Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
027
Mary mengulas senyumnya saat Roseo membawanya ke kamar tidur pria itu.
Mary bisa melihat sorot mata penuh dahaga yang terpancar di mata Roseo ketika pria itu merebahkannya di atas kasur.
Pria itu sudah tak sabar untuk menikmati kembali susu cap nona manis langsung dari sumbernya.
Mary langsung menahan mulut Roseo yang hendak terbenam dalam telaga susu.
Roseo terperangah karena Mary menahannya seperti ini.
“Hmm..Ros, aku tidak bilang aku ingin tidur denganmu,” kata Mary sambil mengulum senyumnya.
“Kau tidak mau?” Tanya Roseo keheranan.
Mary menjawab dengan senyumnya. Roseo langsung menjatuhkan wajahnya ke lembah telaga susu.
“Kalau kau tidak mau! Kenapa kau mau ke kamarku?” Keluh Roseo.
Mary mendelik gusar karena merasakan rasa geli karena ulah Roseo.
“Ros, aku hanya ingin menunjukan gaun ini di kamarmu seperti yang kau bilang,” kata Mary.
Roseo menghela nafas berat, ia pun akhirnya bangkit dari tubuh Mary.
Mary mengulas senyumnya, rupanya pria itu mampu mengendalikan dirinya.
Inilah kesempatan Mary untuk membuat kesepakatan dengan pria itu.
Mary langsung memeluk bahu Roseo dari belakang lalu berbisik di telinga pria itu.
“Jika kau mengizinkanku pergi ke Dagoo sendiri, mungkin aku juga berpikir untuk memberimu izin bongkar muatan sekarang”.
Roseo memejamkan matanya, suara Mary yang terdengar begitu manis di telinganya membuat darahnya berdesir cepat.
Belum lagi wanita itu memeluknya dari belakang membuat puding susu kenyal dan padat itu menempel erat di punggungnya. Jemari Mary bermain-main di sekitar dada, leher, hingga berakhir di bibirnya.
“Sebenarnya apa tujuanmu untuk pergi ke Dagoo sendiri? Kenapa aku tidak boleh ikut bersamamu?” Tanya Roseo.
“Roseo, aku tahu betapa sibuknya kau mengurus ladang, dan karena ini urusanku aku tidak ingin kau terlibat,” jawab Mary.
“Sudah ada Leo yang bisa menangani semuanya,” sahut Roseo.
Mary segera memikirkan apa yang harus dikatakannya pada Roseo. Apa yang bisa menjadi alasan yang masuk akal mengapa pria itu tidak boleh ikut bersamanya.
“Apa kau pergi ke Dagoo untuk bertemu seseorang yang tidak boleh aku temui? Apakah kau akan bertemu dengan kekasihmu?” Tanya Roseo.
Mary terkejut mendengar pertanyaan Roseo. Bagaimana pria itu bisa berpikir sampai ke sana?
“Kau mau pergi sendiri ke Dagoo untuk bertemu dengan kekasihmu, lalu kau tidak akan kembali lagi ke sini. Begitu kan, rencanamu?”
“Haha,” Mary tertawa.
Mary masih bergelayut di punggung Roseo, seakan ia adalah sekarung labu yang sedang digendong Roseo.
Mary menarik senyum sumringah sementara ekspresi Roseo makin masam, karena ia harus menahan diri lantaran Mary benar-benar membuatnya birahi tak karuan.
“Apakah analisamu itu berasal dari analisa Leo juga?” Tanya Mary.
“Tidak, itu murni dari hasil pemikiranku sendiri,” jawab Roseo.
Mary kembali mengulum senyumnya.
“Roseo,sejujurnya aku tidak mau membawamu ikut bersamaku, karena kau itu jelek, kampungan, dan primitif,” ucap Mary.
Roseo hanya bisa terdiam, saat Mary masuk ke dalam pangkuannya.
“Wajahmu yang seperti buaya! Nanti aku disangka membawa hewan peliharaan!”
Mary masih tersenyum sambil mengusap-usap brewok kasar di wajah Roseo.
“Oh, jadi kau merasa sangat malu padaku yang berwajah seperti buaya, jelek, kampungan, dan primitif ini?” Tanya Roseo.
“Tidak! Aku tidak malu!” Jawab Mary.
“Kalau tidak malu, apakah itu artinya sangat malu?” Tanya Roseo lagi.
Mary kembali tersenyum sambil memainkan jemarinya di rambut Roseo.
“Tidak Ros, aku tidak malu dengan keberadaanmu yang jelek, kampungan, dan primitif,” kata Mary.
“Hanya saja, aku tidak mau mendengar orang-orang menyebutmu sebagai pria jelek, kampungan, dan primitif. Yang boleh menyebutmu seperti itu, hanya aku!” Ucap Mary.
Roseo menatap lurus ke arah Mary yang terus tersenyum, senyuman yang benar-benar membuat Roseo bersedia melakukan apapun yang diinginkan wanita itu.
“Baiklah, kalau begitu, pergilah sendiri,” kata Roseo.
“Benarkah?!” Mary tersenyum senang.
Roseo mengangguk lalu menurunkan tubuh Mary dari pangkuannya.
“Aku akan menyiapkan air mandi untukmu,” kata Roseo.
“Aku bisa mandi setelah kita bercinta,” ucap Mary.
“Tidak! Lebih baik kau mandi, lalu pergilah beristirahat,” kata Roseo.
Roseo segera beranjak dari kamarnya meninggalkan Mary yang terdiam.
“Apa dia tersinggung karena aku menyebutnya jelek, kampungan, dan primitif?” Mary bertanya-tanya.
***
Petang sudah datang saat Leo menghampiri Roseo yang sedang duduk di bale bale sambil mengasah pisau di atas batu asahan.
“Mas Ros, ngomong-ngomong, Nyonya pergi kemana?”
Leo baru sempat bertanya karena seharian ini ia sibuk mengerjakan laporan dan mengurus gaji para pekerja.
Rumah yang biasanya ramai sejak kehadiran Mary kini kembali sepi seperti sebelum adanya Mary di rumah ini.
“Kenapa Nyonya belum pulang ke rumah? Apa Nyonya pergi ke rumah orang tuanya?” Tanya Leo lagi.
Roseo menghela nafas berat.
“Mawary pergi ke Dagoo,” jawab Roseo.
“Dagoo? Anda tidak ikut bersama Nyonya?” Tanya Leo.
“Dia tidak mau aku ikut bersamanya,” jawab Roseo.
“Kenapa begitu?” Tanya Leo lagi.
“Karena katanya, aku ini pria jelek, kampungan, dan primitif,” jawab Roseo.
“Oh begitu,” Leo langsung mengangguk setuju.
“Katanya, dia tidak mau orang lain sampai mengatakan hal itu padaku. Hanya Mawary yang boleh mengataiku jelek, kampungan, dan primitif,” lanjut Roseo.
“Wah, Nyonya sungguh begitu peduli pada anda,” kata Leo.
“Peduli apanya?” Tanya Roseo.
“Iya, Nyonya sangat peduli pada penampilan anda di mata orang lain,” jawab Leo.
“Hah?!” Roseo kembali terperangah. “Peduli terhadap penampilanku di mata orang lain? Bilang saja dia malu, orang jelek, kampungan, dan primitif sepertiku ini berada di sisinya!” Sungut Roseo.
“Mas Ros, Nyonya bilang tidak boleh ada orang lain yang mengatai Mas Ros jelek, kampungan, dan primitif. Bukankah itu artinya Nyonya sangat menjaga perasaan Mas Ros?” Tanya Leo.
Roseo terdiam, mencerna ucapan Leo.
Tiba-tiba terdengar pintu gerbang rumah Roseo yang digedor dari luar.
Leo dengan sigap membuka pintu gerbang dan mendapati seorang pria paruh baya datang bersama Jono.
Leo memang kurang familiar dengan para warga kampung karena Leo lebih banyak mengurus pekerjaan dibandingkan bergaul dengan warga kampung.
Leo mengetahui Jono karena Jono sangat terkenal di kampung.
“Selamat malam bapak-bapak,” sapa Leo.
“Dimana Ros!” Kata pria paruh baya itu.
“Mohon maaf sebelumnya, ada perlu apa mencari Mas Ros?” Tanya Leo.
Roseo menghampiri Leo dan mendapati Pak Sumarto beserta Jono.
“Pak Sumarto,” sapa Roseo.
“Ros! Kau ini bagaimana?! Mengapa kau tidak becus menjaga Mawary?!” Sembur Pak Sumarto.
“Apa maksudnya, Pak?” Tanya Roseo.
“Halah! Kau tidak usah pura-pura begitu Ros! Tadi pagi aku bertemu Mawary di terminal bus sendirian! Mawary pasti kabur lagi ke kota!” Tukas Jono.
“Apa yang sudah kau lakukan Ros? Apa kau sudah bosan pada Mawary dan mengusirnya?”
Jono kembali bertanya dengan nada provokatif Pak Sumarto yang nampak sangat marah.
“Kalau memang Mawary sudah bosan padamu, harusnya kau suruh dia pulang ke rumah orang tuanya! Bukan malah menyuruhnya pergi ke kota!” Tandas Pak Sumarto.
“Pak Sumarto, mohon maaf, ini hanya salah paham,” kata Roseo.
“Salah paham apanya! Jelas-jelas aku melihat sendiri, Mawary pergi sendirian dengan wajah sedih! Aku yakin, Mawary pasti sedih dan tak bisa pulang ke rumah orang tuanya makanya dia pergi dari kampung ini!” Potong Jono.
Roseo menghembuskan nafas berat, kehadiran Jono sungguh makin memperkeruh keadaan.
Apa yang harus ia lakukan?