasakan....
... Karena sangat wajar jika kita sendiri bingung dengan isi hati kita,” lanjut Bibi dengan hati-hati, agar Zhara tidak merasa tertekan....
...“Di sana kamu akan diarahkan pelan-pelan untuk memahami apa yang kamu rasakan, bagaimana menghadapinya, dan bagaimana cara mengenali dirimu sendiri.”...
...“Datang ke sana, kamu akan didengar… benar-benar didengar tanpa dihakimi.”...
...Bibi mengusap air mata di pipi Zhara dengan lembut....
...“Jadi… kamu tidak perlu takut atau malu untuk mulai bicara di sana. Karena tidak akan ada yang memarahi, apalagi menyakiti kamu,” ucap Bibi lembut....
...“Kamu akan berada di tempat yang aman, tempat di mana kamu bisa menjadi dirimu sendiri tanpa rasa takut.”...
...“Jika kamu tidak bisa menyampaikannya pada kami, di sanalah kamu akan lebih nyaman untuk mulai terbuka,” jelas Bibi dengan penuh perhatian....
...Zhara menunduk. Air matanya kembali jatuh, namun kali ini terasa lebih lega....
...“Bii… terima kasih atas perhatian dan pengertian...
...Bibi,” suara Zhara bergetar. Matanya sembab, tetapi ada sedikit kelegaan di sana....
...“Bibi sangat memahami… walaupun Zhara dari kecil selalu menutup diri, Bibi yang paling sabar menghadapi sikap Zhara,” ucapnya pelan....
...Tangannya saling menggenggam erat, seperti menahan sesuatu yang sudah lama ia simpan sendiri....
...“Zhara… meski Bibi masih muda, Bibi sudah merawat kamu dari kecil. Bagi Bibi, kamu bukan sekadar keponakan, tapi sudah Bibi anggap seperti anak sendiri… anak yang tidak lahir dari rahim Bibi,” lanjutnya lirih....
...“Melihat kamu tumbuh menjadi gadis lembut, dididik dengan nilai yang baik, menjadi remaja yang cantik… tapi setelah bertemu orang yang salah, kamu malah hancur seperti ini…”...
...“Bibi tidak terima kamu disakiti, disia-siakan begitu saja… kamu kesayangan Bibi, Zhara… satu-satunya kesayangan Bibi…”...
...“Dengarkan Bibi baik-baik. Tidak ada yang berhak memperlakukan kamu seperti itu. Tidak boleh....
... Siapa pun itu, tidak boleh.” suara Bibi bergetar....
...Bibi bangkit dari kursinya perlahan, lalu tanpa ragu memeluk Zhara erat. Pelukan itu penuh kasih sayang, seolah sedang menahan seluruh luka yang tidak pernah diucapkan Zhara....
...Tangis Bibi Widya pecah di dalam pelukan itu, tangannya mengusap rambut Zhara dengan lembut....
...“Bibi…”...
...“Bibi… Zhara…”...
...Zhara tidak tahu harus mengucapkan apa. Pada akhirnya, perlahan ia membalas pelukan itu erat seperti anak yang akhirnya menemukan tempat pulang....
...Tangisnya kembali pecah, lebih jujur dari sebelumnya. Semua rasa sakit, kesepian, dan lelah yang ia tahan bertahun-tahun akhirnya mengalir tanpa bisa ia hentikan....
...Ketika pelukan itu dilepas perlahan, Zhara masih menunduk. Bibi tersenyum tipis, lalu mengusap pipinya dengan hati-hati, menghapus sisa air mata yang masih tertinggal....
...Zhara menggigit bibirnya pelan, menahan rasa yang kembali memenuhi dadanya kali ini bukan sakit, melainkan haru....
...“Kata dokter, kalau kondisi kamu sudah membaik, lusa kamu sudah boleh pulang. Tapi untuk sementara kamu tinggal bersama Bibi saja, ya,” ujar Bibi lembut....
...“Zhara mau istirahat di kos, lalu kembali bekerja,” jawab Zhara menolak dengan lembut....
...“Kenapa? Tinggal dengan Bibi, mendengar kamu cerita, dan menemani kamu itu tidak akan membebani, Zhara. Itu cara Bibi menjaga kamu,” pungkas Bibi dengan suara hangat....
...“Zhara ingin cepat kembali bekerja, bukan karena ada Kak Daniel, tapi karena ada banyak teman yang membuat Zhara nyaman,” lanjut Zhara....
...“Bibi tidak usah khawatir. Mereka tahu Zhara belum sepenuhnya pulih. Mereka akan memberikan pekerjaan yang tidak membebani fisik Zhara,” jelasnya meyakinkan....
...Bibi menarik napas pelan, tatapannya dalam....
...“Baiklah… tapi ada satu syarat,” ucap Bibi lembut, lalu tersenyum kecil....
...“Apa?” Zhara menatapnya bingung dan penasaran....
...“Bibi akan pindah dan tinggal di sebelah kamar kos kamu,” jawab Bibi dengan keyakinan....
...Zhara tertegun. Matanya menatap Bibi, seolah memastikan ia tidak salah dengar....
...“Nanti Bibi jauh dari tempat kerja?” tanya Zhara ragu....
...“Hanya sekitar 40 menit dari tempat kerja....
... Selama bisa lebih dekat dengan kamu, Bibi tidak masalah. Kalau kamu butuh apa pun, kamu tinggal ketuk pintu,” jawab Bibi sambil tersenyum hangat....
...“Terima kasih, Bibi Widya cantik,” ucap Zhara pelan, masih tidak percaya....
...“Sama-sama, Zhara cantik,” balas Bibi tersenyum hangat....
...“Kamu istirahat lagi ya… biar cepat pulih,” ujar Bibi lembut....
...Bibi membantu Zhara berbaring dengan gerakan sangat hati-hati. Ia merapikan bantal, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh Zhara dengan hangat....
...Zhara menatap Bibi dari balik selimut. Matanya mulai berat setelah menangis, tetapi perasaannya jauh lebih tenang dari sebelumnya....
... Ia mengangguk pelan dan tersenyum lembut, lalu perlahan menutup mata....
...Napasnya mulai teratur. Ketegangan di wajahnya memudar, digantikan ketenangan yang perlahan menenangkan....
...“Tidur ya,” bisik Bibi lagi, memastikan Zhara benar-benar terlelap....
...◦•●◉✿✿◉●•◦...